NovelToon NovelToon
AKU: Catatan Lelaki Yang Mencintaimu

AKU: Catatan Lelaki Yang Mencintaimu

Status: tamat
Genre:Teen / Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:398
Nilai: 5
Nama Author: Ayuni Reisz

"Jika waktu bisa kuhentikan, aku ingin selamanya berada di sisimu, menjaga hubungan kita hingga garis terakhir."

Banyak yang berkata jika masa remaja adalah masa yang menyenangkan. Sepertinya kalimat itu berlaku juga untuk Izang, pemuda 17 tahun yang menyukai adik kelasnya, Ara. Meskipun awalnya bersama karena terpaksa, hal itu tidak menyurutkan rasa cinta Izang pada Ara.Bahagia? Harusnya. Namun, cobaan mulai menimpa bertubi-tubi. Mulai dari perceraian orang tua, kepindahan ke Bandung, hingga hubungan jarak jauh (LDR).Di saat mereka berjuang mempertahankan cinta, takdir justru mendatangkan badai yang jauh lebih kejam—sebuah vonis sakit yang mengancam sisa usia Izang. Akankah mereka yang memulai hubungan dengan tertatih, bisa bertahan hingga akhir? Ataukah perpisahan selamanya menjadi ujung dari kisah ini?

💔 Kisah Romantis Melankolis - POV Pria (Siapkan Tisu!)
🕒 Update Setiap Hari!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayuni Reisz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB TIGA: Arah Angin (Bagian 2)

“Halo, bro!”

“Malam ini? Di?”

“Oke. Lima belas menit aku sampai sana,” tutupku sembari menyahut jaket kulit yang bertengger di belakang pintu. Buru-buru aku menuruni tangga kamarku saat tiba-tiba mbak Senja melongokkan kepalanya dari pintu kamar.

“Mau kemana jam segini?”

“Anak-anak butuh joki dadakan. Taruhannya lumayan, Mbak. Sayang kalau nggak diambil,” jawabku sambil memakai helm full face dan sarung tanganku. Kakak perempuanku itu menghela napas berat. Tatapannya memohon padaku untuk tidak pergi. Tapi bukan Izang namanya kalau tidak masa bodoh dan keras kepala.

“Hati-hati, ya! Aku nggak bakal bilang ibu kok.”

“Nggak usah bilang juga ibu udah tahu,” tukasku sambil tertawa. Sayangnya mbak Senja tidak menganggap itu lucu. Dia malah terlihat seperti ingin menangis.

“Dih, kenapa mukanya gitu sih? Aku ini cuma balapan bukan setor nyawa. Sana tidur, Mbak! Anak perawan jangan tidur malem-malem!” aku melambai cepat sambil berlari menuju garasi. Kunyalakan motorku dengan sekali starter. Motorku menderu. Semoga saja satpam kompleksku tidak mendugaku sebagai maling motor.

“Jangan pulang malem-malem!” baru kusadari jika mbak Senja masih membuntutiku hingga garasi.

“Iya. Aku pulang pagi kok. Dah!” kulajukan motorku perlahan keluar garasi. Kulihat kamar ibu yang tadinya gelap, sekarang kembali menyala. Aku meringis. Kurapatkan resleting jaketku sebelum menginjak pedal gigi dan menancapkan gas hingga 120 km/jam.

...***...

“Udah berapa lama Izang balapan seperti itu?” Aku baru saja memarkir motorku di garasi ketika tanpa sengaja aku mendengar pertanyaan bapak—ayah tiriku—dari ruang tamu.

“Sejak aku bercerai, Mas. Kata dia lumayan untuk tambahan uang saku daripada minta padaku,” jelas ibu kalem.

“Tapi itu kan bisa membahayakan nyawanya. Kamu tidak mikir sampai ke sana? Masa demi uang berapa ratus ribu saja kamu sampai tega membiarkan Izang berkeliaran tiap malam,” aku bisa menangkap dari jendela jika bapak mondar-mandir di depan ibu.

“Dia tidak balapan tiap malam, Mas. Hanya jika teman-temannya membutuhkan joki tambahan. Dia tahu risikonya, dan aku tidak tega melarang karena itu sudah jadi hobinya. Lagipula sampai sejauh ini dia tidak pernah terluka karena balapan. Aku percaya dia bisa jaga diri,” ibu masih membelaku.

“Jadi kamu mau dia terluka dulu, masuk rumah sakit dulu, baru kamu larang balapan, begitu? Ibu macam apa kamu ini, Dik?” bentak bapak.

BRAK!

“Kalau Bapak ada masalah sama saya, langsung ke saya aja. Nggak usah ke ibu. Ibu nggak tahu apa-apa soal balapan saya,” rahangku mengeras. Baik ibu dan bapak sama-sama terkesiap melihat kedatanganku yang tiba-tiba. Dulu, aku tidak pernah berani mengganggu ayah dan ibu ketika berdebat. Aku selalu diam saja, mendengarkan mereka dari kamar. Tapi tidak untuk sekarang. Aku menghormati bapak, sama seperti aku menghormati ayahku. Tapi tuduhannya pada ibuku tadi yang membuatku tidak suka. Memangnya dia siapa? Berani-beraninya memrotes cara didik ibuku padaku.

“Nak, jangan salah paham! Bapak cuma...”

“Aku nggak salah paham, Bu. Aku dengar sendiri bapak tadi ngomong apa ke Ibu,” dengan kurang ajarnya aku memotong perkataan ibu. Kutatap laki-laki paruh baya di hadapanku dengan tajam.

Namanya Sanjaya. Lelaki 50 tahun dengan perawakan tinggi, tegap, dan berkulit sawo matang. Aku tahu alasan ibuku bisa tertarik pada lelaki seperti dia. Dia memiliki wibawa dan kesabaran yang luar biasa dalam menghadapi aku dan mbak Senja yang memang tak lagi di usia anak-anak. Kami tahu dia bukan ayah kandung kami dan dia pun tidak pernah memaksakan diri untuk terlihat seperti ayah kandung kami. Dia berbaur dengan kami secara lumrah. Dia juga tidak menyuap kami dengan hal-hal manis hanya agar dipuji di depan ibu. Aku bahkan sempat berterima kasih pada Tuhan karena ibuku bisa menikah lagi, dengan lelaki seperti dia pula. Akhirnya keluarga kami kembali normal, pikirku. Tapi perasaan bahagiaku menguap begitu saja hari ini. Bukan berarti jika dia menjadi suami ibuku, dia berhak mengaturku. Bagaimanapun juga dia masih orang asing bagiku. Dan aku tidak suka diatur oleh orang asing.

“Nak, bapak hanya khawatir...”

“Khawatir sih khawatir, tapi jangan lancang! Ibu saya sudah hidup dengan saya selama 18 tahun. Ibu yang tahu bagaimana cara menangani saya. Ibu yang tahu bagaimana keras kepalanya saya. Ibu yang paham saya. Sedangkan Bapak? Seumur jagung saja belum. Jelas Bapak tidak tahu apa-apa,” nadaku meninggi. Aku bisa mendengar derap langkah mbak Senja yang turun dari kamarnya dengan tergesa-gesa. Dia sontak memegang bahuku.

“Dik, jangan marah-marah dulu!”

“Apa sih, Mbak? Aku ini hanya membela ibu. Inilah alasan kenapa aku dulu sempat ragu untuk membolehkan ibu menikah lagi. Karena aku pasti harus menyesuaikan diri dengan orang asing yang tidak tahu apa-apa tentangku. Yang akan bertingkah semaunya sendiri terhadap anak-anak ibu. Memangnya dia sudah becus mengurus dirinya sendiri?”

“Izang!” ibu berdiri seketika. Mbak Senja langsung berjalan ke arah ibu, menenangkannya. Aku tahu ibu tidak suka dengan sikapku. Tapi aku sudah benar-benar murka. Kuhadapkan badanku ke arah bapak dan menodongkan jari telunjukku ke arahnya.

“Kalau Anda sampai membentak ibu saya sekali lagi, saya tidak akan menganggap Anda sebagai bapak sampai kapan pun,” ujarku sebelum berlalu dari ruang tamu. Aku sempat menangkap raut meminta maaf dari bapak. Masa bodoh. Kepalaku masih panas untuk bisa memaafkan. Begitu sampai di kamar, kubanting pintuku sekeras-kerasnya. Aku mengetik nama Ara.

“Halo! Chan?”

“Ya? Kenap...”

“Aku nanti malam balapan lagi,”

...***...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!