NovelToon NovelToon
PELET LAKNAT 2

PELET LAKNAT 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri
Popularitas:637
Nilai: 5
Nama Author: HERMAWAN 505

Ditolak di depan teman-temannya sendiri, harga diri Jaka hancur berkeping-keping. Satu penolakan yang seharusnya cuma luka kecil, kini menjelma dendam yang membutakan.

Demi mendapatkan Dea—perempuan yang menolaknya—Jaka rela menempuh jalan yang tak seharusnya dilalui siapa pun: mencuri, berbohong, dan akhirnya menyerahkan dirinya pada ilmu hitam seorang dukun tua di ujung hutan bambu.

Namun, cinta yang direbut paksa selalu punya harga. Dan harga itu tak pernah berhenti di satu nyawa saja.

PELET LAKNAT 2 — ketika obsesi menemukan jalannya lewat kegelapan, siapa yang benar-benar akan selamat?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HERMAWAN 505, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PONDOK DI UJUNG KEGELAPAN

# PELET LAKNAT 2

## Bab 11: Pondok di Ujung Kegelapan

Jaka dan Kiki terus melangkah menembus pekatnya malam, menyusuri jalan setapak yang kian menyempit. Sesekali akar-akar pohon raksasa melintang gagah menghalangi langkah, memaksa mereka melompati dahan licin bahkan merangkak rendah menembus semak belukar demi bisa lewat.

Malam kian larut dan hawa dingin seakan menembus jaket yang mereka kenakan. Namun, jangankan perkampungan, secuil pendar cahaya lampu pun tak kunjung terlihat di balik rimbunnya hutan belantara. Hanya kegelapan abadi yang menyelimuti pandangan mereka.

"Ki! Kata kamu tadi cuma sepuluh menit lagi! Kita sudah jalan hampir setengah jam tapi belum kelihatan juga rumahnya?" tanya Jaka mulai gusar, napasnya memburu menahan lelah dan rasa ragu yang kian memuncak.

Mendengar protes itu, Kiki yang berjalan di depan menghentikan langkahnya seketika. Ia memutar badan, menatap Jaka dengan raut wajah tenang di bawah remang cahaya senter.

"Sabar kenapa, Jak! Percaya saja sama aku, kita nggak bakal nyasar, kok," jelas Kiki tegas. Ia lantas membuka tutup botol plastik di tangannya dan meneguk airnya sampai tandas, lalu melanjutkan, "Ingat, kita nggak mungkin balik arah lagi setelah semua rintangan yang kita lewati tadi."

Jaka yang kelelahan hanya bisa menghela napas panjang. Dengan napas terengah-engah, ia mengusap peluh di dahinya menggunakan lengan jaket seraya menatap remang sosok Kiki di depannya.

"Iya sih! Tapi kamu yakin cara ini bisa berhasil? Setelah semua rintangan yang kita lewati," tanya Jaka kembali, suaranya bergetar menahan cemas.

Kiki lantas menghampiri Jaka dan menepuk keras bahu sahabatnya itu, mencoba menenangkan sekaligus menahan langkah Jaka.

"Sudah, kamu tenang saja. Kalau kamu sungguh-sungguh, pasti berhasil. Tapi kalau kamu mau main-main, kamu tanggung risikonya sendiri!" tegas Kiki dengan raut wajah mendadak serius.

Mendengar hal itu, Jaka terbelalak melongo. Ia menelan ludah dengan susah payah, mendadak tenggorokannya terasa sangat kering.

"M-maksud kamu risikonya apa, Ki? Kenapa kamu nggak bilang dari awal kalau ada risikonya?" tanya Jaka gagap, matanya membelalak panik.

"Yah, tentu risiko pasti ada! Tapi itu cuma buat orang-orang yang lemah. Aku lihat kamu berpotensi besar karena kamu sungguh-sungguh. Sudah, tenang saja, kamu pasti sukses! Yuk kita lanjut lagi, sebentar lagi sampai," sahut Kiki santai, membalikkan badan seraya kembali mengayunkan langkahnya menembus kegelapan.

Tanpa memperpanjang pembicaraan lagi, Jaka hanya bisa pasrah dan berjalan menguntit Kiki dari belakang dengan langkah kaku.

Dan setelah lima menit berjalan menembus semak belukar, akhirnya sebuah pendar cahaya remang kejinggaan terlihat menyusup dari balik kegelapan di kejauhan.

"Tuh, Jak, rumahnya! Kamu lihat cahaya itu?" seru Kiki setengah berbisik, menunjuk ke arah pendar redup di depan sana.

"Iya, Ki, aku lihat! Akhirnya sampai juga... kakiku sudah lemas banget ini, Ki," keluh Jaka menepuk-nepuk pahanya yang terasa pegal luar biasa.

"Makanya cepat jalannya, supaya kita bisa cepat istirahat!" sahut Kiki seraya kian mempercepat ayunan langkah kakinya, meninggalkan Jaka yang terengah-engah menyusul di belakang.

Tepat saat mereka keluar dari belukar bambu, sebuah gubuk tua beratap ijuk lapuk berdiri kokoh di atas tanah yang menghitam. Tidak ada lampu listrik sama sekali; hanya sebuah obor kecil dan lentera minyak dengan nyala merah temaram yang berayun pelan ditiup angin di teras reotnya. Bau kemenyan dan tanah basah mendadak menyengat menusuk hidung.

Mereka berdua pun mendekati rumah tua tersebut tanpa ragu. Setiap ayunan langkah mereka terasa berat namun mantap, didorong oleh keyakinan licik dan tekad yang kian membuncah.

Kiki menghentikan langkah tepat di depan tangga kayu yang lapuk, mengarahkan sorot senternya ke bawah untuk memastikan pijakan.

"Ingat, Jak... mulai dari sini, jaga sikap dan mulutmu," bisik Kiki lirih, menoleh ke belakang seraya menatap tajam ke dalam manik mata Jaka.

Jaka tidak menjawab, hanya mengangguk kecil dengan sorot mata yang tetap menatap lekat bangunan tua di hadapannya.

Suasana di pekarangan rumah itu terasa amat sangat sunyi. Hanya ada gesekan dedaunan, nyanyian jangkrik dan serangga malam yang bersahutan, serta hembusan angin dingin yang menggesek dahan pepohonan di sekeliling gubuk.

Tok... tok... tok...

"Simbah... Mbah... Mbah!" panggil Kiki setengah berteriak seraya mengetuk pintu kayu yang kusam itu.

Namun, tak ada sahutan sedikit pun dari dalam. Hanya keheningan mencekam yang menyambut panggilan mereka.

"Sepi, Ki! Kamu yakin Simbah ada di dalam? Dari tadi nggak ada jawaban..." bisik Jaka waswas, matanya celingukan menatap jendela-jendela kayu yang tertutup rapat.

"Nggak tahu, Jak! Biasanya jam segini Simbah ada di rumah. Ke mana ya Simbah?" sahut Kiki seraya melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.

Jarum jam saat itu tepat menunjukkan pukul delapan malam. Dalam remang pendar lentera minyak, mereka berdua hanya bisa berdiri terpaku, saling melirik satu sama lain dengan tatapan penuh keraguan dan kecemasan yang kian menggelembung.

Tepat saat keraguan mulai menguasai benak mereka, srek... srek! Suara gesekan daun kering terdengar nyaring dari samping rumah.

Refleks, Kiki dan Jaka menoleh serentak. Jaka merapat ke belakang punggung Kiki, dadanya berdegup kencang seraya matanya membelalak menembus kegelapan di samping gubuk.

"S-suara apa itu, Ki?" bisik Jaka gagap, cengkeramannya pada kantong plastik di tangannya makin erat hingga merenyukkan plastiknya.

Kiki tak menjawab. Ia perlahan mengarahkan sorot redup senternya ke arah asal suara. Cahaya kuning itu membelah remang, menyingkap sesosok bayangan tinggi yang perlahan keluar dari balik rindangnya rumpun bambu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!