NovelToon NovelToon
Mertua Pilih Kasih

Mertua Pilih Kasih

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami
Popularitas:612
Nilai: 5
Nama Author: Ms.Una

Tiga tahun lalu, Maya seorang gadis desa yang polos dan tulus melangkah ke kota membawa impian sederhana: membangun keluarga kecil yang bahagia bersama suaminya. Mengabdi penuh sebagai istri dan menantu, Maya dengan sabar menelan setiap cemoohan, perbedaan perlakuan, dan sikap pilih kasih dari sang ibu mertua yang selalu mengagung-agungkan menantu kayanya.

Bagi Maya, diam dan mengalah adalah kunci keharmonisan. Namun, kepasrahannya justru dimanfaatkan. Di rumah itu, Maya tak lebih dari seorang pelayan yang tenaganya diperas, sementara hak dan perasaannya terus diinjak-injak oleh keluarga parasit yang manipulative. Ketika masalah besar datang dan pengorbanannya kembali dibalas dengan pengkhianatan serta tuduhan keji, mata Maya akhirnya terbuka: kesabaran tanpa batas hanya akan membunuhnya perlahan.

Kini, Maya harus memilih: tetap bertahan dalam cengkeraman keluarga mertua yang toxic demi mempertahankan rumah tangganya, atau memberanikan diri patah arah untuk melepaskan jerat belenggu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ms.Una, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Masuk IGD

Keesokan harinya, rasa jengkel Bu Rika pada Maya ternyata belum jua surut. Sejak matahari terbit, ada saja tindak-tanduk Maya yang memicu kekesalannya. Menyapu teras dinilai kurang bersih, menyeduh teh untuk Pak Hendra dianggap terlalu manis, hingga menata piring pun dituduh sengaja membuat bising.

Namun, Maya memilih melipat rapat bibirnya. Dibalik ketenangannya, ia justru diam-diam menyusun langkah. Terutama saat Bu Rika kembali memanggilnya dengan suara nyaring dari arah ruang tamu.

"Maya! Sini kamu!" teriak Bu Rika lantang.

Maya bergegas mengelap tangannya dengan kain lap dapur lalu menghampiri sang mertua. "Iya, Bu?"

"Cepat kamu berangkat ke pasar! Nanti kesiangan masak makan siangnya, Bapak sama Arya bisa terlambat makan!" omel Bu Rika seraya merogoh dompet kainnya dan menyodorkan lima lembar uang seratus ribuan. "Ini uangnya, beli bahan yang segar. Awas kalau ada kembalian yang kurang!"

"Baik, Bu," sahut Maya tenang, cepat-cepat mengambil lembaran uang merah itu seraya menyembunyikan binar gembira di matanya.

Dengan langkah cekatan, Maya kembali ke dapur untuk mengambil tas belanja kain. Ia bahkan berjalan setengah berlari menuju pintu depan, seolah tak sabar menghirup udara luar.

"Maya kenapa sih, Bu? Kok seperti orang kesenangan begitu disuruh-suruh?" tanya Santi yang baru saja turun dari lantai atas dengan piyama sutranya, memegang pegangan tangga seraya menguap malas.

"Tidak tahu! Disuruh ke pasar jalan kaki malah kegirangan seperti orang mau pergi liburan! Sudah gila kali!" celetuk Bu Rika enteng seraya mengibaskan tangan, lalu memindah chanel televisi.

Suasana jalanan kompleks pagi itu mulai terasa ramai. Seperti biasa, di depan pagar rumah salah satu warga, tampak kerumunan ibu-ibu kompleks sedang berkerumun di gerobak tukang sayur keliling.

"Tumben baru kelihatan, May?" tegur salah satu tetangga saat melihat Maya melintas menenteng tas kain.

Maya menghentikan langkahnya sejenak, mengulas senyum ramah yang memaksakan kehangatan. "Iya, Bu... Kemarin sempat sakit."

"Lho? Lagi sakit kok malah disuruh ke pasar sendiri? Jalan kaki pula?" sahut Bu Romlah heran, melirik iba pada raut wajah Maya yang agak pucat.

"Tidak apa-apa, Bu, sekalian jalan pagi biar sehat. Saya duluan ya," pamit Maya santai, tak ingin memperpanjang obrolan yang bisa memicu tuduhan membongkar aib keluarga mertua.

Meski hatinya dipenuhi rasa syukur karena ada celah baru untuk menyisihkan sedikit uang belanja, cuaca pagi menjelang siang itu mendadak berubah sangat menyengat. Terik matahari seakan tepat berada di atas kepala.

Sebenarnya, tadi subuh saat Arya masih tertidur pulas dan mendengkur halus, Maya sempat berjingkat mendekati meja rias. Dengan jemari bergetar pelan, ia merogoh dompet suaminya dan mengambil satu lembar uang lima puluh ribuan. Lewat ponsel barunya, ia juga sudah mencari tahu perkiraan ongkos pulang ke kampung halamannya. Dibutuhkan biaya sekitar lima ratus ribu rupiah lebih untuk tiket bus dan biaya ojek untuk sampai ke desanya, sementara uang yang berhasil ia kumpulkan sejauh ini baru menyentuh angka dua ratus ribu rupiah.

Kurang tiga ratus ribu lagi... aku pasti bisa pulang, batin Maya menyemangati dirinya sendiri.

"Baru jam sembilan pagi... tapi kok panas sekali ya?" gumam Maya seraya menyapu bulir keringat dingin yang membasahi dahi dan pelipisnya.

Langkah kakinya mulai meninggalkan area kompleks dan menapak trotoar jalan raya yang bising. Hembusan angin jalanan yang membawa aroma asap knalpot pekat mendadak menampar wajahnya. Seketika perut Maya bergejolak hebat, seolah seluruh isi lambungnya didorong naik ke kerongkongan.

Maya menepi ke pinggir jalan, membungkuk dan memegang perutnya seraya menahan mual hingga matanya berair.

Badanku kumat lagi... istirahat sebentar deh, batinnya menatap nanar sebuah bangunan warung yang tutup beberapa meter di depan, berharap bisa berteduh sejenak dari sengatan matahari.

Sengatan terik yang membakar aspal, bercampur dengan debu kendaraan dan bau asap yang makin pekat, membuat pandangan Maya mulai kabur dan berkunang-kunang. Kepalanya berputar hebat, tumpuan kakinya serasa tak menapak tanah. Tinggal beberapa langkah lagi ia mencapai teras warung teduh itu, namun lututnya mendadak kehilangan seluruh tenaga.

Bruk! Tubuh kurus Maya ambruk begitu saja, terjerembap di atas semen trotoar yang panas. Tas kain belanjaannya terlepas dari genggaman.

Seorang ibu-ibu yang berjalan beberapa meter di belakangnya seketika menjerit panik dan berlari menghampiri.

"Mbak! Mbak! Astagfirullah, Mbak!" panggilnya cemas seraya menepuk-nepuk pipi Maya yang dingin dan pucat.

Melihat wanita di hadapannya tak kunjung membuka mata maupun merespons, ibu-ibu itu langsung berteriak histeris meminta pertolongan warga sekitar. Dalam sekejap, orang-orang yang melintas dan tukang ojek di pangkalan berkerumun. Beberapa pria bergegas mengangkat tubuh lemah Maya dan membawanya menggunakan mobil bak terbuka menuju rumah sakit terdekat.

Di dalam ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD) yang riuh oleh suara mesin medis, Maya terbaring tak sadarkan diri di atas brankar berseprai putih. Wajahnya pucat pasi di bawah sorotan lampu ruangan.

Tak lama kemudian, pintu dorong IGD terbuka kencang. Arya melangkah masuk dengan napas terengah-engah dan raut panik, disusul oleh Bu Rika dan Santi di belakangnya. Namun, alih-alih panik melihat kondisi sang menantu, mata Bu Rika justru jelalatan mencari satu benda.

"Mana tas belanjanya?!" bisik Bu Rika penuh selidik.

"Ya ampun, Maya..." desis Arya sedikit khawatir, melangkah mendekati ranjang dan memegang jemari istrinya yang dingin.

Bu Rika tidak memedulikan renungan anaknya. Matanya menangkap tas kain kusam yang tergeletak di meja samping ranjang. Ia bergegas merogoh isi tas itu, mengeluarkan dompet Maya dan menghitung lembaran uang merah di dalamnya satu per satu.

"Syukurlah! Uangku masih utuh lima ratus ribu!" seru Bu Rika penuh lega dengan suara yang tidak dipelankan sama sekali, mengabaikan tatapan heran dari perawat yang melintas. Ia sama sekali tidak menanyakan bagaimana keadaan Maya.

Di saat bersamaan, kelopak mata Maya bergerak pelan. Ia perlahan siuman. Rasa pusing yang teramat sangat langsung menyergap, membuat Maya memegang kepalanya yang terasa berdenyut-denyut seperti dihantam benda tumpul.

"Maya? Kamu sudah sadar? Ada yang sakit?" tanya Arya seraya memegang lengan istrinya.

"Mas Arya... ini di mana?" tanya Maya parau, suaranya hampir tak keluar, matanya masih berkunang-kunang menatap langit-langit ruangan yang serba putih.

"Kamu di rumah sakit! Cuma disuruh ke pasar saja malah pingsan di jalan! Bikin repot orang saja!" omel Bu Rika tajam tanpa perasaan, memasukkan kembali uangnya ke dalam tas. "Untung uang Ibu tidak hilang atau diambil orang!"

Mendengar jeritan omelan mertuanya yang tak kenal tempat, denyutan di kepala Maya terasa kian menyiksa. Ia memejamkan mata rapat-rapt, menahan nyeri yang kian menjadi.

"Kenapa, May? Kepalamu sakit?" tanya Arya lagi, sedikit ragu.

"Halah! Pintar sekali aktingnya biar dikasihani!" celetuk Bu Rika mencibir tajam.

Santi yang berdiri bersedekap dada di kaki ranjang ikut menimpali dengan senyum sinis yang mengembang sempurna. "Maya... kalau memang malas ke pasar, Mbak kan bisa pesankan makanan lewat aplikasi untuk makan siang nanti. Jadi kamu tidak perlu pura-pura pingsan di trotoar begini, kasihan Arya jadi ketinggalan jam kerjanya."

"Nah, betul kata Mbakmu! Jadi enak dong males-malesannya dia, dapat perhatian!" sahut Bu Rika mengompori.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!