NovelToon NovelToon
Jiwa Yang Tertukar

Jiwa Yang Tertukar

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: jihan dwi

Lexa, seorang siswi populer yang terbiasa menindas siapa saja yang menghalangi jalannya, terbangun di sebuah kamar sempit yang asing. Saat memandang cermin, ia tersentak menemukan sosok Maya gadis lugu dan pendiam yang saban hari ia jadikan sasaran rundungan di sekolah. Karna suatu kejadian, jiwanya terperangkap dalam tubuh korban yang paling ia benci.
Terjebak dalam kehidupan Maya, Lexa kini harus merasakan dinginnya lantai kamar mandi tempat ia dulu menyiram Maya, pedasnya cemoohan teman-temannya sendiri, hingga kejamnya rasa terisolasi. Demi bertahan hidup dan mencari cara kembali ke tubuh aslinya, Sephia terpaksa membalas balik intimidasi kelompoknya sendiri—kali ini menggunakan akal dan keberanian yang tak pernah dimiliki Maya sebelumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jihan dwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12

Kepanikan yang berkecamuk di dalam kepala Lexa membuat udara di dalam kamar mewahnya terasa begitu menyesakkan. Ia bolak-balik melangkah di atas karpet bulu yang tebal, meremas jemarinya yang dingin, sementara bayangan rasa malu akibat kalah dari Maya terus berputar bagaikan mimpi buruk. Tenggorokannya terasa kering menyengat akibat rasa cemas yang tak tertahankan. Demi mengalihkan pikirannya yang kacau, Lexa memutuskan untuk turun ke lantai bawah menuju dapur untuk mengambil segelas air dingin.

Rumah megah itu begitu hening di malam hari. Hiasan lampu dinding membiaskan cahaya temaram yang menenangkan, sangat bertolak belakang dengan gemuruh amarah dan ketakutan di dalam dada Lexa. Dengan langkah kaki tanpa suara di atas lantai marmer, Lexa menyusuri lorong lantai satu.

Namun, saat ia melintas di depan pintu kayu jati tebal yang sedikit terbuka ruang kerja pribadi papanya sebuah suara berat bergema dari dalam. Langkah kaki Lexa seketika terhenti. Ia menempelkan tubuhnya di balik dinding, mengintip dari celah pintu yang terbuka separuh.

Di dalam ruangan beraroma kayu mahoni dan kertas mahal itu, papa Lexa sedang berdiri di dekat jendela besar, memegang ponsel pintarnya yang tertempel di telinga. Wajah pria paruh baya yang selalu memanjakan Lexa itu tampak sangat berwibawa.

"Iya, Pak Ketua Panitia... Semua dana hibah dan piala utama untuk Perlombaan Olimpiade Sains tingkat Kota minggu depan sudah disetujui oleh sekretaris saya," ujar Papa Lexa dengan nada bicara yang dominan dan penuh kuasa. "Perusahaan saya adalah sponsor utama tunggal untuk acara tersebut. Saya hanya minta satu hal pastikan publikasi media berjalan sempurna dan nama yayasan kita terpampang jelas di panggung kehormatan."

Pria itu terkekeh pelan menyahut ucapan dari seberang telepon. "Tentu saja. Semua lembar soal, kunci jawaban, dan berkas penilaian akhir kan diproses di bawah pengawasan tim yang didanai perusahaan saya. Jadi, tolong pastikan kerahasiaannya terjaga sampai hari-H."

Mendengar percakapan itu, mata Lexa seketika membelalak lebar. Napasnya tertahan untuk beberapa detik di tenggorokan.

"Sponsor utama? Kunci jawaban diproses di bawah pengawasan perusahaan Papa?"

Seketika itu juga, kepanikan, rasa takut, dan benak liar Lexa yang tadinya buntu mendadak terang benderang. Sebuah senyum sinis yang licik perlahan-lahan terukir di bibir cantiknya. Rasa cemas yang meremukkan dadanya beberapa menit lalu menguap tanpa bekas, berganti dengan gelombang rasa percaya diri yang membakar. Takdir seolah-olah baru saja menyodorkan sebuah jalan pintas yang sangat sempurna di hadapannya.

Tanpa mengambil air minum yang tadinya ia tuju, Lexa berbalik arah dengan langkah pelan dan penuh kehati-hatian, kembali menuju kamarnya di lantai atas.Begitu pintu kamar mewahnya terkunci rapat, Lexa menjatuhkan diri di atas kursi riasnya. Ia menatap pantulan dirinya di dalam cermin besar berukir emas seorang gadis yang kembali merasa memegang kendali penuh atas dunia di sekitarnya."Olimpiade sains? Soal-soal rumit?" Lexa tertawa kecil, suara tawa bernada meremehkan memecah kesunyian kamar. "Buat apa susah-susah belajar sampai pusing kalau kunci jawabannya ada di dalam genggaman keluarga gue sendiri?"

Di kepala Lexa yang dipenuhi gengsi dan kecurangan, sebuah rencana yang menurutnya sangat cerdas mulai tersusun dengan sangat rapi. Ia tidak perlu memeras otak untuk mempelajari materi genetika, anatomi, atau rumus-rumus biologi yang membingungkan. Yang perlu ia lakukan hanyalah memanfaatkan posisinya sebagai putri tunggal dari penyokong dana terbesar acara tersebut.

Lexa menyambar ponsel pintarnya dari atas tempat tidur, lalu mulai mengetik dan menyusun langkah-langkah aksinya dengan cermat:

**Langkah Pertama: Memanfaatkan Kemanjaan Papa.** Lexa tahu betul bahwa papanya tidak pernah bisa menolak permintaan putri kesayangannya. Besok malam, saat mamanya sedang tidak berada di rumah, Lexa berniat berpura-pura sangat antusias dengan olimpiade tersebut di depan papanya. Ia akan berpura-pura butuh "bocoran kisi-kisi resmi" dengan alasan ingin membanggakan nama keluarga di panggung yang disponsori oleh papanya sendiri. Dengan sedikit bujukan manis dan air mata buatan, papanya pasti akan menyuruh sekretaris pribadinya untuk mengirimkan berkas soal beserta kunci jawaban utuh ke email Lexa.

**Langkah Kedua: Menghafal Kunci Jawaban.** Setelah mendapatkan berkas bocoran soal dan kunci jawaban lengkap, Lexa hanya perlu menghafal abjad jawaban atau pola rumus penting beberapa hari sebelum perlombaan. Tanpa perlu memahami konsep rumitnya, ia bisa mencetak nilai sempurna seratus bulat di lembar jawabannya nanti.

**Langkah Ketiga: Menghancurkan Mental dan Reputasi Maya.** Ini adalah puncak dari rencana liciknya. Lexa tidak hanya ingin menang ia ingin menghancurkan Maya sedalam-dalamnya. Pada hari perlombaan nanti, Lexa akan memastikan dirinya keluar sebagai Juara Pertama dengan nilai tertinggi, sementara Maya berada di bawahnya. Setelah itu, Lexa akan berpura-pura "menemukan" bocoran soal di dalam tas kusam milik Maya sebelum pengumuman juara, membingkai seolah-olah Maya—si anak miskin yang ambisius—telah melakukan kecurangan demi memenangkan hadiah uang tunai olimpiade.

Dengan rencana jahat yang terstruktur itu, Lexa membayangkan dua kemenangan besar sekaligus dalam genggamannya ia akan disanjung oleh para guru sebagai murid jenius yang mengalahkan Maya, mamanya akan terbungkam dan terpaksa mengembalikan seluruh uang jajan serta kartu kreditnya, dan Maya akan dikeluarkan dari sekolah dengan cap sebagai penipu miskin yang tak tahu diri.

Lexa bersandar di kursi riasnya, memoleskan lip balm di bibirnya sambil tersenyum puas. Rasa rendah diri dan bayangan kekalahan yang sempat menghantuinya kini berganti menjadi antisipasi kejam yang tak sabar ingin ia eksekusi.Ia melirik ke arah jendela kamarnya yang mengarah ke kegelapan malam kota. Di luar sana, di sebuah gubuk papan yang dingin, Maya mungkin sedang belajar setengah mati di bawah remang lampu meja, membolak-balik buku-buku tebal perpustakaan demi sebuah impian jujur.

"Belajarlah yang rajin, Maya..." bisik Lexa penuh racun ke arah kegelapan malam. "Kumpulkan semua kepintaran dan air mata kamu. Karena minggu depan, gue bakal pastikan kepintaran kamu itu nggak ada harganya sama sekali di depan kekuatan uang keluarga gue."

Dengan hati yang dipenuhi rasa puas akan rencana liciknya, sang ratu sekolah akhirnya bisa memejamkan mata dan tertidur lelap, sama sekali tak menyadari bahwa takdir sedang menjahit benang-benang karma yang jauh lebih rumit dari apa yang mampu dijangkau oleh akal piciknya.

1
Hadi Mulyono
seru ceritanya
Hadi Mulyono
jaman sekarang jangankan anak orang kaya .anak orang biasa ga pny aja bnyk yg kelakuan gayanya kaya orang kaya .kasihan maknya jg
Hadi Mulyono
kapan nih pindah jiwa maya
Hadi Mulyono
di awal cerita SDH menarik semoga bab nya ga terlalu panjang yg penting pny kualitas isi yg bagus
lily
cerita yang menarik semoga sampai tamat..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!