“Dia cuma budak. Dia harus ngerasain gimana susahnya hidup kalau nggak nurut sama gue.”~Reja Alfarizi Bagaskara
Celin Amara Kusuma tak pernah menyangka utang ayahnya akan menyeretnya ke dalam keluarga Bagaskara—bahkan membuat hidupnya terikat pada Reja, pemuda arogan yang menganggapnya hanya sebagai jaminan.
“Nggak akan ada cinta di sini, Celin. Cuma ada gue sebagai tuan lo.”
Bagi Reja, Celin adalah hukuman atas kebebasan yang dirampas ayahnya. Namun semakin ia berusaha menghancurkan gadis itu, semakin sulit ia mengabaikan keberanian dan keteguhan Celin.
Ketika kebencian perlahan berubah menjadi rasa yang tak bisa dijelaskan, siapa sebenarnya yang akan menjadi babu dari perasaan mereka sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alia Chans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Sementara Deo yang tadinya akan duduk, malah meleset dan jatuh terduduk di lantai dengan bunyi gedebuk yang keras.
"Hah?! Apa lo bilang?! Nikah?!" teriak Deo dari lantai, suaranya melengking sampai ke langit-langit basecamp.
"Lo jangan bercanda, Rej! Gue tau lo emang gila, tapi nggak segila ini juga!"
Kateo langsung berdiri, memegang dahi Reja dengan tangan yang masih berminyak bekas keripik. "Rej, lo panas? Apa tadi pas berangkat sekolah lo ketabrak gerobak bakso? Lo nikah sama si kutu buku itu? Demi apa?!"
Reja menepis tangan Kateo dengan kasar. "Papa gue yang jodohin. Bokapnya Celin punya utang budi sama bokap gue, dan bokap gue butuh pengawas buat gue yang menurut dia terlalu liar. Semalam, si Celin ngebongkar borok perusahaan keluarga Rian di depan bokap gue supaya dia dapet poin plus. Makanya si Rian ngamuk."
Deo bangkit dari lantai sambil mengelus pantatnya yang sakit, tapi wajahnya kini berubah dari syok menjadi penuh tawa tertahan.
"Bentar, bentar... Jadi selama ini alasan lo jarang ikut kita nongkrong sampe malem karena harus... pulang ke istri lo? Lo ada jam malem sekarang, Rej?"
Kateo mulai ikut tertawa, mencoba mencairkan keterkejutannya. "Gila! Gue nggak kebayang Reja si playboy sekolah, sekarang kalau mau beli rokok harus minta uang jajan sama istri dulu."
"Sialan lo berdua!" bentak Reja, tapi ia tidak bisa menahan senyum miringnya.
Kateo menimpali dengan gaya bicara yang dibuat-buat serius. "Berarti mulai sekarang kalau kita mau ngajak lo tawuran, kita harus kirim surat izin ke Celin dulu? 'Kepada Yth. Nyonya Reja, mohon izin suaminya mau dipinjam buat baku hantam sebentar'?"
"Bacot lo semua!" Reja melempar bantal sofa ke arah Kateo yang langsung menghindar sambil tertawa terbahak-bahak.
"Tapi jujur Rej," Deo kembali duduk di samping Reja dengan raut wajah yang sedikit lebih tenang. "Gue kaget setengah mati. Tapi gue juga paham kenapa lo senyum tadi. Lo berhasil bikin Rian dendam kesumat sama Celin. Berarti sekarang Celin bener-bener sendirian, kan?"
Reja mengangguk, matanya menatap tajam ke depan. "Itu tujuannya. Gue pengen dia tau rasanya nggak punya siapa-siapa. Dan si Rian? Dia dapet pelajaran karena udah sok pahlawan bantuin si anak beasiswa di belakang gue."
Kateo menghela napas, menggeleng-gelengkan kepalanya. "Lo bener-bener iblis, Rej."
Meskipun kabar pernikahan Reja sangat mengejutkan, kehadiran Deo dan Kateo dengan candaan konyol mereka setidaknya membuat Reja merasa memiliki kendali penuh atas situasi gila ini.
Namun, jauh di sudut hatinya, Reja tahu bahwa dengan terbongkarnya rahasia ini ke teman-temannya, hidup Celin di sekolah akan menjadi jauh lebih sulit mulai besok.
Malam itu, rumah mewah milik Reja dan Celin terasa jauh lebih luas dan dingin dari biasanya. Celin baru saja menyelesaikan pekerjaannya di ruang tamu, saat ponselnya bergetar di atas meja. Nama Papa Adrian tertera di layar.
Celin menarik napas panjang, menata suaranya agar terdengar setenang mungkin sebelum menekan tombol terima.
"Halo, Pa?"
"Celin," suara berat dan berwibawa Adrian terdengar dari seberang telepon. "Papa sudah melihat laporan yang kamu kirimkan tentang perusahaan keluarga Gunawan. Kerja bagus. Analisis kamu sangat tajam, bahkan jauh lebih teliti daripada staf keuangan Papa."
Celin tersenyum tipis, meski tidak ada yang melihatnya. "Terima kasih, Pa. Itu cuma analisis sederhana."
"Tidak perlu merendah. Kamu sudah membantu Papa mengambil keputusan besar. Sebagai bentuk apresiasi, Papa ingin kamu dan Reja makan malam di rumah besok malam."
Adrian berhenti sejenak, lalu nada suaranya berubah menjadi lebih menyelidik. "Ngomong-ngomong, di mana Reja sekarang? Apa dia sedang bersamamu?"
Jantung Celin berdegup kencang. Ia melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 11 malam. Reja sudah pergi sejak sore tadi dengan motornya, tanpa sepatah kata pun.
Celin tahu Reja sedang dalam fase pelarian—ia akan pulang saat dunia sudah tidur, biasanya sekitar jam 2 atau 3 pagi, sebelum akhirnya ia benar-benar disibukkan dengan tanggung jawab di perusahaan sang Papa.
Celin memejamkan mata, memikirkan konsekuensi jika Adrian tahu putranya keluyuran di tengah malam.
"Reja... dia ada di kamarnya, Pa," jawab Celin tenang, meskipun hatinya bergetar. "Kita lagi belajar bersama buat persiapan ujian akhir."
Ada keheningan sejenak di ujung sana. "Oh, begitu? Baguslah. Papa senang mendengarnya. Sampaikan padanya, Papa tidak ingin ada alasan untuk absen makan malam besok. Pastikan kalian berdua sampai tepat waktu."
"Baik, Pa. Kami akan datang," jawab Celin singkat.
"Selamat istirahat, Celin."
Klik.
Panggilan terputus. Celin meletakkan ponselnya, tubuhnya lemas seketika. Ia bersandar di kursi, menatap keluar jendela kamar yang gelap.
Ia baru saja berbohong demi Reja—orang yang justru sedang berusaha menghancurkan hidupnya di sekolah.
"Bodoh," gumam Celin pada dirinya sendiri. "Kenapa gue masih ngelindungi dia?"
---
Pukul 01.30 pagi.
Celin masih terduduk di sofa ruang tengah rumah baru mereka. Rumah yang seharusnya menjadi awal kehidupan baru itu terasa seperti penjara yang sunyi.
Ia sengaja tidak mematikan lampu ruang tamu, sekadar memberikan kesan bahwa penghuninya belum terlelap.
Suara deru motor Reja terdengar memasuki halaman, disusul suara pintu garasi yang terbuka dengan kasar. Celin bangkit, berdiri di dekat meja yang masih menyisakan beberapa tumpukan buku dan laptop yang sengaja ia biarkan terbuka.
Pintu depan terbuka, dan Reja masuk dengan jaket kulit yang tersampir di bahunya. Bau rokok dan udara malam langsung tercium. Reja sempat tertegun melihat Celin masih terjaga.
"Belum mati lo jam segini?" tanya Reja ketus, melempar kunci motornya ke atas meja hingga menimbulkan bunyi nyaring.
"Papa telepon tadi," jawab Celin tenang, mengabaikan sarkasme Reja.
Langkah Reja yang tadinya menuju tangga langsung terhenti. Ia berbalik, matanya yang merah karena kurang tidur menatap Celin tajam. "Ngapain Papa telepon? Mau nanya laporan lo lagi?"
"Papa ngundang kita makan malam besok di rumah. Merayakan keberhasilan akuisisi perusahaan keluarga Rian," Celin menjeda sejenak, "Tadi Papa tanya lo ada di mana."
Reja mendengus, sebuah senyum miring tersungging di bibirnya. "Terus? Lo bilang apa? Lo bilang gue lagi di luar bareng Deo sama Kateo buat ngerayain kehancuran temen gue sendiri?"
Celin menggeleng pelan. "Gue bilang lo lagi belajar di kamar. Gue bilang kita lagi persiapan ujian akhir bareng-bareng."
Reja terdiam. Ia menatap buku-buku yang terbuka di atas meja, lalu menatap Celin. Ada keheningan yang canggung di antara mereka.
Reja tidak menyangka bahwa gadis yang baru saja ia siksa di sekolah tadi siang justru menutup-nutupi kenakalannya di depan sang Papa.
"Gue nggak butuh lo buat jadi pahlawan di depan bokap gue, Celin," gumam Reja, meskipun nada bicaranya tidak sekeras biasanya.
"Gue nggak jadi pahlawan buat lo, Reja," potong Celin dengan suara dingin. "Gue ngelindungin diri gue sendiri. Kalau Papa tau lo keluyuran jam dua pagi, dia bakal marah besar, dan ujung-ujungnya gue yang kena imbasnya karena dianggap nggak bisa ngurus lo."
Bersambung....