NovelToon NovelToon
Suami Kredit

Suami Kredit

Status: sedang berlangsung
Genre:Komedi / Nikah Kontrak / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: Desau

Jangankan barang, bahkan suami pun bisa dibayar kredit!

Ya, itulah yang dialami Tia. Dia nekat membayar seorang lelaki tampan bernama Sam untuk dijadikan suaminya. Namun karena uang Tia belum cukup, dia terpaksa meminta pembayaran sistem kredit. Bagaimana kocaknya kisah cinta mereka?

"Gaji saya cuma staf admin biasa, Mas. Jadi... tiga juta itu mau saya bayar secara kredit. Cicilan sepuluh kali, tiga ratus ribu per bulan, bunga nol persen. Bagaimana?" - Tiana Anjani.

"Hah?! Mbak bercanda ya?!" - Sam alias Samsudin.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 10 - Kabar Ayah

Samsudin menatap langit-langit lorong rumah Tante Lies yang dicat putih bersih, menimbang-nimbang antara akal sehatnya yang sudah di ambang batas dan tuntutan realitas finansial yang tak kalah kejam. Di satu sisi, ide berpura-pura menikah secara resmi adalah kegilaan tingkat dewa. Namun, di sisi lain, bayangan tagihan uang sekolah adiknya yang belum lunas dan tunggakan listrik kontrakan neneknya di kampung seolah menampar pipinya keras-keras.

Sam menghela napas panjang hingga kemeja putih slim-fit-nya meregang kencang di bagian dada.

"Oke, Mbak Tia," ujar Sam pasrah, menurunkan pandangannya dan menatap mata Tia yang berkaca-kaca. "Aku setuju. Aku bakal teruskan lakon jadi 'suami kredit' ini sampai ke jenjang pernikahan sewaan."

Mata Tia seketika membelalak girang. "Beneran, Mas Sam?! Kamu mau?!"

"Iya, aku mau," sahut Sam sambil mengelus dadanya. "Tapi Mbak Tia sadar kan? Ini bukan cuma urusan datang ke arisan tiga jam terus selesai. Kalau sudah masuk ranah 'pernikahan resmi', biayanya tidak bakal cuma tiga juta rupiah! Mau dibuat se-sederhana apa pun, sewa gedung, katering, mahar sewaan, sampai penghulu itu butuh uang tunai yang tidak sedikit! Mbak Tia ada uangnya?"

Tia menggigit bibir bawahnya, meremas tas tangan mewahnya yang sebenarnya dibeli dari promo cashback toko daring. Rona panik kembali membayang di wajah cantiknya, namun ia menepisnya cepat dengan kibasan tangan.

"Soal biaya operasional pernikahan... biar aku yang pusingkan nanti!" tegas Tia, berusaha terdengar mantap meski dadanya berdebar liar membayangkan limit kartu kreditnya yang sudah sekarat. "Yang penting kamu sudah setuju pasang badan! Nanti malam, sepulang dari sini, kita bikin addendum kontrak baru di Warteg Pak Ujang. Termasuk negosiasi bunga cicilan dan tenggat waktunya!"

"Deal," jawab Sam singkat. "Tapi ingat ya Mbak, tidak ada bunga tengkulak. Dan kalau ada keluarga Mbak yang minta atraksi pegang buaya pas resepsi, itu kena biaya ekstra penanganan risiko!"

Tia tak bisa menahan senyum giginya. "Deal, Pawang!"

Sisa acara arisan keluarga besar hari itu berjalan dengan sangat mulus, bahkan terlalu mulus untuk ukuran keluarga Tia yang biasanya penuh drama. Samsudin menjadi bintang utama yang dipuja-puja. Keberhasilannya mengkambinghitamkan Aris atas insiden buang gas membuat posisi sang Branch Manager hancur lebur di mata Tante Lies dan Tante Mirna. Sepanjang sisa acara, Aris hanya bisa duduk menyudut di sofa sambil meratapi nasib dan mengunyah kue kastangel dengan wajah tertekuk.

Bu Heni tak henti-hentinya memamerkan Sam kepada sepupu-sepupunya, membanggakan betapa calon menantunya adalah pria kekar, pemberani, dan tidak gengsi. Sam menjalankan tugasnya dengan sangat profesional: tersenyum ramah, mengangguk sopan, dan mengiyakan setiap omongan emak-emak tanpa cela.

Saat jarum jam menunjukkan pukul dua siang, acara arisan akhirnya selesai. Tia dan Sam berpamitan di halaman depan rumah Tante Lies.

"Mas Sam, kamu ikut aku saja ya? Kita balik naik motor matikku," tawar Tia sambil merapikan gaunnya di dekat kendaraan roda duanya.

Sam menggeleng pelan seraya menyerahkan kunci motor ke tangan Tia. "Tidak usah, Mbak Tia. Mbak langsung pulang saja ke kontrakan, istirahat. Aku bisa naik angkot kok dari perempatan depan. Sekalian mau mampir ke warung tempat kasbonku."

"Lho? Beneran tidak apa-apa? Hari ini kan kamu sudah bantu aku banyak banget," ujar Tia agak merasa tidak enak hati.

"Santai saja, Mbak. Ini kan bagian dari pelayanan kualitas super dari 'suami kredit' Mbak Tia," ledek Sam sambil mengedipkan sebelah matanya, menampilkan lesung pipi yang membuat jantung Tia sempat berdesir halus.

Tia tersenyum hangat, lalu menyalakan mesin motor matiknya dan melesat pergi meninggalkan halaman rumah Tante Lies.

Satu jam kemudian, Samsudin melangkah gontai menyusuri gang sempit menuju kostannya. Kemeja putih mewahnya sudah ia lepas dan digulung rapi di dalam tas kain, menggantinya dengan kaus oblong lusuh agar tidak kotor. Aromanya yang semula wangi woody-citrus kini mulai bercampur dengan bau asap jalanan dan keringat sore.

Pikiran Sam melayang-layang membayangkan tambahan uang sewa dari proyek pernikahan palsu ini. Jika Tia menyetujui cicilan baru sebesar lima ratus ribu per bulan selama dua tahun, ia bisa mengirimkan uang bulanan yang lebih layak untuk ibunya di kampung. Adik ketiganya tidak perlu terancam putus sekolah, dan bapak tirinya bisa dibelikan obat asam urat impor yang lebih manjur.

Namun, saat Sam baru saja hendak membelok ke lorong kamar nomor 4, langkah kakinya mendadak terhenti total.

Di depan pintu tripleks kamarnya yang berujung lapuk, berdiri seorang lelaki jangkung berpakaian sangat rapi. Pria itu mengenakan setelan jas hitam elegan, sepatu kulit mengilap tanpa debu, dan memegang sebuah map kulit tebal. Penampilannya yang terlalu klimis membuat koridor kost kumuh itu terlihat makin kontras.

Mbak Nani yang biasanya nongkrong di depan kamar hanya bisa mengintip dari balik jendela kamarnya dengan mata melotot curiga.

Sam mengerutkan dahi, memasang kuda-kuda waspada khas pawang reptil. "Cari siapa ya, Mas?"

Pria berjas hitam itu menoleh, menatap Sam dari ujung rambut hingga ujung kaki. Raut wajahnya mendadak berubah formal, lalu ia membungkukkan badannya memberi hormat yang sangat dalam.

"Selamat sore, Mas Samsudin," sapa pria itu dengan suara tenang dan penuh wibawa. "Saya Hendra, sekretaris pribadi Bapak Norman."

Mendengar nama 'Norman', raut wajah Sam yang tadinya santai seketika berubah menjadi sangat dingin dan keras. Matanya menyipit tajam.

"Mau apa lagi pria tua itu?" desis Sam tanpa basa-basi. "Kan sudah saya bilang, saya tidak mau urusan sama dia. Tolong Mas pergi dari sini sebelum saya panggil warga gang buat menyeret Mas keluar!"

Pria bernama Hendra itu tidak bergeming. Ia tidak tampak gentar, melainkan menghela napas panjang dengan raut wajah yang mendadak dipenuhi duka mendalam.

"Saya tahu Mas Samsudin sangat membenci Bapak," ujar Hendra pelan namun terdengar sangat jelas di lorong yang sepi itu. "Tapi kali ini saya datang bukan untuk membujuk Mas Sam menerima posisi direktur atau warisan bisnis."

"Terus mau apa?!" tembak Sam tajam, menyilangkan kedua tangannya yang berotot di dada.

Hendra melangkah satu pukulan lebih dekat, lalu menatap mata Sam lurus-lurus.

"Bapak Norman... saat ini sedang kritis di ruang ICU Rumah Sakit Medika," ungkap Hendra dengan nada berat.

Samsudin membatu di tempatnya. Suara jangkrik sore dan deru kipas angin tua dari kamar sebelah seolah lenyap seketika dari pendengarannya. Jantung Sam berdegup kencang secara tidak teratur. Otaknya serasa dihantam palu godam secara mendadak.

Pria yang selama puluhan tahun ini ia benci setengah mati, pria yang tega menelantarkan dirinya, adiknya, dan ibunya demi wanita lain, kini berada di ambang kematian?

"Bapak Norman terus menyebut nama Mas Samsudin sebelum kehilangan kesadarannya," lanjut Hendra, menyodorkan sebuah kartu akses rumah sakit dari dalam saku jasnya. "Beliau cuma ingin melihat anak kandung tertuanya untuk terakhir kali. Saya mohon, Mas Sam... ikut saya sekarang."

Sam menatap kartu akses berwarna perak di tangan Hendra. Langkah kakinya yang hendak berbalik masuk ke kamar terhenti kaku di atas lantai semen yang retak. Di dalam dadanya, kecamuk emosi bertarung hebat, antara dendam kesumat masa lalu yang membakar jiwa, dan rasa kemanusiaan serta ikatan darah yang tak pernah bisa benar-benar dia hapus.

1
ˢ⍣⃟ₛ ERti ˢ⍣⃟ₛ.
tambahin up dong tor lagi seru lo torr
sampai ikut nangis er baca tadi malam kasihan tia diposisinya nyesek banget gitu

udah dipecat, hutang banyak, barang² dirumah habis, suami kreditnya kalau g mau menerima keadaan lalu kabur apa gak tambah nelangsa Tia
bayangin aja melasssssss bener
Ass Yfa
Sam...kalo belum mau jujur...bilang sja ke Tia...aku siap nafkahi mb tiSd. lahir batin🤭🤭
Ass Yfa
mereka itu miskom..belum ada kejujuran diantara mereka
Ardan
Sam kamu lelaki sejati, tambahin dong kalimat, "aku sudah ada rasa ama Mba Tia" 😍
dan selain membuka hati, juga sampaikan juga bahwa kamu sekarang yang akan menafkahi,
tapi jangan dulu terbuka Sam yang Miliuner, bisa² Mba Tia pingsan sambil melotot, wkwkwk 🤣
Arin
Hayo..... mau cari alasan apa Mas Sam?? Sudah diterima kerja kantoran??? Tapi dalam hati bilang dengan gaji milyaran🤣🤣🤣🤣
Hary Nengsih
lom tau suami nya sultan
Arin
Cobalah saling terbuka, biarpun hanya suami-istri kontrak sementara.
Ida Khalifah: lanjut Thor 💪
total 1 replies
Mita Paramita
lanjut Thor 🔥🔥🔥
Khaira Almahendra
lanjoot thoor...mkn gregetan ni cerita nya😄,,,💪💪💪othor
Faidah Ida
lucu dan gemes thor,... 🤣🤣🤣

turunin gengsi nya dong Tia agar sam gercep,
tidak sabar liat mereka bucin akut thor... 😄
Ass Yfa
Samsudi...gara2 grogi..mlh bikin dapur berantakan🤭
Ass Yfa
mb Tia suruh nglamar ditempat Sam
Ardan
sing sabar mbar, bojo mu si pawang buaya, udah jadi milyader loh, utang mu wis pasti dilunasin
Rommy Wasini Khumaidi
ini pasti mimpi,gk mungkin mereka secepat kilat melakukanya
❀ ⃟⃟ˢᵏ Eʀᴛɪ
itu akibatnya main nikah² an jadi serbasalah kalau ada adegan dewasa dikit udah tegang😁
ini baru sehari lohhh kalau tiap hari apa gak tambah bingung ularnya.
er yakin kalau sering ada godaan gini gak akan lama mereka udah praktek malam pertama beneran
Ardan
makin lucu aja tingkah berdua🤣
Arin
Hayo lo..... Mba Tia. Sampai umur 35 baru ngelihat bentuk "ular ponton"?? 🤣🤣🤣 Apa lagi punya Mas Sam sang suami " kredit" Apa gak pengin di cicil dulu coba-coba kenalan dulu biar akrab🤭🤭🤭🤭
Hary Nengsih
ada2 ajs🤣🤣
Ass Yfa
😄😄😄😄ular piton...besar ya Tia...nggk pengin kamu🤭🤭
Rommy Wasini Khumaidi
sayang udah disewain kamar kalau dianggurin mas Sam,gas aja daripada nanggung,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!