Sabar adalah kata yang selalu di ucapkan ibuku kepadaku, kata itu lah yang membuat ku kuat karena kesedihan tidak selamanya ada, akan ada kebahagiaan yang menanti.
Sejak kecil aku dan ibuku hidup berdua, ayah ku tidak pernah kembali setelah berpamitan dengan ibu ku pergi merantau ke luar negeri, setelah pergi tidak pernah ayah ku mengirim uang untuk kehidupan kami, ibu ku kerja menjadi buruh cuci gosok dari rumah ke rumah, aku sering ikut dengan ibuku karena tidak ada yang menjaga ku di rumah.
Ibu ku berhasil menyekolahkan ku sampai aku selesai kuliah, kehidupan ku yang berat membuatku selalu berhati hati kepada semua orang sampai suatu hari aku bertemu Yuda di tempat kerja ku. dia meluluhkan hati ku, membuat ku percaya bahwa lelaki tidak semua seperti ayah ku. sampai suatu hari dia mengenalkanku kepada keluarganya, disitulah aku bertemu ayah ku, pria yang sudah 20 tahun tidak pernah aku temui yang hanya aku lihat dari fotonya di kamar ibuku. ternyata ayah Yuda adalah ayahku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zahira alkhansa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Harga di balik kebaikan
Selama tiga hari aku dan ibu tidur di rumah Bu Indah, putri sangat sayang kepadaku karena putri tidak punya kakak, putri menganggap aku sebagai kakaknya, setiap malam putri selalu bercerita tentang hari hari di sekolahnya, cowok yang di taksir nya semua di ceritakan nya padaku.
Sore itu Bu indah dan suaminya sudah pulang, baru kali ini aku melihat suami Bu indah. namanya Pak Iwan Syahputra , badan nya tinggi besar, tampan walaupun sudah berumur 60 tetapi aura maskulin nya masih terlihat.
Karena Bu indah sudah pulang aku dan ibu juga berpamitan kembali ke rumah. Tetapi sebelum pulang aku memberanikan diri bertanya ke Bu indah, tentang Widya. Aku ceritakan semua masalah widya ke Bu indah.
Bu indah pun menyetujui Widya tinggal bersama kami, dan memberikan Widya pekerjaan sebagai membantu bersih bersih Bu Yanti.
Sesampainya di rumah, aku mengabari Widya kabar baik ini. Dan Widya sangat senang. Mulai besok Widya bisa meninggalkan kosan nya dan tinggal bersama kami.
keesokan hari nya, saat aku mau pergi ke kampus menunggu angkot, ada mobil yang berhenti di depanku. Saat jendela mobilnya di buka, ternyata itu pak Iwan suami nya Bu indah.
" kamu cahaya kan?? Anak nya si Siti?? Mau kemana? Tanya nya, dengan setelan jas dan kacamata hitam.
" hmmm iya pak, lagi nunggu angkot pak. Mau ke kampus." jawabku
" ayok saya antar, kebetulan tujuan saya juga kesana" jawabnya
" eh, gak usah pak. Saya naik angkot aja."
jawabku
Lalu pak Iwan turun dari mobil dan membuka kan pintu untuk ku
" gak papa naik aja, biar saya antar sekalian" ucap pak Iwan
karena merasa tidak enak, aku pun masuk ke dalam mobilnya.di dalam mobilnya aku merasa kikuk. Bingung mau bicara apa, hanya mentapa ke arah jalanan saja sambil berdoa semoga cepat sampai, sialnya ini adalah jam macet sehingga terasa lama aku berada di mobil ini.
" gimana kuliah kamu?" tanya pak Iwan
" baik pak" jawab ku
" gak usah panggil pak, panggil om aja" jawab nya
" eh, iya om" jawabku lagi
" berapa no hp kamu?" Tanya nya
Sebenarnya aku ragu memberikan nya, tetapi karena menghormatinya aku pun memberikan no hp ku kepada om Iwan
" 08216547000" jawabku
" oke, om simpan ya" sambil menyetir dan menyimpan no hp ku.
" kalau kamu ada butuh sesuatu kamu hubungi om aja" ujarnya
" eh, iya om. Terimakasih om" jawab ku.
Karena sudah di lingkungan kampus, aku meminta berhenti kepada om Iwan.
" om, cahaya turun disini aja om. Itu teman teman cahaya" sambil menunjuk ke beberapa orang yang sedang berjalan
" oke cahaya" jawabnya lalu menepikan mobilnya.
Aku pun keluar mobil om Iwan secepat kilat sambil mengucapkan terimakasih.
Di dalam kelas, anak anak mulai mengejek ku.
" cieee ada yang baju baru nih, keren banget" ejek Rani kepadaku
" gak, bukan ini gak baru koq, ini baju di kasih sama Bu indah." jawabku.
" selama ini kamu tu, kayak mutiara yang tersembunyi cahaya, setelah pakai baju modis begini ternyata kamu cantik sekali" ucap Widya
"mutiara apaan" aku pun tersipu malu
" kamu tau Ya, baju yang kamu pakai ini merk ini harganya itu sekitar 800 RB an. Rata rata baju dengan merk itu harga nya di atas itu." sambung Rasmi
" gila Lo mi, baju gini aja semahal itu?? tanyaku
" iya, kalo kamu gak percaya google aja" jawab Rasmi
Aku pun berterimakasih di dalam hati kepada Bu indah, berkat Bu indah aku bisa memakai baju semahal ini. Tapi aku menjadi tidak enak dengan tindakan pak Iwan pagi ini, satu keluarga ini apa semuanya baik ya?? Aku mencoba tidak berpikir negatif ke pak Iwan. Dan tidak memikirkan masalah itu.
Saat istirahat kelas, hp ku tiba tiba berbunyi, WA dari pak Iwan.
" udah makan siang cahaya? Kamu dimana?"
isi chat pak Iwan
" ini lagi istirahat pak, tadi di bawain bekal sama ibu" ku balas wa pak Iwan.
Ada rasa bimbang di hatiku, apakah tidak masalah aku berkirim pesan dengan pak Iwan? Atau hanya perasaan kepedean ku saja.
" saya kirimin makanan ke kamu, kebetulan tadi ada rapat makanan nya banyak sisa, daripada terbuang saya kirim ke kamu aja ya. Biar bisa kamu makan dengan teman teman kamu"
Sebelum aku membalasnya pak Iwan sudah mengirim pesan lagi
" gak boleh nolak, pamalih nolak rezeki" balsnya
" iya pak terimakasih," jawabku
akupun membagikan lokasiku kepada pak Iwan, 1 jam kemudian datang pengiriman makanan, mengantar pizza, dan minuman. Aku panggil, Rani, Widya dan Rasmi. tanpa curiga apapun kami pun memakan nya.
" bisa ya Ya, satu keluarga semuanya baik baik" tanya Widya kepadaku.
" iya, aku juga heran Wid, koq bisa ya di zaman sekarang ini ada orang seperti mereka." jawabku
Pak Iwan pun semakin sering menanyakan kabar ku, terkadang menawarkan jemputan kepadaku. Tapi aku sering menolaknya. Aku takut kalau ini bukan hanya sekedar kebaikan, tapi ada harga yang harus di bayar di balik kebaikan ini.