Retna tak pernah menyangka rumah tangga yang mati-matian ia pertahankan akan berakhir dalam satu keputusan kejam: perceraian. Atas desakan suami dan ibu mertuanya, ia diusir dari rumah, seolah seluruh pengorbanan, cinta, dan tahun-tahun yang ia jalani bersama keluarga itu tak pernah berarti.
Dengan hati hancur, Retna bersumpah tak akan lagi percaya kepada laki-laki. Baginya, cinta hanyalah pintu menuju luka yang lebih dalam.
Namun, ketika ia memilih mengunci rapat hatinya, seorang pria asing justru hadir membawa kehangatan yang belum pernah ia rasakan. Pria yang dijulukinya “Mas Bule” itu memperlakukannya dengan tulus, penuh perhatian, dan kasih sayang—perlahan menggoyahkan sumpah yang selama ini ia pegang.
Di antara trauma masa lalu dan harapan yang mulai tumbuh, mampukah Retna kembali membuka hati? Ataukah pria asing itu benar-benar hadir sebagai penyembuh luka sekaligus jodoh yang selama ini diam-diam menunggunya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mitha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7 - Aku Bukan Retna
Bab 7
Aku Bukan Retna
Sejak pertemuan Claudia dengan orang tua Arman, suasana di antara mereka sedikit berubah.
Arman masih memikirkan perkataan ibunya.
Tentang sikap Claudia.
Tentang bagaimana perempuan itu sudah membuat aturan, bahkan sebelum resmi menjadi bagian dari keluarganya.
Menurut Arman, seorang istri seharusnya tetap menghormati suami dan orang tua suami.
Bukankah selama ini ia memahami hal itu?
Retna dulu juga seperti itu.
Retna tidak pernah membantah ketika Bu Mira meminta sesuatu.
Tidak pernah memprotes ketika keluarganya membutuhkan bantuan.
Tidak pernah mempersoalkan ketika Arman lebih sering memihak keluarganya.
Justru karena itulah Arman merasa rumah tangganya dulu begitu mudah diatur.
Berbeda dengan Claudia.
Perempuan itu memiliki pendirian sendiri yang tidak mudah digoyahkan.
Malam itu, Arman mengajak Claudia makan malam.
Setelah makanan tersaji, mereka sempat berbincang ringan.
Namun, pada akhirnya, Arman memutuskan untuk menyampaikan apa yang ada di pikirannya.
“Claudia.”
“Hm?”
“Aku mau membicarakan sesuatu.”
Claudia meletakkan sendoknya.
“Apa?”
“Setelah kita menikah nanti, aku ingin kamu tetap menghormati orang tuaku.”
Claudia mengangguk.
“Tentu.”
“Maksudku, bukan hanya sekadar menghormati.”
Arman menarik napas.
“Kamu juga harus bisa menyesuaikan diri.”
Claudia menatapnya.
“Menyesuaikan diri bagaimana?”
“Ya... sebagai istri.”
Wajah Claudia berubah.
“Sebagai istri?”
“Iya.”
Arman mulai merasa perlu menjelaskan maksudnya.
“Kamu harus tahu kapan harus mengalah. Kalau Mama meminta sesuatu, jangan langsung menolak. Kalau ada masalah dengan keluargaku, bicarakan baik-baik.”
Claudia menatap Arman selama beberapa detik.
Kemudian, ia tertawa kecil.
“Jadi, itu maksudmu?”
“Apa?”
“Kamu ingin aku menjadi seperti Retna?”
Arman langsung terdiam.
“Aku tidak bilang begitu.”
“Tapi maksudmu begitu.”
“Claudia—”
“Aku harus mengalah. Aku harus mengikuti kemauanmu. Aku harus menerima apa pun yang dikatakan orang tuamu.”
Nada suara Claudia mulai meninggi.
“Aku harus diam kalau mamamu meminta sesuatu.”
Arman menghela napas.
“Aku cuma ingin kamu menghormati keluargaku.”
“Aku juga ingin kamu menghormatiku.”
Claudia menatapnya tajam.
“Kamu tahu kenapa aku mau menikah denganmu?”
Arman terdiam.
“Karena aku tahu keluargamu menginginkan hubungan dengan keluargaku.”
Arman mengerutkan kening.
“Jangan mulai.”
“Aku tidak sedang memulai apa-apa.”
Claudia bersandar di kursinya.
“Aku tahu keluargamu membutuhkan hubungan bisnis dengan keluargaku.”
Arman tidak membantah.
“Aku juga tahu kamu menikahiku bukan hanya karena cinta.”
Kali ini, Arman benar-benar terdiam.
Claudia tersenyum tipis.
“Jadi, jangan sekarang kamu menyuruhku tunduk seperti istri yang tidak punya pilihan.”
“Bukan begitu maksudku.”
“Lalu apa?”
Arman tidak mampu menjawab dengan cepat.
Claudia melanjutkan.
“Aku bukan Retna.”
Nama itu kembali muncul.
Arman merasa tidak nyaman.
“Aku tahu.”
“Tidak. Sepertinya kamu belum tahu.”
Claudia mencondongkan tubuhnya.
“Aku tidak akan tinggal di rumah orang tuamu.”
“Aku tidak pernah memintamu tinggal di sana.”
“Aku tidak akan membiarkan orang tuamu mengatur rumah tanggaku.”
“Tidak ada yang mau mengatur.”
Claudia tertawa kecil.
“Kita sama-sama tahu itu tidak benar.”
Arman terdiam.
“Aku akan menghormati mereka sebagai orang tuamu,” lanjut Claudia. “Tapi mereka bukan pemilik hidupku.”
Arman mengusap wajahnya.
“Claudia, kamu calon istriku.”
“Justru karena aku calon istrimu, aku ingin semuanya jelas sejak awal.”
Claudia menunjuk dirinya sendiri.
“Aku tidak akan menjadi perempuan yang hanya diam ketika suaminya mengambil keputusan.”
Kemudian, ia menatap Arman.
“Dan aku tidak akan seperti Retna.”
Arman langsung menegang.
“Jangan membandingkan dirimu dengan dia.”
“Aku tidak membandingkan.”
Claudia mengambil tasnya.
“Aku hanya sedang mengingatkanmu.”
Ia berdiri.
“Kalau kamu ingin istri yang selalu menurut, seharusnya kamu tidak memilihku.”
Claudia berjalan meninggalkan meja.
Arman hanya bisa memandanginya.
Untuk pertama kalinya, ia menyadari sesuatu.
Claudia memang jauh berbeda dari Retna.
Namun, anehnya, justru perbedaan itulah yang dulu membuatnya tertarik.
Sementara itu, pagi di Bali terasa begitu cerah.
Retna baru selesai mencuci beberapa pakaian ketika mendengar suara dari halaman depan.
Ia berjalan mendekat.
Nathan sedang mencuci mobil pribadinya.
Pria itu mengenakan kaus tanpa lengan sederhana dan celana pendek.
Tangannya memegang selang air.
Sesekali, Nathan menyeka keringat di dahinya.
Retna berhenti.
Awalnya, ia hanya ingin mengambil jemuran yang berada tidak jauh dari sana.
Namun, pandangannya justru tertahan.
Nathan terlihat sangat berbeda ketika sedang bekerja.
Retna buru-buru menundukkan wajah.
“Kenapa aku malah melihat-lihat?”
Ia berusaha mengambil jemuran.
Namun, beberapa kali matanya kembali melirik.
Tanpa Retna sadari, Nathan sebenarnya sudah menyadarinya.
Pria itu sengaja tidak langsung mengatakan apa-apa.
Ia malah melanjutkan mencuci mobil sambil sesekali melirik ke arah Retna.
Retna yang merasa diperhatikan langsung salah tingkah.
Ia pura-pura sibuk merapikan pakaian.
Kemudian, terdengar suara Nathan.
“Retna.”
Retna tersentak.
“Iya?”
“Kamu dari tadi melihat saya?”
Wajah Retna langsung memerah.
“Tidak!”
Nathan tersenyum.
“Yakin?”
“Iya.”
“Kalau begitu, kenapa wajahmu merah?”
Retna langsung memegang pipinya.
“Panas.”
Nathan melihat ke langit.
“Padahal masih pagi.”
Retna semakin gugup.
“Saya... mau menjemur pakaian.”
Nathan mengangguk.
“Tentu.”
Retna buru-buru berbalik.
Namun, Nathan kembali berkata,
“Kalau mau melihat, tidak perlu sembunyi-sembunyi.”
Retna langsung berhenti.
Ia menoleh dengan mata membesar.
“Saya tidak melihat!”
Nathan tertawa.
“Baiklah.”
Retna merasa ingin menghilang.
Ia buru-buru berjalan menuju tempat jemuran.
Namun, Nathan masih sempat berkata,
“Padahal saya tidak keberatan kalau kamu melihat.”
Retna hampir menjatuhkan pakaian yang dibawanya.
“Nathan!”
Nathan tertawa lepas.
Retna menutup wajahnya dengan pakaian.
“Jangan bercanda begitu.”
“Kenapa?”
“Bikin saya malu.”
Nathan tersenyum.
“Berarti kamu memang malu?”
Retna tidak menjawab.
Nathan kembali mencuci mobil sambil tersenyum.
Ia tidak menyangka perempuan yang terlihat begitu polos itu bisa membuat suasana rumah menjadi jauh lebih menyenangkan.
Sejak pertama kali bertemu, ada sesuatu dalam diri Retna yang membuatnya tertarik.
Bukan hanya karena wajahnya yang cantik.
Namun, juga karena sikapnya.
Retna tidak berusaha menarik perhatian.
Ia tidak banyak bicara.
Bahkan ketika Nathan mencoba menggoda, reaksinya selalu jujur dan polos.
Nathan menyukai hal itu.
Setelah mobil selesai dicuci, Nathan berjalan mendekati Retna.
“Retna.”
“Iya?”
“Kamu sudah sarapan?”
“Sudah.”
“Bohong.”
Retna mengernyit.
“Kok tahu?”
“Kalau sudah sarapan, kamu tidak akan melihat makanan saya tadi pagi.”
Retna terdiam.
Nathan tertawa.
“Kamu lapar?”
“Sedikit.”
“Kalau begitu, makan bersama saya.”
Retna menggeleng.
“Saya masih banyak pekerjaan.”
“Pekerjaan bisa nanti.”
Nathan mengambil salah satu pakaian dari tangan Retna.
“Biar saya bantu.”
Retna langsung panik.
“Tidak usah!”
“Kenapa?”
“Ini pekerjaan saya.”
Nathan tersenyum.
“Saya tahu.”
“Kalau begitu—”
“Saya cuma mau membantu.”
Retna akhirnya menyerah.
Mereka berdiri berdampingan menjemur pakaian.
Sesekali, tangan mereka hampir bersentuhan.
Retna selalu cepat-cepat menarik tangannya.
Nathan memperhatikan reaksi itu dengan senyum kecil.
Ia semakin yakin.
Perempuan ini memang sangat polos.
Dan semakin ia mengenalnya, semakin besar rasa ingin tahunya.
Namun, Nathan juga tahu bahwa Retna sedang menyembunyikan sesuatu.
Sesuatu yang cukup berat hingga membuatnya memilih pergi jauh dari rumah.
“Aku boleh bertanya sesuatu?” tanya Nathan.
Retna langsung berhenti.
“Pertanyaan apa?”
“Kamu sebenarnya sudah menikah atau belum?”
Tangan Retna yang sedang memegang pakaian langsung terdiam.
Wajahnya berubah.
Beberapa detik kemudian, ia memaksakan senyum.
“Kenapa bertanya begitu?”
“Tidak apa-apa.”
Nathan memperhatikan wajahnya.
“Kamu terlihat seperti seseorang yang sedang berusaha melupakan masa lalu.”
Retna menunduk.
Ia tidak menjawab.
Nathan tidak memaksa.
“Kalau kamu belum mau bercerita, tidak apa-apa.”
Retna mengangguk pelan.
“Maaf.”
“Kamu tidak perlu meminta maaf.”
Nathan tersenyum.
“Saya bisa menunggu.”
Retna menatapnya.
Entah kenapa, kalimat itu membuat hatinya berdebar.
Ia segera mengalihkan pandangan.
“Saya mau menyelesaikan pekerjaan.”
Nathan tersenyum.
“Baik.”
Retna kembali menjemur pakaian.
Namun kali ini, wajahnya masih terasa panas.
Sementara itu, Nathan diam-diam tersenyum.
Ia belum tahu apa yang disembunyikan Retna.
Tetapi, ia tahu satu hal.
Ia ingin mengenal perempuan itu lebih jauh.
Pelan-pelan.
Tanpa memaksa.
Dan mungkin, tanpa Retna sadari, rasa penasaran itu sudah mulai berubah menjadi ketertarikan.