Ye Xinyue, mahasiswa hukum tingkat akhir, meninggal karena kelelahan mengerjakan skripsi. Namun, bukannya masuk surga, ia justru terbangun sebagai Selir ke-20 Kaisar Tianyu dalam webtoon *** yang sering dibacanya. Mengetahui bahwa tokoh ini akan mati di tengah perebutan kekuasaan, Xinyue bertekad mengubah takdir. Ia memilih hidup tenang, menjauhi kaisar, politik istana, dan para selir. Sayangnya, rencananya gagal ketika Kaisar Tianyu mulai memperhatikannya. Lebih buruk lagi, alur cerita perlahan berubah: tokoh yang seharusnya mati masih hidup dan kejadian baru bermunculan. Kini Xinyue harus bertahan hidup sambil mencari alasan mengapa kedatangannya telah mengubah seluruh takdir Tianyu dan rahasia besar di balik semuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fresh Tea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Why Is the Emperor Looking at Me?
Langkah kaki Xinyue bergema melintasi jembatan batu menuju Kediaman Fenghua. Di belakangnya, jeritan panik dan kasak-kusuk dari Paviliun Anggrek perlahan menghilang ditelan angin. Jarinya yang melingkar di dalam lengan gaun sutra biru tua masih terasa sedikit gemetar bukan karena takut, melainkan akibat pakan adrenalin dari pertarungan argumen yang baru saja dimenangkannya.
"Yang Mulia Selir..." cicit Mingzhu yang berlari kecil di sampingnya, napasnya tersengal-sengal oleh rasa cemas yang belum surut. "Apakah... apakah Anda benar-benar akan melaporkan kejadian racun itu kepada Yang Mulia Kaisar? Selir Liang memiliki dukungan klan militer yang sangat kuat di istana!"
Xinyue menghentikan langkahnya sebentar, menatap dedaunan musim gugur yang gugur di sepanjang jalan setapak.
"Melaporkannya secara resmi? Tentu saja tidak, Mingzhu," sahut Xinyue seraya menyunggingkan senyum tipis. "Dalam logika hukum, menggertak lawan dengan bukti ancaman sering kali jauh lebih efektif daripada menyeret masalah ini ke meja hijau secara langsung. Selir Liang saat ini sedang panik setengah mati. Dia akan menghabiskan seluruh energi dan sumber dayanya untuk membersihkan Jejak racun itu di paviliunnya daripada mengangguku."
Ia merapikan lipatan gaun barunya dengan percaya diri. "Untuk beberapa hari ke depan, fokus mereka akan teralih sepenuhnya. Itu memberi kita ruang tembak yang cukup untuk beradaptasi di tempat kerja baru."
Namun, ilusi ketenangan itu tidak bertahan lama.
Saat Xinyue melangkah masuk ke gerbang Kediaman Fenghua, dua baris pengawal kekaisaran berarmor hitam kelam sudah berdiri tegak di sepanjang lorong utama. Di tengah halaman, duduk seorang kasim senior berjubah ungu Kasim Gao, tangan kanan Zhao Fengting yang memegang gulungan titah kekaisaran bersulam emas.
Jantung Xinyue mencelos seketika. Ada apa lagi ini?! Berita perjamuan teh itu bahkan belum lewat satu jam!
"Memberi hormat kepada Selir ke-20," sapa Kasim Gao dengan busuran tubuh yang teratur namun dingin. "Yang Mulia Kaisar telah mendengar mengenai kesuksesan perjamuan teh di Paviliun Anggrek. Menimbang bahwa keselamatan Pengawas Perpustakaan Kerajaan adalah prioritas negara, Yang Mulia memajukan jadwal tugas Anda."
"Memajukan jadwal?" ulang Xinyue, merasakan firasat buruk yang merayap di celah-celah tulang belakangnya.
"Benar, Yang Mulia Selir," Kasim Gao tersenyum samar, sebuah senyuman yang membuat bulu kuduk Xinyue berdiri. "Yang Mulia Kaisar saat ini sedang menunggu Anda di Aula Studi Utama. Anda diperintahkan untuk mendampingi beliau memeriksa dokumen perpajakan wilayah selatan sore ini juga."
Aula Studi Utama Kekaisaran tempat keputusan pengeksekusian klan, perang, dan takdir wilayah ditetapkan terasa jauh lebih megah sekaligus menakutkan daripada paviliun mana pun di Istana Dalam. Aroma kayu cendana, tinta hitam, dan dupa emas memenuhi udara yang begitu hening, hingga gesekan gaun sutra Xinyue terdengar amat nyaring.
Xinyue melangkah masuk dengan kepala tertunduk, memegang tumpukan gulungan kertas beras yang baru saja diserah terimakan oleh petugas arsip.
Di ujung ruangan, di atas tahta kayu jati berukir naga berselimut kain sutra merah, Zhao Fengting duduk dengan anggun. Pria itu mengenakan gaun harian berwarna hitam kelam bersulam benang perak. Jemari bertulang tegas miliknya memegang kuas tulisan, sementara matanya yang tajam menatap berkas-berkas di mejanya.
"Hamba Ye Xinyue, memberi hormat kepada Yang Mulia Kaisar," tutur Xinyue seraya bersimpuh di atas karpet tebal beberapa meter di depan meja sang tiran.
Zhao Fengting tidak langsung menyuruhnya berdiri. Pria itu menyelesaikan torehan tinta terakhirnya, mencelupkan kuasnya ke dalam wadah porselen, baru kemudian mengalihkan pandangannya secara perlahan.
Tatapan mata itu dingin, tajam, dan penuh dengan intensitas yang sulit dijelaskan terpaku tepat pada wajah Xinyue.
Mengapa pria ini menatapku seperti itu? jerit Xinyue dalam hati, mulai merasa tidak nyaman di bawah pengamatan yang tidak berkedip tersebut. Apakah aku melakukan kesalahan protokol? Atau Kasim Gao sudah membocorkan insiden racun di jamuan teh tadi?
"Kudengar..." Zhao Fengting akhirnya bersuara, suaranya yang berat memantul halus di dinding-dinding kayu aula, "...kamu menyiramkan Teh Bunga Salju Perak yang langka ke wadah dupa leluhur."
Xinyue menelan ludah, mengatur napasnya agar tetap teratur. "Hamba hanya ingin menunjukkan rasa hormat yang tertinggi kepada para leluhur Dinasti Tianyu, Yang Mulia. Barang berharga seperti itu sudah sepatutnya dipersembahkan untuk kedamaian kekaisaran."
Sebuah senyuman amat tipis terukir di sudut bibir Zhao Fengting. Ia meletakkan kuasnya, lalu menyandarkan punggungnya ke sandaran tahta. Tangannya menopang dagunya, sementara pandangannya tetap mengunci sosok Xinyue tanpa berniat melepaskannya.
"Rasa hormat kepada leluhur... atau cara cerdik untuk mendeteksi racun aconite tanpa perlu meminumnya?" bisik Zhao Fengting datar.
Xinyue tidak terkejut pria ini sudah tahu detailnya. Mata-mata Zhao Fengting ada di mana-mana. Namun cara Kaisar itu menatapnya bukan dengan amarah atau rasa curiga, melainkan dengan ketertarikan mendalam bagaikan seorang kolektor yang baru menemukan barang antik yang unik membuat bulu kuduknya meremang.
"Bawakan berkas perpajakan klan Lin dari wilayah selatan ke mari," perintah Zhao Fengting tiba-tiba, memecah ketegangan. "Duduk di meja samping itu."
Xinyue buru-buru berdiri, mengambil gulungan berkas yang diminta, dan berjalan menuju meja kayu kecil yang terletak tidak jauh dari meja sang Kaisar. Ia bersimpuh di sana, membuka gulungan kertas beras, dan mencoba memfokuskan pikirannya pada angka-angka serta catatan hukum perpajakan.
Namun, fokusnya hancur total dalam hitungan menit.
Setiap kali Xinyue mengalihkan pandangannya dari kertas untuk mengambil tinta atau merapikan gulungan, ia bisa merasakan keberadaan tatapan mata Zhao Fengting. Ketika ia memberanikan diri menoleh sekilas, dugaannya benar: Kaisar itu sama sekali tidak sedang membaca dokumen di mejanya. Pria itu bertopang dagu, menatapnya secara terang-terangan dengan iris mata kelamnya yang berkilau di bawah cahaya lentera.
Kenapa dia terus-terusan menatapku?! maki Xinyue frustrasi dalam hatinya. Apakah ada tinta di wajahku? Atau dia sedang mencari alasan untuk mengeksekusiku karena gaya dudukku yang kurang sopan?! Ini penyiksaan psikologis tingkat berat!
"Yang Mulia..." Xinyue akhirnya tidak tahan lagi. Ia meletakkan kuasnya dan membungkuk halus di mejanya. "Apakah ada yang salah dengan penataan dokumen hamba? Atau... ada petunjuk khusus yang ingin Yang Mulia berikan mengenai berkas perpajakan ini?"
Zhao Fengting tidak mengalihkan pandangannya sedikit pun. Pria itu berdiri dari tahtanya, melangkah pelan tanpa suara mendekati meja kecil tempat Xinyue bersimpuh. Hawa dingin dan aroma kayu gaharu yang khas mendadak melingkupi udara di sekitar Xinyue.
Zhao Fengting merendahkan tubuhnya, berdiri tepat di samping meja Xinyue, menunduk hingga bayangan tubuhnya yang tinggi besar mengurung sosok selir ke-20 itu.
"Aku hanya sedang memperhatikan bagaimana otakmu bekerja, Ye Xinyue," bisik Zhao Fengting, suaranya bergelombang rendah di dekat telinga Xinyue. "Matamu bergerak menyisir angka-angka pajak ini bukan seperti seorang selir yang membaca puisi... tetapi seperti seorang hakim yang sedang mencari barang bukti kejahatan."
Xinyue membeku, jemarinya meremas tepi meja kayu. Sialan. Pria ini terlalu jeli!
"Hamba hanya berusaha teliti agar tidak membuat kesalahan dalam tugas yang Yang Mulia berikan," sahut Xinyue seraya berusaha menjaga agar nada suaranya tetap rata dan formal.
Zhao Fengting mengulurkan tangannya, jemarinya yang dingin menyentuh helai rambut Xinyue yang terjatuh di bahu gadis itu, menyelipkannya ke belakang telinga Xinyue dengan gerakan yang amat pelan. Sentuhan singkat itu mengirimkan sengatan listrik yang membuat napas Xinyue tertahan.
"Jangan mencoba berpura-pura bodoh lagi di hadapanku, Xinyue," gumam Zhao Fengting dengan tatapan mata yang begitu tajam dan dalam, seolah sanggup menguliti seluruh rahasia jiwa gadis itu. "Aku sudah memberimu panggung ini. Sekarang... tunjukkan padaku seberapa jauh kemampuan 'ilmu jamu' dan 'kehati-hatian' milikmu itu bisa mengubah papan catur di istana ini."
Pria itu berbalik kembali ke tahtanya, meninggalkan Xinyue yang masih bersimpuh dengan jantung berdebar keras.
Xinyue menatap punggung tegap Zhao Fengting, memejamkan matanya erat-erat. Tatapan mata sang Kaisar hari ini bukan lagi sekadar ancaman pembunuhan itu adalah tatapan seorang pemburu yang telah menemukan mangsa paling menarik di dalam hutan. Dan kenyataan itu jauh lebih berbahaya daripada sebilah pedang yang diacungkan ke lehernya.