NovelToon NovelToon
Becoming Nyonya Kim

Becoming Nyonya Kim

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Selingkuh
Popularitas:430
Nilai: 5
Nama Author: Isaidno

Status calon nyonya Kim yang sudah diketahui seantero kota, seharusnya tinggal menunggu pengesahan sebentar lagi, ketika tiba-tiba terjadi perubahan kandidat.

Bagaimana tidak? Tuan Muda Kim - Alexander Kim, yang sebentar lagi akan menikah, malah terjebak satu malam dengan wanita asing yang berakhir final.

Harga yang sangat mahal yang harus dibayar Alexander, sebagai seorang pria, anak, pengusaha dan calon politikus. Benar-benar mahal dan berat, tapi dia tetap membayar karena tidak ingin menjadi Ayah yang gagal.

Tapi bahkan setelah semua harga mahal itu, Alexander yang sudah berkorban banyak masih harus stress menghadapi Soraya -- wanita malam itu, yang hidup tanpa beban.
•
“Kenapa berpisah dengan tunanganmu? Kenapa tidak kalian saja yang merawat anak kita!?” ujar Soraya, yang sukses membuat Alexander sakit kepala.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isaidno, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5.

Tahu reaksi Soraya?

Tertawa.

Tentu saja dia tertawa. Bahkan bisa dikatakan terbahak-bahak hingga pelupuk matanya penuh dengan air.

Tadi adalah hal paling konyol menurutnya.

Soraya tidak akan lupa bahwa baru beberapa tahun lalu, dirinya didiagnosis mengalami masalah rahim akibat benturan. Kecelakaan itu membuat impiannya menjadi seorang Ibu dikubur oleh dokter kala itu.

Melihat Soraya yang meremehkan ucapannya, sang Dokter sedikit tidak senang. Namun, ia tetap menjaga profesionalitasnya.

“Kalau tidak salah, kemungkinan Anda hamil sekitar dua minggu. Alat USG biasa belum bisa memeriksanya, tetapi alat ini bisa,” ujar sang Dokter sambil mengangkat alat pemeriksaan di tangannya.

Sementara itu, Soraya akhirnya berhasil mendapatkan sedikit kendali atas dirinya, meski masih tertawa kecil.

“Dokter, alih-alih kehamilan, aku lebih percaya jika Dokter mengatakan aku menderita kanker. Saat usiaku masih muda, aku mengalami kecelakaan yang membuat rahimku rusak. Jadi tidak mungkin untuk hamil.”

Mendengar ini, sang Dokter sedikit terkejut. Namun begitu, ia tetap bersikeras agar Soraya menjalani pemeriksaan menggunakan transvaginal ultrasound untuk mendapatkan hasil yang pasti.

“Nona, Anda datang bersama kekasih Anda dan kehidupan bukanlah milik kita sepenuhnya. Jika Tuhan berkenan memberi Anda anak, maka jangankan rahim yang terluka, yang mandul pun bisa dibukakan jalannya. Jadi mari kita periksa.”

Soraya mendengus.

Ia tahu dirinya disalahpahami karena datang bersama Alexander yang dikira sebagai kekasihnya. Entah mengapa, hal itu justru membuatnya merasa tertantang.

Yakin sekali dirinya tidak mungkin hamil, mengingat dia bahkan tidak memiliki kekasih. Sementara soal Tuhan yang bisa mengubah apa pun, Soraya tidak mau membantah. Dia mungkin tidak percaya Tuhan, tetapi bukan berarti memandang rendah kepercayaan orang lain.

Dengan itu, Soraya akhirnya bersedia diperiksa.

Waktu berlalu sekitar dua puluh lima menit hingga pemeriksaan selesai.

Sepanjang pemeriksaan, Soraya tidak mengatakan apa pun. Setelah membereskan diri dan kembali duduk di depan sang Dokter, ia bahkan masih mengulum senyum penuh keyakinan bahwa dokter itu telah salah mendiagnosisnya.

Namun, beberapa resep obat yang tampak tidak biasa justru membuatnya mengernyit.

“Apa ini?”

Sang Dokter menarik senyum bangga.

“Selamat, Nona Soraya Al-Kala. Sebentar lagi Anda akan berganti gelar dari Nona menjadi Nyonya.”

Sudut bibir Soraya terangkat membentuk cengiran.

“Dokter, apa yang coba Anda katakan?”

“Apalagi kalau bukan...” Sang Dokter berhenti sebentar, seolah sengaja membiarkan Soraya menunggu.

“Selamat atas kehamilan Anda. Tuhan itu baik, bukan?”

DEG.

•

Karel, lagi-lagi Karel.

Kini dia harus mendapatkan informasi rumah sakit di Montera, lengkap dengan identitas dokter yang memeriksa Soraya.

Gila benar sang Bos, pikirnya.

Namun tidak memiliki kemampuan untuk menolak, Karel sampai harus menggunakan semua koneksinya untuk mendapatkan informasi tersebut. Bahkan koneksi saja tidak cukup. Uang juga harus ikut bicara untuk mendapatkan laporan sedetail itu.

Beruntung, untuk bagian ini Alexander bersedia membayar berapa pun jumlahnya.

Hal tersebut menjadi peringatan penting bagi Karel bahwa hubungan antara bosnya dan wanita muda bernama Soraya jelas tidak sederhana.

Namun Karel sangat terbatas dalam dugaannya, karena kali ini laporan harus langsung sampai kepada Alexander dan tidak melalui dirinya lagi.

Hal ini membuatnya hampir mati penasaran. Apalagi ketika Alexander membuka email yang masuk dari rumah sakit tempat Soraya diperiksa, dia langsung mempersiapkan keberangkatan.

Ia bahkan rela menunda berbagai jadwal penting yang sudah terjadwal sejak bulan lalu.

“Bos, Anda yakin akan pergi sendiri? Tidak ingin saya temani?”

“Tidak perlu. Jika kamu ikut, siapa yang akan mengontrol semuanya di sini?” jawab Alexander sambil merapikan pakaiannya.

Dia akan berangkat sekarang, sekarang juga.

Setelah menerima hasil pemeriksaan Soraya yang menyatakan wanita itu hamil sekitar dua minggu.

Bagaimana Alexander sampai mengetahui detailnya?

Tentu saja semuanya bermula dari postingan Gavin yang memotret Soraya. Foto itu menunjukkan rumah sakit tempat pemeriksaan, waktu, bahkan latar belakang ruangan.

Semua hal kecil tersebut membantu Alexander mengetahui bahwa Soraya sedang menjalani pemeriksaan. Bahkan lebih dari itu, dia tahu wanita itu kini mengandung anaknya.

Alexander tahu ini salah.

Tetapi otaknya sedang tidak ingin memikirkan apa pun lagi.

Dia bahkan tidak tahu apa yang hendak dikatakannya jika menyusul Soraya sekarang.

Namun satu hal yang pasti, ada percikan kebahagiaan kecil di dalam hatinya.

Dan dia tidak rela jika api itu padam.

“Siapkan mobil sekarang.”

“Baik, Bos,” jawab Karel yang dengan patuh langsung meninggalkan ruangan.

Tidak lama kemudian, telepon di ruangan itu tiba-tiba berdering.

Dengan emosi yang masih campur aduk, Alexander sedikit tidak sabar. Ia mengira panggilan itu berasal dari pegawai atau salah satu rekannya dari luar.

Namun begitu mendekati meja dan mengangkat telepon—

“Halo?”

“—Halo?”

Mendengar suara di ujung sana adalah milik Hana, Alexander yang sejak tadi dipenuhi adrenalin mendadak membeku.

Ya. Dia sudah lupa bahwa hari ini seharusnya menemani Hana untuk membuat pesanan cincin pernikahan mereka.

Menyalakan ponselnya yang tergeletak di atas meja, Alexander mengusap dahinya. Hana ternyata sudah berkali-kali menelepon, tetapi dia terlalu larut pada komputer dan email yang diterimanya hingga mengabaikan semua panggilan itu.

Sejauh itu ternyata dia sudah terpengaruh.

Alexander mengusap wajahnya penuh sesal.

Kini dia bingung harus mengatakan apa. Tapi kembali pada sesuatu yang membuatnya lupa diri tadi, Alexander tetap harus pergi ke Montera.

Dia harus menemui wanita yang mengandung anaknya terlebih dahulu.

Karena tidak benar-benar mengetahui bagaimana mentalitas Soraya, sedikit banyak Alexander takut membayangkan keputusan yang mungkin diambil wanita muda itu.

Sementara soal Hana...

Jangankan memesan cincin.

Sekarang Alexander bahkan tidak yakin mereka masih akan memiliki cincin di antara mereka.

“Hana, maafkan aku. Sungguh maafkan aku,” ujarnya dengan suara penuh sesak.

Matanya tiba-tiba terasa panas karena rasa bersalah kepada wanita yang telah menjadi kekasihnya selama dua tahun.

1
Isaidno
Tolong like atau tinggalkan komentar ya, kalau suka 🥀
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!