Setelah dipecat secara tidak hormat dari istana akibat fitnah keji, Arya harus menghadapi kenyataan pahit sebagai tukang pijit yang kehilangan mata pencaharian utamanya. Namun, nasibnya berputar drastis saat ia tak sengaja menemukan seorang wanita dengan luka parah di tengah hutan gelap yang ternyata adalah Vanya, sang Ratu Iblis paling ditakuti. Sentuhan pijatan pertamanya pada tubuh wanita itu bukan hanya menahan pendarahan, melainkan memicu aktifnya Sistem Pijatan Penakluk Ratu Iblis yang mengubah hubungan mereka dari mangsa dan predator menjadi ikatan absurd penuh intrik di tengah kejaran pasukan kerajaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26
Angin laut malam berembus kencang menghantam dinding kabin kayu kapal penyelundup yang berlayar di tengah lautan gelap.
Arya membuka matanya perlahan, lalu meregangkan otot-otot tubuhnya yang terasa sedikit kaku.
"Hoamm... sudah jam berapa sekarang?" gumam Arya sambil menguap lebar.
Ia bangkit dari kursi kayunya lalu melangkah keluar menuju geladak kapal bagian depan.
Di sana, Vanya berdiri tegak menatap hamparan air laut hitam yang luas di bawah langit bertabur bintang.
"Kamu sudah bangun, manusia pemalas?" sapa Vanya dingin tanpa menoleh ke belakang.
Arya tersenyum tipis, lalu berjalan mendekati posisi sang Ratu Iblis yang sedang berjaga malam.
"Mana bisa aku tidur nyenyak kalau tempat tidurnya keras seperti papan batu," balas Arya santai.
Vanya mendengus pelan, melipat kedua tangannya di dada dengan jubah hitam yang berkibar tertiup angin.
"Kamu harus bersyukur masih bisa tidur di atas kapal ini daripada harus berenang di laut lepas," sindir Vanya.
"Iya deh yang mantan ratu iblis mah kuat berenang lintas samudera," ledek Arya cengengesan.
Vanya melirik tajam ke arah Arya dengan kilatan mata merah yang menyala lembut di dalam gelap.
"Diamlah, jangan membuat suara berisik yang mengganggu ketenangan malam ini," tegur Vanya meski tidak marah.
Tiba-tiba, geladak kapal berguncang hebat ke samping secara tiba-tiba tanpa peringatan.
Brak...
Suara hantaman ombak besar menghantam lambung kapal kayu tua itu dengan keras.
Arya hampir kehilangan keseimbangan dan nyaris terpelanting ke laut kalau tidak segera berpegangan pada tiang.
"Wah, ada apa ini?! Kenapa kapalnya goyang kayak mau patah?!" panik Arya berteriak.
Vanya mengerutkan keningnya tajam, merasakan perubahan energi di sekitar permukaan air laut.
"Di depan sana ada pusaran air besar dan sekelompok monster laut tingkat rendah," umum Vanya waspada.
[Peringatan Sistem: Mendeteksi badai laut kecil dan gangguan monster air di jalur pelayaran!]
[Host diminta segera bersiap menghadapi situasi darurat di atas kapal!]
Suara dengungan khas sistem itu berputar kencang di dalam kepala Arya tanpa henti.
"Sialan, pelayaran kita baru setengah jalan tapi sudah dikasih cobaan seberat ini!" keluh Arya stres.
Kapten kapal bersama para anak buahnya tiba-tiba berlari keluar dari kabin dengan wajah pucat pasi.
"Celaka! Kita masuk ke wilayah badai arus hitam!" teriak sang kapten histeris ketakutan.
"Putar haluannya sekarang juga sebelum kapalnya hancur berkeping-keping!" perintah anak buah kapal panik.
"Mana bisa diputar, arusnya terlalu kuat menarik kita ke tengah pusaran!" balas kapten berteriak frustrasi.
Arya melihat kondisi panik para awak kapal, lalu menghela napas panjang tanda pasrah.
"Kalau kapalnya tenggelam, kita berdua bakal ikut basah kuyup di tengah laut," gumam Arya cemas.
Vanya mendengus dingin, melangkah maju ke ujung geladak kapal sambil mengangkat tangannya.
"Biar kubersihkan rintangan bodoh itu dalam sekejap," ucap Vanya berbahaya.
"Jangan gunakan kekuatan penuhmu di depan para pelaut itu, nanti identitasmu terbongkar!" cegah Arya.
Vanya menoleh kesal ke arah Arya dengan kilatan amarah di matanya.
"Lalu apa mau mu? Kita diam saja menunggu kapal ini karam bersama para awaknya?!" bentak Vanya.
"Biar aku yang atasi masalah ini dengan cara seorang tukang pijit!" jawab Arya mantap.
Vanya tertegun sejenak, menatap pemuda di depannya dengan rasa heran yang amat sangat besar.
"Kamu mau memijit monster laut itu supaya jinak?!" tanya Vanya tidak percaya.
"Bukan memijit monsternya, tapi memijit kapten dan kemudi kapal agar gerakannya lebih stabil!" jelas Arya.
Tanpa menunggu jawaban Vanya, Arya berlari menuju ruang kemudi tempat sang kapten berdiri gemetar.
"Kapten! Cepat lepaskan pegangan tanganmu dari kemudi!" perintah Arya tegas.
Kapten kapal menatap Arya dengan mata melotot lebar penuh kebingungan.
"Anak muda, kamu sudah gila?! Kalau dilepas, kita pasti mati tenggelam!" teriak kapten itu panik.
"Percaya padaku, lepaskan sekarang atau kita semua mati di sini!" desak Arya memaksa.
Dengan tangan bergetar, sang kapten akhirnya melepaskan pegangannya dari roda kemudi kayu.
Arya langsung mengambil alih kemudi, lalu menekan titik akupuntur saraf ketahanan fisik sang kapten.
Brak...
Arya memijit cepat bahu kapten kapal untuk menyalurkan energi sistem sementara.
"Ugh... badan ku mendadak panas dan bertenaga?!" kaget kapten kapal merasakan perubahan drastis.
"Sekarang, pegang kemudi ini lagi dan putar ke arah barat daya dengan tenaga penuh!" suruh Arya.
Kapten itu mengangguk mantap, aura keberanian mendadak meluap di dalam tubuhnya berkat pijatan Arya.
"Baik, anak muda! Akan kubawa kapal ini keluar dari badai sialan ini!" seru kapten penuh semangat.
Vanya mengawasi kejadian itu dari geladak luar sambil tersenyum tipis tanpa disadari.
"Manusia aneh itu... selalu saja punya cara bodoh yang berhasil menyelesaikan masalah," batin Vanya kagum.
[Sistem Pijatan Penakluk Ratu Iblis mendeteksi keberhasilan teknik relaksasi darurat.]
[Mendapatkan koin sistem: +20 koin emas kecil dan peningkatan stamina kapal!]
Suara dengungan khas sistem berputar kilat di dalam kepala Arya memberikan notifikasi tambahan.
Kapal kayu tua itu melesat kencang menembus hantaman ombak besar berkat tenaga tambahan sang kapten.
Bum...
Hantaman terakhir gelombang air laut berhasil diterobos dengan selamat oleh kapal tersebut.
Mereka akhirnya keluar dari area pusaran air hitam menuju lautan tenang di seberang pulau.
Seluruh anak buah kapal langsung bersorak gembira merayakan keselamatan mereka malam itu.
"Kita selamat! Kita berhasil melewati badai maut itu!" teriak para awak kapal bersuka cita.
Kapten kapal berjalan menghampiri Arya lalu menjabat tangan pemuda itu erat-erat penuh rasa terima kasih.
"Anak muda, kamu penyelamat nyawa kami semua! Siapa sebenarnya dirimu?!" puji kapten itu kagum.
"Saya cuma tukang pijit keliling yang nyasar jadi penumpang gelap," jawab Arya tersenyum santai.
Kapten tertawa lebar mendengar jawaban jujur namun nyeleneh dari Arya.
Vanya berjalan mendekati mereka berdua dengan langkah anggun tanpa suara sedikit pun.
"Sudah selesai drama penyelamatan kapalnya? Kapan kita sampai di pulau tujuan?" tanya Vanya dingin.
"Sebentar lagi, Nona, menjelang pagi kita sudah bisa melihat daratan pulau seberang," jawab kapten sopan.
Arya mengangguk puas, lalu mengajak Vanya kembali ke dalam kabin untuk beristirahat.
"Yuk masuk, malam masih panjang, kita butuh tidur sebelum turun ke darat besok pagi," ajak Arya.
Vanya mengekor di belakang Arya masuk ke dalam kabin hangat tanpa banyak protes lagi.
[Peringatan Sistem: Hubungan emosional Host dan Target semakin erat.]
[Mendapatkan bonus poin kedekatan: +15 poin sistem total menjadi 165 poin.]
Suara dengungan sistem itu berputar singkat di kepala Arya tanpa mengganggu rasa lelahnya.
Mereka berdua merebahkan diri di ruangan kabin kapal, menyongsong fajar baru di pelarian mereka.