NovelToon NovelToon
DIA YANG KU PILIH

DIA YANG KU PILIH

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Mengubah Takdir
Popularitas:338
Nilai: 5
Nama Author: Raudah Sahidah

Telah ku lewati perjalanan panjang dengan air mata...

lelah ku melangkah dengan harapan yang hampa....

ku cari sinar terang tuk jalan gelap didepan mata, namun tak kunjung ku jumpa...


Hati menjerit serta memanjatkan doa....

berharap semua cepat mendapatkan akhir bahagia....


Di tengah hati gudah dan gelisah secercah cahaya datang menerpa....

ke hadiran yang ku nanti telah tiba...

dan ku pilih dirimu tuk melengkapi hidup dan menemani sisa umur ku...


Tak banyak ku pinta padamu cukup cintai ku segenap jiwamu dan bimbing aku agar tetap di jalan yang benar...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raudah Sahidah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertemuan

 

 Sejak hari itu, Dimas memang semakin sering berkunjung ke desa. Setiap kali waktu luang ia miliki, pemuda itu tak pernah lupa menyempatkan diri mampir ke rumah sederhana Mama Jihan dan Rania. 

 Kadang ia datang membawa buah tangan seperti buah-buahan segar, gula, atau beras yang dikirimkan Rina dari kota, kadang hanya sekadar duduk di teras bercerita hingga matahari terbenam dan langit berubah menjadi ungu kemerahan. 

 Kehadirannya yang hangat, sopan, dan penuh perhatian membuat mereka semakin akrab. Dimas bukan lagi sekadar sahabat kakaknya bagi rania, melainkan sudah dianggap seperti keluarga sendiri oleh Mama Jihan maupun Rania. 

 Rania sering menunggunya di sore hari, matanya berbinar setiap kali melihat mobil silver Dimas meluncur perlahan di jalan setapak desa itu. Mama Jihan pun tak pernah menyambutnya dengan tangan kosong, selalu menyuguhkan teh hangat dan camilan sederhana yang ia buat sendiri, merasa bersyukur sekali bahwa Tuhan mengirimkan sosok baik seperti Dimas untuk menemani hari-hari mereka yang sederhana.

 

 Hari ini tepat hari Minggu, hari yang telah dijanjikan Dimas sejak minggu lalu. Pagi-pagi sekali, saat embun masih menempel di ujung daun padi, suara mobil Dimas sudah terdengar mendekat. 

 Rania bangun dengan semangat yang meluap-luap, menyisir rambutnya rapi dan mengenakan gaun sederhana berwarna biru muda yang baru saja ia beli dari uang hasil kerjanya di pasar. Mama Jihan tersenyum melihat kegembiraan putrinya, lalu ikut merapikan pakaian terbaik yang ia miliki—sebuah baju dress sederhana berwarna krem yang masih tersimpan rapi di lemari, pemberian Rina beberapa satu bulan lalu. Dimas mengetuk pintu kayu itu dengan senyum hangat, lalu menyapa mereka berdua dengan sopan, 

"Assalamualaikum, Tante, Rania. Sudah siap kita berangkat?"

 

 Mereka pun berangkat. Di sepanjang jalan, Rania tak berhenti memandangi pemandangan yang berubah perlahan—dari hamparan sawah hijau, beralih ke perumahan penduduk, hingga akhirnya gedung-gedung tinggi kota mulai tampak menyambut mereka. 

 Matanya takjub melihat jalanan yang lebar dan ramai, lampu-lampu lalu lintas yang berwarna-warni, serta deretan toko yang megah dan berkilauan kaca. Dimas sesekali melirik ke arah Rania melalui kaca spion, tersenyum melihat ekspresi gadis itu yang begitu polos dan tulus. 

"Kau suka kota ini, Rania?" tanyanya pelan.

 Rania mengangguk mantap, matanya tak beralih dari jendela, "Sangat suka, Kak. Semuanya terasa begitu megah... tapi desa tetap yang paling aku cintai".

Dimas tertawa kecil, "Itu bagus. Jangan pernah lupa dari mana asalmu, ya"

 

 Tujuan pertama mereka adalah pusat perbelanjaan terbesar di kota itu. Begitu masuk, Rania tertegun, lantai marmer yang mengkilap memantulkan bayangannya, pendingin udara yang sejuk menyambut kulitnya, dan aroma wangi bercampur parfum yang lembut menguar dari setiap sudut. 

 Dimas menggandeng tangan Rania pelan agar gadis itu tidak tersesat di kerumunan orang, lalu membawa mereka ke lantai pakaian. Di sana, Dimas dengan hangat memilihkan beberapa potong pakaian untuk Rania dan Mama Jihan—bukan barang yang berlebihan atau mewah berlebih-lebihan, melainkan pakaian sederhana namun berkualitas baik, berwarna lembut dan elegan, cocok dengan kesederhanaan mereka. 

 Rania menolak malu-malu, tangannya meremas ujung bajunya, "Tidak usah, Kak Dimas... ini sudah terlalu banyak. Aku tidak enak kalau Kakak yang membelikan semuanya".

 Namun Dimas tersenyum lembut, meletakkan pakaian itu ke tangan Rania dengan lembut, "Anggap saja ini hadiah dari Rina juga, Rania. Jangan menolak ya,..." Mendengar nama Rina disebut, hati Rania terasa hangat dan matanya berkaca-kaca, namun mengingat kini kakanya itu telah berubah hatinya sedikit tersayat.

 Ia menatap Dimas lekat-lekat, lalu perlahan mengangguk pelan, menerima pakaian itu dengan tangan gemetar karena haru. "Terima kasih, Kak... terima kasih banyak"

 

 Setelah selesai berbelanja dan membawa kantong-kantong belanjaan yang rapi, Dimas mengajak mereka berjalan-jalan di taman kota yang asri dan sejuk. Pepohonan rindang menaungi jalan setapak berbatu, bunga-bunga bermekaran dengan warna-warni yang cerah, dan anak-anak tertawa riang sambil berlari-lari kecil di halaman rumput yang luas. 

 Mereka duduk sebentar di bangku kayu di bawah pohon beringin tua, menikmati angin sepoi-sepoi yang menyapu wajah mereka. Mama Jihan menutup matanya sejenak, menarik napas dalam-dalam, merasakan ketenangan yang jarang ia dapatkan di tengah kesibukan sawah setiap harinya.

 "Indah sekali tempat ini, Nak Dimas..tante jadi ingat masa lalu "ucapnya pelan, matanya masih terpejam namun bibirnya tersenyum bahagia. 

"Iya, Tante. Tempat ini memang tenang. Rina juga suka ke sini kalau sedang lelah bekerja" jawab Dimas pelan, tanpa sadar menyebut nama sahabatnya lagi.

 Mama Jihan membuka matanya, menatap Dimas dengan tatapan lembut, "Rina sering ke sini ya? Apakah dia bahagia di sini, Nak?" Dimas mengangguk mantap, "Sangat bahagia, Tante. Rina disayangi semua orang di sini. Dia pekerja keras, cerdas, dan banyak yang mengaguminya. Jangan khawatir, Tante. Rina baik-baik saja".

 Mendengar itu, senyum Mama Jihan semakin melebar, dadanya terasa lega seolah beban berat yang ia pikul selama ini perlahan terangkat.

 

 Waktu terasa berjalan begitu cepat di tengah kebersamaan yang hangat itu. Hingga akhirnya perut Rania mulai terasa lapar, ia menatap Dimas dengan pipi yang sedikit merah karena malu, "Kak Dimas... bolehkah kita makan? Aku sedikit lapar".

 Dimas tertawa renyah, menepuk kepala Rania pelan, "Tentu saja! Seharian berjalan pasti lelah dan lapar. Ayo, aku ajak kalian ke tempat yang istimewa".

  Ia pun mengantar mereka ke sebuah restoran yang letaknya tidak jauh dari taman itu, bangunannya tampak modern namun tetap menyatu dengan alam, dikelilingi tanaman hijau yang rimbun dan bunga-bunga yang harum.

 

 Sesampainya di depan restoran itu, langkah Mama Jihan tiba-tiba terhenti. Kakinya seolah terpaku di tanah, napasnya tertahan sejenak di tenggorokan. Matanya menatap lekat-lekat ke arah papan nama besar yang terpasang megah di atas pintu utama, tulisan berwarna emas yang berkilau lembut tertimpa cahaya matahari sore "Narira Resto" Huruf-huruf itu terukur rapi dan indah, namun bagi Mama Jihan, maknanya jauh lebih indah daripada sekadar tulisan di papan nama. Narira... gabungan nama Rina, Rian dan Rania. 

 Ia tahu betul siapa yang merangkai nama itu, siapa yang merancang dan membangun tempat ini. Air mata haru perlahan menggenang di pelupuk matanya, bibirnya perlahan membentuk senyum yang begitu bangga dan tulus, senyum seorang ibu yang melihat buah hatinya berhasil mewujudkan mimpi besar. Hatinya berbisik pelan " Rina... anakku... kau benar-benar mewujudkannya " ucapnya pelan hampir tak terdengar.

 

 Sementara itu, Rania yang berdiri di sampingnya sama sekali tidak menyadari makna di balik nama itu. Gadis itu menatap sekilas papan nama itu, lalu tersenyum ceria dan melangkah masuk lebih dulu bersama Dimas, tangannya menyentuh pintu kaca yang terbuka otomatis, matanya berbinar kagum melihat keindahan ruangan di dalamnya. Mama Jihan tersenyum lembut, mengusap sudut matanya yang sedikit basah dengan ujung kerudungnya, menatap papan nama itu sekali lagi dengan penuh doa dan rindu dalam hati, lalu perlahan menyusul masuk ke dalam.

 

 Suasana di dalam restoran begitu nyaman dan elegan. Dinding-dindingnya berbalut kayu cokelat hangat, pencahayaan gantung yang lembut menciptakan bayangan halus di setiap sudut ruangan, aroma rempah dan masakan lezat tercium harum dan menggugah selera dari arah dapur yang terbuka sebagian. Musik instrumental yang tenang mengalun pelan, menciptakan suasana damai yang menyelimuti setiap tamu yang hadir. 

 Mereka duduk di meja yang letaknya agak di sudut, dekat jendela besar yang menghadap ke taman hijau di belakang restoran, tempat yang tenang dan nyaman tanpa gangguan suara berisik. Dimas segera memesan makanan yang cukup banyak—sayur asem, ikan bakar, ayam goreng, sambal terasi, dan kerupuk, hidangan sederhana namun menjadi makanan kesukaan Mama Jihan dan Rania, serta beberapa menu andalan restoran itu yang Dimas tahu pasti akan mereka sukai.

 

 Beberapa saat berlalu, Rania menatap Mamanya yang masih tampak diam saja, matanya menatap ke luar jendela seolah sedang melamunkan sesuatu yang jauh dan indah. Piring kosong di depannya belum tersentuh sama sekali. 

"Mama?" panggil Rania pelan, tangannya menyentuh lengan Mamanya lembut. 

"Kok lama sekali berdiri di depan tadi? Ada yang Mama lihat?" Tanya rania.

 

 Mama Jihan tersentak pelan dari lamunannya, lalu tersenyum hangat seraya menggeser kursinya lebih dekat ke Rania dan duduk di samping putrinya. Tangannya terulur mengusap rambut Rania dengan penuh kasih sayang, jari-jarinya yang kasar namun lembut menyisir helai demi helai rambut gadis itu. 

"Tidak apa-apa, Sayang. Mama hanya... kagum melihat nama restorannya. Namanya bagus sekali, Narira Resto... terdengar indah dan bermakna, ya? Restorannya juga bagus sekali, rapi, bersih, dan suasananya menenangkan" ucapnya.

 

 Dimas tersenyum lebar di hadapan mereka, matanya berbinar bangga seolah dialah pemiliknya. "Tentu saja kan..." Ia hampir saja melanjutkan kalimatnya, hampir saja menyebutkan bahwa nama itu adalah ide Rina, bahwa setiap sudut restoran ini dirancang oleh tangan sahabatnya sendiri, namun seketika ia menyadari sesuatu. 

 Ia menelan kembali kata-katanya, lalu dengan cepat mengubah ucapannya sambil tertawa kecil yang sedikit canggung, "...kan aku yang pilih tempatnya! Pastilah tidak mengecewakan, bukan? Aku sudah cari tempat terbaik untuk kalian, Tante. Aku tidak akan bawa kalian ke sembarang tempat" kilah dimas.

 

 Mama Jihan hanya mengangguk pelan, tersenyum setuju tanpa menambahkan apa pun. Matanya menatap Dimas dengan pengertian yang dalam, seolah berkata " Aku tahu, Nak. Aku tahu Rina yang ada di balik semua ini"  

 Hatinya tahu, namun ia memilih untuk diam dan menikmati momen ini bersama mereka, membiarkan kejutan itu datang dengan sendirinya di waktu yang tepat.

 

 Tak berselang lama, seorang pelayan berjalan mendekat membawa nampan besar berisi pesanan mereka. Aroma makanan yang lezat semakin menguar saat hidangan itu diletakkan satu per satu di atas meja, uap panas yang mengepul menandakan makanan itu baru saja matang dan dihidangkan dengan penuh ketelitian. 

 Namun saat pelayan yang berdiri tepat di samping Mama Jihan meletakkan piring terakhir berisi ikan bakar yang masih hangat, tangan pelayan itu sedikit bergerak dan selembar kertas kecil jatuh perlahan ke pangkuan Mama Jihan, terselip di bawah ujung serbet kain putih yang terlipat rapi. Gerakannya begitu halus dan cepat sehingga Rania dan Dimas yang sedang asyik berbincang sama sekali tidak menyadarinya.

 

 Mama Jihan sedikit terkejut, matanya membelalak sejenak menatap pelayan itu dengan tatapan bertanya-tanya, mulutnya terbuka sedikit ingin bertanya atau menyebut sesuatu.  

 Namun pelayan itu justru mengangguk pelan, matanya berkedip sekali memberi kode halus agar Mama Jihan segera membaca kertas itu tanpa menarik perhatian orang lain. Wajah pelayan itu tertutup sebagian oleh topi seragamnya, namun sorot matanya begitu hangat dan penuh rindu, seolah ada sesuatu yang sangat akrab di sana.

 

 Dengan hati-hati dan tenang, Mama Jihan mengalihkan pandangannya ke arah Rania dan Dimas. Rania sedang memotong ikan di piringnya dengan senyum ceria, sementara Dimas menuangkan minuman ke gelas mereka. 

 Perlahan, Mama Jihan meraih kertas itu di pangkuannya, jari-jarinya yang sedikit gemetar membuka lipatan kertas itu di bawah meja agar tidak terlihat oleh siapa pun. Di atas kertas itu tertulis tulisan tangan yang dikenalnya dengan sangat baik, tulisan yang sudah bertahun-tahun ia hafal di luar kepala, tulisan yang dulu sering ia temukan terselip di bawah bantal saat Rina masih kecil dan ingin mendoakannya dan tulisan yang ada di buku-buku belajar rina.

 

"Ma, temui aku di belakang restoran sekarang. Aku menunggumu di halaman belakang dekat pohon mangga yang besar. Jangan biarkan Rania tahu dulu, Aku rindu sekali, Ma" tulis rina.

 

 Mama Jihan langsung paham. Tidak ada keraguan sedikit pun di hatinya. Itu tulisan tangan Rina. Putrinya ada di sini. Rina ada di restoran ini, membangun semuanya ini dari tangan sendiri. 

 Jantungnya berdegup kencang, dadanya terasa sesak oleh rasa haru yang tiba-tiba meluap seperti air bah yang tertahan lama. Matanya berkaca-kaca, air mata bahagia menetes perlahan membasahi pipinya yang keriput namun lembut. Dengan cepat ia meremas kertas itu pelan di tangannya, menyembunyikannya di dalam genggaman erat-erat seolah takut kertas itu akan terbang hilang, lalu beranjak berdiri perlahan sambil menenangkan napasnya yang sedikit terengah dan bergetar.

 

"Rania, Dimas..." panggil Mama Jihan dengan suara yang berusaha ia jaga agar tetap tenang dan lembut, meski sedikit bergetar di ujungnya. Ia menyadap air matanya dengan cepat sebelum Rania sempat melihatnya. "Mama mau ke kamar mandi sebentar dulu ya. Kalian makan saja duluan, jangan menunggu Mama....dimas titip rania" 

 

"Baiklah, Ma" jawab Rania sambil tersenyum polos, sama sekali tidak menyadari ada sesuatu yang istimewa terjadi. "Hati-hati ya, Mama. Jangan lama-lama ya, makanannya nanti jadi dingin."

 

 Dimas pun mengangguk, namun matanya menatap Mama Jihan dengan tatapan penuh pengertian dan simpati, seolah ia sudah tahu apa yang sedang terjadi dan ke mana arah langkah wanita itu. "Iya, Tante. Tenang saja. Kami tunggu di sini. Jangan terburu-buru, Tante. Nikmati saja waktunya" ucap dimas.

 

 Mama Jihan mengangguk pelan, lalu berbalik berjalan perlahan menjauhi meja mereka. Langkah kakinya di atas lantai keramik berkilau itu terdengar pelan namun mantap, meski di dalam hatinya ada badai emosi yang sedang bergejolak—rindu yang mendalam, bangga yang meluap-luap, dan kebahagiaan yang tak terlukiskan dengan kata-kata. 

 Setiap langkah yang ia ambil terasa berat namun penuh harapan, seolah kakinya membawa tubuhnya menuju pertemuan yang selama ini ia rindukan namun tak sempat terwujud. Ia berjalan melewati lorong samping yang ditunjukkan pelayan tadi, menuju pintu belakang restoran itu, menembus tirai kain tebal yang memisahkan ruang makan dengan area dapur dan halaman belakang. 

 Di sana, di balik dinding restoran yang megah itu, di bawah naungan pohon mangga yang rindang dan berbunga, putri sulungnya sedang menunggunya—Rina, anak perempuannya yang telah tumbuh menjadi wanita hebat, mandiri, dan penuh kasih sayang.

 

Bersambung...

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!