NovelToon NovelToon
MODEL RAHASIA TEMAN KAKAK

MODEL RAHASIA TEMAN KAKAK

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: MissSHalalalal

Hayden menghentikan langkahnya tepat di tepi podium. Tatapannya menelusuri tiap lekuk tubuh Aluna. Pria itu mengulurkan tangannya, seolah-olah hendak membenarkan letak kain selendang yang tersingkap di atas paha Aluna.

Namun, gerakan jemari Hayden tidak berhenti di sana. Jemarinya yang dingin dan kasar bergeser perlahan, sengaja menyapu permukaan kulit halus Aluna, bergerak semakin naik menyentuh area yang tertutup selendang putih tipis itu.

Sentuhan asing dan lancang itu seketika meletupkan amarah Aluna.

"Jangan sentuh!"

Aluna menepis tangan Hayden dengan kibasan keras. Dalam sekejap, gadis itu menarik kain selendang untuk menutupi dadanya, merapatkan kedua kakinya, dan mundur ke sudut podium. Matanya yang sembab menatap Hayden dengan kilatan amarah yang membara.

"Jaga tanganmu, Hayden!" bentak Aluna dengan suara bergetar hebat, napasnya memburu cepat oleh kombinasi rasa takut dan murka. "Aku di sini cuma jadi model lukisanmu! Aku menjual posisiku sebagai model untuk melunasi _

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

21.

PERHATIAN..!

Cerita ini khusus 21++

Berhenti membaca jika kalian di bawah umur.

*

*

*

​Bayangan wajah Romeo yang terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit dengan tatapan penuh harapan mendadak memenuhi benak Aluna. Kakaknya telah mengorbankan seluruh masa muda dan cita-citanya demi Aluna. Kini, saat takdir menuntut bayaran yang begitu mahal, Aluna merasa tak memiliki jalan keluar lain selain menyerahkan dirinya ke dalam kegelapan ini.

​Hayden yang tak lagi mampu menahan gejolak panas di tubuhnya akibat pengaruh obat terlarang, mendadak menyambar bibir Aluna dengan rakus. Ciuman itu terasa kasar, brutal, dan tanpa belas kasihan—murni dorongan racun yang membakar seluruh naluri dan kesadarannya.

​"Mmph...!"

​Suara Aluna tertahan di balik ciuman paksa pria itu. Isak tangisnya pecah seketika. Kedua tangannya yang bergetar hebat di atas kepala tak lagi berdaya untuk mendorong dada bidang yang menghimpitnya. Setiap benturan rasa asing dan kejam itu menusuk dadanya hingga terasa hancur berkeping-keping.

​Hayden menarik wajahnya sedikit, membiarkan deru napasnya yang membara menyapu pipi Aluna yang basah oleh air mata. Matanya yang memerah menatap lekat paras polos yang kini dipenuhi keputusasaan.

​"Jangan menangis..." bisik Hayden parau. Suaranya terdengar begitu serak, sarat akan penyesatan dan dominasi. Jemari kekarnya mencengkeram rahang Aluna, menahan wajah gadis itu agar tak berpaling sedikit pun. "Kau yang memilih jalan ini, Aluna. Kau sendiri yang memutuskan untuk bertahan di kamar ini."

​"Kau iblis, Hayden..." tangis Aluna lirik dengan napas tersengal-sengal. "Kau bilang ingin membantuku... tapi kau justru merusakku dengan cara jahat seperti ini!"

​"Tidak ada jalan untuk mundur, Aluna," desis Hayden dingin di sela napasnya yang makin memburu. Pria itu menyusupkan wajahnya ke ceruk leher Aluna, menghirup aroma tubuh gadis itu yang kian memicu naluri liarnya. "Ingat janjiku... Kakakmu akan sembuh, aku akan menanggung semua biaya pengobatannya, dan hidupmu tidak akan pernah kekurangan lagi."

​"Aku tidak butuh uangmu jika harus kehilangan kehormatanku!" seru Aluna penuh kepedihan, mencoba mengumpulkan sisa tenaganya. Namun, jeritan itu lenyap seketika saat Hayden kembali membungkam bibirnya tanpa memberi ampun.

​Rasa dingin merayapi seluruh tubuh Aluna. Ciuman demi ciuman yang mendarat tanpa kelembutan itu terasa bagaikan siksaan yang tak bertepi. Ia tak lagi memiliki kekuatan untuk berontak. Di balik pejam matanya yang rapat, Aluna membiarkan air matanya terus menetes membasahi sprei sutra, meratapi masa depannya yang kini ditumbalkan demi kesembuhan sang kakak.

​"Aluna... aku sudah tidak bisa menahannya lagi," bisik Hayden lirih di dekat telinganya. Tangannya bergerak cepat membuka kasar kancing kemeja hitam yang dikenakannya hingga terlepas.

​"SIAPAPUN DI LUAR, TOLONG AKU! TOLONG!" Aluna berteriak sekuat tenaga, berharap ada seseorang di balik pintu tebal itu yang masih memiliki rasa kemanusiaan.

​"Jangan membuang energimu, Aluna. Tidak ada yang akan berani masuk ke ruangan ini," ujar Hayden dengan nada rendah.

​SREEET!

​Dengan satu sentakan kasar, dress tipis yang dikenakan Aluna dirobek paksa oleh Hayden, menyisakan gadis itu tanpa perlindungan di atas tempat tidur mewah tersebut.

​Hayden menatap tubuh Aluna yang bergetar. "Kau memang sangat indah, Aluna... Jauh lebih indah dari model manapun yang pernah kukandungi atau kulukis."

​Tanpa membuang waktu, Hayden memosisikan tubuhnya di antara kedua kaki Aluna. Pemandangan yang beberapa hari lalu sempat membuat Hayden terobsesi pada sosok adik sahabatnya itu kini benar-benar ada di depan mata.

​"Aku mohon, Hayden... Pikirkan lagi," pintanya dengan suara parau dan mata memohon. "Bagaimana jika Kak Romeo tahu? Bagaimana jika dia sadar bahwa sahabat yang sangat dipercayainya justru menghancurkan adiknya sendiri?"

​Hayden yang sudah benar-benar dikuasai oleh dorongan racun di darahnya tidak mempedulikan peringatan itu. Ia membenamkan wajahnya, menyatukan sentuhan fisik yang makin membakar hawa panas di antara mereka.

​"Ini terasa sangat manis, Aluna..." gumam Hayden di sela napasnya yang terengah.

​"Aaaakh... Tidak! Jangan, Hayden!"

​Hayden menutup telinga dari rintihan Aluna. Gadis itu terus berusaha membebaskan diri, mendorong bahu kokoh Hayden, namun perbedaan kekuatan di antara mereka terlalu jauh. Perlahan, sentuhan demi sentuhan liar dari Hayden mulai menimbulkan reaksi asing yang tak mampu dikontrol oleh Aluna.

​Ada perasaan aneh yang mulai menjalar. Sensasi fisik dan rasa bersalah yang hebat bercampur aduk menjadi satu, membuat Aluna semakin membenci keadaan ini. Tubuhnya seolah mulai berkhianat pada logikanya sendiri.

​"Hayden, hentikan... Please..." mohoh Aluna, menahan napasnya yang mulai tak beraturan.

​"Aku tahu tubuhmu mulai merespons, Aluna..." bisik Hayden dengan senyum tipis di wajahnya yang menyiratkan kemenangan.

​"Aaaaaaaaaakh... Hayden..."

​Tubuh Aluna melengkung seketika saat gelombang sensasi hebat yang tidak diundangnya datang menghantam kesadarannya. Air mata Aluna menetes semakin deras, meratapi kerapuhan dirinya sendiri.

​Tanpa membuang waktu lebih lama, Hayden mengarahkan posisinya. Batang tubuhnya yang sudah menegang keras mendesak kuat, siap untuk menerobos pertahanan terakhir gadis itu.

​"Jangan... jangan lakukan itu, Hayden. Aku mohon..." bisik Aluna pasrah, menggelengkan kepalanya di atas bantal.

​Hayden tidak mendengarkan lagi. Percobaan pertamanya sempat meleset karena tubuh Aluna yang terlalu tegang.

​"Sial," umpat Hayden pelan.

​"Jangan, plis... ini akan sangat sakit..." racau Aluna dengan tubuh memburu.

​"Emmmph..."

​Hayden kembali membungkam bibir Aluna yang terus menangis, menahan pergerakan gadis itu agar tidak bergeser sedikit pun. Ia mencoba sekali lagi dengan dorongan yang lebih mantap hingga akhirnya—

​Jleeb.

​"Aaghh!" Aluna merintih tertahan, rasa sakit yang tajam menghantam kesadarannya secara instan. Air matanya tak berhenti mengalir membasahi bantal. "Sakit... Hayden, sakit sekali..."

​Hayden tertegun sejenak, menatap lekat wajah Aluna yang memucat. "Aluna... kau sangat sempit. Ini begitu menyiksaku sekaligus nikmat... Aku ingin memasukimu lebih dalam lagi."

​Hayden mendorong tubuhnya lebih jauh hingga bagian dirinya masuk sepenuhnya ke dalam tubuh Aluna.

​Aluna refleks meremas rambut Hayden dengan sangat keras untuk menahan rasa sakit yang menusuk, sementara bibirnya masih terkunci rapat oleh ciuman Hayden. Bersamaan dengan itu, bercak cairan merah perlahan mengalir di antara seprai putih tempat mereka berbaring.

​Hayden sempat melirik bercak itu. Ada kilatan rasa bersalah yang melintas di matanya selama sedetik, menyadari ketaatan dan kesucian gadis di bawahnya. Namun, pengaruh obat itu terlalu kuat menguasai otak dan nalurinya.

​"Aluna... dengarkan aku. Aku akan bertanggung jawab. Aku akan menanggung hidupmu dan menyembuhkan kakakmu," janji Hayden dengan nada berat.

​Aluna tidak menjawab. Mata indahnya menatap kosong ke arah langit-langit kamar. Baginya, janji itu tidak ada artinya lagi. Tubuh dan harga dirinya telah hancur berkeping-keping malam ini.

​Hayden mulai menggerakkan tubuhnya secara perlahan. Ia tahu Aluna sedang menahan kesakitan yang luar biasa. Kini, Aluna tidak lagi menjerit, menangis vocal, ataupun memohon. Gadis itu hanya diam membisu, meremas sprai sutra kuat-kuat sebagai pelampiasan rasa sakit yang mendera.

​Gerakan Hayden yang semula pelan perlahan-lahan berubah menjadi tempo yang lebih cepat dan berpacu liar. Sentuhan ketat dari Aluna seakan menarik seluruh kesadarannya hingga ia tak bisa mengendalikan diri lagi.

​Bagi Hayden, ini bukanlah pengalaman pertamanya berada di atas ranjang bersama seorang wanita. Namun, baru kali ini ia merasakan ketulusan dan kesucian yang begitu nyata dari seorang gadis. Selama ini, ia hanya berhubungan dengan wanita panggilan atau model-model lukisannya yang memang secara sukarela mendekatinya demi uang dan ketenaran. Aluna sangat berbeda.

​Waktu terasa berjalan begitu lambat di dalam kamar bernuansa gelap itu. Perlahan namun pasti, sensasi dalam tubuh Aluna mulai berganti. Rasa sakit yang tajam secara bertahap melebur menjadi gelombang sensasi lain yang membingungkan pikiran dan akalnya.

​"Emmh..." desah Aluna tanpa sengaja.

​Hayden tersenyum di dalam kegelapan. "Aluna... kau sangat nikmat. Aku tahu kau mulai merasakannya juga, bukan?"

​"Tidak... oh... jangan di sana, Hayden..." bisik Aluna ketakutan pada reaksi tubuhnya sendiri.

​Tubuhnya benar-benar berkhianat. Ada bagian dari dirinya yang justru terbawa oleh arus ritme yang diciptakan Hayden. Aluna berusaha gigih menggigit bibirnya sendiri agar tidak ada suara erangan yang lolos lagi.

​"Aaakh... Hayden!"

​Namun benteng pertahanannya runtuh jua. Erangan itu lolos begitu saja saat Hayden mempercepat gerakannya dan menusuk semakin dalam.

​Hayden menjadi semakin bersemangat saat menyadari Aluna tidak bisa lagi membohongi reaksi fisiknya. Pria itu terus memacu ritmenya tanpa henti, membawa mereka berdua semakin jauh ke dalam pusaran gairah yang pekat.

​Hingga akhirnya, tubuh Aluna mengejang hebat. Untuk kesekian kalinya, gelombang puncak menghempaskan seluruh kesadarannya.

​"Alunaa... Akkkkkh...!" Hayden mengerang keras saat merasakan dorongan terakhir yang tak tertahankan lagi.

​"Hayden... Emmmmh!"

​Akhirnya, mereka berdua mencapai puncak pelepasan secara bersamaan. Hayden menumpahkan seluruh cairannya ke dalam tubuh Aluna, sebelum akhirnya terkulai lelah di atas dada gadis itu yang masih naik turun tidak teratur. Nightstand di samping ranjang menyisakan kesunyian yang mencekam, menandai malam panjang yang telah mengubah hidup mereka berdua selamanya.

*

*

*

1
Mita Paramita
🔥🔥🔥
Mia Camelia
Hayden makin gak bisa melepaskan Aluna nih🤭
𝐀⃝🥀Weny
baru aja baca, udah disuguhin Bombay banyak sama othor😭
Mia Camelia
siap thor 😁penasaran nih visual ny gimana😂
diga pues
+21☻️☻️☻️
diga pues
☻️☻️☻️
diga pues
serigala☻️
diga pues
ugh☻️
Mia Camelia
hayden obsesif banget ini mah ke aluna🤭
sukaa banget nih sama modelan ky hayden 😁
diga pues
ugh🌚
Ita Putri
haduuhh
bahaya Aluna
sudah dong Hayden kasihan aluna
Mia Camelia
lanjut thor😁
Mita Paramita
Thor nih novelnya sampai tamat kn? gak kayak novel kemarin yang dihapus? padahal lagi seru cerita ny
Mita Paramita: siap Thor 🔥🔥🔥🔥
semangat Thor 🔥🔥🔥
total 2 replies
Mia Camelia
seru banget thor😁😁😁
MissSHalalalal: terimakasih kak🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!