Di hari ketika seluruh mimpinya hancur, Lin Yuan divonis memiliki Akar Roh Rusak Total dan diusir dari Sekte Awan Langit.
Tunangannya meninggalkannya, sahabat menjauhinya, dan musuh-musuhnya memilih membunuhnya agar tak menyisakan ancaman.
Namun di ambang kematian, sebuah sistem kuno terbangun.
**Sistem Pemakan Takdir.**
Selama mampu mengalahkan lawannya, Lin Yuan dapat melahap takdir, bakat, keberuntungan, bahkan kesempatan hidup mereka untuk menjadi miliknya.
Sejak malam itu, seorang "sampah" yang ditertawakan seluruh dunia mulai menapaki jalan yang belum pernah dilalui siapa pun.
Jika langit menolak memberinya takdir...
Maka ia akan memakan takdir langit itu sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Otna Forever, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11: Kota yang Terbangun
DOONG...
Dentang lonceng keempat bergema keras di seluruh penjuru Kota Kuno Takdir yang sebelumnya sunyi.
Suara itu berat dan dalam, seolah berasal dari zaman kuno yang telah lama dilupakan.
Sesaat kemudian, tanah mulai bergetar hebat. Reruntuhan bangunan yang telah diam puluhan ribu tahun perlahan berguncang.
Batu-batu kecil berjatuhan dari dinding, sementara debu kuno memenuhi udara, menciptakan suasana yang sangat mencekam.
Lin Yuan langsung memasang kuda-kuda tempur dengan pedang besinya yang sudah berada di tangan dengan erat.
"Apa yang terjadi di tempat ini?" tanyanya sambil menyapu seluruh sudut kota dengan tatapan waspada.
Bangunan yang semula mati kini mulai berubah secara misterius. Pintu-pintu kayu yang telah lapuk perlahan terbuka sendiri.
KREEEK...
Suara gesekan kayu tua menggema di setiap sudut jalan, menambah kesan horor di tengah reruntuhan.
Api hitam menyala satu per satu di atas tiang-tiang batu. Kabut hitam yang semula tipis kini semakin pekat.
Jarak pandang terus memendek dengan cepat, membuat Lin Yuan harus lebih mengandalkan insting tempur dan Mata Takdir.
Penjaga Makam menghela napas panjang, menatap perubahan kota dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Akhirnya... hari yang selama ini aku tunggu tetap datang juga," ucapnya dengan nada berat.
Lin Yuan menoleh cepat ke arah lelaki tua itu. "Hari apa yang kau maksud?"
"Hari ketika Kota Kuno Takdir terbangun dari tidur panjangnya," jawab Penjaga Makam singkat tanpa penjelasan lebih lanjut.
Belum sempat dia menjelaskan lebih jauh, patung batu raksasa di gerbang kota perlahan menggerakkan kepalanya sendiri.
KRAAAK...
Suara batu bergesekan membuat udara terasa semakin dingin, sementara mata patung memancarkan cahaya merah yang redup.
Kemudian, patung-patung lain di sepanjang jalan ikut bergerak serempak, menolehkan kepala mereka ke arah Lin Yuan.
Seolah seluruh kota kuno ini sedang memperhatikan setiap gerak-gerik yang dilakukan oleh sang pewaris baru.
Suara sistem segera berbunyi memberikan laporan.
[Fenomena berskala besar terdeteksi! Energi Takdir di area sekitar meningkat tajam. Tetap waspada.]
Lin Yuan menggenggam pedangnya semakin erat, naluri bertarungnya terus memperingatkan adanya bahaya besar yang mendekat.
Lalu, dari balik kabut hitam yang pekat, muncul suara langkah kaki yang teratur dan seragam.
Tok... Tok... Tok... Suara langkah itu bukan hanya dari satu orang, melainkan puluhan orang secara bersamaan.
Semakin lama suara itu semakin banyak, hingga kabut perlahan terbelah dan menyingkapkan sosok-sosok misterius yang berjalan keluar.
Satu sosok muncul, lalu diikuti oleh dua, lima, hingga sepuluh sosok lainnya yang terus bertambah jumlahnya dengan cepat.
Dalam waktu singkat, puluhan sosok telah memenuhi jalan utama kota dengan tubuh yang tersusun sepenuhnya dari kabut hitam.
Wajah mereka tampak samar dan sulit dibedakan, namun setiap sosok membawa senjata yang berbeda-beda.
Ada yang menggenggam tombak panjang, pedang lurus, busur hitam, hingga kapak raksasa yang terlihat berat dan mematikan.
Mereka berjalan tanpa suara dengan langkah yang seragam, tatapan kosong mereka hanya tertuju lurus kepada Lin Yuan.
Suara sistem kembali muncul.
[Bayangan Takdir terdeteksi! Jumlah sementara: 32 entitas. Tingkat ancaman: Sedang.]
Namun, Penjaga Makam justru menggelengkan kepalanya pelan seolah tidak setuju dengan penilaian sistem.
"Jangan pernah percaya sepenuhnya pada penilaian itu," ucapnya dengan nada serius yang membuat Lin Yuan waspada.
Lin Yuan mengernyitkan dahi. "Apa maksudmu jangan percaya?"
"Bayangan Takdir tidak memiliki tingkat kultivasi tetap, mereka bertarung berdasarkan sisa pengalaman hidup yang tertinggal di sana."
"Yang terlemah di antara mereka masih jauh lebih berbahaya daripada seluruh Penjaga Makam biasa yang kau hadapi sebelumnya."
Tatapan Lin Yuan berubah menjadi sangat serius. Dia tidak lagi memandang mereka sebagai lawan biasa yang mudah dikalahkan.
Puluhan Bayangan Takdir perlahan berhenti melangkah. Tidak ada satu pun yang melancarkan serangan lebih dulu kepada Lin Yuan.
Mereka hanya berdiri diam seolah sedang menunggu perintah dari seseorang yang memiliki otoritas lebih tinggi di kota ini.
Penjaga Makam mengangkat tangan kanannya, sebuah gulungan giok hitam perlahan melayang keluar dari cincin hitam milik Lin Yuan.
Gulungan itu berhenti tepat di hadapan Lin Yuan.
"Pelajari teknik ini sekarang juga!" perintah Penjaga Makam dengan tegas.
Lin Yuan sedikit terkejut mendengar perintah mendadak itu. "Sekarang? Di tengah kepungan musuh seperti ini?"
"Kalau kau tidak mempelajarinya sekarang, maka kau tidak akan pernah memiliki kesempatan lagi untuk bertahan hidup di sini."
Tanpa ragu, Lin Yuan segera menyentuh permukaan gulungan giok hitam tersebut dengan ujung jarinya yang gemetar.
Begitu jarinya menyentuh permukaan,
WUUUNG!
Cahaya hitam langsung memasuki lautan kesadarannya dengan kecepatan luar biasa.
Ribuan huruf kuno memenuhi pikirannya secara mendadak, semuanya bergerak sangat cepat namun anehnya dia mampu memahami maknanya.
Suara agung bergema di dalam benaknya, memberikan filosofi dasar dari teknik gerakan yang sedang dia pelajari.
"Langkah bukan untuk mengejar musuh, bukan pula untuk melarikan diri dari maut yang sedang mengintai."
"Langkah adalah memilih satu kemungkinan hidup di antara sepuluh ribu kemungkinan mati yang telah digariskan oleh takdir langit."
Mata Lin Yuan membelalak menyadari kehebatan teknik ini. Ini bukan sekadar teknik gerakan kaki biasa.
Melainkan seni berjalan di atas jalur Takdir. Gerbang Pemakan Takdir bergetar pelan, sementara Mata Takdir aktif dengan sendirinya.
Untuk pertama kalinya, benang-benang Takdir yang memenuhi kota tidak lagi terlihat kacau di mata kanannya.
Di antara ribuan benang itu, muncul jejak-jejak cahaya tipis yang saling terhubung membentuk sebuah jalur gerakan yang unik.
Jejak itulah jalur yang harus dilalui oleh teknik Langkah Pembelah Takdir agar terhindar dari segala serangan musuh.
Sudut bibir Lin Yuan perlahan terangkat membentuk senyum tipis.
"Aku mulai mengerti cara kerja teknik luar biasa ini," bisiknya.
Namun tepat saat itu, puluhan Bayangan Takdir serempak mengangkat senjata mereka. Aura dingin langsung memenuhi seluruh jalanan kota.
Penjaga Makam mundur beberapa langkah untuk memberi ruang bagi Lin Yuan.
"Tunjukkan bahwa kau layak menjadi pewaris tunggal."
Detik berikutnya, 32 Bayangan Takdir melesat maju secara bersamaan dengan kecepatan yang luar biasa.
Seluruh jalan kota langsung dipenuhi kilatan pedang, tombak, dan anak panah hitam yang mengarah lurus ke arah Lin Yuan.
Langit kota dipenuhi kilatan senjata mematikan, anak panah hitam melesat dari segala arah dengan sangat cepat.
Tombak panjang menusuk lurus ke depan, sementara pedang-pedang dingin mengurung seluruh jalur mundur yang mungkin bisa diambil Lin Yuan.
Jika itu adalah Lin Yuan beberapa jam yang lalu, dia pasti sudah mati dalam sekejap mata akibat serangan ini.
Namun sekarang, mata kanannya memancarkan cahaya hitam redup yang mampu menembus setiap kemungkinan serangan musuh.
Ribuan benang Takdir memenuhi pandangannya, menyingkapkan sebuah jalur sempit yang terus berubah di tengah hiruk-pikuk serangan.
Suara sistem berbunyi memberikan konfirmasi.
[Langkah Pembelah Takdir siap digunakan! Ikuti jalur kemungkinan terbaik yang ditunjukkan Mata Takdir untuk bertahan hidup!]
Lin Yuan menarik napas panjang untuk memantapkan hati, lalu dia melangkah maju dengan gerakan yang sangat tenang dan terukur.
Hanya satu langkah kecil saja, namun tubuhnya tiba-tiba muncul di celah sempit yang seharusnya mustahil untuk dilalui manusia.
SWISH!
Tiga anak panah hitam melintas tepat di belakang punggungnya, sementara dua tombak panjang menusuk ruang kosong yang hampa.
Pedang dari sisi kanan hanya sempat menyapu ujung lengan bajunya tanpa melukai kulitnya sedikit pun karena gerakannya sangat presisi.
Lin Yuan terus bergerak mengikuti alur takdir. Langkah kedua, tubuhnya berputar ringan membuat dua Bayangan Takdir saling bertabrakan sendiri.
CLANG!
Percikan api beterbangan di udara, sementara mata Penjaga Makam sedikit membesar melihat kemajuan pesat yang ditunjukkan muridnya.
"Dia baru pertama kali mempelajarinya, namun mustahil dia bisa memahami esensi teknik secepat ini," gumamnya dengan penuh kagum.
Lin Yuan sendiri merasakan sesuatu yang aneh di dalam dirinya, dia tidak merasa menjadi lebih cepat ataupun lebih kuat.
Namun, setiap kali dia hendak melangkah, tubuhnya secara alami memilih jalur yang paling aman di antara ribuan serangan musuh.
Seolah Takdir sendiri sedang membukakan jalan baginya.
"Jadi inilah kekuatan sesungguhnya dari teknik Langkah Pembelah Takdir," batinnya penuh semangat.
WHOOSH!
Seorang Bayangan Takdir bertombak muncul dari depan, Lin Yuan memiringkan tubuhnya hingga ujung tombak melewati bahunya dengan mulus.
Pada saat yang sama, pedang besinya menusuk ke depan dengan sangat akurat.
CRAAK!
Inti hitam di dada musuh pecah.
Tubuh Bayangan itu berubah menjadi kabut hitam, namun kabut tersebut tidak langsung menghilang melainkan membentuk wajah seorang pria tua.
Mata kabut itu menatap Lin Yuan dengan tatapan yang sangat dalam, sementara bibirnya bergerak pelan seolah sedang berbicara.
"Akhirnya... kau telah kembali juga ke tempat ini..." Setelah mengucapkan kalimat itu, kabut itu lenyap tertiup angin.
Lin Yuan membeku sesaat mendengar ucapan itu. "Kembali? Apa maksudnya bahwa aku telah kembali ke sini?"
Belum sempat berpikir lebih jauh, empat Bayangan Takdir lainnya telah mengepung posisinya kembali dengan senjata terangkat.
Salah satunya mengayunkan kapak besar dengan kekuatan penuh.
DUAAR!
Lantai batu di bawah kaki Lin Yuan langsung retak hancur.
Lin Yuan menghentakkan kakinya, tubuhnya berputar mengikuti jalur Takdir hingga kapak besar itu justru mengenai Bayangan Takdir yang lain.
Sementara itu, pedang besi Lin Yuan menusuk dari arah bawah dengan sangat cepat.
CRAAK!
Bayangan kedua ikut hancur menjadi kabut.
Kali ini, kabut yang tersisa berubah menjadi sosok wanita muda yang tampak sedang menangis dengan air mata di pipinya.
"Tuan... kau benar-benar telah kembali kepada kami..." suaranya penuh kerinduan yang mendalam sebelum akhirnya dia menghilang total.
Jantung Lin Yuan berdetak semakin cepat. Dua Bayangan Takdir memberikan ucapan yang sama seolah mereka telah mengenalnya sejak lama.
Namun bagaimana mungkin? Ini adalah pertama kalinya dia menginjakkan kaki di dalam Makam Takdir yang misterius.
Di kejauhan, Penjaga Makam tidak mengatakan apa pun, namun sorot matanya berubah menjadi sangat rumit dan penuh rahasia.
Seolah ada sesuatu yang telah lama dia khawatirkan kini mulai menjadi kenyataan di depan matanya sendiri secara perlahan.
Pertarungan terus berlangsung dengan sengit, Lin Yuan menjadi semakin terbiasa menggunakan teknik Langkah Pembelah Takdir dalam setiap gerakannya.
Gerakannya menjadi semakin halus dan efisien, setiap langkah tampak sederhana namun selalu muncul di titik yang paling tepat.
Dalam waktu singkat, sepuluh Bayangan Takdir telah tumbang di tangannya, seluruh jalan utama kota kembali dipenuhi kabut hitam.
Namun tiba-tiba semua Bayangan Takdir yang tersisa berhenti bergerak, mereka menurunkan senjata dan serempak berlutut dengan penuh hormat.
Tok... Tok... Tok...
Suara langkah kaki baru terdengar dari arah kegelapan kota, membuat suasana menjadi semakin sunyi dan mencekam.
........
Bersambung...