Seorang gadis 14th merelakan masa remajanya demi bisa masuk ke organisasi Phantom agar bisa membalas dendam kematian kakaknya. Misi pertama mendekati empat cucu Alexander Starling Gruop.
Demi keberhasilan misi Irish menggunakan apa saja termasuk mempermainkan perasaan targetnya.
Dendam nomer satu, perasaan nomer sekian!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Usu dedek, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kecurigaan yang tersembunyi.
Tiba-tiba aku terkejut setengah mati, Zane melangkah tanpa suara. Pria betubuh kekar itu entah sejak kapan dia di belakangku. Aku gugup takut kalau dia mendengar pembicaraan ku tadi.
"Zane ... sejak kapan kau di situ?"
"Sejak kau bicara serius dengan seseorang."
"Apa .... " aku terdiam.
Aku pikir Zane telah mendengar percakapanku barusan lewat telepon. Aku berusaha menyembunyikan suasana hatiku yang tak tenang. Dia berjalan mendekatiku tanpa suara dan entah apa yang dia pikirkan. Aku buru-buru memasukan telepon ke saku sambil melebarkan senyum pahit.
"Ayo kita kembali ke rumahku."
Aku hanya mengangguk pelan. Aku sedikit tegang. Tapi aku memperlihatkan wajah senyum pahit yang penuh tipu daya. Aku sadar, begitu banyak keamanan yang tersembunyi di balik indahnya mansion Starling itu. Pergerakan ku pasti sudah di awasi.
"Aku ingin bertanya pada Mike, tapi jarak Zane terlalu dekat. Jika dia melihatku bicara sendiri dia akan curiga," batinku.
Zane membawaku kembali ke kediamannya tanpa bicara, mataku terus mengintai seolah menjadi kamera hidup yang berjalan bersama tersangka. Aku ingin mencairkan suasana yang sedikit terasa beku.
"Apa lehermu masih sakit?"
"Ya, tentu saja sakit, tapi tidak seberapa, karena Markus sudah mengobatiku semalam. Kau sangat kuat Irish... "
"Kau terlalu memuji, Zane." Balasku sedikit berbangga.
"Apa benar kau hanya wanita biasa? Itu tekhnik tumbuk leher yang hanya akan di dapat dalam militer. Itu tekhnik gabungan dari seni bela diri china dan karate."
"Benarkah .... " Aku cengengesan konyol.
"Aku sangat suka bertarung. Dari kecil aku diajarkan tentang bela diri, terutama boxing dan mma. Aku sangat menyukai pertarungan bebas seperti itu. Tehnik itu aku pelajari dari menonton pertarungan film wingcun." Ucapku membela diri.
"Bakatmu luar biasa jika hanya lewat menonton. Baiklah .. setiap minggu datanglah ke boxing hall dan menjadi tamu kehormatan. Kau akan bertemu orang-orang menarik di sana dengan berbagai tekhnik bela diri. Datanglah menonton."
"ya memang itu tujuanku, aku pasti akan selalu menonton."
Kami lalu mengobrol panjang lebar tentang kesukaan Zane dan berbagai aktivitasnya. Dia orang yang terbuka dan mudah bergaul. Seketika aku lupa kalau dia itu targetku, bicaranya sangat lembut. Berbeda dengan penampilannya yang sangar.
Zane membawaku ke dapur dan membuatkanku makanan siang, tak sengaja aku menumpahkan air saat meminumnya. Bajuku menjadi basah dan aku terpaksa pergi ke kamar mandi.
"Apa aku bisa meminjam baju ganti? kalian membawaku kemari tanpa persiapan, jadi aku tidak punya baju lain."
"Masuklah ke kamarku, pakai saja kemeja yang ingin kau kenakan." Ucap Zane tanpa menoleh saat memasak.
Aku pun tersenyum mendengar hal tersebut.
"Ini adalah kesempatan emas untukku menanamkan chip kamera di semua sisi," batinku kegirangan.
Aku buru-buru masuk ke kamar tadi dan memeriksa bajuku, saku di jasku masih tersimpan kamera. Aku sempat khawatir mereka telah menggeledah pakaianku.
"Syukurlah, tidak ada tanda-tanda yang mencurigakan. "
Ternyata semuanya aman. Aku bernafas lega.
Aku membisikkan kepada Mike.
"Apakah tadi malam ada pergerakan yang mencurigakan?"
" tidak ... selagi kau pingsan mereka hanya menggendongmu dan mengantarmu ke sana."
"apa kau tahu apa yang dilakukan oleh kedua orang lainnya tadi malam."
"Maksudmu Markus dan Aldrik? mereka tidak melakukan apapun, jika mereka melakukan sesuatu kepadamu, aku pasti mematikan chip satelit ini. Tenang saja, kau aman."
"Syukurlah,"
"Kau harus berhati-hati Irish... sepertinya Zane mencurigaimu."
"Ya aku tahu ... tadi dia mungkin mendengar percakapanku dengan pak Jojo."
"Lanjutkan rencananya ... aku akan meretas keamanan Mansion Starling. Tapi itu hanya bisa 20 detik."
"Oke ... itu sudah cukup."
Aku pun menanam kamera tersembunyi di sudut-sudut rumah Zane dengan cepat. Gerakan tangan dan kakiku lincah. Berpacu melawan waktu yang seolah kapan saja akan meledak. Aku menanamkan chip ke atas pintu agar dapat melihat siapa saja yang masuk dan keluar rumah itu.
Sementara aku sibuk melancarkan misiku di kamar dan ruang tamu, tanpa kusadari ketiga saudara yang lainnya datang ke rumah Zane. Mereka menerobos masuk dan langsung menuju dapur.
"Irish... stop. Ada yang datang!" Ujar Mike memberi peringatan.
Aku diam-diam mengikuti suara langkah itu dan menguping pembicaraan mereka. Aku melepas sandal tidur agar tak meninggalkan suara. Tampak Caspian cool seperti biasanya. Markus uang selalu misterius dan Aldrik yang periang berkumpul di meja makan. Zane masih memasak suop di meja kompornya.
Markus bersandar di kulkas sambil memutar pisau bedah di jarinya.
"Zane, apa kau berhasil mendapatkannya?" tanya Markus membuatku penarasan dan semakin ingin mendengar kata-kata mereka.
Aku belum sempat menanam kamera tersembunyi di dapur, mereka malah berkumpul di sana.
"Apa maksudmu?"
"Gadis itu masih virgin loh." kata Markus mengejek.
Aku semakin penasaran. Apa maksud dari perkataan itu.
" Mike ... apa benar semalam tidak terjadi apa-apa kepadaku? kenapa perasaanku tidak enak." Gumamku kesal.
" Tenanglah Irish ... jika sesuatu terjadi padamu aku sudah memberitahukannya. Kau tidak diapa-apakan."
"Apa maksudnya mendapatkan ku?" batinku bingung.
Aku penasaran dengan ucapan Markus. Apa jangan-jangan mereka sengaja mendekatiku dengan niat untuk meniduriku. Aku berjalan pelan dan membuang sandalku agar tak mengeluarkan suara. Aku bersembunyi di tembok di dekat dapur sambil mendengar pembicaraan mereka.
" kita sudah bertaruh Zane, siapa yang berhasil mendapatkannya terlebih dahulu akan mendapatkan imbalan besar." Sambung Markus.
"Tenanglah, taruhan itu pasti berjalan, Bro tapi untuk saat ini biarkan saja dia menikmatinya."
"Ahh kau ini kaku sekali, aku sudah memberinya obat tidur tadi malam tapi kau tidak menggunakan kesempatan yang ada. Kau. malah membawanya pulang kemari."
"Apa kau tidak takut kalau dia itu adalah mata-mata dari organisasi yang selalu mengincar Starling Gruop?" Ujar Caspian menambahkan argumentnya.
Aku menggigit bibirku saat mendengar hal itu. Keringat dingin tiba-tiba merembes di balik rambutku. Apa mereka mengetahui rahasiaku? Apa aku ketahuan? Apa aku gagal? Pertanyaan demi pertanyaan menghantui pikiranku. Belum satu minggu aku terjun ke misi ini, namun aku terkejut, secepat itu mereka akan curiga.
Aldrik lalu menjelaskan dan memberikan beberapa lembar kertas putih kepada mereka.
"Dari hasil penyelidikanku, dia murni rakyat biasa. Namun identitas yang lainnya tersembunyi, orang tuanya berasal dari Indonesia. Dan dia sarjana dengan lulusan terbaik jalur beasiswa. Hanya itu yang aku dapat. Sisanya tidak ada informasi lebih lanjut."
Ternyata selama ini Aldrik diam-diam mencari informasi tentangku. Aku jadi semakin penasaran, taruhan apa sebenarnya yang mereka lakukan. Markus membaca lembaran dokumen milikku yang di bawa Aldrik.
"Oke ... Fine! jika kau bisa mendapatkannya terlebih dahulu maka aku akan menyerahkan satelit pengobatanku kepadamu."
"Bukankah kau yang meminta taruhan ini? Lalu kenapa kau tidak menggunakan kesempatan?"
Mataku terbelalak, telingaku berdiri mendengar semua itu. Aku terkejut bukan main, ternyata mereka telah memasang taruhan tinggi untuk mendapatkan tubuhku.
"Ternyata mereka benar-benar keluarga Starling ... hampir saja aku tertipu oleh kelembutan Zane." Gumamku kecewa.
Aku kemudian meninggalkan ruang hampa itu dan masuk ke kamar mandi. Aku menatap cermin dan melihat wajahku yang cantik tapi murung. Aku kecewa, ternyata langkahku malah di gunakan sebagai taruhan oleh keempat orang itu.
Aku menatap wajahku dengan lesu. Aku mencoba menjernihkan pikiran saat ini. Aku tak ingin umpan yang ku siapkan malah terbalik ke diriku sendiri. Mereka memasang jebakan untukku. Aku tak ingin tertangkap.
Aku benar-benar merasa sendirian saat ini.