Sebuah pernikahan yang berdiri di atas pilar rasa utang budi, bukan cinta. Nindya menerima lamaran Haris karena takdir mempertemukan mereka dalam tragedi berdarah yang hampir merenggut nyawa Haris—dimana Nindya bertaruh nyawa untuk menyelamatkannya. Namun, setelah bertahun-tahun berlalu dan dikaruniai seorang putra yang menggemaskan, Nindya harus menelan kenyataan pahit: rasa terima kasih Haris tidak pernah berubah menjadi cinta. Di balik dinding rumah tangga mereka yang dingin, Haris masih menyimpan bayang-bayang masa lalunya bersama wanita lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hadiah Yang Terlupa
Angin pagi berembus lembut saat Nindya menjejakkan kakinya di atas rumput hijau pemakaman. Ia berjalan perlahan di antara gundukan tanah hingga akhirnya bersimpuh di samping dua batu nisan bermarmar hitam yang terletak berdampingan. Jemarinya yang bergetar mengusap lembut ukiran nama Ayah dan Ibunya yang terpatri anggun di sana.
"Ibu... Ayah..." bisik Nindya, dan seketika itu juga suaranya runtuh. Tangis yang semalam berhasil ia redam di hadapan Haris akhirnya pecah sepenuhnya di tempat sunyi ini.
"Nindya capek, Bu..." adunya pada gundukan tanah bisu itu. Air matanya menetes makin deras, jatuh membasahi rumput-rumput kecil di atas pusara. "Dua tahun Ibu dan Ayah pergi meninggalkan Nindya, rasa-rasanya Nindya sudah tidak punya alasan lagi untuk tersenyum. Rumah mewah yang Nindya tempati sekarang... bukan rumah Nindya, Bu. Tempat itu terasa sangat asing dan dingin."
Nindya menunduk dalam-dalam, meremas ujung gaun hitamnya. "Mas Haris tidak pernah menganggap Nindya ada di hidupnya. Cinta yang selama ini Nindya impikan dan harapkan tidak pernah tumbuh sedikit pun di hatinya, Bu. Bagi Mas Haris, Nindya cuma beban masa lalu. Nindya cuma kewajiban yang harus dia bayar karena utang nyawa di masa lalu."
Keheningan segera menyergap kembali tempat itu. Hanya ada deru angin pagi dan suara daun-daun kering yang berguguran diterpa angin. Tidak ada suara lembut Ibu yang menenangkan, tidak ada pelukan hangat Ayah yang melindunginya. Namun, mengadu dan menumpahkan seluruh kepedihan di atas pusara orang tuanya sedikit demi sedikit mengikis beban batu besar yang meremukkan dadanya.
Nindya mengusap air matanya hingga kering. Ia menguatkan dadanya dan mencoba berdiri tegak. Ia ingat pada Arka, putra kecilnya yang polos dan penuh kasih sayang. Arka adalah harta berharga yang ia miliki saat ini, dan putranya itulah satu-satunya alasan mengapa Nindya harus tetap berdiri tegak dan melanjutkan hidup.
Sore harinya, langit ibu kota berubah menjadi kelabu pekat sebelum akhirnya meluapkan hujan deras yang membentak kaca-kaca jendela rumah. Suara gemuruh air yang jatuh menghantam atap menciptakan suasana mencekam di dalam rumah besar yang sepi itu.
Nindya sedang duduk di atas karpet bulu di ruang tengah, menemani Arka yang sibuk mewarnai buku gambarnya dengan krayon warna-warni. Tiba-tiba, suara dering dari ponsel Nindya yang tergeletak di atas meja kaca memecahkan konsentrasinya. Nindya menoleh dan melihat nama Haris tertera jelas di layar yang menyala.
Jantung Nindya berdesir pelan. Sekalipun hatinya telah terluka berulang kali, masih ada sepercik binar harapan kecil di matanya. Ia menggeser tombol hijau pada layar, berharap ada sedikit perhatian atau kepedulian dari suaminya di tengah cuaca buruk yang sedang melanda kota ini.
"Halo, Mas Haris?" tanya Nindya pelan.
"Nindya," suara Haris terdengar terburu-buru dan tidak tenang dari seberang telepon. Di latar belakang panggilannya, terdengar samar-samar riuh kebisingan khas koridor rumah sakit dan panggilan nada darurat. "Aku tidak bisa pulang cepat malam ini. Jangan tunggu aku untuk makan malam."
Dada Nindya berdesir nyeri. "Ada apa, Mas? Hujan deras sekali di luar, anginnya kencang. Arka dari tadi terus-terusan menanyakan kamu..."
"Siska kecelakaan," potong Haris cepat tanpa ragu sedikit pun, seolah nama itu adalah alasan paling valid di dunia yang harus diterima oleh istrinya. "Mobilnya mogok di jalanan sepi dan dia jatuh tergelincir saat keluar. Kakinya terkilir parah dan dia tidak punya siapa-siapa lagi di kota ini. Aku harus tetap di sini untuk menemaninya."
Dia tidak punya siapa-siapa lagi di sini?
Kata-kata Haris merancap tepat di pusat jantung Nindya seperti sembilu yang tajam. Lalu bagaimana denganku, Mas? Aku bahkan sudah tidak punya Ayah dan Ibu! Aku tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini! jerit Nindya berulang kali di dalam batinnya. Namun, tenggorokannya terasa tersumbat dan bibirnya terlalu kelu untuk memuntahkan seluruh amarah itu.
"Mas..." suara Nindya bergetar hebat, menahan air mata yang mendesak keluar dari pelupuk matanya. "Kamu ingat tidak... hari ini hari apa?"
Hari ini adalah anniversary pernikahan mereka yang keempat. Sebuah tanggal penting yang sejak siang tadi telah Nindya persiapkan dengan memasak berbagai hidangan kesukaan Haris, meski di dalam hati kecilnya ia tahu betul peluang Haris untuk duduk menikmati masakan itu sangatlah tipis.
Hening tercipta sejenak di ujung telepon. Haris tidak langsung menjawab. Pria itu terdiam, menandakan bahwa ia memang benar-benar telah melupakan tanggal tersebut.
"Jaga Arka baik-baik. Aku sangat sibuk sekarang," sahut Haris singkat tanpa merasa perlu meminta maaf, lalu mematikan sambungan telepon itu begitu saja.
Tut... tut... tut...
Nindya mematung, menggenggam ponselnya erat-erat hingga buku-buku jarinya memutih. Ia menatap layar ponsel yang perlahan kembali gelap dan mati. Di sampingnya, Arka mendongak. Mata bulat bocah kecil itu menatap ibunya dengan binar polos tanpa dosa.
"Mama... Papa pulang bawa kue untuk kita?" tanya Arka lembut sambil memegang ujung baju terusan Nindya.
Nindya berlutut di hadapan putranya, lalu merengkuh tubuh kecil Arka ke dalam pelukannya dengan sangat erat. Ia menyembunyikan wajahnya di bahu mungil sang putra, membiarkan air matanya jatuh tanpa suara.
Cukup, Haris, bisik Nindya dalam hatinya yang telah hancur menjadi serpihan tak berharga. Rasa terima kasihmu sudah lebih dari cukup menyiksaku selama empat tahun ini. Mulai hari ini, aku lepaskan kamu.