NovelToon NovelToon
Sistem Ayah Level Dewa

Sistem Ayah Level Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Perubahan Hidup / Sistem / Kaya Raya / Bapak rumah tangga
Popularitas:16k
Nilai: 5
Nama Author: Surya Mandala

"Arya Pratama adalah mahasiswa miskin yang hidup pas-pasan. Satu-satunya kebanggaannya adalah Kirana, pacar tercantik di kampus.

Namun segalanya hancur saat Kirana datang dengan kabar: ""Aku hamil."" Keluarga Kirana yang kaya raya menghina dan mengusirnya.

Dunia Arya runtuh—hingga sebuah sistem misterius aktif di kepalanya: [Sistem Ayah Level Dewa]. Setiap langkah tanggung jawabnya sebagai ayah diganjar hadiah luar biasa: uang miliaran, saham, teknologi canggih.

Kini Arya berjuang melawan preman, fitnah, dan musuh politik, sambil membangun kerajaan bisnis. Bisakah ia membuktikan bahwa menjadi ayah muda bukanlah akhir—melainkan awal dari segalanya?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Surya Mandala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 3

Bab 003 - Istana di Atas Awan

"Mobil ini dari mana?"

Kirana berdiri di samping Toyota GR Supra abu-abu itu dengan kantong obat di tangan. Wajahnya masih pucat setelah dari rumah sakit, tetapi matanya sekarang tajam.

Arya menutup pintu penumpang yang tadi ia buka.

"Ada beberapa hal yang belum bisa aku jelaskan rapi," katanya. "Yang bisa aku pastikan, mobil ini aman. Suratnya lengkap. Aku tidak mencuri, tidak berutang ke rentenir, dan tidak ikut hal ilegal."

Kirana menatapnya lama.

"Kamu sadar jawaban itu terdengar aneh?"

"Sadar."

"Sangat aneh."

"Aku tahu."

Kirana menarik napas. Ia melihat logo Toyota di depan mobil, lalu melihat Honda Beat tua Arya yang terparkir jauh di sisi lain halaman. Perbedaan keduanya terlalu kasar untuk diabaikan.

"Arya, pagi tadi kamu masih datang naik motor."

"Aku juga masih kaget."

Kirana hampir marah, lalu melihat tangan Arya yang menggenggam kantong obatnya. Ia ingat Arya duduk di depan dokter, mengaku sebagai ayah dari anak itu tanpa suara gemetar.

Amarahnya turun sedikit.

"Kamu janji tidak membahayakan aku?"

"Aku janji."

"Dan tidak membahayakan bayi?"

"Itu yang paling aku jaga."

Kirana akhirnya masuk ke mobil. Ia duduk kaku seperti takut menyentuh jok kulitnya. Arya menutup pintu pelan, lalu berjalan ke sisi pengemudi.

Saat mesin GR Supra menyala, Kirana memegang sabuk pengaman dengan kedua tangan.

"Kita ke mana?"

"Kontrol lebih jelas. Bab tadi dokter bilang perlu USG awal. Aku cari klinik yang bisa menerima sekarang."

"Kamu sudah cari?"

"Sudah."

Kirana menatapnya. "Sejak kapan kamu secepat ini?"

Arya memasukkan gigi dan keluar dari parkiran. "Sejak kamu bilang aku akan jadi ayah."

Klinik Bunda Sehat berada di ruko bersih dekat pusat kota. Ruang tunggunya tenang, dengan poster perkembangan janin minggu ke minggu di dinding. Kirana berhenti lama di depan gambar kecil bertuliskan usia enam minggu.

Ukurannya hanya seperti kacang.

Arya berdiri di sampingnya.

"Sekecil itu?" bisik Kirana.

"Sekitar itu."

"Tapi hidupku sudah jungkir balik."

"Hidup kita."

Kirana menoleh. Kali ini ia tidak membantah.

Nama mereka dipanggil oleh perawat. Dokter Widya, dokter kandungan di klinik itu, menyambut mereka dengan senyum profesional.

"Selamat pagi. Dari catatan yang Mas kirim, test urine positif dan perkiraan enam minggu, ya?"

"Iya, Dok," jawab Arya. "Kami ingin memastikan kondisi awalnya."

Dokter Widya memeriksa data, lalu mulai bertanya tentang siklus haid, mual, pusing, pola makan, riwayat penyakit, dan obat yang sudah diberikan.

Kirana menjawab pelan. Arya mencatat semua di ponsel.

Ketika dokter menyebut asam folat, Arya bertanya, "Kalau mual pagi mulai berat, batas kapan harus kembali ke klinik? Dan untuk makanan tinggi zat besi, ada pantangan khusus di trimester pertama?"

Dokter Widya mengangkat alis.

"Mas Arya belajar dari mana?"

Kirana ikut menatapnya.

Arya menahan ekspresi. "Saya baca cepat setelah dari rumah sakit."

"Bacanya cukup serius." Dokter Widya tersenyum tipis. "Bagus. Banyak calon ayah datang hanya duduk diam."

Kirana menunduk. Jari-jarinya bermain di tali tas, tetapi pipinya sedikit hangat.

USG awal dilakukan dengan hati-hati. Layar hitam putih itu menunjukkan titik kecil di dalam rahim Kirana. Dokter Widya menunjuk dengan ujung pena.

"Kantong kehamilannya sudah terlihat. Untuk detak jantung, kita cek lagi di kontrol berikutnya. Saat ini sesuai usia awal. Yang penting jangan stres berat."

Kirana tidak bicara. Air matanya jatuh lagi.

Arya menggenggam tangannya.

Di layar itu, masa depan mereka tampak kecil sekali.

Kecil, tetapi nyata.

Setelah konsultasi selesai, Arya membayar biaya klinik dan mengambil jadwal kontrol. Saat mereka keluar ke parkiran, panel sistem muncul.

【Tindakan terdeteksi: menyelesaikan pemeriksaan kehamilan awal dan memahami kebutuhan ibu-janin.】

【Hadiah diberikan: Apartemen Grand Surya Residence, Tower A Lt.16.】

【Hadiah tambahan: Mercedes-Benz S-Class S680.】

Arya berhenti di tengah langkah.

Kirana menoleh. "Ada apa?"

Panel terus berkedip.

【Dokumen kepemilikan tersimpan di brankas unit. Akses penghuni telah aktif.】

【Lokasi kendaraan tambahan: basement penghuni Grand Surya Residence.】

Arya menutup mata sebentar.

GR Supra saja belum bisa ia jelaskan. Sekarang sistem memberinya apartemen dan Mercedes.

"Arya?"

Ia membuka mata. "Kirana, aku ingin menunjukkan satu tempat."

"Tempat apa?"

"Tempat yang lebih aman untuk kamu tinggal."

Kirana langsung tegang. "Arya, aku belum bilang setuju pindah."

"Aku tahu. Lihat dulu. Kalau kamu tidak nyaman, kita cari pilihan lain."

Apartemen Grand Surya Residence berdiri tinggi di kawasan yang bersih dan dijaga ketat. Pos keamanan di gerbang memeriksa kendaraan, lalu palang terbuka setelah nama Arya muncul di sistem penghuni.

Kirana menatap layar kecil di pos satpam.

"Namamu sudah ada?"

"Sepertinya begitu."

"Kamu benar-benar harus menjelaskan semuanya."

"Aku akan jelaskan sejauh yang bisa aku jelaskan."

"Jawabanmu makin membuatku takut."

"Kalau kamu takut, pegang tanganku."

Kirana menghela napas, tetapi tangannya tetap mencari tangan Arya.

Lift membawa mereka ke Tower A Lt.16. Pintu unit terbuka setelah Arya menempelkan kartu akses yang entah sejak kapan ada di dompetnya.

Lampu menyala otomatis.

Ruang tamu luas terbentang di depan mereka. Jendela besar menghadap kota Surabaya. Ada tiga kamar, dapur bersih, sofa baru, meja makan, dan satu kamar kecil dengan dinding warna lembut yang sudah disiapkan sebagai kamar bayi.

Kirana melangkah masuk tanpa suara.

Ia berhenti di depan kamar bayi.

Di sudut ruangan ada ranjang bayi putih yang masih kosong.

Tangannya naik menutup mulut.

"Arya..."

"Aku tidak mau kamu kembali ke kos sendirian," kata Arya. "Terlalu banyak orang bisa bertanya. Di sini ada keamanan, lift akses, parkiran tertutup. Kamu bisa istirahat."

"Ini terlalu besar."

"Masalah kita juga besar."

Kirana menoleh. Air matanya menggenang lagi.

"Kamu bicara seperti semuanya bisa kamu atur."

"Belum. Tempat tinggal, kontrol dokter, makanan, obat, dan keamananmu bisa aku mulai dari sekarang."

Kirana melihat kamar bayi itu lagi.

Lama.

Akhirnya ia mengangguk pelan.

"Untuk sementara," katanya. "Aku tetap harus mengambil barang di kos."

"Aku antar."

"Dan aku tetap mau penjelasan."

"Kamu akan dapat."

Di ruang kerja kecil dekat kamar utama, Arya menemukan amplop cokelat di dalam laci. Isinya sertifikat unit, kartu akses cadangan, bukti pembayaran IPL setahun, dan dua BPKB kendaraan. Nama Arya Pratama tercetak jelas di setiap lembar.

Tangannya sempat berhenti di atas dokumen Mercedes-Benz S-Class S680.

Kirana melihat dari ambang pintu.

"Ada lagi?"

Arya menutup amplop pelan. "Ada mobil lain di basement."

Kirana memijat pelipis. "Aku butuh duduk."

"Kamu memang harus duduk."

"Arya."

"Iya?"

"Aku percaya kamu menjaga aku. Untuk penjelasan uangnya, aku belum percaya penuh."

"Adil."

Kirana menatapnya, lalu masuk ke kamar tanpa menambah pertanyaan.

Malam itu, setelah Kirana tidur di kamar utama karena kelelahan, Arya berdiri di balkon. Di bawah sana, lampu kota Surabaya menyala seperti barisan api kecil.

Panel sistem muncul lagi.

【Status ayah: Tahap awal.】

【Tugas lanjutan: siapkan rumah aman, jaga emosi ibu, hadapi keluarga.】

Arya membaca baris terakhir lebih lama.

Hadapi keluarga.

Di dalam kamar, ponsel Kirana menyala di meja.

Mama.

Nama itu berkedip beberapa kali.

Kirana yang baru terlelap membuka mata. Begitu melihat layar, wajahnya langsung kehilangan warna.

1
Ria Gazali Dapson
kirana bnyak tanya ya, udh untung arya mo tanggung jawab, dg fasilitas wow , ga da rasa syukur nya ,cuma penasaran⁹ doang , liatin ja dulu , bersama dg waktu akn mnjawab semua , karena suatu anugerah, sedang tercurah k arya
Maulana Sejati
buruk
Maulana Sejati
ni yg nggak masuk akal, punya sistem,sdh tau ada ancaman tpi trnyata msh dbuat cerita yg bgini...prettt
penggemar_Uangkecil?!
👍👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
sitanggang
gak seru, kok system org Lain ad yg tau🤣🤣🤣🤣🤣
σяιмσтσ (^• . •^)
.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!