NovelToon NovelToon
Diusir Mertua, Dinikahi Diam-diam oleh CEO Dingin

Diusir Mertua, Dinikahi Diam-diam oleh CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Asmara / CEO / Cinta setelah menikah / Ibu Tiri
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Olivia Renata

"Setelah kecelakaan fatal yang merenggut nyawa suaminya, Nadhira terbangun dari koma dengan insting tajam, mampu mencium niat busuk orang lain. Setelah pulang, ia tak disambut kasih, melainkan dianiaya mertua dan ipar licik yang mengincar warisan suaminya. Mereka mengusirnya, memfitnahnya, serta memaksa ia melepas hak waris.
Bahkan ayah kandungnya menjualnya untuk dinikahkan dengan pria tua kaya demi keuntungan pribadi. Di titik paling terpuruk, Rayhan Pradipta, CEO dingin Pradipta Group dan mantan atasan suaminya, datang menawarkan pernikahan kontrak untuk saling melindungi.
Awalnya hanya hubungan transaksional, perasaan sejati perlahan tumbuh di antara mereka. Nadhira bangkit mandiri, membangun Mutiara Property menjadi perusahaan properti ternama dan membesarkan ketiga anaknya. Ia berani membalas semua perundungan keluarga masa lalu.
Namun obsesi Dinda, mantan ipar Rayhan, menyimpan rahasia gelap jaringan perdagangan manusia yang mengancam seluruh kebahagiaan barunya. Mampukah Nadhira menjaga keluarga dan cinta sejatinya sebelum semuanya hancur?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Olivia Renata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 15

Bab 15

Ancaman

Keesokan paginya, nomor tak dikenal itu sudah memiliki nama.

Gilang mencocokkannya dengan data kontak darurat lama milik Hendra di Pradipta Group. Nomor tersebut terdaftar sebagai milik Agus Wijaya. Foto profilnya disembunyikan, tetapi empat digit terakhir, riwayat perubahan nomor, dan pesan lama pada catatan perusahaan sama.

"Agus," kata Rayhan.

Nadhira menatap hasil cetak yang diletakkan Gilang di meja makan. "Dia memotret sendiri?"

"Belum tentu." Gilang membuka rekaman kamera gerbang. "Tapi lihat ini."

Rekaman pagi kemarin memperlihatkan sebuah motor berhenti di luar batas kompleks. Pengendaranya mengenakan helm tertutup. Beberapa meter di belakang, mobil Pak Darmo terparkir sebentar. Wajah Pak Darmo terlihat ketika ia turun untuk berbicara kepada pengendara, lalu menunjuk ke arah rumah Rayhan dari kejauhan.

Waktu rekaman hanya berselisih dua menit dari foto yang masuk ke ponsel Nadhira.

"Mereka bekerja sama," ujar Nadhira.

Ponselnya kembali bergetar. Nomor Agus mengirim pesan kedua.

`Kamu sudah jadi istri orang kaya. Jangan pura-pura lupa keluarga. Bayar kompensasi, urusan selesai.`

Rayhan membaca kalimat itu tanpa mengubah ekspresi. Ia mengulurkan tangan kepada Gilang. "Teruskan semua tangkapan layar kepada pengacara. Simpan file rekaman asli. Jangan edit."

"Sudah," jawab Gilang.

"Tambahkan Agus dan Pak Darmo ke daftar larangan masuk seluruh properti grup."

Nadhira menahan rasa dingin di perut. "Mereka tidak akan berhenti hanya karena namanya ada di daftar."

"Karena itu kita tidak berhenti pada daftar."

Pengacara Nadhira datang satu jam kemudian. Ia membawa draf somasi yang menjelaskan larangan menghubungi, mengikuti, memotret rumah, mendatangi properti, atau menuntut uang. Surat itu bukan putusan pengadilan, dan pengacara menjelaskannya dengan terang.

"Ini peringatan resmi serta bukti bahwa mereka sudah diberi batas," katanya. "Jika ancaman berulang, rekaman, pesan, dan somasi membantu laporan polisi serta permohonan perlindungan lebih lanjut."

Nadhira membaca setiap halaman. "Kirim kepada keduanya."

"Ada satu hal lagi."

Pengacara mengeluarkan amplop dari firma hukum berbeda. Bu Sumini telah menunjuk kuasa hukum untuk menuntut hak asuh Alif sebagai nenek kandung. Surat tersebut menuduh Nadhira tidak stabil, menikah terlalu cepat, dan membawa Alif ke rumah pria asing.

"Apakah dia bisa mengambil Alif?" tanya Nadhira.

"Tidak hanya dengan surat ini. Alif masih di bawah dua belas tahun dan Anda ibu kandungnya. Nenek tidak otomatis menjadi pemegang hak asuh. Mereka harus membuktikan Anda tidak layak, sedangkan catatan pengambilan paksa serta pengurungan anak justru merugikan posisi Bu Sumini."

"Tapi saya tetap harus menanggapi."

"Betul. Kami balas secara resmi dan siapkan dokumen sekolah, pemeriksaan anak, tempat tinggal, serta laporan polisi. Jika ada panggilan pengadilan, kita hadir."

Rayhan berdiri di dekat jendela. "Pastikan tidak ada data Alif yang keluar dari sekolah tanpa persetujuan Nadhira."

Nadhira mengangguk. "Saya akan memberi salinan batas akses kepada PAUD."

Mereka belum selesai menandai bukti ketika pos keamanan menelepon.

Pak Darmo berada di gerbang utama.

Suara bentakannya terdengar bahkan melalui sambungan interkom. "Saya ayah Nadhira! Kalian tidak boleh melarang saya masuk!"

Rayhan mengaktifkan layar kamera. Pak Darmo berdiri di depan palang dengan dua lembar kertas di tangan. Seorang petugas keamanan menjaga jarak aman. Dua petugas lain berada di belakang pos.

"Sampaikan bahwa ia menerima somasi hari ini," kata Rayhan kepada kepala keamanan. "Jangan buka gerbang. Jika ia merusak fasilitas atau mengancam staf, hubungi polisi."

Pak Darmo melihat kamera dan mengangkat kertas tinggi-tinggi. "Nadhira! Keluar! Kamu menikah tanpa restu, sekarang bayar utangmu kepada keluarga!"

Nadhira menekan tombol bicara sebelum Rayhan menghentikannya.

"Pak Darmo sudah menerima uang muka Pak Hartono dan mencoba memaksa saya menikah. Saya tidak punya utang kepada Bapak. Jangan datang lagi."

"Kamu anak tidak tahu diri!"

"Semua ucapan direkam."

Pak Darmo terdiam, melirik kamera di atas pos. Beberapa detik kemudian ia meremas kertas dan menendang ban mobilnya sendiri. Satpam tetap tidak bergerak dari posisi.

"Kalau kamu tidak mau keluar, suruh suamimu bayar!" teriaknya. "Orang sekaya dia pasti malu punya istri dari keluarga miskin!"

Rayhan mengambil mikrofon interkom.

"Saya tidak malu pada istri saya," katanya. "Saya malu ada ayah yang menukar keselamatan anaknya dengan uang. Pergi sebelum polisi datang."

Wajah Pak Darmo memerah. Ia masih memaki, tetapi akhirnya masuk ke mobil dan pergi ketika suara sirene patroli kompleks terdengar mendekat.

Somasi dikirim secara elektronik dan melalui kurir tercatat kepada Pak Darmo serta Agus. Kepala keamanan menyimpan salinan foto penerimaan. Pengacara menyiapkan balasan terhadap klaim Bu Sumini, lalu membawa duplikat bukti ancaman.

Kepala keamanan kemudian membentangkan peta kompleks. Foto ancaman dibandingkan dengan sudut kamera dan garis pagar.

"Gambar diambil dari jalur perawatan di sisi timur," jelasnya. "Jalur itu berada di luar pagar utama, tetapi ada celah pandang di antara tanaman. Lensa jarak jauh bisa menangkap bagian depan rumah."

Ia menunjukkan rekaman seorang pengendara motor berhenti di titik yang sama. Nomor plat tertutup lumpur, tetapi waktu kedatangan cocok dengan kendaraan Pak Darmo.

"Tutup celah dengan panel buram hari ini," perintah Rayhan. "Tambah kamera yang menghadap keluar, bukan ke dalam kamar atau area privat."

Nadhira memperhatikan batas terakhir. "Saya tidak mau setiap langkah anak direkam di dalam rumah."

"Kamera hanya di gerbang, perimeter, garasi, dan area umum luar," jawab kepala keamanan. "Tidak ada penambahan di kamar, ruang keluarga, atau area belajar."

Mereka menyusun protokol yang bisa dijalankan tanpa menghentikan hidup anak-anak. Satu petugas perempuan akan mendampingi Nadhira ketika keluar bersama anak. Petugas menunggu di luar kelas PAUD, tidak masuk kecuali dipanggil. Daftar orang yang boleh menjemput Alif dibatasi pada Nadhira, Rayhan, dan pendamping yang fotonya sudah diberikan. Kata sandi darurat disepakati untuk telepon.

"Kalau ada perubahan, saya yang menyetujui," kata Nadhira. "Bukan staf sekolah, bukan keluarga, dan bukan pengawal sendiri."

Kepala keamanan mencatat. "Baik, Bu."

Rayhan tidak memotong satu pun syaratnya. Perlindungan yang diputuskan bersama berbeda dari pintu terkunci yang pernah menahan Nadhira dan Alif.

Menjelang siang, rumah kembali tenang. Arkan dan Alif bermain dengan Kopi di ruang keluarga, tidak tahu bahwa tiga orang dewasa sedang mencoba menggunakan darah, uang, dan rasa malu untuk menembus pagar.

Nadhira berdiri di depan jendela. "Saya tetap harus mengantar Alif ke PAUD. Saya tidak mau anak-anak hidup seperti tahanan."

"Kegiatan mereka tetap berjalan," jawab Rayhan. "Rute dan pendampingan yang berubah."

"Kamu sedang mengatur semua langkah saya."

Rayhan menatap foto rumah di layar ponsel, lalu rekaman Pak Darmo di gerbang. "Sampai ancaman ini terkendali, keselamatan bukan soal gengsi atau kebebasan semu."

Ia berdiri di hadapan Nadhira, suaranya rendah dan tidak memberi ruang untuk kecerobohan.

"Mulai sekarang, kamu tidak keluar tanpa pengawal."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!