"Arga Pratama menjalani dua tahun sebagai menantu paling dihina di Jakarta. Keluarga istrinya memperlakukannya seperti benalu. Dia menanggung semuanya dalam diam.
Yang tidak ada yang tahu: dia adalah Acrux, investor anonim di balik Cakra Capital — kekayaan ratusan triliun dan masa lalu militer yang dirahasiakan pemerintah.
Sekarang, satu per satu, mereka akan tahu kebenarannya — dan menyesal."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ardana Bayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 19
Bab 019: Persiapan Ulang Tahun Bu Agung
Rumah Anggrek berubah menjadi pusat operasi sejak awal Januari.
Ulang tahun kedelapan puluh Bu Agung Hartono sudah berubah menjadi panggung keluarga. Panggung untuk menunjukkan bahwa setelah Kusuma tumbang, setelah gosip helikopter, setelah pasar sempat meragukan mereka, keluarga ini masih berdiri di puncak meja makan Jakarta.
Ratna mengatur dekorasi seperti sedang mengatur pernikahan kerajaan.
Bimo mengurus undangan pejabat dan bankir.
Galang mengambil alih urusan hadiah, vendor, dan "kesan mewah" dengan semangat berlebihan.
Kiara ditunjuk sebagai penanggung jawab alur acara.
Arga tidak ditunjuk apa pun.
Tetapi ia hadir.
Sejak pagi, orang-orang keluar masuk Rumah Anggrek membawa katalog bunga, contoh kain, daftar tempat duduk, dan kotak undangan berlapis emas. Di ruang tengah, Ratna mengomel karena warna pita kurang "berkelas". Di teras, Galang memarahi vendor sound system karena layar LED tidak cukup besar.
"Ini ulang tahun Eyang Agung," katanya. "Bukan acara RT."
Kiara berdiri di samping meja panjang, mencoret jadwal yang terlalu padat.
"Kalau semua pidato dimasukkan, tamu akan lapar sebelum makan utama," katanya.
Galang mendengus. "Kamu terlalu praktis. Acara besar butuh seremoni."
"Acara besar butuh tamu tidak kabur."
Arga yang berdiri di dekat rak buku hampir tersenyum.
Kiara melihatnya.
"Apa?"
"Tidak apa-apa."
"Kamu tertawa."
"Belum."
Interaksi kecil itu tidak luput dari Ratna. Ia menatap mereka dengan mata menyipit, tetapi tidak sempat berkomentar karena ponselnya berbunyi.
Bu Agung keluar dari ruang pribadinya menjelang makan siang, ditemani satu pelayan senior. Begitu ia muncul, suara di ruang tengah turun setengah nada. Tidak ada yang memerintahkannya, tetapi semua orang di Rumah Anggrek sudah terbiasa membaca langkah perempuan tua itu seperti membaca jadwal pasar.
"Daftar meja VIP sudah final?" tanyanya.
Bimo segera maju. "Sudah, Bu. Bank, asosiasi bisnis, beberapa mitra lama, juga perwakilan dari grup besar."
"Jangan taruh orang yang baru naik di dekat meja utama."
"Baik."
"Dan jangan biarkan wartawan terlalu dekat dengan keluarga inti."
Ratna mengangguk cepat. "Sudah saya atur."
Bu Agung menatap Kiara. "Kamu pastikan acara berjalan bersih. Tidak boleh ada kejutan murahan."
Kiara tahu kalimat itu bukan hanya soal vendor atau lampu panggung.
Itu peringatan.
Setelah video helikopter tersebar, nama Arga mulai menjadi titik yang tidak bisa diabaikan. Ada tamu yang bertanya dengan pura-pura santai. Ada bankir yang tiba-tiba ingin tahu apakah menantu Kiara masih aktif di sektor keamanan. Ada kerabat yang dulu menghina Arga tetapi sekarang menahan lidah karena tidak yakin sedang berhadapan dengan siapa.
Keluarga Hartono membenci ketidakpastian.
Terutama ketika ketidakpastian itu memakai jas sederhana dan berdiri terlalu tenang di sudut ruangan.
Galang memanfaatkan momen itu untuk berbicara lebih keras.
"Eyang tenang saja. Aku sudah siapkan hadiah yang tidak akan membuat keluarga malu."
Kata keluarga malu sengaja dilempar ke arah Arga.
Arga mendengarnya.
Kiara juga.
Untuk pertama kalinya, Kiara tidak membiarkan kalimat itu lewat begitu saja.
"Hadiah untuk Eyang bukan kompetisi," katanya.
Galang mengangkat alis. "Aku hanya bilang jangan membuat malu."
"Kalau begitu kamu tidak perlu khawatir. Kamu sudah cukup sering melakukan itu untuk semua orang."
Ruangan berhenti.
Bambang yang sedang minum hampir tersedak.
Ratna menatap Kiara dengan terkejut dan marah sekaligus. Bu Agung tidak menegur, tetapi matanya bergerak dari Kiara ke Arga, lalu kembali lagi. Ia melihat perubahan itu. Semua orang melihatnya.
Arga tidak berkata apa-apa.
Namun di bawah meja, jemari Kiara menggenggam pena sedikit lebih kuat, seolah baru menyadari bahwa membela seseorang tidak selalu butuh pidato panjang. Kadang cukup satu kalimat yang tidak membiarkan hinaan lewat gratis.
Menjelang sore, Kiara menyerahkan daftar tamu kepada Arga untuk dibawa ke meja Bu Agung. "Tolong taruh di ruang kerja Eyang."
Arga menerima map itu.
Ia berjalan melewati koridor, tetapi berhenti ketika melihat satu nama di halaman ketiga.
PT Suryadinata Group - perwakilan direksi.
Matanya berhenti di sana.
PT Suryadinata Group datang dengan bobot yang terlalu besar untuk disebut tamu biasa. Mereka konglomerat tua dengan tangan panjang di sektor properti, manufaktur, consumer goods, dan belakangan mulai masuk ke mode serta retail. Hartono pernah bertemu mereka di acara publik, tetapi belum pernah mengundang mereka masuk ke lingkaran keluarga seperti ini.
Arga memotret halaman itu dengan ponsel.
Pesan dikirim ke Gacrux.
Cek Suryadinata. Kenapa masuk daftar tamu Bu Agung.
Balasan datang lima menit kemudian.
Diproses.
Malamnya, Rumah Anggrek sedikit lebih sunyi. Vendor sudah pulang. Ratna kelelahan di ruang keluarga. Galang masih membanggakan rencana hadiah mahalnya kepada beberapa sepupu lewat telepon.
Kiara duduk di meja makan kecil, memeriksa daftar hadiah dan susunan acara. Arga membawakan teh tanpa diminta.
Ia menatap cangkir itu. "Kebiasaan lama?"
"Kamu belum makan sejak siang."
"Kamu memperhatikan?"
"Sulit tidak memperhatikan orang yang marah pada tiga vendor dalam satu jam."
Kiara tertawa pendek. Suara itu ringan, hampir asing di rumah ini.
Beberapa detik kemudian, ia bertanya, "Kamu akan datang ke acara Eyang?"
"Kalau kamu mau."
Kiara menatapnya. Lagi-lagi jawaban itu.
"Aku mau."
"Kalau begitu aku datang."
Ia mengangguk, lalu pura-pura kembali membaca daftar hadiah. Namun pertanyaan lain sudah lama menunggu.
"Kamu akan membawa hadiah?"
"Ya."
"Apa?"
Arga mengambil satu lembar susunan acara dan membacanya sekilas. "Nanti kamu juga tahu."
Kiara menghela napas. "Kamu sadar kalimat seperti itu membuat orang curiga?"
"Kamu sudah curiga sebelum kalimat itu."
Kiara berhenti mencoret jadwal.
Arga menatapnya tanpa senyum, tetapi suaranya tidak dingin.
"Aku tidak marah," katanya.
"Aku belum minta maaf."
"Aku tahu."
Kiara menurunkan pena.
"Aku juga belum tahu harus mulai dari mana."
Arga tidak menjawab. Tetapi ia duduk di kursi seberangnya, tidak pergi. Untuk Kiara, malam itu, itu sudah cukup.
Pukul hampir sebelas, ponsel Arga bergetar.
Gacrux mengirim ringkasan awal:
PT Suryadinata Group belakangan ini mengincar sektor mode dan saham. Ada peningkatan pembelian kecil di beberapa emiten consumer. Kemungkinan besar kunjungan itu membawa kepentingan lain.
Arga membaca pesan itu dua kali.
Di meja seberang, Kiara masih menunduk di atas jadwal, tidak tahu bahwa sebuah nama di daftar tamu baru saja menyalakan alarm di kepala Arga.
Ia mengetik balasan:
Pantau. Jangan dekati dulu.
Gacrux:
Siap, Bos.
Arga menutup ponsel.
Ia tidak langsung bicara.
Di kepalanya, nama Suryadinata bergerak seperti bidak yang tidak seharusnya berada di papan ini. Mereka terlalu tua untuk datang hanya karena undangan sosial. Terlalu berhitung untuk memberi hormat tanpa kepentingan. Kalau mereka mulai melirik saham dan sektor mode, maka pesta ulang tahun itu sudah menjadi proses penilaian aset dari luar.
Dan pesta Bu Agung, dengan semua lampu, kamera, dan meja VIP itu, bisa menjadi tempat paling nyaman untuk mengukur kelemahan.
Arga memikirkan struktur keluarga Hartono.
Bimo lemah di tekanan pasar.
Ratna mudah terpancing soal martabat.
Galang lapar pengakuan.
Bu Agung tajam, tetapi usianya membuat banyak orang mulai menghitung waktu.
Kiara berbeda. Ia terluka, marah, dan masih ragu, tetapi ia bisa membaca angka. Ia bisa memotong acara yang tidak perlu. Ia bisa menahan wajah ketika seluruh keluarga mencoba menyeretnya ke sisi mereka.
Itu sebabnya Arga tidak boleh membiarkan Suryadinata melihatnya sebagai pintu masuk yang mudah.
Kiara mengangkat wajah. "Ada masalah?"
"Belum."
"Belum?"
"Mungkin hanya tamu."
Kiara terlalu mengenal kata mungkin belakangan ini. Ia tidak bertanya lebih jauh, tetapi matanya jatuh ke daftar tamu di tangan Arga.
PT Suryadinata Group.
Nama itu tampak biasa di antara puluhan nama besar lain.
Namun sesuatu pada cara Arga menatapnya membuat Kiara tahu: pesta ulang tahun Bu Agung tidak akan sekadar menjadi pesta.