Keira Liem cuma mau hidup tenang.
Setelah dikhianati mantan pacar dan dijebak rekan kerja, pilot muda ini nyaris kehilangan segalanya—karier, reputasi, bahkan harga diri. Satu-satunya jalan keluar? Nikah siri dengan pria asing yang ditemuinya di parkiran bawah tanah SCBD di malam terburuk hidupnya.
Pria itu bilang namanya Kai. Katanya pengangguran. Senyumnya menyebalkan, mulutnya pedas, tapi entah kenapa... Keira merasa aman di dekatnya.
Yang tidak Keira tahu: "Kai" adalah Kaizan Tanujaya—CEO Nusantara Airlines, pewaris konglomerat Tanujaya, dan legenda penerbangan yang fotonya sudah ditempel Keira di dinding kamar sejak SMA.
Setiap hari, Keira memuja Kapten Kaizan Tanujaya di kantor.
Setiap malam, Keira memarahi "suami kontrak pengangguran"-nya di rumah.
Mereka adalah orang yang sama.
Dan Kaizan? Dia menikmati setiap detiknya.
Tapi rahasia tidak bisa bertahan selamanya. Ketika topeng terbuka, ketika masa lalu yang kelam menyerang, ketika satu-satunya orang yang pernah membuatnya jatuh cinta berbalik pergi—Kaizan harus membuktikan bahwa cinta yang dimulai dari kebohongan bisa menjadi hal paling nyata di hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Olivia Renata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 25
Bab 25
Tengah Malam
"Jangan menunggu terlalu lama," jawab Kaizan.
Dia mematikan panggilan Moreno, tetapi kalimat itu berlaku lebih kepada dirinya sendiri.
Seminggu setelah kembali ke Jakarta, hubungan baru mereka mengubah hal-hal kecil di apartemen. Kai tidak lagi pura-pura mengetuk pintu dapur sebelum memeluk Keira dari belakang, tetapi dia tetap bertanya sebelum masuk kamar. Keira tidak lagi menyembunyikan senyum ketika jam biru bergetar di pergelangan Kai.
Pesan suara mereka lebih sering berisi daftar belanja daripada kalimat romantis.
"Beli telur."
"Berapa?"
"Satu kotak. Jangan beli peternakannya."
"Tidak janji."
Mochi menjadi korban utama perubahan itu. Setiap kali mereka duduk terlalu dekat di sofa, anjing besar tersebut menyelipkan kepala di antara tubuh mereka sampai Keira tertawa dan Kai menyerah mengelusnya.
Di tengah minggu yang manis itu, seorang pengacara perempuan dari lembaga pendamping korban menghubungi Keira. Pertemuan dilakukan di ruang netral, tanpa atasan NusAir. Keira diberi tahu bahwa penyidik telah menerima bukti kamera dari malam pesta serta rekaman lain yang melibatkan sejumlah perempuan.
Pengacara tidak memutarkan videonya. Dia hanya menjelaskan isi, hak Keira untuk menolak melihat, dan pilihan untuk menambahkan rekaman ponsel serta hasil pemeriksaan rumah sakit ke berkas perkara.
Keira memilih menyerahkan salinan melalui berita acara. Dia juga menyetujui dihubungi penyidik dengan pendamping, tetapi menolak namanya disebut dalam pernyataan media.
"Siapa yang menemukan semua bukti itu?" tanyanya.
"Sumber bekerja sama dengan audit perusahaan. Identitas sumber tercatat di penyidik. Saya tidak berwenang membuka sebelum prosedur pemeriksaan."
Malamnya, Keira pulang membawa map hak korban. Kai tidak menanyai detail. Dia memanaskan sup, mematikan televisi, lalu duduk di ujung sofa yang sama sampai Keira sendiri menyandarkan kepala di bahunya.
"Pesanmu malam itu," kata Keira. "Kamu sudah tahu ada perkembangan kasus?"
"Moreno bilang perusahaan menemukan bukti besar."
Jawaban itu kembali menaruh Moreno di antara kebenaran dan kebohongan. Keira terlalu lelah untuk membongkarnya malam itu.
"Aku tidak butuh janji bahwa tak ada yang akan menyakitiku lagi," katanya. "Aku butuh kamu tinggal kalau aku sedang takut."
Kai menutup tangannya di atas jemari Keira. "Aku tinggal."
Dia menepati janji itu sampai Keira tertidur di bahunya.
Malam Jumat, Keira menelepon Oma dari balkon. Kai sedang mencuci piring di dapur, sengaja membuat suara air lebih keras agar tampak tidak mendengarkan.
"Oma! Kami sudah bersama."
Wajah Oma memenuhi layar. "Akhirnya! Oma sudah bilang cucu Oma itu memang lama kalau soal cinta."
Keira mengernyit. "Cucu Oma?"
Oma membeku sepersekian detik. "Maksud Oma, cucu teman Oma. Sama lambatnya. Semua laki-laki muda sekarang begitu."
"Kai bukan cucu siapa-siapa yang kita bicarakan."
"Oma tahu. Oma cuma terbawa senang. Ceritakan semuanya. Dia cium kamu atau belum?"
"Oma!"
Tawa Oma terdengar sampai dapur. Kai menutup wajah dengan handuk piring.
Keira bercerita tentang api unggun, Kevin, hujan, dan janji di bawah atap. Dia tidak menceritakan pertanyaan tentang pekerjaan Kai yang kembali tidak terjawab.
"Kamu bahagia?" tanya Oma setelah tawanya reda.
"Iya."
"Kamu percaya dia?"
Keira terdiam sedikit terlalu lama. "Aku sedang mencoba."
Oma melirik ke luar layar, seolah berharap cucunya muncul agar bisa dipukul dengan kipas. "Kalau dia membuatmu ragu, tanya terus. Jangan diam hanya karena cinta."
"Oma bicara seolah mengenalnya."
"Oma mengenal jenis laki-laki keras kepala."
Sambungan berakhir setelah Keira berjanji mengirim foto mereka bertiga dengan Mochi. Saat dia masuk, piring sudah bersih dan Kai berdiri terlalu tegak di depan wastafel.
"Kamu dengar?"
"Airnya keras."
"Wajahmu merah."
"Panas."
Keira memeriksa pendingin ruangan yang menyala. "Tentu."
Dia mendekat dan mencium pipi Kai. "Pacarku ternyata pemalu."
Kai menangkap tangannya sebelum dia pergi. "Ciuman itu terlalu singkat."
"Ajukan keluhan tertulis."
"Aku lebih suka penyelesaian langsung."
Mochi menggonggong dari ruang tamu. Keira tertawa dan melepaskan diri untuk mengambil mainannya. Kai melihat punggungnya, menyimpan pemandangan itu seperti sesuatu yang akan segera diuji.
Pada saat yang sama, dua lantai bawah tanah NusAir tampak kosong.
Area simulator hanya menyisakan lampu darurat dan dengung pendingin perangkat. Akses malam dibatasi untuk teknisi terjadwal, keamanan, dan pengajar dengan persetujuan khusus. Setelah reformasi, setiap pintu mencatat kartu, wajah, serta waktu masuk.
Pukul satu lewat empat puluh tujuh menit, pintu servis terbuka.
Revan masuk memakai jaket teknisi di atas pakaian gelap. Kartu yang ditempelkannya sempat menyalakan lampu kuning sebelum berubah hijau. Dia telah meminjam identitas kontraktor yang pernah bekerja bersamanya, tanpa tahu akses lama itu kini ditandai sistem untuk pemeriksaan otomatis.
Ponselnya bergetar.
Pesan Wenny muncul.
Loker latihan 12. Masukkan paket ke tas cadangan. Foto setelah selesai. Aku kirim laporan anonim sebelum seleksi FK980.
Revan mengetik, Kamu yakin namanya terdaftar di sana?
Wenny membalas, Aku lihat pembagian sesi. Lakukan saja kalau kamu masih mau kita selamat.
Revan menatap kamera berbentuk kubah di sudut lorong. Lampu indikatornya mati. Dia tidak tahu kamera baru menggunakan pemancar inframerah yang tidak tampak dengan mata biasa.
Dia berjalan menuju ruang penyimpanan perlengkapan pelatihan. Loker 12 diberi label sesi seleksi awal Keira Liem. Di dalamnya ada tas kepala, buku pemeriksaan, dan map kosong yang belum digunakan.
Dari saku jaket, Revan mengeluarkan paket kecil bersegel. Isinya tablet stimulan yang dilarang tanpa resep dan dapat menghancurkan kelayakan medis seorang pilot jika ditemukan sebagai kepemilikan tersembunyi.
Dia tidak menyentuh buku pemeriksaan. Rencananya lebih sederhana: menyelipkan paket ke lapisan tas, memotret, lalu membiarkan laporan anonim mengarahkan petugas ke tempat itu. Wenny sudah menyiapkan tangkapan layar palsu yang seolah menunjukkan Keira meminta obat untuk bertahan selama latihan.
Paket masuk ke bawah bantalan tas.
Kilatan kamera ponsel menyala.
Di ruang pengawasan gedung lain, sistem analisis malam menandai tiga hal sekaligus: kartu kontraktor tidak aktif dipakai di luar jadwal, wajah pengguna tidak cocok dengan data kartu, dan loker peserta dibuka tanpa perintah kerja.
Peringatan masuk ke petugas keamanan jaga. Petugas itu tidak langsung menghadapi Revan. Dia mengunci pintu keluar luar dari jarak jauh, menyimpan salinan rekaman, lalu menghubungi kepala keamanan agar penangkapan dilakukan dengan saksi dan dokumentasi.
Revan masih sibuk mengirim foto kepada Wenny.
Sementara itu, ponsel Kai bergetar di meja samping sofa.
Dia baru saja membuat Keira tidur setelah jadwal terbang panjang. Melihat kode peringatan NusAir, Kaizan bangkit tanpa suara, mengganti kaos dengan kemeja, lalu meninggalkan catatan bahwa Moreno membutuhkan bantuan darurat.
Dia tidak membangunkan Keira.
Di NusAir, Kaizan masuk melalui lift privat dan menunggu verifikasi di kamar istirahat belakang kantor CEO. Tim keamanan diminta tidak menangkap terlalu cepat sebelum paket, ponsel, rekaman, dan jalur perintah diamankan bersama.
Pukul tiga tepat, tiga ketukan keras menghantam pintu kamar.
"Bos," suara Moreno terdengar dari luar. "Kami menangkapnya."