Seorang ojol yang masih muda. mengidamkan hidup di tahun 90an karena cerita kakeknya. siapa sangka keinginannya itu malah membuatnya terjebak dalam lintasan waktu.
Warning: cerita ini alur sangat lambat. dan buat yang punya masalah psikotis lebih baik tak baca cerita ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Setelah salat Subuh dan sarapan seadanya, Zain langsung mengaktifkan aplikasi ojeknya. Belum lama menunggu...
"Ting!"
Order masuk atas nama Prof. Surya. Zain tersenyum lega. "Rezeki memang tak kemana."
Tak lama kemudian, ia sudah menghentikan motornya di depan rumah sang profesor. Pagar besi itu berderit terbuka, menampilkan Profesor Surya yang berjalan keluar sambil menjinjing koper aluminium yang sama seperti biasanya.
"Selamat pagi."
"Pagi, Pak."
Seperti biasa, perjalanan diisi oleh obrolan ringan. Kali ini mereka membahas cuaca dan hujan yang belakangan sering turun. Tak ada pembicaraan tentang masa lalu, tak ada pula yang menyentuh topik mesin. Seolah pesan singkat semalam tak pernah terkirim.
Setibanya di Kampus Nusantara, Profesor Surya turun dari motor. Setelah menyelesaikan pembayaran ongkos melalui aplikasi, ia berkata singkat, "Kalau kamu tidak sedang dapat order, ikut saya."
Zain melirik layar ponselnya—masih sepi. "Baik, Pak."
Ia memarkir motornya di dekat gedung. Bangunannya tampak uzur dengan cat dinding yang mengelupas dan lumut hijau yang menghiasi beberapa sudut. Jika bukan karena papan nama bertuliskan *Pusat Riset Teknologi Eksperimental*, mungkin orang akan mengira gedung ini sudah lama ditelantarkan.
Namun begitu melangkah ke dalam, suasananya berubah total. Koridornya bersih, lantainya mengilap, dan pendingin ruangan bekerja dengan hening. Di balik pintu-pintu kaca, tampak deretan laboratorium yang dipenuhi komputer, peralatan elektronik, hingga mesin-mesin besar dengan seliweran kabel.
"Pak Surya! Selamat pagi," sapa seorang mahasiswi yang melintas.
"Pagi," balas profesor dengan senyum tipis. Beberapa peneliti lain yang berpapasan dengannya turut mengangguk penuh hormat.
Zain memperhatikan interaksi itu dengan takjub. "Pak... Bapak ternyata terkenal ya."
Profesor hanya tersenyum kecil. "Kebetulan saya sudah lama bekerja di sini."
Langkah mereka terhenti di depan sebuah lift. Profesor menekan tombol menuju lantai paling bawah: **B2**.
Saat lift bergerak turun, Zain baru menyadarinya. "Ternyata ada *basement*."
"Pusat riset ini jauh lebih luas di bawah tanah daripada di permukaan."
Pintu lift terbuka, menyajikan suasana yang jauh berbeda. Koridor di bawah sini terasa lebih sepi dan redup, tanpa lalu lalang orang. Di ujung lorong, terdapat sebuah pintu baja raksasa dengan pemindai telapak tangan di sampingnya.
Profesor Surya menempelkan telapak tangannya.
*Bip.*
Pintu baja itu bergeser terbuka perlahan. "Masuklah."
Zain melangkah masuk dan terpana. Ruangan di hadapannya sangat luas, hampir seukuran lapangan futsal. Berbagai mesin berukuran tak lazim berdiri di sana, dikelilingi gulungan kabel tebal, tabung-tabung kaca, dan deretan layar monitor.
Di tengah ruangan, berdiri sebuah rangka logam berbentuk cincin raksasa setinggi hampir tiga meter. Lampu-lampu indikator kecil mengelilingi permukaannya—sebagian redup mati, sebagian lagi berkedip pelan.
"Wah..." Hanya itu kata yang mampu diucapkan Zain.
Profesor Surya meletakkan kopernya di atas meja kerja. "Bagaimana?"
"Kayak di film-film, Pak."
Profesor terkekeh. "Orang awam yang melihatnya mungkin berpikiran begitu. Tapi sebenarnya..." Ia menepuk lembut rangka logam raksasa itu. "...ini masih jauh dari kata selesai."
Zain mengangguk-angguk saja meski pikirannya sama sekali tidak membayangkan cara kerjanya. Ia mulai berjalan mengitari ruangan. Matanya terantuk pada deretan foto tua yang terpajang di dinding: foto Profesor Surya saat masih muda, foto bersama tim peneliti, hingga cetak biru berbagai prototipe mesin.
Langkah Zain terhenti tepat di depan satu foto khusus.
Foto sebuah motor bebek tua yang terpasang di atas dudukan logam, dikerumuni sambungan kabel di sekujur bodinya.
"Pak."
Profesor menoleh.
"Itu motor siapa?"
Profesor memandang foto lusuh itu cukup lama sebelum tersenyum tipis. "Itu... percobaan pertama saya."
Zain tertawa kecil. "Motor juga, Pak?"
"Iya. Soalnya kalau pakai mobil, biayanya terlalu mahal."
Keduanya terkekeh bersama. Namun, Zain tidak menyadari tatapan Profesor Surya seketika berubah serius—seolah foto sederhana itu menyimpan kenangan mendalam yang tak pernah benar-benar usai.
Zain masih berdiri di depan foto motor itu. Motor bebek keluaran tahun delapan puluhan. Catnya sudah kusam dan tangkinya penuh goresan, namun di sekelilingnya terpasang kabel-kabel tebal, tabung logam, dan semacam cincin kecil di roda belakang.
"Pak... ini proyek apa sebenarnya?"
Profesor Surya berjalan mendekat. Ia melepas kacamatanya, lalu mengusap lensa dengan sapu tangan.
"Menurutmu?"
Zain menggaruk kepala. "Kalau lihat bentuk-bentuk mesinnya..." Ia menunjuk cincin raksasa di tengah ruangan. "...kayak alat buat buka portal."
Profesor terkekeh. "Imajinasi kamu lumayan."
"Ya soalnya saya kebanyakan nonton film."
"Film memang sering lebih berani daripada kenyataan." Profesor kembali memakai kacamatanya. "Yang saya kerjakan jauh lebih membosankan. Penelitian."
"Itu doang?"
"Iya."
Jawaban itu membuat Zain sedikit kecewa. Kirain bakal dijelaskan macam-macam, ternyata cuma penelitian.
Profesor kemudian mengajak Zain ke sisi lain ruangan. Di sana terdapat area yang lebih mirip bengkel daripada laboratorium. Kunci ring, kunci sok, mesin bubut kecil, alat las, bahkan ada rak penuh onderdil motor.
"Wah... lengkap banget."
"Kamu suka motor, kan?"
"Iya. Kalau lagi senggang saya suka servis sendiri."
Profesor mengangguk puas. "Bagus."
Ia mengambil sebuah karburator tua dari meja. "Masih tahu ini?"
"Tahu lah, Pak. Karburator. Walaupun motor saya sudah injeksi."
Profesor tersenyum. "Anak sekarang banyak yang bahkan belum pernah membongkarnya."
Zain menerima karburator itu. Secara refleks ia membolak-balik benda tersebut. "Jarumnya aus. Gasket-nya juga harus diganti."
Profesor menaikkan alis. "Kamu tahu?"
"Sedikit. Dulu waktu kuliah saya sering bantu teman di bengkel."
Profesor tidak langsung menjawab. Ia hanya mengangguk pelan, seolah mencatat sesuatu di kepalanya.
Hampir satu jam mereka mengobrol. Anehnya, pembicaraan mereka bukan tentang sains atau mesin-mesin canggih, tetapi tentang motor, oli, busi, serta perbedaan suara mesin yang sehat dan yang mulai bermasalah.
Zain merasa nyaman. Rasanya seperti mengobrol dengan dosen yang tidak pernah menggurui.
Sebelum pulang, Profesor Surya membuka laci meja dan mengeluarkan sebuah buku tipis dengan sampul yang sudah menguning.
"Ini."
"Buat saya?"
"Boleh dipinjam."
Zain melihat judulnya: Dasar-Dasar Mesin Pembakaran Dalam.
"Edisi tahun... 1987?"
Profesor mengangguk. "Buku kuliah saya dulu."
Zain membuka halaman pertama. Tulisan tangan memenuhi bagian dalam sampul: *Milik Surya Pratama. Institut Teknologi Nasional. 1987.* Tulisan tintanya mulai memudar.
"Pak... buku beginian masih disimpan?"
"Kalau ilmu dibuang, sayang."
Zain tersenyum. Ia menutup buku itu dengan hati-hati. "Terima kasih."
"Sama-sama."
Saat hendak keluar dari laboratorium, Zain sempat menoleh sekali lagi ke arah cincin logam raksasa di tengah ruangan. Lampu-lampunya masih berkedip pelan. Entah kenapa, ia merasa mesin itu seperti sedang tidur, menunggu sesuatu—atau menunggu seseorang.
"Pak."
"Hm?"
"Suatu hari nanti saya boleh lihat mesin itu dinyalain?"
Profesor Surya berhenti melangkah. Ia memandang mesin itu beberapa detik, lalu tersenyum tipis. "Kalau memang berhasil... kamu mungkin bukan cuma melihatnya. Kamu bisa menjadi orang pertama yang mencobanya."
Zain tertawa. "Masa iya?"
"Ya." Profesor ikut tersenyum. "Tapi untuk saat ini... anggap saja itu lelucon seorang profesor tua."
Zain mengangguk sambil tertawa kecil. Ia sama sekali tidak menganggap ucapan itu serius. Baginya, hari itu ia hanya mendapat pengalaman unik: mengantar seorang profesor, masuk ke laboratorium rahasia, dan meminjam buku tua. Tidak lebih.
Namun bagi Profesor Surya, pertemuan-pertemuan sederhana itu perlahan menghapus keraguannya. Pemuda bernama Zain itu bukan ilmuwan, bukan tentara, dan bukan orang berpengaruh, tetapi ia memiliki satu hal yang sulit ditemukan: rasa ingin tahu yang tulus.