Dunia kultivasi terbagi menjadi banyak sekte dan keluarga besar. Orang-orang berlomba mencapai tingkat tertinggi demi keabadian.
Tapi protagonis kita?
Seorang pemuda biasa yang dianggap sampah oleh semua orang.
Dia nggak punya bakat kultivasi yang bagus. Bahkan keluarganya sendiri malu mengakuinya.
Sampai suatu hari, dia bertemu dengan seorang gadis dari sekte besar.
Cantik, dingin, berbakat, dan statusnya jauh di atasnya.
Awalnya mereka saling benci.
Lalu mulai saling peduli.
Lalu muncul masalah...
Si gadis ternyata sudah dijodohkan dengan seorang jenius dari sekte lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Yunche menatap gadis di sampingnya itu lekat-lekat, membuat Gu Qingli yang merasa jewewetan mendadak memalingkan wajahnya.
"Karena..." Gu Qingli terdiam sejenak sebelum akhirnya melanjutkan kalimatnya dengan nada datar, "...kau adalah temanku."
"Oh," Yunche mengangguk-angguk kecil, mengulas senyum tipis yang tak sampai ke mata. "Teman lagi, ya."
Gu Qingli menoleh cepat, menangkap nada bicara pemuda itu. "Apa maksudmu berkata seperti itu?"
"Tidak ada apa-apa," jawab Yunche santai sembari tersenyum lebar. "Teman ya teman."
Gu Qingli memperhatikan raut wajah Yunche lekat-lekat. Ada denyut asing di dadanya saat mendapati raut kecewa yang tersirat sangat samar di wajah pemuda itu.
Malam harinya, Yunche berbaring sendirian di kamarnya. Kondisi tubuhnya sudah jauh lebih membaik pasca gejolak energi sore tadi, tetapi kantuk tak kunjung menghampirinya. Pikirannya terus melayang mengingat kejadian demi kejadian sore itu—terutama saat jemari lembut Gu Qingli memeluk dan menopang lengannya.
Yunche menatap langit-langit kamar dengan tatapan kosong. "Aneh," gumamnya pelan.
Dia membalikkan tubuhnya ke kiri. "Kenapa aku malah terus memikirkan hal ini?"
Dia membalikkan badannya lagi ke kanan dengan gelisah. "Dia kan hanya berniat membantuku. Dan kami ini... teman."
Yunche memejamkan mata rapat-rapat, mencoba menanamkan kata itu di kepalanya. "Teman."
Namun, jauh di dalam hatinya, dia sama sekali tidak merasa puas dengan sebutan itu. Yunche mendadak membuka mata kembali.
"Kalau dia memang cuma teman..." Yunche menggantung kalimatnya, lalu mendadak terduduk tegak di atas ranjang. "Lalu kenapa aku sangat tidak suka melihatnya bersama Xiao Hanzhou?"
Keheningan malam menyelimuti kamar itu. Yunche terpaku, mendadak sadar akan apa yang baru saja melintasi pikirannya.
"Tunggu dulu..." Yunche menatap kedua telapak tangannya sendiri saat merasakan detak jantungnya berpacu kian kencang. Wajahnya perlahan memanas dan memerah. "Tidak mungkin, kan?"
Dia bergegas bangkit dari tempat tidur dan mulai berjalan mondar-mandir di dalam kamar dengan gelisah. "Tidak, tidak, ini mustahil!"
Langkahnya terhenti tepat di depan jendela yang terbuka. Dia menatap rembulan di luar sana sembari menelan ludah dengan susah payah. "Jangan-jangan... aku suka pada Gu Qingli?"
Yunche langsung menggelengkan kepalanya kuat-kuat. "Tidak mungkin!"
Namun, lima detik kemudian dia terdiam. Sepuluh detik berlalu, dia malah menangkup wajahnya sendiri yang semakin membara. "Tapi kalau bukan karena itu... kenapa aku harus sepeduli ini?"
Sementara itu di kediaman keluarga Gu, Gu Qingli juga belum tertidur. Dia duduk sendirian di tepi jendela, memandangi malam sembari memikirkan kejadian sore tadi. Wajah Yunche dan sorot matanya yang jujur terus terngiang di ingatannya.
*Kalau kau yang bilang harus berhenti... aku akan berhenti. Karena aku percaya padamu.*
Gu Qingli menyentuh dadanya sendiri yang berdebar halus saat membayangkan kembali ucapan Yunche. "Kenapa... kenapa kalimat sederhana itu bisa membuatku begini?" bisiknya lirih pada angin malam.
tok tok tok...
Suara ketukan pintu memecah lamunannya. "Siapa?" tanya Gu Qingli.
"Ini aku," sahut sebuah suara tenang dari luar.
Mengenali pemilik suara itu, Gu Qingli merapikan bajunya seraya berkata, "Masuklah, Kakak Xiao."
Pintu terbuka dan Xiao Hanzhou melangkah masuk dengan raut wajah serius. Gu Qingli menatapnya heran. "Ada apa malam-malam begini, Kakak Xiao?"
"Aku ingin membicarakan sesuatu yang penting," ujar Xiao Hanzhou sembari berdiri tegak di hadapannya. "Ini tentang Shen Yunche."
Gu Qingli seketika mengerutkan keningnya. "Ada apa dengannya?"
"Dia menyembunyikan sesuatu dari kita semua," tegas Xiao Hanzhou.
"Setiap orang pasti memiliki rahasianya masing-masing," sahut Gu Qingli membela.
"Ini berbeda, Qingli," Xiao Hanzhou merogoh balik jubahnya dan mengeluarkan selembar kertas gulungan. "Ini laporan resmi dari mata-mata keluarga Xiao."
Gu Qingli menerima kertas tersebut dan membacanya dengan cepat. Namun, baru beberapa baris tulisan yang ditelusurinya, raut wajah gadis itu berubah drastis dari tenang menjadi penuh keheranan.
"Mustahil..." bisik Gu Qingli tak percaya.
"Aku pun berpikir demikian saat pertama kali membacanya," timpal Xiao Hanzhou dingin.
Gu Qingli membaca ulang baris kalimat itu untuk memastikan matanya tidak salah lihat. "Shen Yunche... sudah mencapai Pengumpulan Qi tingkat enam?"
Xiao Hanzhou mengangguk mantap. "Benar."
Gu Qingli mendadak membeku. Dia tahu betul bahwa baru beberapa hari yang lalu, Yunche bahkan masih berjuang keras di tingkat dua. Lonjakan kekuatan gila-gilaan ini jelas bukan hal yang wajar.
Gu Qingli mendadak membeku di tempatnya.
Xiao Hanzhou melanjutkan ucapannya dengan nada dingin dan penuh penekanan. "Dan dia naik empat tingkat hanya dalam kurun waktu yang sangat singkat."
Gu Qingli mengerutkan keningnya, mencoba mencari alasan rasional. "Bisa saja dia secara tidak sengaja menemukan teknik kultivasi kuno atau rahasia tertentu."
"Empat tingkat hanya dalam beberapa hari, Qingli? Kau percaya itu hal yang wajar?" celetuk Xiao Hanzhou dengan alis terangkat.
Gu Qingli bungkam, tak tahu harus merespons apa lagi.
Xiao Hanzhou menatap gadis di depannya itu lekat-lekat. "Qingli, sebaiknya kau jangan terlibat terlalu jauh dengannya."
Gu Qingli seketika mendongak, menatap Xiao Hanzhou dengan tatapan defensif. "Kau sudah mengatakan hal itu berulang kali, Kakak Xiao."
"Dan aku akan terus mengulanginya," potong Xiao Hanzhou cepat.
"Kenapa?"
Xiao Hanzhou terdiam sejenak. Tatapan matanya yang semula dingin melunak perlahan. "Karena aku tidak ingin melihatmu terluka."
Gu Qingli terpaku mendengar nada bicara pria di depannya.
"Qingli..." suara Xiao Hanzhou terdengar sangat lembut, mencerminkan ketulusan yang teramat dalam. "Kau tahu pasti bagaimana perasaanku padamu. Aku tidak pernah menyembunyikannya dari siapa pun. Aku ingin suatu hari nanti... kau berdiri tegak di sampingku."
Gu Qingli perlahan menundukkan kepalanya, menghindari kontak mata. "Kakak Xiao... aku..." Dia kehilangan kata-kata, bingung bagaimana harus memberikan penolakan tanpa menyakiti perasaan sepupunya seperguruan itu.
Xiao Hanzhou menyunggingkan senyum tipis yang maklum. "Tidak perlu dijawab sekarang. Aku bisa menunggu sampai kau siap."
Tanpa menunggu balasan lagi, Xiao Hanzhou berbalik dan melangkah keluar kamar. Pintu kayu berderit lalu tertutup rapat, menyisakan Gu Qingli yang kini duduk sendirian dalam hening.
Pandangan Gu Qingli menerawang kosong. Xiao Hanzhou adalah sesosok jenius—pria berparas rupawan, kuat, berasal dari keluarga terpandang, dan selalu bersikap sopan. Semua orang di Kota Qinghe kerap menganggap mereka sebagai pasangan yang serasi.
Namun... mengapa saat Xiao Hanzhou mengutarakan perasaannya dan berjanji akan menunggu, jantungnya sama sekali tidak berdebar? Perasaan itu amat berbeda dengan guncangan halus di dadanya saat Shen Yunche berbisik lirih: "Karena aku percaya padamu."
Gu Qingli menangkup wajahnya dengan kedua tangan, helaan napas berat keluar dari bibirnya. "Ini... benar-benar gawat," bisiknya pada keheningan malam.
Keesokan paginya, sebuah kabar mengejutkan menyebar cepat bak api menyambar jerami kering di seluruh pelosok Kota Qinghe.
Keluarga Zhou mendadak mengirimkan surat tantangan resmi. Bukan ditujukan kepada Patriark Shen, bukan pula untuk keluarga Gu—melainkan khusus untuk seorang pemuda yang selama ini dianggap sampah kultivasi: Shen Yunche.
Pertandingan tersebut dijadwalkan bakal berlangsung tiga hari lagi di Arena Qinghe.
Di halaman latihan keluarga Shen, Yunche membaca lembaran surat tantangan itu dengan alis bertaut. Dia lalu mendongak menatap sepupunya. "Kenapa harus aku? Memangnya apa untungnya bagi mereka?"
Shen Ruowei yang berdiri di sampingnya mendengus pelan. "Tentu saja karena kau mempermalukan Zhou Minghao di pertarungan sebelumnya."
"Tapi kan waktu itu aku kalah!" protes Yunche heran.
"Justru itu masalahnya!" Ruowei menghela napas pasrah melihat kepolosan sepupunya. "Kalau kau yang Pengumpulan Qi tingkat rendah saja bisa membuatnya kerepotan hingga dia harus main licik, itu sudah membuat mukanya tercoreng. Jika nanti dia mengalahkanmu di arena resmi, dia berhasil membersihkan nama baiknya. Kalau kau menang? Dia memang malu, tapi setidaknya masyarakat menganggap pertempuran itu adil."
Yunche berpikir sejenak, memproses logika itu. "Berarti mau menang atau kalah, dia tetap diuntungkan?"
"Tepat sekali."
"Kalau begitu, lebih baik tak usah dilayani," gumam Yunche acuh tak acuh sembari bersiap merobek surat tersebut.
"Jangan!" sebuah suara jernih menyela tindakan Yunche.
Yunche menoleh kaget. Gu Qingli sudah berdiri tak jauh di belakangnya dengan jubah putih anggun seperti biasa.
"Kau? Kapan datangnya?" tanya Yunche dengan mata membelalak.
"Baru saja," jawab Gu Qingli datar sembari berjalan mendekat. Matanya tertuju lurus pada surat di tangan Yunche. "Jangan terima tantangan itu."
Yunche mengurungkan niatnya merobek kertas, lalu menatap gadis itu heran. "Kenapa?"
"Kau belum cukup kuat untuk bertanding secara terbuka di arena," tegas Gu Qingli tanpa basa-basi.
"Aku tahu," sahut Yunche santai.
"Kalau sudah tahu, maka tolak tantangan itu."
Yunche menatap sepasang iris mata tenang milik Gu Qingli, lalu sebuah senyuman tipis yang hangat terukir di wajahnya. "Qingli... kalau aku menolaknya begitu saja, orang-orang di kota ini akan menyebutku sebagai seorang pengecut."
"Aku tidak peduli," potong Gu Qingli cepat, membuat Yunche tertegun.
Gu Qingli menatap Yunche lurus-lurus, sorot matanya memperlihatkan ketegasan sekaligus rasa cemas yang tak mampu dia sembunyikan. "Aku tidak peduli apa pun yang akan dikatakan orang-orang bodoh di luar sana. Yang kupedulikan hanyalah keselamatanmu—aku tidak ingin melihatmu terluka lagi."
Kalimat itu meluncur begitu saja. Seketika, Yunche membeku di tempatnya. Gu Qingli yang baru menyadari implikasi dari ucapannya pun ikut terpaku.
Keheningan melingkupi mereka berdua selama beberapa detik yang terasa sangat lama.
Sadar akan situasi canggung itu, Gu Qingli terburu-buru memalingkan wajahnya yang mendadak memanas, mencoba menyelamatkan harga dirinya. "Maksudku... keselamatanmu sebagai seorang teman latihan."
Senyum Yunche merekah makin lebar, ada kilat jenaka di matanya. "Oh... teman latihan, ya?"
"Jangan berpikir yang tidak-tidak," sergah Gu Qingli cepat dengan nada berusaha sedatar mungkin.
"Baik, baik, aku mengerti," jawab Yunche terkekeh pelan. Dia memandangi kembali lembaran surat tantangan di tangannya, lalu melipatnya dengan rapi alih-alih merobeknya.
apa gk syok tuh thor