NovelToon NovelToon
Istriku Seorang Putri

Istriku Seorang Putri

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyelamat / Perperangan
Popularitas:457
Nilai: 5
Nama Author: gigiwww

Sinopsis

Putri viona Isabella berangkat menuju Kerajaan Timur untuk menikahi putra mahkota sesuai perjodohan antar kerajaan. Namun, di tengah perjalanan rombongannya diserang perampok hingga seluruh pengawal tewas.

Dengan tubuh penuh luka, viona melarikan diri ke dalam hutan dan diselamatkan oleh Derek Henrick, pria misterius yang memilih hidup mengasingkan diri. Seiring waktu, cinta tumbuh di antara mereka.

Saat identitas Fiona akhirnya terungkap, ia harus memilih antara memenuhi takdirnya sebagai seorang putri atau mempertahankan cinta yang telah menyelamatkan hidupnya. Namun, Derek ternyata menyimpan rahasia besar yang dapat mengubah nasib kedua kerajaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11: Jalan Panjang Menuju Kabin dan Ancaman di Tengah Hutan

Mereka telah meninggalkan Desa Hujan Emas sejak larut malam. Kini, fajar mulai merekah di ufuk timur, dan mereka sudah memasuki kawasan hutan lebat yang sangat berbeda dari pegunungan sebelumnya. Pohon-pohon besar menjulang tinggi, dan tanah di bawah kaki mereka masih basah oleh embun pagi. Suara burung berkicau di kejauhan, tetapi di balik keindahan itu, ada kesunyian yang terasa berat.

Viona duduk di atas kudanya dengan perasaan yang masih belum sepenuhnya percaya. Setiap kali ia menunduk, ia melihat cincin anyaman serat kayu di jari manisnya. Cincin itu terasa ringan, tetapi maknanya begitu besar.

"Apa kau lelah?" tanya Derek dari depan, sedikit menurunkan kecepatan kudanya agar bisa berjalan berdampingan dengan Viona.

"Cukup," jawab Viona jujur. "Tapi aku lebih kuat dari sebelumnya."

Derek tersenyum tipis. "Kau benar-benar berubah, Viona. Dulu saat pertama kali bertemu, kau hampir pingsan hanya karena berjalan sepuluh langkah. Sekarang, kau sudah bisa menunggang kuda selama berjam-jam."

"Itu karena guruku yang hebat," balas Viona, tersenyum nakal.

Derek tertawa kecil—sebuah tawa yang jarang ia keluarkan. Suaranya terdengar hangat, membuat Viona merasa lebih tenang. Namun, tawa itu segera memudar saat mereka memasuki area hutan yang lebih gelap. Derek mengerutkan kening, matanya memindai sekeliling.

"Ada yang tidak beres," gumam Derek. "Hutan ini terlalu sunyi."

Viona mengikuti tatapannya. Benar saja, suara burung-burung yang tadi masih berkicau kini menghilang. Hanya ada suara angin yang berdesir di antara dedaunan.

"Apa mungkin ada binatang buas?" tanya Viona, suaranya berbisik.

"Bisa jadi. Tapi biasanya serigala atau beruang tidak akan membuat hutan ini sunyi. Mungkin ada manusia di sekitar sini."

Derek menghentikan kudanya. Ia turun, lalu berjalan pelan untuk memeriksa jejak di tanah. Tanah berlumpur di depan mereka menunjukkan beberapa tapak kaki manusia—tapak kaki yang masih baru. Terlihat jejak setidaknya lima orang, berjalan mengelilingi area ini.

"Mereka mengelilingi kita," bisik Derek. "Kita dihadang."

Viona merasakan jantungnya berdegup kencang. "Apa kita bisa memutar balik?"

"Sudah terlambat. Mereka sudah menutup jalan belakang kita." Derek menarik napas panjang. "Mereka mungkin perampok yang menunggu pedagang lewat. Tapi tidak ada pedagang di hutan ini—hanya kita."

Belum sempat Viona merespons, suara derap kaki tiba-tiba terdengar dari semua arah. Lima pria bersenjata kapak dan golok muncul dari balik pohon-pohon besar, mengepung mereka dengan rapat. Pria yang tampaknya pemimpin kelompok itu memiliki wajah penuh bekas luka dan senyuman sinis.

"Wah, wah," ucap pemimpin perampok itu. "Pagi-pagi sudah dapat mangsa. Seorang pria dan seorang wanita. Kalian membawa barang berharga? Uang, perhiasan, atau mungkin kuda-kuda yang bagus ini?"

Derek tidak bergerak. Ia tetap diam, matanya yang abu-abu memantau setiap gerakan perampok. Sementara itu, Viona mencoba mengendalikan napasnya agar tidak panik.

"Kami hanya pelancong biasa," jawab Derek, suaranya datar. "Kami tidak membawa uang. Hanya pakaian dan makanan."

"Jangan bohong!" Pemimpin perampok itu mendekat, mengarahkan goloknya ke wajah Derek. "Kami sudah melihat kuda-kuda kalian. Kuda yang terawat seperti ini pasti milik bangsawan. Cepat serahkan tas kalian, atau kami akan potong leher kalian!"

Derek tetap tenang. Ia perlahan menurunkan tangannya ke pinggang, tempat pisau berburunya terselip. "Aku akan memberimu apa yang kau minta. Tapi jangan sentuh wanitaku."

Wanitaku. Kata itu terdengar begitu wajar di mulut Derek. Viona merasakan dadanya menghangat, tetapi ia tidak bisa membiarkan dirinya terbawa perasaan. Ia harus bertindak.

"Satu saja," bisik Viona pelan pada Derek. "Berikan aku satu kesempatan."

Derek menoleh sekilas. Matanya menunjukkan bahwa ia tidak setuju, tetapi ia tahu bahwa Viona sudah jauh lebih tangguh dari yang ia kira. Ia mengangguk kecil.

Derek mengangkat kedua tangannya perlahan, seolah menyerah. "Baik, aku akan menurunkan tas ini. Tolong jangan sakiti kami."

Ia mulai menurunkan tas pelananya, membuat para perampok sedikit mengendurkan kewaspadaan. Di saat itulah—ketika pemimpin perampok mulai mengulurkan tangannya untuk mengambil tas—Viona bergerak.

Dengan gerakan yang sangat cepat, Viona menarik pisau kecil yang terselip di sabuknya—pisau yang pernah ia gunakan saat latihan di halaman kabin Derek. Ia melemparkannya dengan tepat sasaran, mengenai lengan pemimpin perampok itu. Golok di tangan pria itu jatuh ke tanah dengan bunyi keras.

"ARGH!" Pemimpin perampok itu menjerit kesakitan.

Derek tidak membuang waktu. Begitu Viona melempar pisau, ia langsung menendang perampok di sebelahnya, lalu mencabut pisau burunya dan menyerang dua perampok lainnya dengan gerakan yang sangat cepat. Hanya dalam hitungan detik, dua orang perampok sudah terkapar di tanah dengan luka di kaki mereka—tidak fatal, tetapi cukup untuk melumpuhkan.

Para perampok yang tersisa saling berpandangan, ketakutan. Mereka tidak menyangka bahwa seorang wanita bisa melempar pisau seakurat itu, atau bahwa seorang pria biasa bisa bergerak setangkas Derek.

"Kalian lebih baik pergi sekarang!" teriak Derek, suaranya menggelegar. "Aku tidak ingin ada lebih banyak darah di hutan ini!"

Para perampok itu tidak perlu diberi tahu dua kali. Mereka mengangkat pemimpin mereka yang terluka, lalu melarikan diri ke dalam hutan dengan cepat, meninggalkan golok dan tas mereka yang jatuh.

Viona menarik napas lega, tetapi tubuhnya mulai bergetar. Ia baru saja melempar pisau ke tangan manusia. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia benar-benar melukai seseorang.

"Kau melakukannya," ucap Derek, menatap Viona dengan tatapan campuran antara kagum dan khawatir. "Kau melempar pisau itu dengan sempurna."

"Aku... aku hanya tidak ingin mereka menyakitimu," bisik Viona, suaranya bergetar. "Tapi... aku melukai seseorang."

Derek berjalan mendekat. Ia meraih tangan Viona yang gemetar, lalu menggenggamnya dengan lembut. "Mereka yang memulai, Viona. Kau hanya melindungi dirimu sendiri. Dan kau melakukannya dengan berani. Tidak semua orang bisa melakukan itu saat pertama kali berhadapan dengan bahaya."

Viona menatap Derek. Matanya yang abu-abu itu begitu menenangkan. Ia berusaha tersenyum, meskipun air mata masih menggenang di sudut matanya.

"Terima kasih, Derek. Karena kau sudah percaya padaku."

"Bagaimana mungkin aku tidak percaya pada istriku sendiri?" Derek tersenyum hangat.

Mereka segera mengumpulkan kembali barang-barang mereka dan memeriksa kuda-kuda. Untungnya, kuda-kuda itu tidak terluka. Derek membalut luka pemimpin perampok itu—hanya luka goresan, tidak terlalu dalam—sebagai bentuk kemanusiaan meskipun orang itu jahat.

Setelah semua aman, mereka melanjutkan perjalanan. Namun, suasana di antara mereka berubah. Ada ikatan baru yang lahir dari pertempuran itu—ikatan yang lebih kuat daripada sekadar kata "suami" dan "istri" di atas kertas.

Matahari mulai naik, dan mereka akhirnya keluar dari area hutan gelap. Di depan mereka, terbentang sebuah lembah luas yang dipenuhi bunga-bunga liar berwarna kuning dan putih. Di ujung lembah, terlihat asap tipis mengepul dari sebuah kabin kayu kecil yang dikelilingi oleh pagar kayu rendah.

"Itu kabinku," kata Derek, suaranya menjadi lebih lembut. "Tempat yang kau sebut 'rumah Derek yang lain'."

Viona menatap kabin itu. Ada perasaan aneh di dadanya—rasa aman, rasa pulang. Di sana, di balik kabin kayu itu, ada kehidupan baru yang menanti. Dan untuk pertama kalinya, ia tidak takut menghadapinya.

Karena Derek akan ada di sana, di setiap langkahnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!