Restu orang tua memang satu hal yang sangat penting dalam sebuah hubungan, namun apa kita harus menerima begitu saja jodoh pilihan orang tua kita sementara hati kita sudah terpaut pada yang lain. Bisakah kita menjalani kehidupan jika bersama orang yang tidak kita inginkan. Namun, apa sudah jadi jaminan. Kita akan bahagia jika hidup bersama orang yang kita pilih?
layaknya permen nona-nona, ada pait.. asam.. manis... begitu pula hidup. Tinggal kita saja, mana yang kita pilih... itulah yang akan kita jalani.
Begitu pula jalan hidup dari seorang perempuan bernama Rani yang lengkap dengan lika liku hidup, up and down. Penasaran??? yuuuk ikuti kisah nya....
Selamat menikmati 😊semoga cocok di hati
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Nastiti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Saat semua siap, perawat UGD memanggil. Kami semua mengantar Putri hingga di depan ruang operasi. Hanya Azka yang boleh masuk menemani. Kebetulan, di Rumah sakit ini diperbolehkan suami menemani istrinya setelah melewati beberapa prosedur khusus. Kukuatkan adikku satu-satunya.
"Bismillah, jangan lupa berdoa dan sholawat ya," ucap Ibu.
"Njeh, Bu."
Setelah beberapa saat, kami sholat bergantian karena sudah masuk waktu Maghrib. Saat tiba giliran ku dan Bang Rengga kami sekalian pamit beli makanan untuk kami semua.
"Yang, kamu udah kabari yang di rumah. Kalau Putri caesar?" Tanya Bang Rengga.
"Ya Allah, iya. Aku lupa Bang belum kasih kabar ke orang rumah."
Segera ku rogoh ponsel dari tas slempang milikku yang tadi sempat kuraih sebelum menjemput Putri di kamarnya. Setelah benda pipih itu ada dalam genggaman tanganku, segara saja kucari kontak Gus Mus.
Setelah terdengar salam dari seberang, dan akupun menjawabnya.
[Gus, minta bantuan doa dari semua keluarga njeh, minta tolong di sampaikan, Putri hari ini langsung caesar.]
[Lho alah.... Iya..... Iya... Nanti Mas sampaikan ke semua keluarga.]
[Sama sekalian minta maaf, malah kami semua di rumah sakit. Kasihan Putri kalau di tinggal. Tapi nanti aku pulang kok Gus. Habis debay launching.] ucapku sambil terkekeh.
[Iya, santai saja. Kami semua maklum kok.]
[Anggap di rumah sendiri mawon njeh, Gus. Kalau mau apa-apa di cari saja. Pangapunten ingkang kathah.]
[Iya, wes santai ae. Koyok sama sopo ae koe iki. Kabeh mesti maklumi. Wes tenang ke ae, kancani Bapak Ibu dulu sampai beres.]
[Njeh, Gus. Maturnuwun. Assalamu'alaikum.]
[Wa'alaikumussalam.]
"Sudah Bang, sekarang aku hubungi dulu orang tuanya Putri. Ya ampun, bisa nge blank banget aku tadi. Untung Abang ingatkan."
"Iya, setidaknya nanti kalau ada orang tua Putri yang datang, pas kita pulang ada teman buat Bapak sama Ibu. Soalnya nggak mungkin juga kan kita ninggalin saudara kamu yang lagi ngumpul di rumah. Kasihan, takutnya mereka jadi ndak enak."
Aku mengangguk membenarkan. Lalu segera kucari kontak Ibunya Putri.
[Assalamu'alaikum,] ucapku setelah panggilan terhubung.
[Waalaikumsalam, Mbak Rani. Tumben telepon, ada apa?]
[Bu, badhe ngabari, Putri sakmeniko di Rumah sakit. Tadi Sore sampun kontraksi, lajeng langsung di bawa Rumah sakit. Tapi pembukaan nya berhenti, nggak nambah lagi, sementara cairan ketubannya sampun rembes. Ngapunten baru ngabari. Tadi benar-benar panik, sampai mboten saget mikir nopo-nopo.]
[Iya Mbak Rani. Nggak papa, makasih ya Ibu sudah dikabari. Habis ini, Ibu sama Ayah nya Putri langsung ke sana.]
[Njeh, Bu. Maturnuwun.]
[Assalamu'alaikum,]
[Waalaikumsalam.]
"Sudah, Yang?" tanya Bang Rengga.
"Sudah Bang. Habis ini mereka langsung berangkat katanya."
Hampir satu jam lamanya kami menunggu di depan ruang operasi, orang tua Putri juga sudah datang dari tadi. Akhirnya lampu di depan pintu itu pun padam menandakan jika operasi telah usai. Setelah menunggu beberapa saat, dokter pun keluar dan menyampaikan jika operasi berjalan lancar, Ibu dan debay juga sehat. Tinggal menunggu sisa bius habis, setelah itu Putri bisa dipindahkan ke ruang perawatan.
Beberapa saat kemudian, Azka keluar bersama dengan Putri yang terbaring di atas brankar.
"Selamat ya, Bro!" ucap Bang Rengga sambil memeluk Azka.
"Makasih, Bang!"
"Selamat ya, Papa muda. Tanggung jawabnya sekarang bertambah lagi. Belajar lebih dewasa dan lebih baik lagi ya, Dek!" ucapku sambil memeluk adikku saat dia menghampiri ku.
"Matur nuwun, Mbak. Ngapurane ya, Mbak." ucap Azka memeluk ku sambil menangis.
"Iya, udah nangis nya. Temenin Putri dulu. Bapak, Ibu, sama mertua kamu tadi ngikutin debay."
Azka mengangguk. Kami gegas mengikuti brankar Putri yang di dorong oleh perawat menuju ruang rawat.
Suara riuh terdengar di ruang rawat saat se sosok bayi laki-laki tampan dalam box bayi di dorong perawat masuk ke kamar rawat Putri.
"Hallo, boy! Ganteng banget kamu!" sapaku gemas data melihat bayi montok itu.
Para nenek sudah sibuk bergantian menggendong bayi itu.
"Siapa namanya, Ka?" tanya Bapak. "Kamu sudah siapain nama kan buat anak kamu?"
"Sampun, Pak. Namanya Achazia Farraz Daniyal Gaffi. Panggilan nya Gaffi. Artinya, pemimpin yang bisa dipercaya dan berhati lembut."
"Masya Allah, semoga doa yang tersemat dalam nama kamu terpenuhi ya, baby Gaffi." ucapku sambil menoel pipi tembam Gaffi.
"Yang, jadi pengen punya yang kayak gitu. Bikin yuk... " bisik Bang Rengga yang duduk di sebelahku.
Sontak kucubit pelan pinggang lelaki tampan satu ini. Dia hanya bisa menggigit bibir agar tidak mengeluarkan teriakan yang memancing kecurigaan para orang tua.
"Ya sudah. Kalau gitu, Mbak pulang dulu ya, sama Bang Rengga. Nggak enak kan di rumah lagi banyak saudara kita juga. Bapak sama Ibu mau di sini apa pulang?" tanyaku.
"Biar Bapak saja yang pulang, Put. Besok bapak kan kerja. Biar bisa istirahat, Bapak kan juga baru sakit kemarin." jawab Ibu.
Bapak hanya mengangguk.
"Put, aku ikut Mbak pulang sebentar ya. Bersih-bersih sama beresin ari-ari Gaffi dulu. Sama ambil motor di rumah. Kamu mau dibawain apa?" tanya Azka sambil mengelus rambut Putri.
"Iya, Mas hati-hati dijalan nanti kalau balik ke sini. Bawain buah aja, Mas. Kayaknya di kulkas masih ada."
Azka mengangguk, lalu kami semua gegas pulang. Mengingat dirumah banyak saudara kami yang menginap setelah acara lamaran ku tadi. Benar-benar kehadiran Gaffi di sambut banyak keluarga yang nantinya akan menyayangi bayi montok menggemaskan tersebut.
*****
"Assalamu'alaikum," ucap kami bersama saat sudah sampai di rumah. Beberapa keluarga masih berbincang, sementara lainnya sudah di spot masing-masing hendak istirahat.
"Waalaikumsalam," jawab mereka serempak.
"Laki-laki apa perempuan, Ka?" tanya Mas Zain.
"Alhamdulillah, laki-laki Mas." jawab Azka.
"Alhamdulillah," jawab semua yang ada di ruang tamu.
"Mas, aku bersih-bersih dulu ya. Mau beresin ari-ari Gaffi terus balik lagi ke rumah sakit." pamit Azka.
Semua mengangguk.
"Yang, aku nginep aja ya. Capek banget rasanya kalau harus nyetir pulang." pinta Bang Rengga.
"Tadi juga udah ijin sama Bapak kok. Kata Bapak, yang penting tidurnya nggak sekamar sama kamu." imbuhnya sambil menaik turunkan alisnya.
"Terserah, Abang tidur di kamar aku aja. Aku tidur rame-rame bareng Budhe." ucapku.
"Nggak usah, Abang tidur di sini aja. Rame-rame sama kakak kamu." jawab lelaki itu.
"Ya udah, aku ambilin bantal sama selimut bentar ya."
Aku segera masuk ke kamar setelah mendapat anggukkan dari lelaki yang sekarang menjadi calon suami ku itu. Benar juga, dia baru sembuh dari sakitnya beberapa. Pasti lelah seharian ini belum istirahat sama sekali.
"Bang, ini bantal sama selimut nya ya." ucapku sambil menyerah dua benda tersebut.
"Makasih, Sayang. Kamu cepet istirahat ya. Besok kan kerja. Senin itu berasa mencekam buat kita yang kerja di bawah tekanan dan ketemu banyak orang."
Aku terkekeh mendengar ucapannya. "Abang juga, cepet istirahat ya. Mau makan dulu nggak?"
"Nggak usah, Abang masih kenyang. Mau tidur aja. Badan rasanya rontok, Yang. Udah, kamu buruan istirahat juga." titah lelaki tersebut yang hanya aku jawab dengan anggukan kepala karena aku juga merasa sangat lelah untuk hari ini.