NovelToon NovelToon
Mempelai Cantik Untuk Sang Juragan

Mempelai Cantik Untuk Sang Juragan

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:14.9k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

~~

Di tengah pekatnya suasana pedesaan yang kental dengan tradisi, Larasati, seorang gadis cantik dan muda, harus merelakan masa mudanya hilang setelah terjebak dalam perjodohan politik. Ia dinikahkan dengan Raden Mas Baskoro, seorang juragan terpandang dengan usia yang terpaut jauh dengannya yang memiliki watak kaku dan dingin. Pernikahan mereka bukanlah didasari oleh cinta, melainkan sebuah kewajiban untuk menjaga martabat dan meneruskan garis keturunan keluarga besar sang juragan.

~~



Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 31

***$

Fajar di perbukitan Joglo menyembul dingin di balik kabut tebal yang menyelimuti lebatnya dedaunan sawo. Di dalam kamar utama yang temaram oleh pendar lampu teplok yang hampir padam, keheningan terasa teramat menekan dan membeku.

Larasati masih terbaring miring di atas kasur kapuk, tertidur lelap dalam kelelahan yang teramat sangat. Raga remajanya yang berusia sembilan belas tahun tampak terkulai lemas; selimut jarik menutup hingga batas dadanya, memperlihatkan bahu cantiknya yang dihiasi jejak kepemilikan dan luka emosional.

Kehamilan tua berusia delapan bulan membuat napasnya mengalun pendek dan tersengal pelan. Wajah cantiknya yang pucat masih menyisakan bekas guratan air mata yang mengering di sudut pipi.

Di samping ranjang jati kuno, Raden Mas Baskoro berdiri tegap menatap istri kecilnya. Pria berusia tiga puluh lima tahun itu telah mengenakan beskap lurik gelap dan melilitkan sarung di pinggangnya, namun binar merah di sepasang mata hitamnya mboten sepenuhnya padam. Penyatuan raga yang membakar semalam mboten sanggup memadamkan cemburu buta yang terlanjur meracuni jiwanya. Rasa ragu dan ketakutan akan dikhianati masih berdesing bising di dalam kepalanya, membutakan nurani sang juragan tanah.

Tanpa membangunkan Larasati yang sedang pingsan dalam lelapnya, Baskoro memutar tubuhnya, melangkah keluar kamar dan memutar gerendel pintu dari luar dengan sentakan kaku. Cklek.

Matahari pagi mulai meninggi ketika Baskoro memimpin lima orang pengawal bertubuh tegap menuruni jalan setapak menuju desa bawah. Dengan wewenang mutlak dan kekuasaan feodal yang digenggamnya di atas tanah perbukitan Joglo, Baskoro mendobrak gubuk bambu milik keluarga Bagas tanpa peringatan.

Tanpa memedulikan tangisan histeris ibu Bagas yang meratapi nasib anaknya, para pengawal menyeret Bagas secara paksa. Pemuda desa bertubuh kurus itu dihujani pukulan dan seretan kasar di sepanjang jalan setapak, dibawa naik menuju kompleks rumah joglo.

Baskoro tidak membawa Bagas ke pendopo umum, melainkan mengurungnya di dalam ruang tahanan bawah tanah—sebuah bilik batu yang lembap, gelap, dan beraroma tanah basah yang terletak di bawah selasar belakang kediaman Joglo.

Brak!

Tubuh Bagas dilemparkan kasar ke atas lantai batu yang dingin. Suara rantai besi bergema keras saat para pengawal mengikat kedua tangan pemuda itu ke tiang kayu jati yang kokoh. Darah segar mengalir dari sudut bibir dan pelipis Bagas, membasahi pakaian luriknya yang lusuh.

Baskoro melangkah masuk, menghentakkan selop kulitnya di atas lantai batu. Pria tiga puluh lima tahun itu berdiri tegap di hadapan Bagas, memancarkan aura intimidasi yang teramat pekat dan mematikan. Dari balik lipatan beskapnya, Baskoro mengeluarkan selembar kertas lusuh berstempel yang sudah remuk, lalu melemparkannya tepat di wajah Bagas.

"Baca itu, Pemuda Desa!" bentak Baskoro, suaranya bariton rendah, menggelegar memenuhi ruangan lembap tersebut. "Baca tulisan tanganmu yang mengotori kehormatan permaisuriku dan merendahkan rahim di rumah joglo ini!"

Bagas menyipitkan matanya yang bengkak, menatap kertas remuk yang jatuh di tanah. Walau kedua tangannya terikat rantai besi dan tubuhnya memar dihantam pukulan, Bagas perlahan mendongak. Sepasang matanya menatap lurus ke dalam manik mata Baskoro—mboten ada rasa takut di sana, melainkan tatapan iba yang teramat mendalam.

Bagas menghela napas panjang, suaranya parau dan bergetar. "Aku... aku tidak pernah menulis kertas sampah itu, Juragan..."

"Bohong!" raung Baskoro, memajukan tubuhnya dan mencengkeram kerah baju lurik Bagas hingga pemuda itu terangkat. "Namamu tertera jelas di sana! Kau mendatangi tapal batas barat untuk menanamkan janji manis pada Larasati, bukan?!"

Bagas tersenyum pahit, darah menetes dari bibirnya yang pecah saat ia menatap wajah Baskoro yang dipenuhi cemburu buta.

"Demi Tuhan yang menguasai alam semesta ini, Juragan Baskoro... aku tidak akan pernah melakukan hal sekeji itu pada wanita yang tulus kucintai," ucap Bagas pelan namun tegas. "Larasati kini adalah istrimu. Dia sedang mengandung darah dagingmu. Kenapa aku harus merusak jalan hidup wanita yang selalu kupanjatkan kebaikannya?"

Mendengar pengakuan tulus itu, dada Baskoro justru kian terbakar oleh amarah. Pria paruh baya itu merasa dihantam oleh kebenaran yang mboten sanggup ditarimanya. Dengan kepalan tangan besarnya yang sekeras batu, Baskoro melayangkan hantaman keras tepat di rahang Bagas.

Bugh!

Kepala Bagas terlempar ke samping. Pemuda itu batuk terbatuk, menumpahkan darah hitam di atas lantai batu. Namun, alih-alih merintih kesakitan atau memohon ampun, Bagas justru terkekeh pelan—sebuah tawa lirih yang penuh kepedihan sekaligus ejekan bagi sang penguasa tanah.

"Kenapa kamu tertawa, bangsat?!" bentak Baskoro, mencengkeram rambut Bagas dengan kasar.

Bagas menatap Baskoro dengan pandangan mata yang sarat akan keibaan. "Aku tertawa... karena aku kasihan padamu, Juragan..."

"Kasihan padaku?!" Baskoro membentak dengan mata membelalak murka.

"Iyaa... aku sangat kasihan padamu," bisik Bagas parau, napasnya tersengal-sengal di tenggorokan. "Kamu memiliki seluruh tanah perbukitan ini... kamu memiliki harta yang melimpah dan kekuasaan mutlak atas seluruh warga desa. Tapi untuk memiliki hati Larasati... kamu harus menggunakan cara kotor dan paksaan utang ayahnya..."

Bagas menatap Baskoro tanpa kedipan, menyunggingkan senyum tipis yang menikam ego Baskoro tepat di pusat lukanya.

"Sementara aku, Juragan..." lanjut Bagas dengan suara yang bergetar penuh kebanggaan, "Aku tidak punya harta sepeser pun. Tapi tanpa ancaman, tanpa harta, dan tanpa kurungan emas... Larasati sudah menyerahkan masa muda dan ketulusan jiwanya padaku sedari dulu. Kamu bisa mengurung raganya, Juragan... tapi kamu tidak akan pernah sanggup membeli ketulusan jiwanya dengan ketakutan dan kecemburuanmu!"

Kata-kata Bagas menghantam dada Baskoro laksana godam raksasa. Ego, trauma, dan cemburu buta sang penguasa Joglo seketika meledak melampaui batas akal sehatnya. Matanya memerah penuh darah, rahang tegapnya bergetar hebat.

"Tutup mulutmu!" raung Baskoro murka, suaranya memecah kesunyian bilik batu laksana petir.

Baskoro melepaskan cengkeramannya pada rambut Bagas, berbalik menatap dua pengawal bertubuh kekar yang berdiri di dekat pintu.

"Siksa dia!" perintah Baskoro dengan suara dingin yang mematikan. "Hantam dia sampai dia memohon ampun di bawah telapak kakiku! Jangan biarkan pemuda ini melihat sinar matahari sebelum dia mengakui pengkhianatannya!"

"Siap, Raden Mas!" sahut para pengawal tegas.

Suara cambuk kulit yang beradu dengan udara dan cambukan keras seketika memenuhi ruang tahanan bawah tanah, berbaur dengan erangan menahan sakit dari Bagas. Baskoro berdiri mematung di tengah ruangan, menyaksikan penyiksaan itu dengan napas berburu kasar dan kepalan tangan yang bergetar hebat.

Cemburu buta yang membakar jiwanya mboten mereda, melainkan kian menghitam dan pekat, membawa kegelapan yang mendalam di atas bukit Joglo sementara permaisuri remajanya masih terlelap lemas di dalam kamar utama.

*****

Bersambung...

Ngeri kali juragan satu ini, tapi tampan rupawan dan mapan, bisa kita bicarakan baik baik engga si wkwkwk

1
partini
👍👍👍
Maya Audina
di awal baca juga 35 kak,Larasati 19...
eh kadang2 Baskoro 40 Larasati 17..
kadang balik lg Baskoro 35 Larasati kadang 19 kadang 17😄
falea sezi
kapok😒 makanya uda tua sadar diri jangan cemburuan nuduh g jelas
Fauziah Daud
rasakan
Maya Audina
waah bikin masalah ini namanya nduk🤣
falea sezi
🤣🤣 tua bangka
partini
mampus Luh pak tua
Maya Audina
like&vote buatmu thor
Maya Audina
maaf Thor di awal Baskoro berusia 35, kok sekarang 40th
Maya Audina
Larasati gak jadi bersih2 dong yah, td katanya mau hapus riasan,eh nangis dan tau2 juragan masuk🤭
falea sezi
cerai aja laki tololl uda tua bangka g tau diri
Neni Abu Triana
udah dong jgn terus konflik please cape ,keren novel tp trs ajh konflik
partini
Laras maklum aja lah dia kan udah otw tuir jadi begitu
partini
randen mas kamu kan yg jebol tuh gawang apa ga ngerasain seyeeet busettt dah gitu aja udah kalap kata orang Jawa ngapak ada ini reden mas ledhoooooooooo 😂😂😂🤭
imel
masa gak bisa ngerasain waktu pertama kali main😏
partini
perasaan kemarin 40 th ko jadi 35 th Raden Baskoro
Fauziah Daud
trusemangattt
partini
ko bisa masuk si Bagas ga ada penjaga gitu
partini
kang datang udah di jotos pala mu gass,,ayo nduk di jawab kalau kamu dah cinta sama kang mas kalau ga siap" badai tornado
falea sezi
🤣🤣 aki2 istrimu bukan budak. yg harus di kurung
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!