NovelToon NovelToon
Istri Seksi Gus Ibra

Istri Seksi Gus Ibra

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan / Nikahmuda
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Elma Grace

​"Bagaimana jadinya kalau gadis nakal harus takluk menghadapi anak dari pemilik pesantren?"


Tsabita Azzahra, sebagai bentuk protes karena selalu dibanding-bandingkan dengan kakaknya, Safira, yang nyaris sempurna, Bita memilih hidup bebas: nongkrong di lounge elite, pulang subuh, dan akrab dengan kehidupan malam.

​Puncaknya, setelah mabuk berat akibat patah hati, Bita membuat kekacauan terbesar dalam hidupnya. Di area parkir remang-remang, ia mengira seorang cowok jangkung yang sedang duduk tenang di atas moge hitamnya adalah tukang parkir. Dengan lancang, Bita memaki-maki cowok itu, menarik kerah bajunya, dan... muntah tepat di atas sepatu sneakers mahal si cowok sebelum akhirnya pingsan.

Sepanjang insiden itu, si cowok hanya diam, menatap Bita dengan pandangan dingin yang tidak terbaca, lalu menolongnya dengan tenang.

​​Kehabisan kesabaran, orang tua Bita memberikan hukuman final: Bita dijodohkan dengan anak pemilik salah satu Pesantren.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elma Grace, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11

​Sinar matahari pagi yang cerah menembus celah gorden kamar utama di lantai dua. Ketika Bita membuka matanya, hal pertama yang ia rasakan adalah sengatan rasa malu yang luar biasa dahsyat. Memori tentang kejadian di balkon semalam langsung berputar otomatis di otaknya seperti sebuah rekaman ulang yang kejam.

​“Gue... nangis sesenggukan di depan dia? Terus dia ngusap pipi gue?! Terus gue curhat panjang lebar soal Papa, Mama, dan Mbak Safira? Duh, Bita... bodoh banget sih lo! Gengsi lo mau ditaruh di mana sekarang?!” Bita menjerit frustrasi dalam hati, menutupi seluruh wajahnya dengan bantal.

​Butuh waktu hampir setengah jam bagi Bita hanya untuk mengumpulkan keberanian beranjak dari kasur, mandi, dan bersiap-siap. Hari ini ia memilih mengenakan kemeja modis dan kulot. Ia mengenakan pasmina yang ia pelajari lewat video tutorial. Ia tidak mau memberikan celah sedikit pun bagi Gus Ibra untuk mengomentari penampilannya pagi ini. Ternyata tidak seburuk itu, meski sekarang berhijab tetap bisa tampil modis.

​Dengan langkah kaki yang sengaja diperlambat, Bita menuruni anak tangga menuju area dapur bersih di lantai bawah. Ia sudah menyiapkan mental untuk memasang wajah sedingin es demi menutupi rasa malunya yang telanjur jebol semalam.

​Namun, pemandangan di dapur bersih seketika membuat langkah Bita terhenti.

​Gus Ibra sedang berdiri di balik meja bar dapur, membelakanginya sambil fokus mengoperasikan mesin kopi elektrik. Pria itu sudah rapi dengan kemeja koko kasual lengan pendek berwarna abu-abu terang dan celana kain gelap. Aroma kopi hitam yang kuat dan harum seketika memenuhi indra penciuman Bita.

​Menyadari kehadiran seseorang, Ibra menoleh. Ekspresi wajahnya tetap tenang, lempeng, dan teduh—sama sekali tidak menunjukkan raut wajah ingin meledek atau membahas drama air mata semalam. Sikap profesional suaminya itu diam-diam membuat Bita bernapas lega.

​"Selamat pagi, Tsabita. Tidur kamu nyenyak?" sapa Ibra dengan suara baritonnya yang tenang, lalu menuangkan susu hangat ke dalam sebuah cangkir.

​Bita berdeham kecil, mencoba menormalkan suaranya yang mendadak canggung. "Pagi. Nyenyak."

​Ibra menggeser cangkir tersebut ke sisi meja bar yang kosong, tepat di depan kursi tinggi. "Kopi susu dengan takaran gula yang sedikit."

​Bita mengerjap, menatap cangkir kopi susu hangat dengan hiasan latte art berbentuk daun yang cukup rapi di atasnya. "Lo... Kok tau?"

​"Katamu kamu diet. Jadi sedikit gula cocok untukmu," jawab Ibra santai, lalu menduduki kursi bar di sebelah Bita sambil membawa cangkir Americano hitamnya sendiri. Di tengah meja, sudah tersedia dua piring roti panggang isi telur dan keju yang masih mengepulkan asap tipis.

​Jantung Bita mendadak berulah lagi. Sifat perhatian Ibra yang tidak murahan dan selalu tepat sasaran ini perlahan-lahan mulai mengikis sisa-sisa benteng pertahanannya. "Gak usah repot-repot kali, Gus. Gue bisa bikin sendiri."

​"Melayani kebutuhan sarapan kita berdua bukan sebuah kerepotan bagi saya," balas Ibra datar namun sarat ketegasan, lalu menyesap kopi hitamnya. "Silakan dimakan."

​Baru saja Bita hendak menggigit roti panggangnya, ponsel milik Bita yang tergeletak di atas meja bar mendadak bergetar panjang. Di layarnya, sebuah nama kontak berkedip memanggil: "Mama".

​Aura di sekitar Bita seketika berubah tegang. Kunyahannya terhenti, dan sepasang matanya menatap layar ponsel itu dengan tatapan enggan sekaligus malas. Ia tahu persis, telepon sepagi ini dari ibunya jarang sekali membawa berita yang menyenangkan.

​Ibra melirik sekilas ke arah layar ponsel, lalu beralih menatap wajah istrinya yang mendadak mendung. "Angkat saja, Bita. Siapa tahu ada hal penting dari orang tuamu."

​Bita mengembuskan napas berat, lalu menggeser tombol hijau ke atas dan menempelkan ponselnya ke telinga. "Halo, Assalamualaikum, Ma."

​"Waalaikumsalam, Bita," suara Mama Linda terdengar nyaring di seberang sana, khas suara wanita sosialita yang selalu bicara dengan nada menuntut. "Kamu itu ya, setelah pindah ke rumah baru sama Gus Ibra kok sama sekali gak ada kabarnya? Harus Mama duluan yang telepon! Gimana rumah barunya? Bagus kan? Pembantu yang mau Mama kirim sudah datang belum?"

​"Rumahnya bagus, nyaman. Gak usah kirim pembantu, Ma, di sini udah ada yang datang buat bersihin berkala," jawab Bita dengan nada suara yang flat dan defensif.

​"Halah, kamu itu kebiasaan suka mempersulit diri sendiri. Oh ya, Mama telepon cuma mau mengingatkan. Minggu depan itu ada acara syukuran yayasan berlian milik teman-teman sosialita Mama. Mama mau kamu datang bareng Gus Ibra. Inget ya, pakaian kamu tolong dijaga! Jangan pakai baju-baju kurang bahan kamu! Malu-maluin Mama nanti di depan kolega!"

​Tangan Bita yang memegang pinggiran meja bar mencengkeram kayu tersebut dengan kuat hingga buku jarinya memutih. Rasa sesak di dadanya kembali menguar. Bahkan setelah ia menikah dan menuruti kemauan mereka, fokus ibunya tetap sama: reputasi, gengsi, dan pandangan mata lingkaran sosialitasnya.

​"Gak tahu ya, Ma. Bita sibuk kuliah, Gus Ibra juga jadwal bisnis ekspornya padat," sahut Bita, suaranya mulai naik satu oktav karena menahan kesal.

​"Jangan banyak alasan kamu, Bita! Kakakmu, Safira, saja yang sibuk mengajar mengaji dan kuliah selalu bisa meluangkan waktu menemani Mama ke acara begitu tanpa banyak protes! Kenapa kamu susah sekali sih dibilangin? Mama cuma mau menunjukkan ke teman-teman Mama kalau menantu Mama itu seorang Gus tampan terpandang, biar mereka tidak membahas kelakuan nakal kamu yang kemarin sempat masuk akun gosip Jakarta! Kamu itu harusnya mencontoh Mbak Safira, dia itu—"

​"Ma, udah ya. Bita lagi sarapan. Assalamualaikum," potong Bita cepat sebelum air matanya kembali jatuh karena perbandingan yang menyakitkan itu.

​Namun, sebelum Bita sempat memutuskan sambungan telepon, sebuah tangan kekar dan hangat tiba-tiba merebut ponsel dari genggamannya.

​Bita mendongak kaget. Gus Ibra sudah mengambil alih ponselnya, menempelkan benda tipis itu ke telinganya sendiri dengan ekspresi wajah yang mendadak berubah menjadi sangat dingin dan berwibawa.

​"Bita! Kamu berani ya memutus telepon Mama—" Suara omelan Mama Linda masih terdengar samar-samar dari pengeras suara ponsel.

​"Assalamualaikum, Mama. Ini Ibra," potong Ibra dengan nada suara bariton yang luar biasa tenang, namun memancarkan otoritas mutlak yang seketika membungkam suara di seberang sana.

​Suasana di seberang telepon mendadak senyap selama beberapa detik. "Eh... Oh, Gus Ibra? Ya ampun, maaf ya Gus, Mama tidak tahu kalau teleponnya sedang dipegang kamu." Nada suara Mama Linda berubah drastis menjadi sangat ramah, lembut, dan penuh rasa hormat dalam hitungan detik.

​"Tidak apa-apa, Ma," tutur Ibra, matanya tetap menatap lekat ke arah Bita yang saat ini sedang melongo menatapnya dengan mata bulat yang mulai berkaca-kaca. "Saya hanya ingin menyampaikan terkait undangan acara minggu depan. Kebetulan di hari tersebut, saya ada jadwal pertemuan bisnis penting di luar kota yang tidak bisa ditinggalkan. Dan Tsabita harus menemani saya ke sana sebagai istri."

​Bita mengerjap. Pertemuan bisnis luar kota? Ibra sedang berbohong demi melindunginya dari acara sosialita ibunya.

​"Oh... begitu ya, Gus? Wah, sayang sekali ya. Tapi tidak apa-apa kalau urusan bisnis penting mah, Mama paham," sahut Mama Linda dengan nada kecewa yang ditahan.

​"Satu hal lagi yang ingin saya sampaikan, Mama," lanjut Ibra, suaranya kali ini merendah satu oktav, terdengar sangat tenang namun menyimpan ketegasan yang tak terbantahkan. "Mulai hari ini, detik ini... Tsabita adalah tanggung jawab saya sepenuhnya. Terkait cara berpakaian, perilaku, atau apa pun dalam hidupnya, adalah kewajiban saya sebagai imamnya untuk membimbing. Mama tidak perlu khawatir atau merasa malu, karena di mata saya, Tsabita sudah menjadi istri yang sangat baik dan saya sangat menghargai seluruh keberadaannya di rumah ini."

​Ibra menjeda kalimatnya sejenak, memberikan penekanan pada kalimat berikutnya. "Jadi, saya mohon dengan sangat, tolong jangan membanding-bandingkan istri saya dengan siapa pun lagi. Saya menikahi Tsabita karena diri dia sendiri, bukan karena orang lain."

​Dar!

​Kalimat panjang yang meluncur dari bibir Gus Ibra itu bagaikan hantaman keras yang meruntuhkan seluruh rasa sesak di dada Bita. Bita terpaku di kursinya, air mata harunya benar-benar lolos tanpa bisa ditahan lagi. Ia tidak pernah menyangka bahwa pria kaku di sebelahnya ini akan berdiri tegak di garda terdepan untuk membela harga dirinya di hadapan ibunya sendiri—hal yang bahkan tidak pernah dilakukan oleh ayahnya selama bertahun-tahun.

​Di seberang telepon, Mama Linda tampaknya sangat terkejut dan kehilangan kata-kata karena ditegur secara halus namun telak oleh seorang Gus terpandang sekaligus menantunya. "A-ah... iya, Gus. Maaf kalau kalimat Mama tadi menyinggung perasaan Bita atau kamu. Mama tidak bermaksud begitu... Ya sudah kalau begitu, Mama tutup dulu ya. Assalamualaikum."

​"Waalaikumsalam," jawab Ibra tenang, lalu mematikan sambungan telepon dan meletakkannya kembali di atas meja bar.

​Ibra memutar tubuhnya menghadap Bita yang kini sedang menunduk, menangis dalam diam sambil menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan. Tanpa ragu-ragu, Ibra mengulurkan kedua tangannya, meraih jemari Bita dari wajahnya, lalu menggenggam tangan mungil itu dengan kehangatan yang sangat menenangkan.

​"Sudah, jangan menangis lagi," ucap Ibra sangat lembut, ibu jarinya bergerak perlahan mengusap punggung tangan Bita yang bergetar. "Kamu memiliki saya sekarang, Tsabita. Siapa pun yang mencoba mengecilkan arti diri kamu, mereka harus berhadapan dengan saya dulu. Termasuk keluarga kamu sendiri."

​Bita mendongak, menatap sepasang mata tajam milik suaminya dari balik sisa-sisa air matanya yang basah. Gengsi setinggi langitnya kini telah menguap sepenuhnya, digantikan oleh rasa kagum dan rasa ketergantungan yang mulai tumbuh subur di dalam relung hatinya.

​"G-Gus... makasih ya," bisik Bita tulus dengan suara parau.

​Ibra tersenyum tipis—sebuah senyuman langka yang selalu berhasil membuat jantung Bita berdegup gila-gilaan. Pria itu mengulurkan tangan, lalu mengacak pelan puncak kepala Bita yang terbalut pasmina rapi.

​"Sama-sama, Istriku. Sekarang, habiskan sarapan dan kopinya. Kalau tidak habis, saya hukum kamu ke kampus menggunakan motor sport lagi pagi ini."

​Bita seketika tertawa kecil di balik sisa isakannya, merengut gemas mendengarkan ancaman modus dari suaminya yang super cool itu. Pagi ini, di dalam dapur rumah baru mereka, Bita tahu... bahwa hidupnya tidak akan pernah sama lagi, karena ia telah menemukan pelindung terbaiknya.

1
Anita Rahayu
kapan ni buat dedek bayi yg gemoy
Elma Grace: eh tenang aja. ada kok nanti. tunggu yaa, bikin sedikit konflik biar makin deket dulu merekanyaa
total 1 replies
merry
kyky reno ngk bergerak sndrian dehh,, x Safira itu terlibat krn iri sm bita x y
Clarisa Putri: aku juga mikir gini
total 1 replies
Sri Jumiati
apa safira suka sm gus ibra ya
Elma Grace
/Rose//Heart/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!