Ketika keluarganya hancur dihantam utang dan kehancuran finansial, Lin Fan tidak sengaja menemukan gulungan lontar tua milik leluhurnya yang tersembunyi di sudut rumahnya di desa terpencil. Gulungan itu membuka akses ke sebuah ritual terlarang yang membangkitkan entitas misterius bernama [Sistem Pagar Iblis], sebuah kekuatan kuno yang menuntut bayaran mahal untuk setiap keuntungan finansial dan perlindungan yang ditawarkannya. Demi menyelamatkan keluarganya dari ancaman orang-orang licik di sekitarnya, Lin Fan terpaksa melangkah ke dalam kegelapan, tanpa menyadari bahwa setiap keputusan yang ia ambil mulai mengubah dirinya dan membahayakan nyawa orang-orang yang berusaha ia lindungi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sugesti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25: Perubahan Perilaku Lin Fan
Sinar matahari pagi merayap pelan menembus sela-sela dedaunan pohon beringin tua di batas Desa Sungai Hitam. Hawa dingin yang biasa menyelimuti desa setiap kali kabut subuh turun kini telah tergantikan oleh kehangatan yang aneh. Tanah di pekarangan rumah-rumah warga terasa lebih gembur, dan tanaman liar di sepanjang tepi jalan tampak tumbuh lebih hijau menyegarkan.
Namun, di balik pulihnya vitalitas lingkungan desa berkat [Resonansi Pasak Wilayah], sebuah perubahan yang jauh lebih sunyi dan tak kasatmata sedang berlangsung di dalam diri Lin Fan.
Di dalam kamar utama rumah tua keluarga Lin, Lin Fan berdiri di depan cermin kayu yang retak di sudut ruangan. Ia menatap bayangan dirinya sendiri.
Wajahnya masih sama—pemuda berusia dua puluh satu tahun dengan garis rahang tegas dan kulit sedikit pucat. Akan tetapi, ada sesuatu yang telah bergeser secara mendalam di balik binar matanya. Sepasang manik matanya tidak lagi memancarkan kehangatan atau keraguan khas pemuda desa biasa. Tatapannya kini bagaikan permukaan danau beku di puncak gunung: jernih, dingin, dan benar-benar hampa dari gejolak emosi.
Sfx: Bzzzzzt!
[Laporan Status Integrasi Jiwa & Sistem]
[Pemilik Kontrak: Lin Fan]
[Tingkat Penyelarasan Pagar Iblis: 42%]
[Efek Samping Penyelarasan: Pengikisan Emosi Sekunder (Apatisme Taktis Ditingkatkan)]
[Kondisi Mental: Sangat Rasional / Bebas Dari Gangguan Empati Emosional]
[Peringatan: Peningkatan Penyelarasan Lebih Lanjut Dapat Menumpulkan Akses Rasa Kemanusiaan Dasar]
Lin Fan mengepalkan jari-jarinya pelan. Ia menyapu layar transparan sistem yang melayang di depan pandangannya tanpa sedikit pun keterkejutan.
"Apatisme taktis..." gumam Lin Fan lirih. Suaranya datar, tanpa nada keberatan sedikit pun terhadap peringatan berbahaya yang diberikan oleh sistem.
Bagi Lin Fan saat ini, empati dan keraguan emosional hanyalah variabel lemah yang dapat menghambat efisiensi dalam mengambil keputusan kritis. Selama ia bisa melindungi ibu dan adiknya serta menjaga keutuhan benteng pelindung desa, harga berupa pengikisan emosi terasa bagaikan transaksi yang sangat wajar.
Sfx: Tok... Tok... Tok...
Ketukan pintu kamar memecah keheningan. Chen Meng melangkah masuk membawa nampan berisi dua cangkir teh hangat dan piring berisi kue beras buatan ibu Lin Fan.
"Lin Fan, ibumu menyuruhku membawakan sarapan untukmu," kata Chen Meng seraya meletakkan nampan tersebut di atas meja kayu.
Gadis itu kemudian menatap Lin Fan yang masih berdiri kaku di depan cermin. Ada nada kekhawatiran yang tebal dalam sorot mata Chen Meng ketika ia memperhatikan gerak-gerik teman masa kecilnya itu.
"Fan... kamu baik-baik saja?" tanya Chen Meng pelan. "Sejak tadi subuh setelah kita membersihkan air sumur desa, kamu tidak mengucapkan sepatah kata pun. Bahkan saat ibumu memanggilmu tadi, kamu hanya mengangguk kaku."
Lin Fan berbalik badan secara perlahan. Gerakannya sangat presisi, efisien, dan nyaris seperti gerakan mesin yang telah dikalibrasi sempurna.
"Aku sangat baik, Chen Meng," jawab Lin Fan dingin. "Kondisi fisikku berada pada tingkat optimal. Energi vitalku telah pulih seratus persen pasca-proses penyuntikan energi ke dalam sumber air."
Chen Meng mengerutkan dahinya. Istilah-istilah logis dan cara bicara Lin Fan yang sangat formal terasa begitu asing di telinganya. Lin Fan yang ia kenal adalah pemuda yang ramah, sering tersenyum canggung jika dipuji, dan selalu menunjukkan rasa hangat kepada orang-orang di sekitarnya. Namun pemuda yang berdiri di depannya sekarang terasa bagaikan sosok asing yang hanya mengenakan wujud Lin Fan.
"Cara bicaramu... kenapa jadi seperti ini, Fan?" desak Chen Meng seraya melangkah mendekat. Ia menatap mata Lin Fan dari dekat, mencari sisa-sisa kehangatan yang biasa ia lihat. "Kamu terasa sangat jauh. Seperti... kamu tidak lagi merasakan apa-apa."
Lin Fan menatap balik Chen Meng tanpa mengedipkan mata.
"Emosi yang berlebihan hanya akan mengaburkan penilaian dalam situasi perang ghaib," balas Lin Fan tanpa keraguan. "Paman Zhang berkhianat karena keserakahan. Warga desa hampir gila karena ketakutan. Semua itu adalah bukti bahwa emosi manusia adalah celah keamanan terbesar dalam suatu wilayah. Untuk menjaga benteng ini tetap berdiri, aku harus berpikir murni berdasarkan perhitungan taktis."
"Tapi kamu bukan mesin, Lin Fan!" potong Chen Meng dengan suara agak bergetar, matanya mulai berkaca-kaca oleh rasa cemas. "Jika kamu kehilangan rasa kemanusiaanmu demi kekuatan ini, lalu apa bedanya dirimu dengan praktisi ghaib dari Sekte Kegelapan yang mengejar kekuatan tanpa peduli pada nyawa orang lain?"
Perkataan Chen Meng sempat membuat pendar merah keemasan di dalam mata Lin Fan bergetar halus selama sepersekian detik. Namun, dengan cepat sistem menetralkan fluktuasi emosi tersebut, mengembalikan tatapan Lin Fan ke dalam kondisi dingin semula.
"Perbedaannya sederhana, Chen Meng," kata Lin Fan seraya meraih peta Desa Sungai Hitam yang terbentang di atas meja kerja. "Sekte Kegelapan membunuh untuk menghancurkan, sedangkan aku mengikis emosiku untuk memastikan kalian semua tetap hidup. Itu adalah kalkulasi yang sangat masuk akal."
Chen Meng tertegun membisu. Ia menyadari bahwa perdebatan kata-kata tidak akan mampu menembus dinding dingin yang kini mengelilingi jiwa Lin Fan.
Sementara itu, di luar ruangan, Ibu Lin Fan berdiri di balik pintu yang sedikit terbuka. Ia telah mendengarkan seluruh percakapan antara anaknya dan Chen Meng.
Tangan wanita paruh baya itu gemetar saat memegang pinggiran pintu kayu. Hatinya teriris pedih melihat perubahan pada diri putra sulungnya. Sebagai seorang ibu, ia menyadari beban mengerikan yang dipikul oleh Lin Fan sejak warisan rahasia Kakek Buyut Lin Zhen terbangun. Ketenangan dingin yang ditunjukkan Lin Fan bukanlah tanda kejahatan, melainkan perisai jiwa yang terpaksa dibentuk oleh anak itu agar tidak hancur di bawah tekanan ancaman ghaib yang mematikan.
"Lin Fan..." bisik ibunya pelan dari balik pintu dengan mata yang digenangi air mata. "Maafkan Ibu yang tidak bisa membantumu memikul beban ini..."
Tiga jam kemudian, di zona perbatasan luar bagian selatan Desa Sungai Hitam...
Suara gemuruh mesin-mesin berat memecah ketenangan kawasan hutan perbatasan. Tiga buah truk trailer raksasa beserta dua unit excavator berwarna kuning industri berhenti tepat di garis batas perbatasan desa—hanya berjarak lima puluh meter dari jangkauan luar [Pagar Utama Tahap 3].
Sfx: BRRRRMMMM! BRRRRMMMM!
Asap hitam tebal membumbung tinggi dari knalpot mesin-mesin berat tersebut, mencemari udara bersih desa. Dari dalam salah satu mobil SUV hitam bermerek mewah, melangkah keluar Tuan Wang bersama seorang pria tua berambut putih yang mengenakan jubah abu-abu panjang bertuliskan rajah-rajah ghaib hitam.
Pria tua berjubah abu-abu itu adalah Master Zhao, seorang tetua dari Sekte Kegelapan kota yang tingkat kultivasi ghaibnya berada jauh di atas Master Mo yang telah tewas sebelumnya.
Tuan Wang menatap ke arah permukiman Desa Sungai Hitam dengan ekspresi penuh dendam dan rasa marah yang tertahan.
"Master Zhao," kata Tuan Wang seraya menunjuk ke arah batas perbatasan tanah desa. "Bocah bernama Lin Fan itu telah membunuh Master Mo dan menghancurkan semua rencana perwakilan kita di desa ini. Sekarang dia bahkan mengaktifkan semacam Pagar Ghaib yang membuat anak buahku tidak bisa melangkah masuk!"
Master Zhao mengangkat tangan kanannya yang kurus bagaikan cakar elang. Ia memegang sebuah kompas fengshui besi berwarna hitam pekat yang jarum magnetiknya berputar-putar liar tak terkendali.
"Pagar ghaib ini memang sangat kuat dan murni," puji Master Zhao dengan suara parau yang berdenting menyakitkan di telinga. "Ia menggunakan tiga material spiritual kuno untuk mengikat energi bumi desa ini. Serangan bisikan jiwa dari jarak jauh yang kita kirim tadi malam pun berhasil dinetralkan oleh bocah itu."
Master Zhao tersenyum licik, memperlihatkan deretan gigi-giginya yang kuning dan rusak.
"Namun, tidak ada benteng ghaib yang tidak memiliki kelemahan fisik," lanjut Master Zhao dengan nada dingin. "Pagar ini terikat pada struktur tanah geografis desa. Jika kita menghancurkan kontur tanah perbatasan ini menggunakan alat berat dan menanamkan [Paku Pemutus Urat Bumi] di delapan titik luar, pasak pelindung mereka akan goyah secara alami!"
Tuan Wang menyeringai puas mendengarnya. Ia melambaikan tangannya memberikan perintah tegas kepada para operator alat berat di belakangnya.
"Dengar semuanya!" teriak Tuan Wang melalui pengeras suara. "Mulai pengerukan tanah perbatasan sekarang juga! Timbun sungai kecil itu dan ratakan seluruh vegetasi di batas desa ini! Siapa pun yang mencoba menghalangi dari warga desa, lindas saja tanpa ragu!"
Sfx: DONGGG! DONGGG!
Mesin-mesin excavator mulai mengeruk tanah perbatasan dengan ganas. Kerukan-kerukan besi raksasa itu menghantam batuan cadas perbatasan, mencoba merusak aliran garis energi alami yang menyokong pertahanan [Pagar Utama Tahap 3]!
Di saat yang bersamaan, di dalam rumah keluarga Lin...
Lin Fan yang sedang mempelajari lembaran lontar raksasa tiba-tiba menghentikan pergerakan tangannya.
Sfx: Bzzzzzt! RED ALERT!
Layar sistem di depan pandangannya seketika berubah warna menjadi merah darah mendalam, memancarkan nada peringatan frekuensi tinggi yang memekakkan telinga batinnya!
[Peringatan Darurat Kategori S!]
[Radar Wilayah Mendeteksi Serangan Kerusakan Struktur Fisik & Ghaib Kombinasi!]
[Lokasi: Perbatasan Selatan Desa Sungai Hitam (Sektor 8)]
[Pelaku: Konsorsium Kota (Tuan Wang) & Sekte Kegelapan (Master Zhao)]
[Metode: Pengerukan Tanah Masif & Penanaman 'Paku Pemutus Urat Bumi']
[Integritas Resonansi Pasak Wilayah Berkurang: 100% -> 94% (Menurun Perlahan)]
Lin Fan berdiri dari kursinya. Tidak ada rasa panik, ketakutan, atau kemarahan di wajahnya. Mata merah keemasannya hanya memancarkan perhitungan kalkulatif yang sangat dingin.
"Menggunakan kekuatan fisik industri untuk merusak kontur geografis pemicu segel..." kata Lin Fan pelan. "Sebuah strategi yang cukup cerdas dari Sekte Kegelapan. Mereka menyadari bahwa energi ghaib tidak bisa menembus Pagar Utama, jadi mereka mencoba merusak fondasi alamnya."
Chen Meng berlari masuk ke dalam ruangan dengan wajah penuh ketakutan.
"Lin Fan! Warga di perbatasan selatan melapor! Ada banyak alat berat dari kota yang sedang menghancurkan tanah perbatasan desa kita! Suara gemuruhnya terdengar sampai ke tengah desa!" seru Chen Meng panik.
Lin Fan meraih belati kuno berbalut energi [Darah Serigala Kuno] dan menyelipkannya di pinggangnya.
"Tetap di rumah dan jaga ibuku serta Lin Mei," perintah Lin Fan pendek tanpa emosi.
"Kamu... kamu mau pergi ke perbatasan sendirian, Fan?" tanya Chen Meng cemas. "Mereka membawa banyak alat berat dan prajurit ghaib dari kota!"
Lin Fan menatap Chen Meng dengan pandangan dingin yang mutlak.
"Jumlah musuh hanyalah angka statistik," jawab Lin Fan datar. "Mereka mencoba merusak aset pertahananku. Maka solusinya sangat sederhana: menghapuskan ancaman tersebut sebelum integritas Pagar Utama turun di bawah sembilan puluh persen."
Lin Fan melangkah keluar rumah dengan kecepatan tinggi, melesat bagaikan bayangan keemasan yang menembus jalanan desa menuju perbatasan selatan.
Perang fisik dan ghaib terbuka antara Penguasa Pagar Iblis dan kekuatan penuh konsorsium kota kini resmi dimulai!