NovelToon NovelToon
Jebakan Manis untuk Sang CEO

Jebakan Manis untuk Sang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Asmara / Reinkarnasi / CEO / Healing / Putri asli/palsu
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Olivia Renata

Tan Keira bukan orang bodoh. Dia tahu dirinya bukan cucu kandung Engkong Budiman -- hasil tes DNA di tangannya sudah membuktikan itu. Dia juga tahu bahwa suatu hari, cucu asli keluarga Tan akan muncul dan merebut segalanya: rumah, warisan, nama keluarga, bahkan kasih sayang satu-satunya orang yang pernah mencintainya.
Tapi Keira tidak akan duduk diam menunggu kehancuran.
Di sebuah lounge mewah di SCBD Jakarta, dia mengeksekusi rencana pertamanya: menjebak Lim Renata -- mantan jenderal, CEO Lim Group, sahabat mendiang papanya, dan satu-satunya pria yang cukup berkuasa untuk melindunginya dari badai yang akan datang.
Renata dingin. Renata menakutkan. Seluruh Jakarta tunduk padanya.
Tapi di depan Keira yang gemetar (pura-pura) dan bermata basah (juga pura-pura), pria itu... lembek.
"Om, saya takut."
Satu kalimat itu mengubah segalanya.
Yang Keira tidak tahu: Renata bukan pria yang bisa dijebak. Dia pria yang *memilih* untuk masuk ke jebakan. Dan alasannya... jauh lebih dalam dari yang Keira bayangkan.
Saat cucu asli keluarga Tan akhirnya muncul, saat kebohongan Keira mulai terbongkar satu per satu, saat seluruh dunianya runtuh -- hanya ada satu pertanyaan yang tersisa:
*Apakah Renata akan tetap memilihnya, setelah tahu semuanya palsu?*
Jawabannya ada di dua kata yang akan menghancurkan dan menyembuhkan Keira sekaligus.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Olivia Renata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 7

Jason menyampaikan laporan Pak Hasan pada Richard pagi itu, tepat setelah rapat direksi selesai.

Ruang kerja di lantai tertinggi Lim Group Tower masih menyisakan bau kopi hitam dan kertas dokumen. Di luar dinding kaca, Jakarta bergerak padat, tetapi di dalam ruangan itu, semua suara terasa lebih rendah. Richard berdiri di depan jendela, punggungnya tegak, jasnya belum dilepas.

"Pak Hasan mengatakan Nona Tan sering diperlakukan kurang baik oleh Keluarga Ong," kata Jason. "Terutama oleh Kevin dan Felicia."

Richard tidak berbalik. "Contohnya."

"Kevin beberapa kali membuat Nona Tan menunggu. Felicia menghina Nona Tan di depan Pak Tan. Dan soal skripsi Vanya, Pak Hasan khawatir Nona Tan sedang ditekan."

"Pak Hasan melihat langsung?"

"Sebagian. Sebagian dari cerita Nona Tan."

Richard akhirnya menoleh. "Dia cerita pada Pak Hasan?"

"Sepertinya tidak semua. Pak Hasan lebih banyak menyimpulkan dari perubahan sikap Nona Tan."

Richard mengambil cangkir kopinya, tetapi tidak langsung minum. Wajah Keira yang menunduk di teras Rumah Tan muncul sebentar di benaknya. Gadis itu selalu bicara pelan, seolah meminta maaf karena keberadaannya sendiri. Namun beberapa kali, Richard menangkap kilatan lain di matanya. Kilatan yang terlalu tajam untuk korban biasa.

Sebelum Richard memberi instruksi, ponsel Jason bergetar.

Jason membaca pesan masuk. Dahinya sedikit berkerut.

"Apa?"

"Ada laporan dari kampus UI." Jason menyerahkan tablet. "Beberapa mahasiswa mengatakan Nona Tan mempersulit Vanya. Katanya Vanya pernah meminta arahan soal skripsi, tapi Nona Tan mempermalukannya dan menuduhnya akan plagiat."

Richard membaca ringkasan itu tanpa ekspresi.

Di layar ada beberapa tangkapan layar percakapan grup. Nama Keira disebut berkali-kali. Cucu konglomerat sombong. Tidak mau membantu teman yang lebih sederhana. Mengira semua orang ingin mencuri miliknya.

Jason berkata hati-hati, "Belum tentu benar."

"Aku tahu."

Namun sesuatu di dada Richard tetap bergerak. Bukan percaya penuh pada gosip itu, tetapi ia tidak bisa mengabaikan kemungkinan bahwa Keira juga sedang memainkan sesuatu. Sejak The Jade Lounge, pertemuan mereka terlalu rapi. Terlalu tepat. Richard tidak menyukai kebetulan yang terlalu rajin.

Sore itu, ia meminta Keira datang ke Villa Awan.

Villa Awan berbeda dari rumah keluarga Tan. Lebih sunyi, lebih tertutup, lebih terasa seperti wilayah pribadi. Keira tiba pukul lima lewat sedikit. Pakaiannya sederhana, rambutnya diikat rendah, wajahnya tampak tenang. Terlalu tenang untuk gadis yang baru dipanggil oleh pria yang bisa menentukan nasib banyak keluarga dalam satu telepon.

"Om memanggil saya?"

Richard menunjuk kursi di seberang meja kecil perpustakaan. "Duduk."

Keira duduk. Matanya turun ke cangkir teh yang belum disentuh.

"Aku mendapat laporan dari Pak Hasan," kata Richard.

Jari Keira berhenti di pangkuan.

"Dia khawatir padamu."

"Pak Hasan memang mudah khawatir."

"Dan aku mendapat laporan lain dari UI."

Keira mengangkat wajah. "Laporan apa?"

Richard meletakkan tablet di meja. Ia tidak mendorongnya ke arah Keira. "Tentang kamu dan Vanya."

Ruangan itu hening.

Keira membaca beberapa baris dari kejauhan. Cukup untuk tahu Vanya bergerak lebih cepat dari dugaannya. Gadis itu tidak hanya menunggu. Ia sudah menanam suara di kampus, membentuk citra bahwa Keira adalah pewaris manja yang menekan mahasiswa biasa.

Hebat.

Sayangnya, rasa kagum kecil itu tertutup oleh sesuatu yang menusuk.

Richard percaya?

"Om ingin saya menjelaskan?"

"Aku ingin kamu bersikap lebih hati-hati."

Kalimat itu pendek, tetapi jatuh tepat ke tempat yang paling sakit.

Keira menatap Richard.

Ia bisa membela diri sekarang. Ia bisa menunjukkan pesan Kevin, rekaman ancaman, bahkan memberi petunjuk bahwa Vanya bukan perempuan sederhana yang terlihat. Tetapi bila ia terlalu cepat membuka kartu, permainannya akan selesai sebelum musuhnya keluar semua.

Lebih penting lagi, rasa kecewa di dadanya ternyata tidak sepenuhnya palsu.

"Maksud Om, saya harus minta maaf pada Vanya?"

Richard diam sejenak. "Kalau kamu memang berbicara terlalu keras, pertimbangkan itu."

Keira merasakan ujung jarinya dingin.

Lucu sekali. Ia sudah tahu Richard bukan miliknya. Ia juga tahu pria ini baru masuk perangkapnya beberapa langkah. Namun ketika ia mendengar pria itu berdiri setengah langkah di sisi Vanya, sesuatu di dalam dirinya tetap retak.

Ia menunduk.

"Baik, Om."

Richard menatapnya. "Keira."

"Saya akan lebih hati-hati." Keira berdiri, suaranya lembut. "Kalau tidak ada lagi, saya pamit."

Richard tidak segera menjawab. Wajahnya tetap dingin, tetapi matanya mengikuti gerakan tangan Keira yang merapikan tas. Terlalu patuh. Terlalu cepat menerima. Bukan seperti orang yang bersalah. Lebih seperti orang yang sudah terlalu sering kalah sampai tidak ingin membela diri.

"Jason akan mengantar."

"Tidak perlu, Om. Sopir saya menunggu."

Keira menunduk sopan, lalu keluar dari perpustakaan.

Jason menunggu di lorong. Ketika melihat wajah Keira, ia tampak ingin mengatakan sesuatu, tetapi urung. Keira hanya memberi senyum kecil.

"Terima kasih sudah mengantar saya sampai sini, Ko Jason."

"Nona Tan tidak perlu berterima kasih."

"Saya selalu perlu berterima kasih kalau merepotkan orang."

Kalimat itu lembut, tetapi Jason merasa ada sesuatu yang salah. Ia sudah melihat banyak orang menangis di depan Richard. Ada yang menangis karena takut, ada yang menangis karena ingin mendapat keuntungan. Keira tidak menangis. Justru itu yang membuat punggung gadis itu terlihat lebih sepi saat berjalan menuju pintu.

Di dalam perpustakaan, Richard masih berdiri di tempatnya.

"Boss," kata Jason pelan, setelah kembali masuk. "Saya akan verifikasi sumber laporan kampus itu."

"Lakukan."

"Dan laporan Pak Hasan?"

Richard tidak langsung menjawab. Di layar tablet, komentar mahasiswa tentang Keira masih terbuka. Terlalu rapi. Terlalu cepat menyebar. Kalau Keira benar-benar menekan Vanya, mengapa gosipnya datang dalam bentuk yang begitu siap?

Namun ia sudah terlanjur meminta Keira mempertimbangkan untuk minta maaf.

Richard menutup tablet. "Cari tahu siapa yang pertama menyebarkan."

"Baik."

"Jangan beri tahu Keira."

Jason mengangguk, tetapi di dalam hati ia mencatat satu hal: Boss-nya baru saja memanggil gadis itu untuk ditegur, lalu kurang dari lima menit kemudian mulai menyelidiki orang yang menuduhnya.

Itu bukan sikap netral.

Richard berjalan ke jendela lagi. Di kaca, bayangannya terlihat lebih dingin daripada wajah aslinya. Ia tidak suka membuat keputusan berdasarkan emosi, tetapi wajah Keira saat berkata "Baik, Om" terus kembali seperti potongan video yang tidak mau berhenti.

Sejak kapan satu kalimat patuh bisa terdengar seperti tuduhan?

Di mobil pulang, ia duduk diam sampai gerbang Villa Awan hilang dari kaca belakang. Setelah itu, tangannya mengepal di atas lutut.

Sakit.

Tapi sakit juga bisa dipakai.

Keira menatap pantulan wajahnya di kaca mobil. Sudut bibirnya pelan-pelan terangkat.

"Tidak apa-apa," bisiknya. "Aku punya rencana B."

1
aku
up
aku
🌹🌹 semangat up
aku
jangan smpe nikah key. pas acara tunangan aja ksih bom nya
aku
jelas bukan ko jason 🤣🤣
aku
staf yg bawa troli si jason 🤣🤣🤣
aku
cembokur pak lim 😃😃
aku
wow key, cerdas!!
aku
terharu aku key...😭😭😭 ayo key semangat 😁😁
aku
kei 😭😭 ayo andalkan dirimu sendiri kei. jgn lagi pke perasaan. biar gk sakit lg hatimu 😭😭
aku
pak hasan jawi pundhi?? kulo jawa timur 😁😁
aku
di sinopsis namanya LIM RENATA tor. disini LIM RICHARD 🤔 jd yg mana?? 😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!