NovelToon NovelToon
Bukan Ibu Tiri Biasa

Bukan Ibu Tiri Biasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Asmara / Reinkarnasi / CEO / Anak Genius / Ibu Tiri
Popularitas:10.6k
Nilai: 5
Nama Author: Vionique

Ning terbangun di ranjang rumah sakit dengan tubuh yang bukan miliknya.
Perutnya rata. Bayinya hilang. Dan tahun di kalender menunjukkan angka yang mustahil — enam belas tahun telah berlalu sejak malam kecelakaan yang merenggut nyawanya.
Tapi anaknya masih hidup.
Kian Nie, 16 tahun. Pewaris tunggal Semesta Group. Remaja berambut perak dengan tatapan sedingin es — yang langsung mengusirnya begitu mendengar namanya.
Karena nama Ning... adalah nama mendiang ibunya.
Ning tahu ia tidak bisa mengaku. Tidak kepada Kian yang masih memendam luka ditinggal ibunya. Tidak kepada Kevin Nie — suami lamanya yang kini menjadi CEO paling berkuasa di Jakarta, yang masih memakai cincin pernikahan mereka setelah enam belas tahun, yang masih menonton video terakhirnya setiap malam sebelum tidur.
Yang tidak Ning tahu: Kevin sudah mengenalinya. Matanya, caranya tertawa, kebiasaannya yang tak mungkin dipelajari orang lain.
Dan ia akan melakukan apapun untuk tidak kehilangan Ning — untuk kedua kalinya.
Pernikahan kilat. Identitas yang tersembunyi. Seorang anak yang diam-diam memanggil "Mama" saat mengira ia tidur. Dan satu keluarga yang bersekongkol menjaga rahasia terbesar mereka — bahwa ibu tiri baru Kian... bukan ibu tiri biasa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vionique, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 11

Bab 11: Jejak-Jejak yang Tersembunyi

"Kenapa," bisik Yenni akhirnya, "kamu tiba-tiba menanyakan itu?"

Kevin tidak langsung menjawab.

Di luar jendela ruang kerja, lampu taman Menteng Enclave jatuh ke permukaan kaca seperti serpihan emas dingin. Di layar ponselnya, foto Ning yang sedang menarik busur masih terbuka. Bahunya sedikit miring. Pergelangan tangannya lurus. Cara perempuan itu menahan napas sebelum melepaskan anak panah terlalu familiar untuk dianggap kebetulan.

"Aku bertemu seseorang," kata Kevin.

"Perempuan yang namanya Ning?"

Nada Yenni pecah di ujung kalimat. Kevin menutup mata sebentar.

"Kamu sudah melihatnya?"

"Belum." Yenni menarik napas, tapi gagal membuat suaranya stabil. "Felix cerita. Kian juga sempat menyinggung. Aku kira cuma kebetulan nama. Tapi setelah kamu tanya soal memanah..."

Panggilan itu kembali diselimuti sunyi.

Mereka sama-sama mengenal Ning yang dulu. Gadis yang tertawa sambil menyembunyikan nyeri di pinggang Yenni dengan kompres hangat. Perempuan yang bisa menenangkan orang lain, bahkan saat hidupnya sendiri sedang runtuh.

"Datangi dia besok," ucap Kevin akhirnya. "Sebagai klien Maison Fevre. Jangan menakutinya."

"Kevin." Suara Yenni tiba-tiba tajam. "Kalau dia benar..."

"Belum ada yang benar." Kevin memotong pelan. "Belum."

Padahal jarinya, yang sejak tadi menekan sudut ponsel, sudah memutih.

Keesokan siangnya, Yenni masuk ke Maison Fevre dengan kacamata hitam besar dan tas tangan kulit warna gading. Resepsionis langsung mengenalinya sebagai pelanggan lama kelas VIP. Ning, yang sedang menyusun sampel kain di meja konsultasi, mengangkat wajah ketika namanya dipanggil.

"Bu Yenni Tan, ini Ning, asisten desain yang akan membantu fitting awal."

Ning menoleh.

Kacamata hitam Yenni turun perlahan dari pangkal hidungnya. Wajahnya tetap rapi, lipstiknya sempurna, rambutnya disanggul rendah. Tapi kedua matanya mendadak basah.

Ning membeku selama setengah detik.

Yenni.

Nama itu seperti pintu lama yang terbuka tanpa suara. Dalam ingatan Ning, Yenni masih perempuan muda yang suka memeluk bantal saat menangis, sahabat yang pernah memaksanya makan bubur ketika ia tidak punya tenaga untuk bangun dari lantai apartemen. Sekarang Yenni berdiri di depannya dengan kalung mutiara mahal, garis halus di sudut mata, dan luka rindu yang tidak mampu disembunyikan.

"Bu Yenni?" Ning memaksa dirinya tersenyum sopan. "Silakan duduk. Mau dibuatkan kopi atau teh?"

Yenni membuka mulut, tapi tidak ada suara keluar.

Ning pura-pura tidak melihat air mata yang sudah menggantung. Ia menarik kursi, menaruh buku ukur, lalu memilih nada paling profesional.

"Untuk acara formal atau semi-formal, Bu?"

"Formal," jawab Yenni lirih. "Makan malam keluarga."

"Baik. Warna yang Ibu inginkan?"

"Dulu aku suka biru."

Tangan Ning yang memegang pensil berhenti.

Yenni menatapnya lekat. "Menurut kamu, sekarang aku masih cocok pakai biru?"

Pertanyaan itu terlalu sederhana, tapi di antara mereka ada sesuatu yang bergetar. Ning menunduk ke buku ukur, menggambar garis bahu gaun dengan cepat.

"Biru tua cocok. Tapi jangan yang terlalu dingin." Suaranya tetap tenang. "Kulit Ibu lebih hidup kalau ada sedikit sentuhan perak atau abu muda."

Yenni tertawa kecil, langsung berubah menjadi isak yang ditahan. "Dia juga selalu bilang begitu."

Ning berpura-pura sibuk mengambil pita ukur.

Saat Yenni berdiri, gerakannya sedikit tertahan. Ning refleks menahan sikunya.

"Pelan-pelan. Pinggang kanan Ibu jangan dipaksa terlalu lurus."

Begitu kalimat itu keluar, udara di ruang konsultasi seperti berhenti.

Yenni menatap tangan Ning di sikunya.

Tidak ada catatan pelanggan yang menyebut cedera lama itu. Bahkan suaminya sendiri baru tahu setelah menikah, karena Yenni menyembunyikannya bertahun-tahun. Hanya satu orang yang dulu tahu persis titik sakitnya, karena orang itu yang mengantarnya ke fisioterapi setelah jatuh dari tangga sekolah.

Ning menarik tangannya seolah tersengat.

"Maaf. Saya melihat cara Ibu berdiri agak menahan beban. Dugaan saja."

Yenni menutup mulut dengan punggung tangan. Bahunya bergetar.

"Ning," panggilnya, bukan seperti pelanggan memanggil pegawai, tapi seperti seseorang memanggil nama di depan makam. "Kamu..."

"Bu Yenni." Ning tersenyum lembut, terlalu lembut untuk seorang asing. "Fitting awal bisa kita lanjutkan setelah Ibu lebih nyaman. Saya akan catat desainnya dulu."

Yenni mengangguk, tapi air matanya jatuh juga.

Setengah jam kemudian, ia keluar dari Maison Fevre tanpa menyelesaikan ukuran pinggang. Begitu duduk di mobil, ia langsung menelepon Hendra.

"Sayang?" suara Hendra terdengar santai, lalu berubah hati-hati. "Kamu nangis?"

"Aku ketemu dia."

"Siapa?"

"Ning."

Hendra terdiam.

Yenni menekan dada, seolah kalau tidak begitu, sesuatu di dalamnya akan pecah. "Matanya, Hen. Caranya menatap orang. Dia tahu pinggang kananku. Dia tahu biru tua harus diberi abu muda. Itu bukan kebetulan."

"Yenni, pelan-pelan. Namanya memang sama, tapi..."

"Jangan minta aku pelan-pelan." Suaranya pecah, kali ini tanpa malu. "Enam belas tahun aku pelan-pelan. Hari ini aku cuma ingin percaya Tuhan mengembalikan sesuatu yang pernah diambil terlalu cepat."

Di sisi lain Jakarta, Ning baru saja keluar dari Maison Fevre ketika Alphard hitam berhenti di tepi jalan.

Jovi turun lebih dulu dan membukakan pintu belakang.

"Bu Ning, Pak Kevin kebetulan lewat. Beliau bisa mengantar sampai stasiun."

Ning ingin menolak, tapi Kevin sudah duduk di dalam, wajahnya tenang seperti rapat yang belum dimulai.

"Masuk," katanya.

Perjalanan menuju stasiun terasa terlalu rapi. AC mobil dingin. Bau kulit kursi baru bercampur aroma kopi hitam dari cup holder Kevin. Ning duduk menjaga jarak, tangan menggenggam tote bag Maison Fevre di pangkuan.

"Kamu besar di Tangerang?" tanya Kevin tiba-tiba.

Ning menoleh. "Iya."

"Sekolah di mana?"

Pertanyaan itu ringan. Terlalu ringan.

Ning menatap bayangan wajah Kevin di kaca jendela. "Pak Kevin sudah meminta Jovi menyelidiki saya, kan? Kalau saya jawab salah, nanti laporan Jovi yang malu."

Jovi, di kursi depan, batuk kecil.

Sudut bibir Kevin bergerak hampir tak terlihat. "Aku bertanya karena ingin mendengar dari kamu."

"Kalau begitu jawabannya sederhana." Ning merapikan ujung lengan bajunya. "Saya tumbuh di tempat yang tidak penting untuk diingat orang. Yang penting, saya masih hidup sampai hari ini."

Kevin menatapnya lebih lama.

Kalimat itu bukan jawaban, tapi juga bukan kebohongan. Cara Ning menghindar bersih, seperti orang yang sudah terlalu lama belajar melindungi luka.

Sore itu, setelah Ning turun di stasiun, Alphard langsung berbelok menuju bandara. Kevin tidak bicara lagi sampai pesawat mendarat di Surabaya menjelang malam.

Di hotel, Jovi datang membawa map tipis dan tablet.

"Ada tambahan dari tim lapangan, Pak."

Kevin melepas jasnya, lalu mengambil tablet itu. Laporan pertama berisi kehidupan Ning Tju yang sekarang: keluarga angkat bermasalah, pendidikan seni, pekerjaan tidak stabil, catatan rumah sakit karena kelelahan. Semua masuk akal.

Laporan kedua membuat napasnya tertahan.

Orang-orang di sekitar Ning lama berkata perempuan itu dulu penakut, mudah menunduk, tidak pernah berani menatap orang terlalu lama. Cara bicaranya ragu. Setelah keluar dari rumah sakit, semuanya berubah. Ia memutus aliran uang ke keluarga, berani melawan, memilih pekerjaan sendiri, dan punya mata yang seolah pernah hidup dua kali.

Kevin menggulir halaman berikutnya.

Di sana ada nama sopir truk dalam kecelakaan enam belas tahun lalu. Kasus ditutup sebagai kelalaian. Sopir itu tidak pernah benar-benar diadili karena koma panjang, lalu meninggal pada 2007 akibat infeksi luka yang tidak tertangani.

Catatan medisnya terlalu bersih. Terlalu kosong di bagian yang seharusnya menjelaskan perawatan.

"Siapa yang membayar rumah sakitnya?" tanya Kevin.

Jovi menelan ludah. "Belum ditemukan, Pak. Rekening yang dipakai sudah tidak aktif. Tapi pola transfernya bukan dari keluarga sopir."

Kevin membaca sampai baris terakhir.

Jarinya, yang biasanya stabil bahkan saat menandatangani akuisisi bernilai triliunan, bergetar di tepi tablet.

Semua bukti masih mustahil.

Tapi semua jejak menuju satu nama.

Ning.

Kevin berdiri.

"Jovi."

"Ya, Pak?"

"Pesan penerbangan paling awal. Aku pulang ke Jakarta sekarang."

1
Siti Hawa
ceritanya bagus, ku kasih Bintang 5 thoor..
Siti Hawa
lanjut thoor.. mawar untuk mu
Anbu Hasna
sementang aku juga punya pr essay Bahasa, aku disuru tunggu juga. sama kayak Kian... 🤣🤣🤣
neng ade
sukaa banget dengan interaksi keluarga kecil ini .. ❤️
neng ade
akhirnya Ning menemukan kebahagiaan nya bersama anak dan suami nya ❤️
neng ade
😭😭 selamatkan Ning
neng ade
nyesek ..🥹
neng ade
sedikit demi sedikit mulai ada titik terang
neng ade
syukurlah mereka semua nya baik-baik aja
neng ade
semoga Ning bisa selalu dekat dengan Kian dan Kevin ❤️
neng ade
semoga suatu saat nanti Kian bisa menerima kehadiran Ning
Anbu Hasna
hal yang sama yg aku ucapin tiap Mama ketemu bestinya... "setengah bulan lagi kujemput, aku mau tidur". 🤣🤣
dan sekarang kata-kata itu dipakai si Abang kalau antar aku ketemu bestieku... buah jatoh sepohon-pohonnya
Anbu Hasna
Kian mulai ogah punya bapak kulkas
End Shara
sukaa ceritanya,beda dr yg lain...semangat k up yg banyak
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!