NovelToon NovelToon
Gadis Jalanan Terobsesi Pada CEO

Gadis Jalanan Terobsesi Pada CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO
Popularitas:978
Nilai: 5
Nama Author: Fitria Susanti Harahap

Bagi Adrian, Dira hanyalah seorang gadis jalanan yang pernah ia selamatkan. Namun bagi Dira, Adrian adalah alasan ia bertahan hidup, bangkit dari kemiskinan, dan mengubah takdirnya.

Malam itu, ia bertekad mengubah dirinya bukan sebagai gadis jalanan lagi, melainkan wanita yang siap melakukan apa saja demi memiliki pria yang telah menguasai hatinya.

"Sekecil apapun kesempatan itu, akan ku manfaatkan sebaik mungkin!" (Dira)

#CintaRomantis

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

16

"Terima kasih."

"Indonesia membutuhkan lebih banyak pengusaha muda seperti Anda."

Kalimat sederhana itu membuat hati Dira bergetar. Dulu... Ia hanya seorang gadis jalanan yang tidak berani menatap wajah Adrian. Kini... Lelaki yang sama berdiri di hadapannya dan memberikan pengakuan atas kemampuannya.

Meski Adrian belum mengenalinya, bagi Dira malam itu adalah bukti bahwa kerja keras selama bertahun-tahun tidak sia-sia. Perjalanan yang dimulai dari sebuah gubuk berdinding kardus akhirnya membawanya berdiri sejajar dalam satu ruangan dengan pria yang pernah mengubah takdir hidupnya.

Percakapan mereka terus mengalir dengan hangat. Semakin lama berbicara, Adrian semakin tertarik dengan cara berpikir Dira. Ia jarang menemukan pengusaha muda yang berani mengambil keputusan, tetapi tetap berhitung dengan matang.

Melihat suasana yang tepat, Beri pun menyela. "Oh ya, Adrian."

"Hm?"

"Sebenarnya ada satu alasan lagi kenapa aku mengajak Dira datang malam ini."

Adrian menoleh penasaran. "Apa itu?"

Beri tersenyum. "Dira tertarik menjadi investor di proyek hotel Maulana Group."

Adrian mengangkat alis. "Benarkah?"

Dira mengangguk mantap. "Kalau memang ada kesempatan, saya ingin menjadi bagian dari proyek tersebut."

Adrian tidak langsung menjawab. Ia justru menatap Dira beberapa detik, seolah sedang menilai keseriusan perempuan muda di hadapannya. "Lalu..." ujar Adrian, "apa yang membuat Anda tertarik berinvestasi di sektor perhotelan? Bukankah selama ini Anda fokus di industri kecantikan?"

Dira tersenyum tenang. "Saya percaya, seorang pengusaha tidak boleh hanya bergantung pada satu sumber pertumbuhan. Selama saya memahami risikonya dan proyeknya memiliki prospek yang baik, saya tidak menutup diri untuk berinvestasi di sektor lain."

Jawaban itu membuat Adrian tersenyum puas. "Menarik." Ia mengangguk pelan. "Berarti Anda berinvestasi berdasarkan analisis, bukan sekadar mengikuti tren."

"Itu yang selalu diajarkan mentor saya."

Adrian melirik Beri sambil terkekeh. "Masih sama seperti dulu. Kamu memang pandai membimbing orang."

Beri hanya tersenyum kecil.

Kemudian Adrian kembali menghadap Dira. "Kalau begitu..." Ia mengulurkan tangannya. "...aku akan sangat senang memiliki rekan bisnis seperti kamu, Dira."

Dira menyambut uluran tangan itu. Sesaat tangan mereka saling berjabat. Di mata Adrian, jabat tangan itu hanyalah awal dari sebuah kerja sama bisnis. Namun bagi Dira... Jabat tangan itu terasa seperti impian yang selama bertahun-tahun ia kejar akhirnya menjadi kenyataan.

Ia menatap Adrian sambil tersenyum. "Terima kasih atas kepercayaannya."

Adrian membalas senyum itu. "Aku justru yang harus berterima kasih. Pengusaha muda dengan integritas dan kemampuan sepertimu adalah aset yang berharga."

Mendengar pujian itu, Dira hampir tidak mampu menyembunyikan kebahagiaannya. Lelaki yang dulu menjadi alasan ia bangkit kini bukan hanya mengakui keberhasilannya. Tetapi juga menyambutnya sebagai rekan bisnis yang setara.

***

Malam itu, sepulang dari gala dinner, Dira tidak langsung tidur. Ia berdiri di balkon apartemennya, memandangi gemerlap lampu kota yang membentang di hadapan. Angin malam berembus pelan, tetapi tidak mampu menenangkan jantungnya yang sejak tadi masih berdetak begitu cepat. Ia akhirnya bertemu lagi dengan Adrian. Setelah bertahun-tahun. Setelah ribuan hari dipenuhi kerja keras. Setelah begitu banyak air mata, kegagalan, dan perjuangan.

Dira memejamkan mata. Seketika bayangan malam itu kembali muncul. Seorang gadis jalanan berusia enam belas tahun yang diseret menuju rumah bordil. Lalu seorang pemuda turun dari mobil, menyelamatkannya, dan mengubah jalan hidupnya untuk selamanya.

Hari ini... Pemuda itu telah berubah menjadi seorang pria dewasa yang berwibawa. Semakin tampan. Semakin tenang. Semakin memancarkan kharisma seorang pemimpin.

Saat Adrian tersenyum dan mengulurkan tangan tadi, Dira hampir lupa bagaimana caranya bernapas. Ia begitu gugup hingga harus berulang kali mengingatkan dirinya sendiri agar tidak terlihat kikuk. "Tenang, Dira..." batinnya saat itu. "Jangan sampai dia tahu kalau tanganmu gemetar."

Syukurlah, Adrian tidak menyadarinya. Atau mungkin... Memang tidak mengenalinya sama sekali. Pikiran itu membuat Dira tersenyum tipis sekaligus merasa sedikit sedih. Bagi Adrian, pertemuan malam itu hanyalah perkenalan dengan seorang pengusaha muda. Namun bagi Dira Itu adalah pertemuan yang telah ia nantikan selama bertahun-tahun.

Ia masih ingat setiap kalimat yang diucapkan Adrian. "Aku akan sangat senang memiliki rekan bisnis seperti kamu."

Kalimat sederhana itu terus terngiang di kepalanya. Dira menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Lalu terkekeh kecil karena malu pada dirinya sendiri. "Kenapa aku jadi sekikuk ini..."

Ia merasa seperti remaja yang baru merasakan jatuh cinta. Padahal setiap hari ia terbiasa berbicara di depan investor, memimpin rapat, bahkan bernegosiasi dengan para pebisnis besar tanpa rasa gugup. Namun semua ketenangan itu menghilang begitu berhadapan dengan Adrian. Perasaannya bercampur menjadi satu. Bahagia. Gugup. Canggung. Dan... bersyukur.

Setidaknya kini Adrian tahu bahwa ada seorang perempuan bernama Dira. Bukan lagi gadis jalanan yang hidup di balik gubuk kardus. Melainkan seorang pengusaha yang mampu berdiri sejajar dengannya. Malam itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Dira tertidur dengan senyum yang tak pernah lepas dari bibirnya.

***

Siang itu, Dira kembali menginjakkan kaki di kantor pusat Maulana Group. Gedung pencakar langit dengan arsitektur modern itu memancarkan kesan megah sekaligus profesional. Para karyawan berlalu-lalang dengan pakaian formal, sementara suasana lobi dipenuhi para tamu yang datang untuk menghadiri rapat calon pemegang saham.

Dira menarik napas panjang. Meski ini bukan pertama kalinya ia bertemu Adrian, jantungnya tetap berdegup lebih cepat dari biasanya. "Tenang..." batinnya. "Sekarang aku datang sebagai pengusaha, bukan gadis yang dulu."

Ia melangkah menuju ruang rapat. Beberapa calon investor telah duduk di tempat masing-masing sambil berbincang ringan. Tak lama kemudian, pintu terbuka. Adrian masuk bersama jajaran direksi. Semua orang berdiri menyambutnya. Adrian membalas dengan senyum ramah sebelum menyalami para tamu satu per satu.

Ketika tiba di hadapan Dira, senyumnya sedikit melebar. "Selamat siang, Dira."

"Selamat siang, Pak Adrian."

"Terima kasih sudah datang."

"Terima kasih juga sudah mengundang saya."

Adrian mengangguk. "Aku senang kamu bisa meluangkan waktu. Kehadiranmu membuatku semakin optimistis dengan proyek ini."

Ucapan itu membuat Dira berusaha menahan senyum.

Adrian melanjutkan, "Kalau ada hal yang ingin didiskusikan sebelum rapat dimulai, jangan ragu menyampaikannya. Aku ingin semua calon investor mendapatkan informasi yang lengkap sebelum mengambil keputusan."

"Baik, Pak."

Adrian tersenyum tipis. "Lalu... bagaimana perkembangan Dira Skincare?"

Pertanyaan itu membuat Dira sedikit terkejut. "Ternyata Bapak masih mengingat perusahaan saya."

"Tentu."nAdrian tersenyum hangat. "Perusahaan yang tumbuh secepat itu sulit untuk dilupakan."

Dira merasakan kehangatan menjalar di dadanya. Ia tahu Adrian mengucapkannya sebagai bentuk profesionalisme kepada sesama pelaku usaha. Namun tetap saja, ketika ia mendengar lelaki itu mengingat nama perusahaannya sudah cukup membuat hari itu terasa istimewa.

1
Inde Hara
sepertinya Beri suka Dira🤭
Inde Hara
Ceritanya bagus
Fitria
Jangan lupa tinggalkan Like dan komen agar author semangat update. Terimakasih.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!