Usia 50 tahun. Menantu durhaka, anak tak tahu diuntung, dan suami yang membuang Suparti Wijaya di depan umum hanya delapan hari setelah ibu mertuanya meninggal.** Tapi Tuhan memberinya kesempatan kedua — Suparti terlahir kembali, kembali ke hari paling menghinakan dalam hidupnya. Kali ini, ia tidak menangis. Ia tidak memohon. Ia menandatangani surat cerai dengan tangan gemetar penuh dendam, lalu menampar Prof. Handoko Susanto dan simpanannya, Jenny Wongso, di depan seluruh kantor catatan sipil — membongkar rahasia kelam 34 tahun pernikahan yang selama ini ia telan sendirian: uang bulanan receh, penghinaan tanpa henti, dan pengorbanan yang dibalas pengkhianatan.
Diusir tanpa sepeser pun harta, Suparti justru bangkit dari titik paling rendah — memulung sampah, mencuci piring di warung orang, tidur beralaskan kardus. Tapi wanita yang dulu dianggap "sudah tidak berguna" ini justru membangun **Bank Sampah Hidup Baru**, dari gerobak rongsokan kecil menjadi kerajaan bisnis daur ulang yang disegani seantero kota. Setiap orang yang dulu meremehkannya kini harus menunduk memanggilnya Bos.
Dan di tengah kebangkitannya, muncul sosok yang tak pernah ia duga: **Jenderal Alexander Sena Wiranata**, pria berkuasa yang selama ini selalu "kebetulan" ada di dekatnya — melindunginya diam-diam selama tiga puluh empat tahun tanpa pernah mengaku. Semua orang mengira ini keberuntungan. Tapi benarkah semua "kebetulan" itu murni kebetulan? Ataukah ada rahasia yang jauh lebih besar, yang menyangkut nyawa Suparti di kehidupan sebelumnya — rahasia yang baru akan terungkap ketika cinta mereka sudah tak bisa lagi dipisahkan? Balas dendam sudah dimulai. Kerajaan sudah dibangun. Tapi cinta sang jenderal... baru saja akan berbicara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Stellune, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 16
Suparti sadar oleh bau antiseptik dan suara roda troli di koridor rumah sakit.
Langit-langit putih berada terlalu dekat. Di lengan kirinya ada selang infus. Sisi tubuhnya terasa seperti dijahit bersama napas. Ketika ia mencoba bergerak, rasa perih langsung naik sampai ke tenggorokan.
"Jangan bergerak dulu, Bu."
Cynthia duduk di kursi samping ranjang, rambutnya berantakan untuk pertama kalinya sejak Suparti mengenalnya. Di meja kecil ada map, botol air mineral, dan ponsel Suparti yang layarnya retak sedikit.
"Kevin?"
"Ditahan." Cynthia mencondongkan tubuh. "Ratih dan Aditya memberi kesaksian. Rekaman ponsel Ibu jelas. Polisi mencatat tindakan Ibu sebagai pembelaan diri. Untuk sementara, Ibu aman dari tuduhan balik."
Suparti memejamkan mata. Kata aman terasa rapuh, tetapi tetap lebih baik daripada tidak ada sama sekali.
"Kotak merah?"
Cynthia menunjuk laci rumah sakit. "Aman. Belum dibuka."
Baru setelah itu Suparti bisa bernapas lebih panjang.
Pintu kamar diketuk keras sebelum perawat sempat menjawab. Cindy masuk dengan wajah pucat, menggandeng Timmy. Anak laki-laki itu memakai kaus mahal dan sandal karakter kartun. Matanya merah, tetapi bukan hanya karena menangis. Ada marah yang belum ia mengerti.
"Bu Suparti," kata Cindy. Suaranya rapi, tetapi tepinya pecah. "Saya tidak akan membela Kevin soal Priska. Tapi dia ayah Timmy. Kalau kasus ini diperpanjang, masa depan anak saya hancur."
Cynthia berdiri. "Bu Cindy, klien saya baru sadar."
Cindy mengeluarkan map tipis. "Saya cuma minta tanda tangan surat damai. Kevin khilaf. Dia panik karena keluarganya diserang."
Suparti menatap map itu, lalu menatap Timmy. Anak itu menghindari matanya.
"Timmy," panggilnya pelan.
Timmy menyentak tangan Cindy. "Oma jahat! Papa masuk penjara gara-gara Oma!"
Cindy menegang. "Timmy, jangan..."
Anak itu menendang kaki ranjang. Infus Suparti bergoyang. Perawat yang baru masuk hampir menjatuhkan nampan.
"Aku mau Papa pulang! Oma tanda tangan!" Timmy berteriak, lalu memukul lengan ibunya sendiri saat Cindy mencoba menahannya. "Mama juga jahat!"
Suparti melihat anak itu seperti melihat Kevin kecil yang dulu dibiarkan memaki pembantu, melempar piring, dan tetap diberi hadiah karena "anak laki-laki harus kuat". Pola buruk tidak lahir dalam sehari. Ia diwariskan lewat pembiaran.
"Cukup," kata Suparti.
Suaranya tidak keras, tetapi Timmy berhenti karena ruangan mendadak diam.
"Timmy, kalau kau marah, kau boleh bilang marah. Tapi kau tidak boleh memukul orang."
"Oma bukan mamaku!"
"Benar. Aku omamu. Justru karena itu aku tidak akan berbohong padamu. Papa-mu salah. Kalau orang salah melukai orang lain, dia harus bertanggung jawab."
Timmy menangis marah. "Papa bilang Oma mau ambil semua uang!"
"Uang tidak bisa menjahit luka di tubuhku."
Cindy menggigit bibir. Untuk pertama kalinya, ia menatap perban di tubuh Suparti, bukan hanya map damai di tangannya.
"Saya ditinggalkan di hotel waktu kecil oleh ibu saya sendiri," kata Cindy lirih, lalu segera menutup mulut seolah keceplosan. "Saya tidak mau Timmy kehilangan ayah."
"Kalau ayahnya pulang tanpa belajar akibat, Timmy akan kehilangan lebih banyak."
Cynthia mengambil map dari tangan Cindy. Ia membukanya sebentar, lalu menutup lagi. "Surat ini tidak layak dibahas. Ada unsur tekanan terhadap korban."
Pintu kembali ramai. Seorang perempuan paruh baya masuk dengan kerudung bunga dan wajah sembap, diikuti dua orang yang membawa kamera kecil. "Saya Yulianti, ibu Herman. Anak saya cuma disuruh. Bu Suparti, kalau Ibu punya hati, tanda tangan damai juga untuk Herman."
Cynthia langsung berdiri di depan ranjang. "Matikan kamera."
"Publik harus tahu!" Yulianti menangis. "Anak saya tulang punggung keluarga."
Suparti menahan sakit dan menatap perempuan itu. "Anak Ibu dibayar untuk melukai saya?"
Yulianti terdiam.
"Kalau saya mati malam itu, apakah Ibu akan datang membawa kamera untuk meminta maaf kepada jenazah saya?"
Kamera perlahan turun.
Yulianti menggoyangkan bibir, tetapi tidak ada kalimat yang cukup kuat untuk menjawab.
Saat ruangan akhirnya kembali sepi, ponsel Cynthia bergetar. Ia membaca pesan, lalu wajahnya menegang.
"Penyelidik menemukan identitas Herman yang lain," katanya.
Suparti membuka mata.
Cindy menunduk. Jemarinya yang terawat rapi meremas tali tas. Selama ini ia datang ke rumah Susanto sebagai menantu yang percaya dirinya paling rasional. Gelar luar negeri, pekerjaan kantor, bahasa Inggris yang lancar, semua membuatnya merasa lebih tinggi daripada ibu mertua yang tidak tamat sekolah. Tetapi di kamar rumah sakit itu, ia berdiri membawa surat damai untuk laki-laki yang baru saja melukai ibunya sendiri.
"Saya malu," katanya pelan.
Suparti tidak menjawab dengan pelukan. Tubuhnya terlalu sakit, hatinya terlalu lelah untuk memainkan adegan suci. Tetapi ia juga tidak menendang Cindy keluar.
"Rasa malu yang benar bisa menyelamatkan orang," katanya. "Rasa malu yang salah membuat orang menutup kejahatan."
Cindy menutup map itu sendiri. "Saya akan bicara dengan pengacara saya."
"Bicaralah juga dengan anakmu."
Timmy yang masih sesenggukan menoleh. Suparti menunjuk kursi kecil di sudut. "Duduk. Kalau marah, duduk dulu. Jangan pukul."
Anak itu ragu, lalu duduk dengan bibir maju. Kakinya menendang udara, tetapi kali ini tidak mengenai siapa pun. Perawat yang tadi hampir panik memberi Suparti pandangan lega.
"Bagus," kata Suparti. "Itu namanya menahan tangan."
Timmy mengerutkan hidung, seolah pujian kecil itu asing baginya. Suparti tahu satu kalimat tidak akan mengubah anak yang dibentuk tujuh tahun oleh pembiaran, tetapi setiap rantai putus dari satu mata kecil lebih dulu.
Cindy memperhatikan cara Timmy duduk. Mungkin baru kali ini ia sadar anaknya tidak hanya nakal, melainkan sedang meniru rumah yang memberinya izin untuk menyakiti. Ia menyeka wajah, lalu memindahkan kursinya lebih dekat ke Timmy.
"Kalau kamu marah lagi, bilang ke Mama," katanya pelan. "Jangan pakai tangan."
Timmy menunduk. "Kalau Papa pulang?"
Cindy kehilangan kata.
Suparti menjawab untuknya. "Kalau Papa pulang suatu hari nanti, aturan itu tetap sama."
Anak itu tidak puas, tetapi ia tidak menendang lagi. Untuk hari itu, itu sudah cukup.
Cindy menatap Timmy yang akhirnya diam, seolah baru menyadari bahwa memanjakan anak tanpa batas bukanlah kasih sayang, melainkan jalan pelan menuju Kevin kedua. Ia tidak lagi menyodorkan map itu. Ia memasukkannya kembali ke tas.
"Saya akan pulang dulu," katanya. "Bukan untuk lari. Untuk mencari pengacara sendiri."
"Itu lebih baik," kata Cynthia.
Suparti memejamkan mata sebentar. Di kamar itu akhirnya tidak ada kamera, tidak ada paksaan tanda tangan, tidak ada kerabat yang menangis sambil menekan korban. Hanya bunyi mesin pelan dan luka yang masih berdenyut. Ia tahu ini bukan akhir, hanya satu pintu yang berhasil ditutup.
"Dia bukan cuma orang suruhan. Dia juga terkait kontrak kantin SD Lab Cendana."