NovelToon NovelToon
Pendekar Pedang Langitan

Pendekar Pedang Langitan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Epik Petualangan / Penyelamat
Popularitas:184
Nilai: 5
Nama Author: Heryando Palar Vinkoert

Kisah Pendekar Pedang Langitan, merupakan petualangan Bagaga di Jawa Dwipa bersama Ngo Cian, gadis cantik yang mungil dari negeri Champa.
Bagaga di Jawa Dwipa lebih dikenal dengan Pendekar Pedang Langitan, karena itulah senjata yang selalu dia gunakan.
Bagaga dan Ngo Cian terlibat dalam upaya menyelamatkan kelahiran bayi suci yang membawa takdir langit atas tanah Jawa Dwipa dan Nusantara.
Semua berawal dari Bagaga mengalami peristiwa barasihan dan menerima wangsit dari Maharesi Pawitra alias Maharesi Semeru Anakan.
Banjir darah melanda Jawa Dwipa bagian timur karena perbedaan cara pandang para Maharesi dan juga para Penguasa.
Mari nikmati kisah Pendekar Pedang Langitan Bagaga dan Dewi Pengendali Api Ngo Cian menjelang kelahiran Ken Arok, bayi suci yang akan membawa takdir langit atas tanah Jawa Dwipa.

Seperti biasa. Pendekar Pedang Langitan adalah sekelumit kisah fiksi dengan latar belakang sejarah.

Terimakasih

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heryando Palar Vinkoert, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8. Memulai Langkah Menemui Takdir

Bagaga segera menyelesaikan makannya. Gabus goreng sambal pecak terasa pas di lidahnya. Setelah meneguk habis airnya. Bagaga memanggil pelayan untuk membayar makanannya.

"Aku sudah selesai Neng. Berapa semua ?"

"Dia keping perak Tuan."

Bagaga menyerahkan lima kepeng perak.

"Hah... Ini terlalu banyak Tuan."

Bagaga mengangguk dan tersenyum ramah. Dia berkata dengan ramah.

"Tidak apa-apa, sisanya untuk Neng saja.

Oh iya, kalau boleh tolong beri tahu aku dimana adanya Balai Rembuk."

Gadis pelayan itu tertegun sejenak. Dia lalu berucap dengan ramah.

"Ah Tuan pasti orang baru yang baru datang dengan kapal tadi.

Balai Rembuk adalah tempat bertemunya para petinggi kadipaten Sunda Kelapa. Itu berjarak setengah hari dari sini ke arah selatan. Tepatnya dekat daerah Penjaringan."

"Terimakasih Neng" Bagaga segera meninggalkan warung makan gabus.

Sambil melihat lihat situasi dan pemandangan. Bagaga berjalan agak santai menuju arah penjaringan. Tujuannya adalah Balai Rembuk. Namun yang pasti isi kepala disesaki oleh banyak pertanyaan. Namun pertanyaan yang paling besar adalah siapa yang telah mengirim undangan. Perempuan lagi....

Bagaga mulai meninggalkan jalan besar. Jalan itu mengarah menyusuri kawasan rawa yang bersentuhan dengan lautan. Inikah rawa Kamal...?

Bagaga menerka nerka dalam hatinya. Kawasan itu terasa sangat sepi dan cenderung horor. Serasa ada hawa gelap kejahatan yang meliputi kawasan tersebut.

Apakah petunjuk yang diberikan pedagang kerak telor tadi salah ?  Bagaga merasa sedikit bimbang. Takut ???  Jelas tidak. Tidak ada yang ditakuti oleh Bagaga. Bahkan hantu pun mestinya takut kepada Bagaga.

Setelah berjalan cukup jauh. Tibalah Bagaga dekat kawasan rawa gambut. Aroma disekitar situ terasa kurang enak. Ada aroma lumpur dan asin yang cukup tajam. Begitu berada di tengah jalan gambut. Belasan orang muncul dari balik hutan bakau.

Mereka keluar dengan menghunus senjata dan menutupi jalan yang hendak dilewati Bagaga.

Bagaga menghembuskan nafas sedikit keras dan bertanya.

"Maaf kisanak semua. Siapa kalian dan kenapa menghali jalan ku ?"

Seorang pria berotot dengan baju kuntung tanpa kancing maju satu langkah dan bertanya tanpa menjawab.

"Aku pikir kamu adalah Pandeka Pedang Suling Kumala. Tapi aku tidak melihat pedang pada dirimu. Siapa engkau ??!"

Bagaga mengerutkan keningnya. Dia sangat kaget, ketika sudah ada orang yang menargetkan dirinya.

Pandeka Pedang Suling Kumala masih terlihat sangat tenang. Dia mengeluarkan sebuah Suling perak dari balik bajunya. Sebetulnya Suling itu dikeluarkan dari cincin semesta.

"Aku hanya membawa Suling perak ini. Siapakah Pandeka Pedang Suling Kumala ?  Aku tuan muda Bagaga Alam. Aku tidak tahu siapa kalian. Minggir lah. Kalian semua menghalangi jalan ku."

Pria kekar yang mengenakan baju kuntung tanpa kancing itu terdiam sejenak. Tapi kemudian sebuah senyum lebar terpampang di wajahnya yang keras.

"He hee heee... Siapa...?  Bagaga...?  Ah tidak apa-apa. Biarlah engkau menjadi mangsa, sekalian untuk pemanasan bagi anak anak."

"Oh begitu...  Lalu siapakah adanya kalian ?"

"Baiklah, agar kau tidak mati penasaran. Tidak ada salahnya kau tahu siapa kami.

Kami adalah kelompok Begal Item  yang jadi penguasa rawa Kamal ini. Sekarang Bersi..."

"Tunggu...!!" Bagaga memotong ucapan pria kekar itu.

"Kenapa... Eh siapa yang meminta kalian untuk membunuh Pandeka Pedang Suling Kumala ?"

"Bukan urusan mu. Bunuuuh...!!"

Pria yang menjadi pemimpin kelompok Begal Item itu telah memberi perintah.

Belasan orang yang telah siap dengan senjata terhunus segera menyerang Bagaga. Tentu saja mereka semua bukanlah lawan bagi Bagaga.

Traaaaaaang...  Traaaaaaang...

Dentang benturan senjata terdengar berulang kali ketika Bagaga menangkis semua serangan yang datang dengan Suling perak nya.

Melihat Bagaga berhasil lolos. Pria kekar berbaju kuntung tanpa kancing itu berkata.

"He heeh lumayan juge kau. Ade juge sedikit ilmu kau rupanya..."

Pria kekar yang menjadi pemimpin kelompok Begal Item berkata dan mengangguk. Seringai aneh muncul di wajah kerasnya.

"Bagaimana kalau kau bergabung dengan kelompok Begal Item. Aku akan menjadikan kamu sebagai wakil ku. Kau akan memiliki semua yang kau inginkan."

Bagaga alias Pandeka Pedang Suling Kumala tersenyum miring. Dengan nada lugu dia berkata.

"Yang aku inginkan adalah kepala mu. Apakah itu juga bisa ?"

Wajah pria kekar itu menjadi merah padam. Tubuhnya bergetar saking kesalnya.

"Bangsat sial...!!  Dikasih nikmat memilih yang sebaliknya. Matilah kau...!!" Pria kekar itu langsung menyerang Bagaga. Semua anggota Begal Item juga langsung bergerak.

Pandeka Pedang Suling Kumala tidak lagi menahan diri. Dia bergerak dengan jurus dua belas langkah ajaib dan mulai membalas.

Seorang anggota Begal Item menebas pinggang Bagaga dengan golok nya.

Bagaga menarik tubuh bagian tengah sehingga melengkung. Suling perak menusuk kearah jantung lawan.

Whuuuuzzt...!  Tuk. Aaakkhhh...!!

Tebasan golok lewat setengah inci dari perut Bagaga. Namun ujung Suling dengan telak menusuk dada. Energi mendalam mengalir lewat batang Suling dan meledakkan jantung. Pria itu menjerit dan terhempas, mati.

Melihat satu rekan mereka tewas. Anggota Begal Item menjadi sangat marah. Mereka menyerang lebih ganas.

"Aku Bunto membunuh mu...!!!" Pria kekar yang jadi pemimpin Begal Item ternyata bernama Bunto. Dia menyerang Bagaga Alam dengan ganas. Golok besarnya menderu menuju pangkal leher Bagaga. Cepat, sangat cepat.

Sayangnya yang diserangnya adalah Pandeka Pedang Suling Kumala. Bahkan para pendekar utama dataran Tionggoan hormat dan tunduk padanya.

Bagaga Alam juga tidak punya banyak waktu lagi. Masih menggunakan jurus dua belas langkah ajaib .  Tubuh Bagaga Alam meliuk dan setengah berputar. Suling perak berkelebat.

Kraataaaakkk...!

Terdengar suara nyaring tulang tulang patah. Tubuh besar dan kekar Bunto terpelanting dan terhempas.

Leher pemimpin Begal Item itu remuk. Dia langsung tewas sebelum terhempas seperti karung beras.

Semua anggota Begal Item tertegun. Tanpa bisa dicegah, mereka mundur satu sampai dua langkah. Bagaimana mungkin Bunto yang tidak terkalahkan, tewas hanya dalam satu gerakan menghindar.

Wajah mereka pucat terlihat penuh keraguan. Tiba-tiba mereka semua berbalik dan lari serabutan.

Bagaga tersenyum sambil geleng-geleng kepala. Dia kemudian melesat dengan sangat cepat. Hilang dari pandangan.

Sore telah jatuh mendekati senja ketika Bagaga Alam berhenti di depan sebuah bangunan besar. Ada tulisan Balai Rembuk di depan bangunan besar itu.

Beberapa saat kemudian terlihat seorang pria tengah baya muncul dan mendekati Bagaga Alam.

"Selamat datang tuan Pandeka. Silahkan ikuti saya." Pria itu langsung menyapa Bagaga Alam.

Bagaga Alam menatap pria tengah baya itu sejenak. Dia mengangguk kecil dan mulai mengikuti pria tengah baya itu.

Ternyata mereka tidak menuju bangunan besar itu. Pria tengah baya berjalan menyusuri jalan tapakan berbatu di samping bangunan Balai Rembuk.

Mereka terus menyusuri jalanan kecil berbatu, sampai di taman belakang Balai Rembuk. Setelah melewati taman, Bagaga melihat hamparan kebun. Mereka melewati tapakan di sela-sela tanaman.

Tidak ada pembicaraan. Pria tengah baya itu berjalan dengan cepat dalam diam. Bagaga juga diam saja dan terus mengikuti pria tengah baya itu.

Dibalik kebun ada hamparan hutan bambu. Pria tengah baya itu terus berjalan memasuki hutan bambu. Setelah berjalan hampir lima ratus langkah. Terlihat sebuah bangunan kayu ditengah hamparan rumput hijau. Rumput itu dibelah oleh jalan tanah berlapis batuan belah.

Pria tengah baya itu melangkah menuju bangunan kayu itu. Suara gesekan daun bambu terdengar saat angin berhembus.

Senja telah datang ketika mereka sampai di depan rumah kayu. "Silahkan masuk tuan Pandeka. Kanjeng Agung sudah menunggu tuan Pandeka di dalam." Ucap pria tengah baya sambil mendorong pintu.

\=\=\=\=\=***\=©

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!