NovelToon NovelToon
Wanita Suci Dunia Binatang Yang Terlupakan

Wanita Suci Dunia Binatang Yang Terlupakan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Penyelamat
Popularitas:800
Nilai: 5
Nama Author: Roditya

Saat ajalnya tiba di tengah kobaran api dan puing Suku Serigala, Yana diberi kesempatan kedua oleh Dewa Binatang.

Ia terbangun di usianya yang ke-16—tepat dua bulan sebelum tragedi berdarah itu merenggut nyawa ayahnya dan meratakan tanah kelahirannya.

Namun, ancaman terbesar bukanlah monster, melainkan seorang gadis dari dunia lain yang mengaku sebagai "Wanita Suci". Berkedok kemajuan modern, ide-idenya justru merusak keseimbangan alam dan memicu perang antarsuku.

Siapakah sebenarnya sang Wanita Suci pilihan Dewa Binatang yang sesungguhnya? Mampukah Yana menyembunyikan identitasnya demi menyelamatkan sukunya tepat waktu?

Ikuti perjuangan Yana menembus batas takdir dan selamatkan dunia binatang sebelum semuanya terlambat! Baca selengkapnya sekarang di sini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Roditya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14 — Di Sarang Suku Elang

Dinding-dinding batu karang yang menjulang tinggi menyambut rombongan Suku Serigala saat mereka memasuki wilayah pemukiman Suku Elang.

Tempat itu berada di dalam celah pegunungan yang sangat dingin dan berangin kencang.

Berbeda dengan Suku Serigala yang tinggal di gua-gua tanah yang hangat, Suku Elang membangun kediaman mereka dari tumpukan batu dan kayu cemara di tebing-tebing terjal.

Di sepanjang jalan, mata para warga Suku Elang menatap rombongan Aron dengan tatapan penuh kebencian dan kecurigaan.

Di antara deretan rumah batu, terdengar suara batuk-batuk berat yang menyakitkan dari balik tirai kulit. Suara batuk itu kaku dan kering—ciri khas dari racun dingin yang menggerogoti paru-paru mereka.

"Lihat mata orang-orang ini, Paman Bimo," bisik Luka dengan suara gemetar, tangannya memegang erat gagang pisau di pinggangnya. "Mereka seperti ingin menguliti kita hidup-hidup."

"Tutup mulutmu dan jangan melakukan gerakan mencurigakan, Luka," tegur Paman Bimo dengan nada rendah namun tajam. "Jika kamu memancing emosi mereka lagi seperti di celah tebing tadi, kita tidak akan keluar dari sini dengan selamat."

"Aku hanya bersiap!" ucap Luka sambil melirik Yana yang berjalan di depan bersama Aron. "Lihat Yana! Dia bahkan melangkah seolah-olah tempat ini adalah gua tempat tinggalnya sendiri! Dia terlalu percaya diri!"

Yana menghentikan langkahnya sejenak, membalikkan kepala sedikit, lalu menatap Luka dengan mata dingin.

"Rasa takutmu tidak akan membuat orang-orang ini ramah padamu, Luka," ucap Yana lugas. "Kalau kamu terus gemetar seperti itu, mereka akan menganggapmu sebagai mangsa yang lemah."

"Yana!" panggil Aron memperingatkan. "Sudah, jangan saling menyalahkan di tanah musuh."

Panglima Vargas memimpin mereka menuju ke sebuah bangunan batu berukuran paling besar di puncak tebing.

Di dalam balai tersebut, udara terasa sangat pengap.

Ada juga bau asap kayu bakar bercampur dengan bau amis darah dan ramuan obat yang membusuk.

Di atas kursi kayu berlapis kulit elang raksasa, duduk seorang pria paruh baya bertubuh kurus kering. Wajahnya sangat pucat, dan bibirnya berwarna kebiruan. Ia adalah Tetua Kael, pemimpin tertinggi Suku Elang.

"Vargas..." suara Tetua Kael terdengar sangat serak dan lemah. "Siapa... siapa orang-orang asing yang kamu bawa ke sarang kita ini?"

Vargas berlutut satu kaki di hadapan pemimpinnya. "Tetua Kael, ini adalah Kepala Suku Serigala, Aron, bersama rombongannya. Mereka datang membawa obat yang mereka klaim bisa menyembuhkan racun dingin yang menyerang suku kita."

Tetua Kael mendongakkan kepalanya secara perlahan.

Matanya yang kabur menatap Aron dengan tatapan tidak percaya, lalu beralih menatap Yana dan para prajurit di belakangnya.

"Suku Serigala?" ucap ketua Kael, heran, batuk berat kembali menyerangnya hingga dadanya naik-turun hebat. "Uhuk! Uhuk! Aron... sejak kapan Suku Serigala memiliki penawar untuk racun dingin pegunungan? Jangan-jangan... kalian datang ke sini untuk meracuni kami agar bisa menguasai wilayah berburu kami?!"

Beberapa pengawal Suku Elang di dalam balai langsung mencabut belati besi mereka.

Suasana di dalam ruangan batu itu mendadak menjadi sangat tegang.

Luka semakin panik, ia melangkah mundur setengah langkah di belakang Paman Bimo. "Lihat! Mereka tidak percaya! Sudah kukatakan perjalanan ini sangat gila!"

Aron melangkah maju satu langkah, mengangkat kedua tangannya terbuka untuk menunjukkan bahwa ia tidak memegang senjata.

"Tetua Kael!" seru Aron dengan suara lantang yang dipenuhi wibawa. "Suku Serigala tidak pernah menggunakan cara kotor seperti itu! Kita memang pernah berselisih paham tentang batas sungai, tetapi kami datang ke sini dengan niat murni untuk menjalin aliansi dan menyelamatkan nyawa orang-orangmu!"

"Bicara memang mudah, Aron!" potong salah satu tetua Suku Elang yang berdiri di samping kursi Kael. "Bagaimana kami bisa yakin obat yang kalian bawa bukan racun pemutus napas?!"

"Biarkan aku yang membuktikannya!"

Suara lantang Yana memecah keraguan di dalam balai tersebut. Gadis itu melangkah maju melewati ayahnya, berdiri tepat di tengah-tengah ruangan tanpa rasa ragu sedikit pun.

Tetua Kael menatap Yana dengan alis berkerut. "Anak perempuan? Aron, apakah kamu begitu putus asa sampai membiarkan anak kecil ini berbicara di hadapan para pemimpin?"

"Aku bukan anak kecil yang membawa omong kosong, Tetua Kael," balas Yana tegas, matanya menghujam lurus ke arah sang pemimpin Suku Elang. "Aku adalah orang yang meracik obat ini. Jika kalian ragu, pilih salah satu prajuritmu yang paling parah terjangkit racun dingin malam ini. Aku akan meminumkan obat ini padanya di hadapan kalian semua."

"Dan jika prajuritku mati?" gertak Vargas dari samping.

"Maka potong leherku di tempat ini juga!" jawab Yana tanpa mengedipkan mata.

"Yana! Jangan bertindak nekat!" teriak Luka kaget dengan mata membelalak lebar. "Kamu gila?! Kamu menaruh nyawamu sendiri sebagai jaminan di tempat musuh?!"

Yana menoleh melirik Luka dengan senyum sinis. "Kemampuan obat ini nyata, Luka. Hanya orang yang tidak memiliki keyakinan pada kemampuannya sendiri yang akan ketakutan seperti dirimu."

"Kamu—" Luka kehabisan kata-kata, wajahnya merah padam antara amarah dan rasa malu yang mendalam.

Aron mengepalkan tangannya rapat-rapat. Meski hatinya sangat cemas, tapi melihat keberanian putrinya yang sangat nekat, ia tahu ia harus mempercayai Yana sepenuhnya. Aron menatap Tetua Kael. "Keputusannya adalah keputusan Suku Serigala, Kael. Jika putriku gagal, kami siap menerima hukumanmu."

Tetua Kael memandangi Yana dan Aron bergantian.

Keheningan yang menekan menyelimuti balai utama selama beberapa saat, sebelum akhirnya Tetua Kael menganggukkan kepalanya pelan.

"Sangat berani..." gumam Tetua Kael. "Vargas! Bawa putra bungsumu ke sini!"

Vargas tersentak. "Tetua Kael? Putraku... kondisi Ezra sudah sangat kritis!"

"Justru karena dia sudah kritis!" tegas Tetua Kael. "Jika obat ini bisa menyembuhkan Ezra yang sudah di ambang kematian, maka Suku Elang akan menerima aliansi Suku Serigala!"

Vargas menggigit bibirnya rapat-rapat, lalu berbalik dan berlari keluar ruangan. Sepuluh menit kemudian, Vargas kembali sambil menggendong seorang pemuda berusia belasan tahun yang tubuhnya sudah sangat kurus dan membiru.

Pemuda bernama Ezra itu bernapas sangat pelan dan terbata-bata, lidahnya memutih akibat racun dingin yang sudah merusak paru-parunya.

"Dia tidak akan bertahan melewati malam ini..." bisik Paman Bimo prihatin saat melihat kondisi pemuda itu.

"Dia... dia sudah hampir mati!" seru Luka panik. "Yana, kamu tidak bisa menyembuhkan orang yang sudah hampir mati! Kamu akan membunuh kita semua!"

Yana mengabaikan kepanikan Luka.

Ia berlutut di samping pemuda yang terbaring kaku di lantai batu tersebut. Yana membuka kantong kulitnya, mengeluarkan bubuk Akar Api berwarna merah membara yang sudah ditumbuk halus.

Ia mencampurnya dengan air hangat dari kendi kayu yang dibawanya.

"Pegang kepalanya, Vargas," perintah Yana.

Vargas menuruti perintah Yana dengan tangan gemetar.

Yana perlahan-lahan meminumkan ramuan Akar Api itu ke dalam mulut Ezra.

Satu menit berlalu... tidak ada reaksi.

Dua menit berlalu... tubuh pemuda itu mendadak berguncang hebat!

Ezra mulai kejang-kejang,

dan napasnya ...

menjadi sangat tersengal seolah-olah dadanya terbakar dari dalam.

"Ezra!" jerit Vargas panik. Ia langsung mencabut belatinya dan menempelkan mata pisau besi itu tepat di leher Yana! "Apa yang kamu lakukan pada putraku, Gadis Pengacau?! Dia semakin sekarat!"

Para pengawal Suku Elang langsung mengelilingi Aron dan rombongannya dengan senjata terangkat!

"Tahan!" teriak Aron sambil mencabut kapaknya untuk melindungi Yana. "Beri obat itu waktu!"

"Aku sudah bilang!" jerit Luka dengan suara melengking ketakutan. "Obatnya tidak bekerja! Yana telah mencelakakan kita semua!"

Di bawah ancaman belati tajam yang menempel di lehernya, Yana sama sekali tidak bergeming. Ia tidak mengedipkan matanya sedikit pun, tetap menatap wajah pemuda di depannya.

"Lihat dadanya, Vargas," bisik Yana sangat tenang.

Vargas menunduk kaget.

Warna kebiruan di leher dan wajah putranya perlahan-lahan surut, berganti menjadi rona merah.

Kejang pada tubuh Ezra berhenti, dan pemuda itu memuntahkan gumpalan darah hitam beracun ke atas lantai batu!

Uhuk! Uhuk!

Ezra menarik napas panjang dan dalam—napas paling lega yang pernah ia rasakan dalam dua pekan terakhir.

Matanya yang tadinya layu, kini terbuka pelan.

"A-Ayah...?" panggil Ezra dengan suara yang sudah tidak lagi serak. "Dada... dadaku tidak sakit lagi..."

Belati di tangan Vargas terlepas dan jatuh berdenting ke lantai batu.

Pria tegap dan kejam itu berlutut di tanah, memeluk putranya dengan air mata menetes di pipinya.

"Ezra... kamu selamat... D-Dewa Binatang..." gumam Vargas tidak percaya.

Seluruh ruangan batu itu menjadi sunyi senyap.

Tetua Kael membelalakkan matanya, lalu perlahan berdiri dari kursi kebesarannya dan menatap Yana dengan rasa takjub yang mendalam.

Luka mematung di tempatnya.

Mulutnya menganga lebar, menatap pemuda yang baru saja sembuh itu dan Yana secara bergantian.

Rasa malu, tidak percaya, dan kekalahan yang telak menghantam jiwanya seketika.

Yana berdiri perlahan, mengusap lehernya yang sempat terkena mata belati, lalu menatap Tetua Kael.

"Obat ini adalah bukti niat baik Suku Serigala," kata Yana dengan suara yang bergema di seluruh balai. "Sekarang, Tetua Kael... apakah kalian siap bicara tentang aliansi dan persatuan antarsuku?"

Tetua Kael membungkukkan tubuh tuanya secara mendalam di hadapan Yana dan Aron.

"Suku Elang... menerima aliansimu, Kepala Suku Aron," ucap Tetua Kael penuh hormat. "Gadis ini... telah menyelamatkan masa depan suku kami hari ini."

Yana membalikkan badan, menatap Luka yang berdiri gemetar di belakangnya.

"Luka," panggil Yana pelan namun penuh keunggulan. "Apakah kamu masih berpikir firasat dan rencanaku ini hanyalah omong kosong?"

Luka menundukkan kepalanya dalam-dalam, tidak berani lagi menatap mata Yana yang penuh kemenangan.

***

Bersambung .....

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!