Setelah sang ayah—ketua mafia legendaris—tewas misterius, Livana ikut terlempar ke dunia novel dan menjadi Bellamy, si antagonis manja yang ditakdirkan mati tragis.
Kejutan besar menantinya! Jiwa sang Papa ternyata ikut bertransmigrasi menjadi ayah Bellamy. Namun, sang Papa terikat Sistem Novel yang akan mengurangi umurnya jika ia berani mengubah alur cerita.
Untungnya, jiwa barbar Livana adalah sebuah glitch yang kebal dari hukuman Sistem!
Menggunakan celah ini, duet maut ayah-anak mafia ini kompak bekerja sama mengacak-acak plot, menendang parasit manipulatif, dan memikat Dallas—si penguasa bayangan yang dingin.
Dua jiwa mafia vs satu Sistem Novel. Siapa yang akan menang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11: Makan Malam dan Proposal yang Agresif
Dallas Enrique masih terpaku di kursinya, mencoba mencerna tatapan mata Bellamy yang begitu mengunci. Pria yang biasanya irit bicara itu hanya mampu mengetatkan rahangnya saat aroma parfum mawar hitam milik Bellamy terus mengusik ketenangannya.
"Kau belum menjawabku, Dallas," bisik Bellamy lagi, nadanya lambat namun sarat akan tuntutan. "Apakah menemaniku ke pesta gala adalah hal yang sangat sulit bagi seorang penguasa bayangan sepertimu?"
"Aku tidak terbiasa menjadi pajangan di pesta peragaan busana, Nona Guinevere," sahut Dallas dingin, mencoba memulihkan wibawanya yang sempat goyah.
"Pajangan?" Bellamy terkekeh rendah, matanya berkilat jenaka. "Siapa yang berani menjadikanmu pajangan? Aku mengajakmu sebagai pasanganku, artinya kau adalah satu-satunya pria yang berhak berdiri di sampingku. Lagipula, warna hitam jasmu ini sangat serasi dengan gaunku, bukan?"
Dallas membuang muka, berpura-pura kembali fokus pada palu pelelang di atas panggung. Namun, di bawah meja, jemarinya meremas kain celananya sendiri. Sifat blak-blakan Bellamy yang sekarang benar-benar membuatnya salah tingkah. Wanita ini tidak lagi merengek, melainkan menyerang lurus ke pertahanan terdalamnya tanpa ampun.
Di sisi lain aula, sepasang mata elang menatap interaksi intim itu dengan kilat amarah yang membara. Javier Enrique baru saja tiba di area pelelangan dengan sisa rasa lelah dan pening di kepalanya. Namun, pemandangan di depannya instan membuat darahnya mendidih.
"Bellamy... dengan Dallas?" desis Javier, mencengkeram pembatas kursi barisan belakang hingga urat-urat tangannya menonjol.
Sepanjang jalan menuju ke sini, Javier mengira Bellamy akan mengurung diri di kamar atau menangis histeris setelah mendengar kabar skandalnya dengan Lucianna pagi tadi. Namun kenyataan di depannya justru menampar wajahnya dengan keras. Bellamy tidak menangis. Gadis itu bahkan tidak menoleh ke arahnya sama sekali saat ia masuk. Bellamy justru sedang menempel agresif pada kakak tirinya yang paling ia benci.
"Selanjutnya, wilayah komersial distrik barat! Dibuka dengan harga awal lima puluh miliar rupiah!" suara lantang sang pelelang menggema, memecah ketegangan di udara.
Beberapa pengusaha mulai mengangkat papan mereka, menaikkan harga dengan agresif. Javier yang ingin menarik perhatian Bellamy langsung mengangkat papannya dengan angkuh. "Tujuh puluh miliar!"
Javier melirik ke arah Bellamy, menanti reaksi terkejut atau tatapan memuja yang biasa gadis itu berikan setiap kali ia memamerkan kekayaannya. Namun, Bellamy tetap tenang. Gadis itu bahkan tidak berkedip. Dengan gerakan yang sangat luwes, Bellamy mengangkat papan nomor milik keluarga Guinevere.
"Seratus miliar," ucap Bellamy santai, suaranya jernih namun mutlak.
Aula mendadak riuh. Seratus miliar untuk distrik barat adalah angka yang cukup berani. Javier mengertakkan gigi, merasa ditantang. "Seratus sepuluh miliar!"
"Seratus lima puluh miliar," sahut Bellamy tanpa jeda, seolah-olah ia sedang menawar harga sayur di pasar. Ia menoleh sedikit ke arah Javier, lalu memberikan senyuman meremehkan yang sangat tipis sebelum kembali menatap Dallas.
"Nona Bellamy, angka itu terlalu tinggi untuk wilayah—" Hans berbisik dari belakang, namun Bellamy mengangkat tangan kirinya, memberi isyarat agar asisten Dallas itu diam.
"Uang keluarga Guinevere terlalu banyak untuk sekadar memenangkan tanah ini, Hans," jawab Bellamy blak-blakan dengan volume suara yang sengaja bisa didengar oleh Javier. "Lagipula, tanah ini adalah hadiah pertamaku untuk Tuan Muda Dallas."
"Satu... dua... tiga! Dok! Wilayah distrik barat resmi dimenangkan oleh Nona Bellamy Guinevere!" Ketukan palu akhir terdengar, mengakhiri spekulasi di dalam ruangan.
Javier menjatuhkan papan tawaran di tangannya dengan gusar. Wajahnya merah padam karena dipermalukan di depan umum oleh wanita yang biasanya berlutut di bawah kakinya.
Begitu acara pelelangan selesai dan para hadirin mulai membubarkan diri, Bellamy langsung berdiri. Ia mengabaikan Javier yang sedang berjalan cepat ke arahnya dengan tatapan menghujam, dan justru langsung menghadang langkah Dallas.
"Pelelangan yang melelahkan," ucap Bellamy, meregangkan lehernya yang jenjang dengan gerakan yang sengaja dibuat luwes di depan wajah Dallas. "Bagaimana kalau kita merayakannya dengan makan malam bersama, Tuan Muda? Aku sudah memesan tempat terbaik di restoran atap hotel ini."
Dallas menatap dokumen kepemilikan tanah yang baru saja diserahkan kru lelang kepada Bellamy. "Kau membuang seratus lima puluh miliar hanya untuk ini?"
"Tentu saja tidak. Aku membelinya untuk menawarkan kerja sama resmi antara Guinevere Corporation dan lini bisnis bayanganmu," Bellamy memajukan wajahnya, menatap Dallas dengan pandangan yang sangat intens. "Dan tentu saja, sebagai alasan agar kau tidak punya alasan untuk menolak makan malam berdua denganku malam ini. Romantis, bukan?"
Dallas tertegun, jakunnya naik turun saat merasakan jarak mereka yang hanya terpaut beberapa sentimeter. "Kau... benar-benar tidak waras, Bellamy."
"Aku memang gila, Dallas. Dan kegilaanku malam ini hanya tertuju padamu," sahut Bellamy tanpa rasa malu sedikit pun, membuat telinga Dallas perlahan berubah warna menjadi kemerahan.
"Bellamy Guinevere!" suara bentakan Javier memotong interaksi mereka. Javier berdiri di samping mereka dengan napas memburu, menatap Bellamy dengan pandangan menuntut penjelasan. "Apa-apaan ini?! Sejak kapan kau berurusan dengan kakak tiriku?! Dan apa maksud dari semua drama menawar tanah ini?!"
Bellamy perlahan membalikkan tubuhnya, menatap Javier dengan pandangan seolah-olah pria itu hanyalah seonggok debu yang mengganggu pemandangan indahnya.
"Oh, Tuan Muda Javier," ucap Bellamy, suaranya mendadak berubah menjadi sangat datar dan malas. "Ada urusan apa kau berteriak di depanku? Bukankah seharusnya kau sedang sibuk menemani calon istrimu, Lucianna, untuk memeriksa kesehatan kandungannya atau semacamnya?"
Javier tersentak, wajahnya memucat seketika. "Kau... kau sudah tahu?"
"Semua orang di kota ini juga akan tahu sebentar lagi, Javier," Bellamy mengibaskan tangan kanannya dengan anggun, lalu kembali berbalik menghadap Dallas dan langsung menggandeng lengan kokoh pria itu tanpa permisi. "Ayo pergi, Dallas. Berada di dekat pria yang salah menggunakan tubuhnya semalam membuatku merasa mual."
Dallas tidak menolak gandengan tangan itu. Malahan, ia melirik Javier dengan tatapan dingin penuh kemenangan yang belum pernah ia tunjukkan sebelumnya, sebelum melangkah pergi bersama Bellamy, meninggalkan Javier yang mematung dengan rasa frustrasi dan kecemburuan yang membakar dadanya.
Di dalam lift menuju restoran atap, Dallas melepaskan kaitan tangan Bellamy dengan canggung, meskipun jantungnya masih berdegup kencang. "Kau sengaja memanfaatkan situasi ini untuk membalas dendam pada Javier?"
"Membalas dendam?" Bellamy bersandar pada dinding lift, menatap Dallas dari atas sampai bawah dengan senyuman cegil-nya yang khas. "Untuk apa aku membuang waktu membalas dendam pada kerikil? Aku melakukan ini murni karena aku menyukaimu, Dallas. Aku ingin kau tahu, bahwa mulai hari ini, pemilik sah dari tubuh dan hatiku adalah kau. Bukan pria bodoh di bawah sana."
Dallas terbatuk kecil, langsung membuang mukanya ke arah pintu lift yang memantulkan bayangan wajahnya yang kini sudah memerah sempurna akibat ucapan blak-blakan sang nona mafia.
keren nih othor...
jadi alasan Sylvester masuk ke dunia novel untuk menyelamatkan ponakannya kali yaa... tapi belum tentu pasti plot twist lagi ah nanti... 🤣
ah di othor nih... bikin penasaran aja.. dibuat nama-namanya huruf depannya D semua lagi🤣
lagi tegang gini malah ngelawak Bellamy sama Dallas mah..🤣🤣