Niat Diaz kabur ke Gunung Kawi demi menghindari perjodohan malah berbelok 180 derajat saat ia mampir salat di Masjid Baiturrahman.
Diaz tidak sengaja menabrak Ganda Mahesa.
Anak kiai kaya raya yang sedang panik setengah mati karena calon istrinya tidak datang satu jam sebelum akad.
Demi menjaga harga diri keluarga di hadapan 200 undangan, Ganda nekat menembak Diaz:
"Mbak, mau gak nikah sama saya? Sekarang. Daripada saya dipermalukan satu Kepanjen."
"Oalah mas saya aja kabur dari perjodohan dan mau ke gunung Kawi untuk mencari ketenangan."
"Mbak mau pesugihan? Astaghfirullah mbak iling mbak. Saya kasih semuanya mbak."
"Saya nggak cari pesugihan saya hanya ..."
Hanya dalam 10 menit, akad dadakan itu sah. Suasana sakral pun langsung pecah oleh bisik-bisik julid emak-emak:
"Iku sopo toh seng rabi karo Ganda? Kok koyo ojek online, dipesen langsung dateng!"
Drama sesungguhnya dimulai ketika Laura, sang calon istri asli, tiba-tiba datang terlambat dan meminta ganda untuk menikahinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Ketukan sepatu hak tinggi yang beradu dengan lantai marmer masjid mendadak berhenti.
Dari arah pintu VIP, langkah kaki Nyai Maryam—mama Ganda—terhenti kaku. Matanya yang dihiasi riasan tajam melebar sempurna saat menangkap pemandangan di depan mimbar.
Putra kebanggaannya, Ganda Mahesa, berdiri berdampingan dengan seorang gadis asing yang hanya berbalut mukena putih polos tanpa riasan, tanpa sanggul, dan tanpa kemewahan sama sekali.
"Ganda! Apa-apan ini?!" Suara Nyai Maryam melengking, memecah keheningan masjid dan langsung membungkam bisik-bisik emak-emak undangan.
Ia berjalan cepat, menatap Diaz dengan pandangan menghina dari atas ke bawah.
"Siapa perempuan ini? Di mana Laura? Kenapa kamu malah bersanding dengan perempuan yang kelihatan seperti... seperti orang baru bangun tidur begini?!"
Sebelum Ganda sempat menjawab, perhatian seluruh isi masjid teralih ke pintu masuk utama. Kehebohan baru pecah.
Rombongan keluarga besar Laura tiba dengan napas terengah-engah.
Di garis depan, Laura berjalan tergesa-gesa dengan gaun pengantin brokat premiumnya yang menjuntai indah, meski wajahnya tampak dipaksakan layu.
Langkah Laura mendadak terkunci di tempat saat melihat pemandangan di depannya.
Matanya tertuju lurus pada jemari Ganda yang masih menggenggam erat pergelangan tangan Diaz—sebuah refleks protektif yang dilakukan Ganda tanpa sadar.
"Mas, dia siapa?" tanya Laura, suaranya bergetar, separuh kaget dan separuh tak percaya rencananya berantakan.
Ganda berbalik, menatap Laura dengan tatapan sedingin es.
Tidak ada lagi binar cinta atau kepanikan seorang pria yang takut kehilangan kekasih. Yang tersisa hanyalah kekecewaan mendalam.
"Kamu dari mana, Laura?" tanya Ganda, suaranya berat dan menuntut.
"Satu jam aku menghubungimu. Ponselmu mati. Undangan sudah penuh, harga diri keluargaku di ujung tanduk. Aku menunggumu, dan karena kamu tidak datang, aku sudah menikahi dia. Dia istriku sekarang."
"Mas! Ini tidak boleh terjadi!" Laura memekik, air mata buayanya mulai menetes.
Ia melangkah maju, mencoba meraih lengan Ganda namun tertahan oleh tatapan tajam pria itu.
"Aku cuma terlambat sedikit, Mas! Ada kendala di jalan! Kamu harus tetap menikah denganku! Pernikahan ini milik kita!"
"Terlambat sedikit kamu bilang? Ini akad nikah, Laura, bukan janjian di kafe!" bentak Ganda, membuat seisi masjid menahan napas.
Melihat situasi yang semakin kacau dan nama baik keluarganya di ambang kehancuran total,
Laura langsung melancarkan aksi terakhirnya. Tubuhnya tiba-tiba limbung.
Ia memegangi kepalanya, matanya terpejam lambat, dan ia meluncur jatuh ke lantai seolah-olah tenaganya habis dan siap untuk pingsan kapan saja.
"Laura!" Nyai Maryam menjerit panik. Ia segera berlutut, menahan tubuh calon menantu kesayangannya itu.
Nyai Maryam mendongak, menatap Ganda dengan mata berkaca-kaca yang dipenuhi tuntutan mutlak.
"Ganda! Mama mohon sama kamu, demi nama baik pesantren kita, demi hubungan bisnis keluarga kita dengan keluarga Laura, kamu harus tetap menikahi Laura hari ini juga! Batalkan pernikahan tidak jelas dengan perempuan matre ini!"
Di tengah lingkaran badai itu, Diaz hanya diam. Ia mengeratkan pelukannya pada tas ransel yang masih bertengger di pundaknya.
Status sosialnya yang berbeda bak bumi dan langit membuat Diaz merasa tidak punya hak untuk bersuara di rumah Allah ini.
Ia merasa seperti orang asing yang terjebak dalam skenario sirkus kelas atas.
Ganda menatap mamanya, lalu beralih menatap Laura yang masih "lemah tak berdaya" di lantai, dan terakhir, ia menatap Diaz yang berdiri kaku dengan tatapan kosong.
Rahang Ganda mengeras. Harga dirinya sebagai laki-laki tidak akan membiarkan dirinya didikte begitu saja, pun ia tidak akan menceraikan wanita yang baru saja menyelamatkan mukanya di hadapan ratusan orang.
"Baik," ucap Ganda lantang.
Suaranya bergema di setiap sudut Masjid Baiturrahman.
"Aku akan tetap menikah dengan Laura hari ini juga."
Laura yang tadinya memejamkan mata, perlahan membuka kelopak matanya dengan binar kemenangan yang tertahan.
Begitu juga dengan Nyai Maryam yang langsung mengembuskan napas lega.
Namun, kalimat Ganda belum selesai.
"Aku akan menikah dengan Laura," lanjut Ganda dengan nada mutlak yang tak terbantahkan.
"Tapi dengan satu syarat. Diaz tetap menjadi istri pertamaku yang sah, dan kamu, Laura, akan menjadi madu Diaz. Kamu akan menjadi istri kedua."
Bagai disambar petir di siang bolong.
Wajah Laura yang tadinya pura-pura pucat langsung berubah menjadi pucat beneran.
Menjadi istri kedua? Dipoligami di hari pernikahannya sendiri dengan seorang gadis asing bermukena lungsuran? Gengsinya berteriak menolak.
Namun, saat ia melirik ke arah luar masjid di mana dua ratus pasang mata undangan sedang menonton dramanya, dan melihat tatapan mengancam dari ayahnya sendiri yang menuntut agar pernikahan tetap terjadi demi saham bisnis mereka, Laura tidak punya pilihan lain.
Dengan sisa harga diri yang runtuh dan air mata yang kini benar-benar tumpah karena jengkel, Laura akhirnya menganggukkan kepalanya terpaksa.
"I-iya, Mas. Aku mau," bisik Laura lirih, menerima takdir pahit yang ia gali sendiri.
Begitu kata "sah" untuk kedua kalinya menggema, suasana Masjid Baiturrahman Kepanjen langsung berubah riuh.
Acara dengan cepat digeser ke area luar masjid, tempat panggung pelaminan megah telah berdiri.
Para tamu undangan berdesakan maju, mengular panjang untuk memberikan ucapan selamat kepada Ganda dan Laura.
Senyum merekah di wajah Nyai Maryam saat menyalami para kolega, seolah-olah drama menegangkan beberapa menit lalu tidak pernah terjadi.
Semua orang memuji serasinya Ganda yang gagah dan Laura yang anggun bak ratu sehari.
Di tengah gegap gempita itu, mereka semua benar-benar buta dan tidak menghiraukan keberadaan Diaz.
Bagi dua ratus undangan di sana, Diaz hanyalah angin lalu, sebuah 'kesalahan teknis' yang tak perlu dianggap ada.
Dari sudut teras masjid yang sepi, Diaz berdiri mematung.
Matanya menatap lurus ke arah panggung. Ia melihat Ganda dengan ramah menyalami satu per satu para tamu yang memberikan selamat.
Pria itu tampak begitu bersinar, begitu jauh, dan begitu mustahil untuk ia jangkau.
Diaz tersenyum getir. Kepingan logikanya yang sempat hilang kini kembali.
Pernikahan ini pasti cuma main-main, pikirnya perih.
Ganda hanya membutuhkannya selama sepuluh menit untuk menyelamatkan muka keluarganya.
Sekarang, setelah Laura kembali dan status mereka resmi berpoligami, untuk apa lagi dia di sini? Dia hanya akan menjadi duri di tengah keluarga kiai dihormati ini.
Diaz mengembuskan napas panjang, memantapkan hati.
Dengan gerakan perlahan, ia melepas mukena putihnya, melipatnya dengan rapi, lalu memasukkannya ke dalam tas ransel hitam yang sejak tadi tak pernah lepas dari pundaknya.
Kini, ia kembali menjadi Diaz yang semula—gadis berkaus oblong dan celana jins yang sedang melarikan diri.
Ia membalikkan badan, berjalan cepat meninggalkan kemegahan yang bukan miliknya menuju area parkiran masjid.
Begitu menemukan motor sport kesayangannya, Diaz langsung naik dan bersiap memasukkan kunci kontak.
Namun, baru saja ujung jarinya menyentuh setang, sebuah bayangan besar langsung menghadang di depannya.
Ganda berdiri di sana, napasnya sedikit memburu setelah setengah berlari mengejar Diaz dari panggung pelaminan.
"Kamu mau ke mana?" tanya Ganda, suaranya berat, menuntut penjelasan.
Diaz menatap Ganda datar, mencoba menyembunyikan rasa berdebar di dadanya.
"Ke Gunung Kawi. Bukankah tugasku sudah selesai? Istrimu juga telah kembali. Lalu buat apa lagi aku di sini?"
"Diaz, turun dari motormu," perintah Ganda, mengabaikan pertanyaan gadis itu.
"Kamu masih sah jadi istriku."
Diaz tertawa hambar, merasa situasi ini semakin konyol.
"Jangan bercanda, Ganda! Pernikahan sepuluh menit itu cuma taktik kamu, kan? Sudahlah, lepasin aku."
Malas berdebat, Diaz langsung memutar kunci dan menghidupkan mesin motor sportnya.
Suara raungan knalpot seketika memekakkan telinga.
Namun, sebelum Diaz sempat menarik gas, dengan gerakan secepat kilat, tangan Ganda terulur ke depan.
Klik.
Ganda mencabut kunci motor Diaz dan langsung mengantonginya.
"Ganda! Mana kunci motorku?!" seru Diaz mulai kesal, menatap pria di depannya dengan tatapan menghujam.
"Acara ini belum selesai. Ayo kita masuk," ucap Ganda dingin namun tak terbantahkan.
Ia tidak memberikan celah sedikit pun bagi Diaz untuk membantah.
Sebelum Diaz sempat protes lebih jauh, Ganda maju selangkah, meraih jemari tangan Diaz, dan menggenggamnya dengan sangat erat.
Sentuhan itu hangat, namun mencengkeram kuat, memaksa Diaz untuk turun dari motor dan melangkah mengikutinya kembali menuju area pesta.
Dari atas panggung pelaminan, Laura yang sejak tadi mencari-cari keberadaan suaminya, seketika membeku.
Matanya menyipit tajam saat melihat Ganda berjalan kembali dengan menuntun tangan Diaz.
Melihat Ganda membawa wanita berkaus oblong itu untuk berdiri tepat di sampingnya di hadapan para tamu, Laura mengerucutkan bibirnya dalam-dalam.
Rasa gengsi dan cemburu membakar dadanya. Di balik gaun pengantinnya yang mewah, kedua tangan Laura mencengkeram erat kain brokatnya hingga kukunya memutih.
Hari yang seharusnya menjadi hari kemenangannya, kini berubah menjadi awal dari neraka yang harus ia bagi dengan wanita lain.
😡😡😡😡😡😡😡😡
juga laura, wanita kyk pelacur 😡😡😡
Ceritanya jadi hidup. Semangat selalu berkarya nya kak!💖🙌
sdh biar dilepas kan sm Ganda aja thor, kasihan diaz, biar bebas 🙏🙏
kasihan diaz,ternyata sebatang kara 🤭
biarkan pergi jauh dr manusia2 egois 😡😡