NovelToon NovelToon
AKU MENIKAH DENGAN PRIA YANG AKAN MEMENJARAKAN AYAHKU

AKU MENIKAH DENGAN PRIA YANG AKAN MEMENJARAKAN AYAHKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Misteri / CEO
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Seranovelle

Hari itu seharusnya menjadi hari paling bahagia bagi Alea. Namun, sebelum ijab kabul dimulai, calon suaminya menghilang bersama uang mahar dan meninggalkan utang miliaran rupiah atas nama keluarga Alea. Di tengah kekacauan itu, muncul seorang pria asing bernama Raka Arvin. Dengan tenang ia menawarkan bantuan. "Aku akan menikahimu. Sebagai gantinya, kau harus menandatangani satu perjanjian." Tak punya pilihan lain, Alea menerima. Selama setahun, mereka hidup sebagai suami istri tanpa cinta. Raka terlihat seperti pria biasa yang bekerja sebagai konsultan hukum. Padahal... Ia adalah penyidik khusus yang sedang menyamar untuk membongkar kasus korupsi dan pencucian uang terbesar dalam satu dekade. Target utamanya? Ayah Alea. Semakin lama tinggal serumah, Raka justru menemukan sisi Alea yang berbeda dari bayangannya. Perempuan itu tidak pernah menikmati harta keluarganya. Ia bahkan diam-diam membantu para korban perusahaan milik ayahnya. Saat cinta mulai tumbuh, sebuah bukti baru muncul. Semua kejahatan yang dituduhkan kepada ayah Alea ternyata hanyalah lapisan pertama. Dalang sebenarnya justru seseorang yang selama ini paling dipercaya Alea. Kini Raka harus memilih. Menjalankan tugasnya sebagai penyidik... atau melindungi wanita yang telah mengubah hidupnya. Dan Alea harus menentukan satu keputusan yang akan mengubah seluruh hidupnya. Menyelamatkan ayahnya... atau membantu suaminya mengungkap kebenaran

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seranovelle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 23 - Folder Bernama Melati

Ruangan itu kembali sunyi.

Tatapan Raka terpaku pada layar laptop.

Folder yang beberapa detik lalu tidak ada, kini muncul begitu saja.

**MELATI**

Jantungnya berdetak semakin cepat.

"Itu... nama ibumu?" tanya Alea pelan.

Raka mengangguk tanpa mengalihkan pandangan.

"Hanya keluarga yang tahu nama itu."

Adrian segera mendekat.

"Jangan dibuka dulu."

Raka menoleh.

"Kenapa?"

"Kalau folder itu muncul sendiri, ada kemungkinan seseorang baru saja masuk ke sistem."

Adrian segera mencabut kabel internet dari laptop.

"Setidaknya kalau ini jebakan, kita memutus koneksinya lebih dulu."

Raka mengangguk pelan.

Tangannya masih berada di atas touchpad.

Perlahan ia mengklik folder tersebut.

Di dalamnya hanya ada tiga file.

**Foto_1998.jpg**

**Suara.wav**

**Baca_Dulu.pdf**

"Mulai dari PDF," ujar Alea.

---

Raka membuka file pertama.

Layar menampilkan tulisan hitam di atas latar putih.

> **Kalau kalian membaca ini, berarti kalian sudah menemukan hard disk ini.**

> **Selamat. Kalian lebih cepat dari perkiraanku.**

Alea menelan ludah.

Kalimat itu terasa seperti seseorang sedang berbicara langsung kepada mereka.

Tulisan berlanjut.

> **Raka...**

> **Kalau benar kamu yang membaca, berarti kamu sudah cukup dewasa untuk mengetahui siapa sebenarnya ibumu.**

Wajah Raka menegang.

Alea menggenggam pelan lengannya.

Tulisan berikutnya membuat napas mereka tertahan.

> **Perempuan yang membesarkanmu bukan ibu kandungmu.**

Ruangan mendadak sunyi.

"Apa?"

Suara Raka nyaris tak terdengar.

Ia membaca ulang kalimat itu.

Tidak berubah.

Tetap sama.

---

"Ini pasti palsu."

Raka langsung menutup layar.

"Tidak."

"Ada yang sengaja memainkan psikologisku."

Namun Adrian mengambil alih laptop.

"Tunggu."

"Jangan langsung menyimpulkan."

Ia memeriksa metadata file.

Beberapa menit berlalu.

"Bagaimana?"

tanya Alea.

Adrian mengangkat wajahnya.

"File ini dibuat lebih dari dua belas tahun yang lalu."

"Bukan baru."

Ruangan kembali hening.

Kalau benar dibuat dua belas tahun lalu...

Berarti seseorang memang sudah merencanakan semua ini sejak lama.

---

Raka membuka file kedua.

**Foto_1998.jpg**

Perlahan gambar muncul.

Seorang perempuan muda sedang menggendong bayi laki-laki.

Perempuan itu tersenyum ke arah kamera.

Di belakangnya tampak taman rumah sakit.

Raka mematung.

"Itu..."

"Itu foto yang sama..."

"Apa?"

"Foto masa kecilku."

"Tapi..."

"Di album keluargaku, wajah perempuan ini selalu dipotong."

Alea ikut memperhatikan.

Perempuan itu berwajah lembut.

Tatapannya hangat.

Di lehernya tergantung sebuah kalung berbentuk bunga melati.

Di bagian belakang foto terdapat tulisan tanggal.

**12 Mei 1998.**

Tanggal yang sama dengan sandi hard disk.

---

"Ada tulisan di bawah fotonya."

Alea memperbesar gambar.

Tulisan tangan kecil mulai terlihat.

> **Melati bersama putranya, Raka.**

Air mata Raka langsung jatuh.

Selama bertahun-tahun...

Ia percaya ibunya meninggal ketika dirinya masih kecil.

Namun ternyata...

Ia bahkan belum pernah melihat wajah asli perempuan yang melahirkannya.

---

Dengan tangan gemetar, Raka membuka file terakhir.

**Suara.wav**

Suara berdesis terdengar beberapa detik.

Lalu...

Suara seorang perempuan memenuhi ruangan.

"Kalau kamu mendengar rekaman ini..."

"...berarti Mama gagal melindungimu."

Raka membeku.

Suara itu begitu lembut.

Begitu asing.

Namun entah kenapa...

Ada sesuatu yang membuat dadanya sesak.

"Raka..."

"Mama tidak meninggalkanmu."

"Mama dipaksa pergi."

Air mata Raka tak lagi bisa dibendung.

Alea perlahan menggenggam tangannya.

Tidak berkata apa-apa.

Hanya menemani.

Suara dalam rekaman kembali terdengar.

"Kalau suatu hari nanti seseorang datang membawa nama **Garuda**..."

"...jangan percaya siapa pun."

"Termasuk..."

Rekaman mendadak terputus.

Hanya suara statis yang tersisa.

"Kenapa berhenti?" bisik Alea.

Adrian memeriksa file itu.

"Bagian akhirnya sengaja dihapus."

Raka memejamkan mata.

Lagi.

Mereka kembali terlambat beberapa detik dari jawaban yang mereka cari.

---

Belum sempat mereka berdiskusi, ponsel Raka berdering.

Nomor yang sama.

Nomor yang menelepon beberapa jam lalu.

Raka langsung mengangkatnya.

"Aku datang."

Suara perempuan di seberang terdengar tenang.

"Kalau begitu dengarkan baik-baik."

"Jangan datang ke gudang."

Raka mengernyit.

"Kenapa?"

"Karena mereka juga mengirim undangan yang sama."

"Mereka ingin membunuhmu malam ini."

Sambungan terputus.

Belum sempat Raka bereaksi, Adrian menerima pesan dari timnya.

Wajahnya langsung berubah pucat.

"Ada apa?" tanya Alea.

Adrian menunjukkan layar ponselnya.

> **Gudang Pelabuhan Timur baru saja ditemukan dipenuhi bahan peledak. Tim penjinak bom sedang menuju lokasi.**

Kalau Raka datang beberapa jam lagi...

Ia mungkin tidak akan pernah kembali.

Namun yang lebih mengerikan adalah pertanyaan berikutnya.

**Siapa perempuan misterius yang berkali-kali menyelamatkan nyawanya... dan bagaimana ia mengetahui semua rencana musuh sebelum semuanya terjadi?**

**Bersambung...**

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!