The Last Crown adalah buku pertama dari The Hollow Thorne Trilogy. Bercerita tentang perjalanan Pangeran Kal Valdyr, pewaris takhta Izengard yang kehilangan segalanya setelah istana jatuh dalam pengkhianatan berdarah. Dari seorang pangeran yang dibesarkan untuk memerintah, Kal berubah menjadi buronan yang hanya membawa satu hal, nama keluarganya yang hampir musnah.
Dengan petunjuk terakhir dari ayahnya, Kal mencari Marlow Renad, Nightingale terakhir yang pernah bergerak di balik bayangan mahkota. Bersamanya, Kal mulai menempuh jalan gelap untuk merebut kembali apa yang dirampas darinya.
📢 Visualisasi karakter atau hal penting lainnya dapat dilihat pada postingan di profil saya, Visualisasi itu saya buat dengan bantuan AI berdasarkan gambaran saya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inkbound, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ishar Danmer
Kami menemukan sumber suara itu di tikungan jalan tanah, tidak jauh dari sebuah pohon ek tua yang tumbuh sendirian di tepi ladang. Batangnya begitu tebal hingga mungkin membutuhkan tiga orang dewasa untuk memeluknya. Akar-akarnya mencuat dari tanah seperti ruas-ruas jari besar, memecah permukaan jalan dan membentuk bayangan hitam di bawah cahaya bulan.
Seorang gadis berdiri dengan punggung hampir menyentuh batang pohon itu. Usianya mungkin tidak jauh dariku. Rambutnya pirang terang, nyaris terlihat putih di bawah sinar bulan. Sebagian besar dibiarkan tergerai sampai melewati bahu, sementara satu kepangan tipis menjuntai di sebelah kanan wajahnya. Beberapa helai menempel pada kening dan pipinya yang basah oleh keringat.
Pisau kecil teracung di depan dadanya. Tangannya bergetar sedikit, tetapi ujung bilahnya tetap diarahkan pada tiga pemuda yang mengurungnya dari sisi jalan.
Sebuah keranjang rotan tergeletak di dekat kakinya. Apel-apel berserakan di atas tanah, sebagian masuk ke sela akar pohon dan sebagian menggelinding ke parit dangkal. Salah satunya telah terinjak dan pecah, membuat aroma manis buah bercampur dengan bau rumput basah.
Ketiga pemuda itu berdiri beberapa langkah di hadapannya. Dua tampak seperti pengikut yang hanya datang untuk memberi keberanian pada orang di tengah. Pemuda yang menjadi pusat mereka memiliki rambut cokelat terang yang dipotong pendek dan tubuh besar berotot. Lengan kemejanya digulung sampai siku, memperlihatkan lengan bawah yang tebal. Wajahnya mungkin akan terlihat tampan bila bukan karena tatapan keras kepala yang ia arahkan pada gadis itu.
“Aku akan melaporkan ini kepada kakekmu, Reiss.”
Suara gadis itu masih keras, tetapi napasnya mulai tidak beraturan. Tatapannya tidak bergeser dari pemuda berambut cokelat itu.
Reiss mengangkat kedua tangan seolah dialah orang yang sedang diperlakukan tidak adil.
“Oh, ayolah, Ishar. Sudah semua cara kulakukan. Aku memberimu hadiah. Aku menunggumu di luar rumah. Aku bahkan menjatuhkan harga diriku di depan orang-orang hanya untuk membuatmu melihatku. Lalu apa yang kudapat?”
“Aku tidak pernah meminta semua itu.”
Ishar mengencangkan genggamannya pada pisau.
“Sekarang pergi.”
Senyum Reiss menghilang. Ia memandang kedua temannya, seolah membutuhkan mereka untuk melihat penghinaan yang baru saja ia terima, lalu kembali menghadap Ishar.
“Kau tidak memberiku pilihan.”
Ia melangkah maju.
Ishar menekan punggung pada batang ek. Bilah pisaunya naik sedikit, tetapi jarak di antara mereka terlalu dekat untuk membuat ancaman itu terasa cukup.
“Hentikan.”
Suara Marlow datang dari sampingku, tenang dan berat.
Ketiga pemuda itu berbalik. Reiss menatap kami dari kepala sampai kaki, berhenti lebih lama pada pedang di pinggang Marlow sebelum melihat pakaian kami yang kotor dan tas perjalanan yang sudah kusam.
“Ini bukan urusan kalian,” katanya.
Marlow berdiri di tengah jalan tanpa menarik senjata. “Sekarang kalian sudah membuatnya menjadi urusan siapa pun yang bisa mendengar teriakannya.”
Salah satu pemuda di belakang Reiss mendecih. Ia bertubuh lebih pendek, tetapi dadanya lebar dan kedua tangannya mengepal di sisi tubuh. Temannya yang lain mengambil satu langkah ke samping, berusaha membuat kami harus memperhatikan dua arah sekaligus.
Reiss mengangkat dagu.
“Kami hanya sedang bicara.”
“Dia memegang pisau dan menyuruh kalian pergi.”
“Dia selalu berlebihan.” Reiss melirik Ishar, kemudian kembali kepada kami. “Kalian bukan orang sini. Jalan saja ke desa dan tinggalkan kami. Tidak perlu ikut campur.”
Marlow tidak bergerak. Angin menggoyangkan ujung mantelnya, membawa suara daun ek yang berdesir di atas kepala kami.
“Pergilah,” katanya.
Kalimat itu tidak keras. Namun tidak ada ruang untuk salah mengartikannya.
Reiss menatap Marlow beberapa saat, lalu pandangannya beralih kepadaku. Mungkin ia menganggapku lebih mudah digertak. Tubuhku memang tidak sebesar dirinya, dan tudung masih menutupi sebagian wajahku.
“Ajak anakmu pergi sebelum dia terluka.”
Marlow menoleh sedikit kepadaku. Bibirnya hampir tidak bergerak ketika ia berbicara cukup pelan agar hanya aku yang mendengar.
“Jangan bunuh mereka.”
Rasa panas naik ke wajahku. Aku tidak tahu apakah itu teguran, peringatan, atau keduanya. Tanganku sempat bergerak mendekati pedang, tetapi aku menahannya dan mengepalkan jari di sisi tubuh.
Reiss melihat gerakan kecil itu dan tersenyum.
“Lihat? Anakmu bahkan tidak tahu harus berbuat apa.”
Ia melangkah mendekati kami. Dua temannya mengikuti, meninggalkan Ishar di dekat pohon. Gadis itu menurunkan pisaunya sedikit. Bahunya jatuh, seolah baru sekarang ia mengizinkan tubuhnya merasakan lelah setelah terlalu lama mempertahankan keberanian.
Marlow tetap tidak mencabut pedang.
Pemuda bertubuh pendek bergerak lebih dahulu. Ia datang kepadaku dengan bahu rendah dan tangan terangkat, mencoba menghantam wajahku sebelum aku sempat mengambil posisi. Aku bergeser, tetapi tidak cukup cepat. Buku-buku jarinya mengenai sisi pipiku dan membuat pandanganku bergetar sesaat.
Rasa asin darah langsung memenuhi mulut.
Aku membalas dengan tinju ke perutnya. Pukulanku masuk di bawah tulang rusuk, memaksanya membungkuk, tetapi temannya datang dari sisi kanan dan menendang pahaku. Kaki kiriku kehilangan kekuatan. Aku hampir jatuh, lalu meraih bahu pemuda pertama agar tetap berdiri.
Ia menghantam punggungku dengan siku.
Rasa sakit meledak di antara tulang belikat. Aku melepaskannya, berbalik, kemudian menahan pukulan berikutnya dengan lengan. Benturannya membuat jari-jariku kebas.
Di sampingku, Marlow menghindari ayunan Reiss tanpa kesulitan. Ia hanya bergeser setengah langkah dan membiarkan tinju besar itu lewat di depan wajah. Ketika Reiss mencoba lagi, Marlow menangkap pergelangan tangannya, memutarnya, lalu mendorong bahunya ke bawah. Reiss terhuyung dengan wajah mengeras karena malu.
Marlow belum memukulnya.
Itu membuat Reiss semakin marah.
Pemuda di hadapanku maju lagi. Kali ini aku melihat gerak bahunya lebih awal. Aku menunduk ketika pukulannya datang, lalu menghantamkan tinju ke wajahnya. Tulang jariku mengenai hidung.
Terdengar bunyi pendek yang basah.
Kepala pemuda itu terpental ke belakang. Darah langsung mengalir dari kedua lubang hidung dan turun ke bibir. Ia menatapku dengan kebingungan selama sepersekian detik, seolah belum memahami apa yang baru terjadi.
Aku memukulnya lagi.
Tinju kedua mengenai pipi dan membuatnya jatuh ke atas lutut. Sebelum aku sempat mundur, temannya menendang sisi tubuhku. Ujung sepatu menghantam rusuk, membuat udara keluar dari paru-paruku sekaligus.
Aku terjatuh pada satu tangan.
Tanah terasa dingin dan lembap. Kerikil menekan telapak tanganku. Pemuda itu mencoba menendang lagi, tetapi aku menggulingkan tubuh ke samping. Sepatunya menghantam tanah dekat kepalaku.
Aku menangkap pergelangan kakinya dan menarik.
Ia jatuh dengan punggung menghantam jalan. Suara napasnya pecah. Aku bangkit setengah membungkuk, lalu menendang lengannya ketika ia mencoba berdiri.
Seseorang menghantam sisi kepalaku dari belakang.
Cahaya bulan pecah menjadi bintik-bintik putih. Aku terhuyung dan hampir menabrak batang ek. Rasa sakit menjalar dari telinga sampai rahang. Ketika pandangan kembali jelas, pemuda berhidung patah sudah berdiri lagi. Darah menutupi mulut dan dagunya.
Ia datang dengan raungan pendek.
Aku mengangkat kedua tangan. Tinju pertamanya mengenai lengan, tetapi yang kedua masuk ke perut. Tubuhku melipat. Mual langsung naik ke tenggorokan, dan sebelum aku sempat menarik napas, lututnya menghantam dadaku.
Aku jatuh terduduk di antara dua apel.
Salah satunya pecah di bawah tanganku.
Pemuda itu mengangkat kaki untuk menendang wajahku. Aku menutup kepala dengan lengan, tetapi tendangan itu tidak pernah datang. Marlow muncul di sampingnya dan menangkap bagian belakang kemejanya. Dengan satu tarikan kuat, ia melempar pemuda itu menjauh dariku.
Tubuhnya menghantam tanah dan berguling sampai ke tepi parit.
Marlow menatapku sekilas, cukup lama untuk memastikan aku masih sadar. Kemudian ia berbalik saat Reiss menyerangnya dari belakang.
Reiss mencoba memukul rahangnya. Marlow menangkis dengan lengan, menghantam siku Reiss dari bawah, lalu memasukkan bahu ke dadanya. Tubuh pemuda besar itu terangkat sedikit sebelum jatuh keras pada punggung.
Debu naik di sekelilingnya.
Teman Reiss yang lain berlari ke arah Marlow. Ia tidak sempat mencapai sasaran. Marlow menangkap bagian depan kemejanya, memutar tubuh, dan menggunakan gerak pemuda itu sendiri untuk melemparkannya ke tanah. Sebelum ia bisa bangkit, sepatu Marlow menekan dadanya.
“Cukup.”
Pemuda itu berhenti meronta.
Reiss bangkit dengan susah payah. Darah mengalir tipis dari sudut bibirnya. Ia melihat kedua temannya yang sudah tidak sanggup melanjutkan, lalu memandang Ishar.
Gadis itu masih bersandar pada pohon ek. Pisau kecil tetap berada di tangannya, tetapi lengannya sudah turun di sisi tubuh. Wajahnya pucat, dan napasnya terdengar berat meski ia tidak ikut bertarung.
Reiss menunjuk kepadanya.
“Kau akan menyesali ini, pelacur.”
Marlow bergerak satu langkah ke depan.
Reiss segera mundur.
Ancaman di wajahnya hilang, digantikan perhitungan cepat tentang seberapa jauh ia harus berlari agar tidak tertangkap. Ia memberi isyarat kasar kepada kedua temannya. Pemuda berhidung patah menutup wajah dengan satu tangan, sedangkan yang lain bangkit sambil memegangi sisi tubuh.
Mereka pergi dengan langkah tergesa-gesa yang segera berubah menjadi lari. Ketiganya mengikuti jalan menuju cahaya-cahaya desa, sesekali menoleh ke belakang sebelum akhirnya hilang dalam kegelapan.
Aku berdiri perlahan. Sisi tubuhku terasa nyeri setiap kali bernapas. Bagian dalam bibir robek dan darah hangat mengalir di atas lidah. Aku meludah ke rumput, lalu berjalan ke arah Ishar.
“Kau tidak apa-apa?”
Ia mengangkat wajah kepadaku. Dari dekat aku bisa melihat betapa lelahnya ia. Ada kotoran pada ujung gaunnya dan goresan tipis pada salah satu lengan.
“Ya.”
Jawabannya pendek. Ia memasukkan pisaunya ke sarung kecil di pinggang, lalu berjongkok untuk memunguti apel yang berserakan.
“Terima kasih,” katanya sambil mengambil buah dari sela akar. “Tapi aku bisa menghadapi mereka.”
Aku melihat ke arah tempat tiga pemuda itu menghilang. “Tentu.”
Nada suaraku mungkin terdengar kurang percaya, karena Ishar mendongak dan menatapku tajam. Namun ia tidak membantah. Ia hanya kembali mencari apel yang masih utuh.
Aku ikut berjongkok.
Beberapa apel sudah memar. Satu pecah karena terinjak, dua lainnya masuk ke parit dan tertutup lumpur. Aku mengambil yang masih bersih, mengusap permukaannya pada lengan baju, lalu memasukkannya kembali ke keranjang.
Ketika Ishar membungkuk untuk meraih buah di dekat kakiku, cahaya bulan menyentuh wajahnya dengan lebih jelas. Matanya berwarna hijau, terang bahkan dalam kegelapan. Kulitnya bersih dan sangat pucat, membuat beberapa helai rambut pirang yang menempel di pipi hampir menyatu dengan warna wajahnya.
Ia memang cantik.
Kesadaran itu datang begitu saja dan membuatku menatap terlalu lama. Aku segera mengalihkan pandangan pada apel di tanganku.
“Reiss Mellar,” katanya tiba-tiba. “Cucu tetua desa.”
Ia menaruh dua apel ke dalam keranjang dengan sedikit lebih keras daripada yang diperlukan.
“Dia pikir nama keluarganya membuatnya bisa mendapatkan apa pun yang dia inginkan.”
Marlow berdiri tidak jauh dari kami sambil membersihkan debu dari lengan mantelnya. Ia tidak ikut dalam percakapan. Namun dari cara matanya mengikuti jalan menuju desa, aku tahu ia tidak menyukai kenyataan bahwa pemuda yang baru kami pukuli adalah cucu orang penting di sana.
Aku menemukan apel terakhir di balik akar ek. Buah itu sedikit memar pada satu sisi, tetapi masih utuh. Aku menyerahkannya kepada Ishar.
“Terima kasih.”
Ia menaruhnya di bagian atas keranjang, lalu berdiri. Aku ikut bangkit dan menahan ringisan ketika rusukku terasa tertusuk dari dalam.
Ishar mengangkat keranjangnya dengan kedua tangan. Baru setelah itu ekspresinya berubah, seolah ia teringat sesuatu yang sederhana tetapi penting.
“Oh, di mana sopan santunku? Namaku Ishar Danmer. Aku tinggal di Arlenville.”
Ia mengangkat satu tangan dari keranjang dan menunjuk cahaya desa di kejauhan.
Aku mengusap darah di sudut bibir dengan ibu jari.
“Aku Kal. Kal—”
“Kal Primm,” potong Marlow.
Aku menoleh kepadanya.
Marlow tidak membalas tatapanku. Wajahnya tetap tenang, seolah nama itu sudah lama menjadi milikku.
Ishar memandangku lagi. Alisnya sedikit terangkat.
“Kal?”
Ia tersenyum kecil.
“Menarik. Namamu sama dengan nama Pangeran Izengard.”
Punggungku menegang. Aku berharap kegelapan cukup menyembunyikan perubahan pada wajahku.
“Ayahnya sangat menghormati Raja Jerrod,” kata Marlow. “Ia memberi nama itu tidak lama setelah kelahirannya. Hanya berbeda beberapa hari dari kelahiran Pangeran Kal Valdyr.”
Kebohongan itu keluar begitu tenang hingga hampir membuatku mempercayainya. Ishar menatapku sejenak, lalu mengangguk perlahan.
“Ah. Begitu rupanya.”
Senyumnya bertahan. Tidak ada kecurigaan yang bisa kulihat, hanya rasa tertarik yang singkat sebelum pandangannya berpindah kepada Marlow.
“Dan siapa nama Anda, Tuan?”
“Marlow Renad. Aku mentornya. Kami sedang dalam perjalanan ke barat.”
Ishar memandang pakaian kami, tas-tas yang berat, kemudian luka baru di wajahku. Matanya berhenti sejenak pada pedang Marlow, tetapi ia tidak bertanya tentangnya.
“Kalian hendak mencari penginapan?”
“Kalau desamu punya satu,” jawab Marlow.
“Punya. Tapi kalian tidak akan menginap di sana malam ini.”
Marlow menyipitkan mata sedikit.
Ishar mengangkat keranjang lebih tinggi pada lengannya.
“Kalian menolongku. Kakekku akan marah kalau kubiarkan kalian membayar kamar dan makan setelah itu. Rumah kami cukup besar.”
Marlow langsung menggeleng. “Kami tidak ingin merepotkan.”
“Tidak merepotkan.”
“Ada tiga pemuda yang baru saja berlari ke desamu untuk menceritakan bagaimana kami memukuli mereka.”
“Justru itu alasan kalian harus ikut denganku.”
Ishar mengatakannya sambil mulai berjalan, seolah keputusan sudah dibuat dan tidak lagi membutuhkan persetujuan. Beberapa langkah kemudian ia menoleh ketika menyadari kami belum mengikuti.
“Kakekku akan mendengar ceritanya cepat atau lambat. Lebih baik dia mendengarnya dariku sebelum Reiss mengubah dirinya menjadi korban.”
Marlow menatap punggungnya, lalu melihat kepadaku. Ada keengganan jelas pada wajahnya, tetapi malam semakin dingin, persediaan kami menipis, dan jalan menuju Arlenville adalah satu-satunya arah yang masuk akal.
Ia mengembuskan napas pendek.
“Kita ikut.”
Aku mengambil tasku dari tanah dan menyampirkannya kembali ke bahu. Nyeri langsung menyebar dari rusuk ke punggung. Marlow berjalan di depan, menyusul Ishar, sementara aku mengikuti beberapa langkah di belakang mereka.
Ishar membawa keranjang apel di lengannya dan berjalan menuju cahaya Arlenville. Kepangan tipis di sisi wajahnya bergerak mengikuti langkah, sesekali berkilau pucat di bawah bulan.