Devano Garendra, merasa bosan dengan pernikahannya bersama sang istri hingga membuatnya bermain perempuan di luar sana.
Sebagian Alice, yang baru saja memulai kehidupannya yang baru harus kembali di pertemukan dengan sosok yang cukup lama bersamanya.
Akankah mereka kembali mengulang masa lalu yang pernah di lewati bersama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tessa Amelia Wahyudi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 09
Rendra seperti tersesat saat ini. Di jalanan yang gelap ini, dia tidak menemukan apapun. Sebenarnya kemana ini? kenapa dia berada di tempat ini?
Langkahnya semakin jauh, dan tiba-tiba saja dia mendengar suara yang sangat kecil.
"Papi, cepat pulang, Pi. Papi cepat pulang..." suara kecil itu semakin dekat.
"Papi, papi jangan pergi lagi ya. Papi jangan pergi." semakin dia mendekat, semakin suara itu terasa jauh.
Langkahnya terhenti disana, Rendra berusaha melihat makhluk kecil di dalam kegelapan tersebut.
"Papi, sini Pi. Neil rindu papi, Neil rindu papi." ucap sosok tersebut yang membuat Rendra semakin tidak mengerti akan semua ini.
Siapa yang dia sebut anak ini papi? kenapa anak ini semakin mendekatinya?
"Papi?" panggil anak itu hendak mendekatinya.
Namun, saat tangannya terulur hendak menggapai tangan mungil itu, tiba-tiba saja ada sosok lain yang memanggil anak itu.
"Neil, sayang sini sama mami, Nak." panggil sosok wanita yang mendekat padanya juga.
"Neil?"
"Iya, mami. Papi, Bye..." ucap anak tersebut meninggalkannya.
Tiba-tiba saja Rendra merasa ada sesuatu yang mengganjal di dalam dirinya saat ini
"Tunggu! Hey, tunggu siapa kalian?" tanya Rendra yang berusaha mengejarnya, tapi mereka semakin menjauhinya.
"Tunggu, jangan pergi! Tunggu, jangan pergi! Kembali, tolong kembali!"
"Tolong kembali!!!" teriak Rendra yang terbangun dari tidurnya.
Jam 3 pagi? Untuk kedua kalinya dia mimpi buruk seperti ini. Dulu, 7 tahun lalu dia juga pernah bermimpi buruk mendengar suara tangisan seorang bayi. Kini dia kembali bermimpi ada sosok memanggilnya papi.
Atau jangan-jangan?
Segera mungkin Rendra mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang disana.
"Aku tidak ingin tau, cari keberadaan wanita itu secepatnya! Kerahkan semua yang kalian miliki untuk mencarinya!!!" titah Rendra dengan nafas yang menderu.
Rendra memegang erat ponselnya. Dia yakin jika saat itu pasti terjadi sesuatu lah Alice. Dia benar-benar yakin itu.
"Jika sampai itu benar, aku benar-benar tidak akan pernah memaafkanmu. Aku tidak akan memaafkanmu Alice! Tidak akan!" ucap Rendra penuh kemarahan.
Sejak terbangun dari mimpinya, dia tidak lagi tidur bahkan hingga matahari terbit. Pikirannya terus tertuju pada wanita itu.
Flashback
"Om, om kenapa?" tanya Alice melihat wajah Rendra yang pucat setelah 3 hari mereka tidak bertemu.
Rendra sendiri tidak mengatakan apa-apa, hanya diam dan pergi ke kamar lalu membersihkan dirinya.
Melihat sikap Rendra yang seperti itu membuat Alice merasa kasihan. "Apa seperti ini jadi orang kaya? harus kerja keras banget biar bisa mempertahankan semuanya?" gumam Alice yang mengetahui sedikit banyaknya tentang Rendra.
Ini tahun kedua mereka bersama, dan sudah banyak yang mereka lewati bersama. Apalagi Minggu lalu mereka baru pulang dari Singapura untuk berlibur.
"Buatin bubur kali ya?" ujarnya pergi ke dapur dan memasak sesuatu untuk Rendra.
Rendra yang baru saja hendak merebahkan tubuhnya di tempat tidur langsung di cegah Alice.
"Om, jangan tidur dulu. Aku udah buatin bubur daging. Di makan dulu, biar enakan badannya." ucap Alice membawa bubur tersebut ke dekat Rendra.
"Om dari mana sih sebenernya? Pulang-pulang demam kayak gini." tanya Alice khawatir.
"Kamu tidak perlu mengkhawatirkan saya. Saya baik-baik saja, Alice."
"Baik apanya? Ini demam, mukanya pucat banget, Om." ujarnya membantah.
"Saya bilang saya baik-baik saja, Alice!" ucap Rendra lagi membuat Alice hanya bisa menghela nafas saja.
Mendebat laki-laki ini memang sangat sulit untuk menang pikirnya.
Flashback end
Mengingat hal itu membuat Rendra tersenyum perih. Hidupnya benar-benar menyedihkan sekali bukan?
"Apa hidupmu jauh lebih baik setelah aku pergi Alice?" tanya Rendra menatap kosong ke arah jendela kamarnya.
Kamar dimana mereka sering menghabiskan waktu bersama.
***