Kehamilan yang selama ini mati-matian disembunyikan Anisa akhirnya terbongkar. Ironisnya, orang pertama yang mengetahui rahasia itu justru Reinhart—dokter magang di kampus tempatnya menimba ilmu.
Sejak hari itu, hidup Anisa berubah. Semakin ia berusaha menghindar, semakin sering takdir mempertemukan mereka. Tatapan penuh rasa ingin tahu dari Reinhart perlahan berubah menjadi kepedulian yang sulit diabaikan.
----------------------------
"Siapa ayah dari bayimu?"
"Itu bukan urusan Dokter."
"Kalau begitu... izinkan saya menjadi ayah untuk bayi itu."
Anisa hanya tersenyum getir.
"Maaf. Saya menolaknya."
-----------------------
Namun, sampai kapan rahasia itu bisa disembunyikan? Dan ketika kebenaran akhirnya terungkap, apakah cinta Reinhart masih cukup kuat untuk menerima Anisa... beserta luka dan masa lalunya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pinkanmiliar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ditolak Lagi?
"Gimana, Rid?" Raisa bertanya dengan wajah harap-harap cemas.
Setelah kemarin Ridha melakukan pemeriksaan terhadap Anisa, hari ini Ridha menjadwalkan Anisa kembali datang disertai Raisa untuk memberitahu jenis kelamin bayi yang dikandung Anisa.
Ridha mengulas senyum lalu menatap Raisa dan Anisa yang duduk di depannya.
"Selamat ya, Sa. Bayi yang dikandung Anisa ... adalah bayi laki-laki."
Seketika Raisa terdiam saking syok dan bahagia mendengar kabar ini.
"Kamu serius?" Tak percaya Raisa kembali bertanya.
"Iya, Sa. Anisa mengandung bayi laki-laki. Seperti impian kamu dan Rendra."
Raisa segera bangkit dari duduknya dan memeluk Ridha.
"Makasih banyak ya. Aku senang banget dengernya. Mas Rendra juga pasti bakal senang banget denger hal ini."
Ridha mengusap punggung Raisa yang menangis haru. Impiannya setelah menikah lima tahun dengan Rendra akhirnya terwujud juga.
"Setelah ini apa rencana kamu?" Tanya Ridha.
Raisa membuka tirai bilik dan menatap Raya.
"Aku punya rencana jenius yang sudah kususun, Rid. Iya kan, Ray?"
Pria gemulai itu hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Dan kamu, Anisa." Raisa menghampiri Anisa. "Kamu harus jaga bayi kami sampai lahir nanti. Mengerti? Dia adalah calon pewaris tunggal keluarga Kramawijaya. Pastikan semua gizinya terpenuhi."
Anisa mengangguk patuh. Lebih baik ia hanya diam dan mengiyakan semua keinginan Raisa.
"Ya udah, kalau gitu aku pergi dulu ya, Rid. Makasih atas semuanya. Aku akan lebihin transfer kali ini. Anggap aja bonus dari aku."
"Makasih banyak, Sa. Hati-hati di jalan ya."
Sepeninggal Raisa dan Raya, Anisa dan Ridha saling pandang dengan degup jantung yang mulai berdetak teratur.
"Dokter... Nyonya Raisa tidak akan tahu kan kalau bayi ini kembar?"
Ridha menggeleng. "Tidak, Anisa. Saya memberikan foto USG yang berbeda dengan hasil yang kemarin. Sebaiknya kamu simpan baik-baik dan jangan sampai ada yang tahu."
"Iya, Dokter. Sekali lagi terima kasih."
*
*
*
Keesokan harinya di kampus Harapan Bangsa,
"Ran, saya keluar dulu ya," pamit Reinhart sambil melepas jas snelli putih yang melekat di tubuhnya.
"Lho? Dokter mau kemana? Ini kan jam istirahat. Biasanya penggemar dokter pada datang jam segini. Saya harus bilang apa?" Ranti, perawat di klinik kampus mulai panik saat Reinhart akan melangkah pergi.
"Bilang aja kalau saya lagi ada urusan. Saya pergi dulu!" Reinhart melambaikan tangan pada Ranti dan mengabaikan betapa bingungnya Ranti saat menghadapi fans Reinhart nanti.
Reinhart melangkah menuju ke sebuah tempat yang tidak akan diduga oleh penggemarnya. Perpustakaan.
Akhirnya Reinhart tahu jika Anisa sering menyendiri di perpus saat jam istirahat. Dengan begini Reinhart bisa mencari kesempatan untuk bicara dengan Anisa.
Begitu memasuki perpus, mata Reinhart langsung mengedar mencari keberadaan Anisa. Bibirnya mengulas senyum saat melihat gadis itu duduk di bangku pojok dan sendirian. Kepalanya tertunduk membaca sebuah buku dengan khusyuk.
Tuk! Reinhart meletakkan sebotol jus di depan Anisa. Sontak saja gadis itu mendongak.
"Dokter Reinhart?" Anisa celingukan memastikan jika tidak ada penggemar Reinhart disini.
"Dokter ngapain disini?" tanya Anisa dengan berbisik.
"Saya mau bicara sama kamu. Bisa?"
Anisa memutar bola mata malas. "Ya sudah bicara saja," ujarnya.
Reinhart melihat sekeliling. "Kamu mau orang-orang disini dengar pembicaraan kita?"
Anisa mengikuti arah pandang Reinhart. Memang mereka bukan penggemar Reinhart, tapi setidaknya mereka tahu siapa Reinhart dan posisinya di kampus ini.
"Trus mau bicara dimana?" Anisa mengalah.
Reinhart menulis sesuatu di kertas yang ia bawa lalu menyerahkannya pada Anisa. Setelahnya ia berjalan pergi meninggalkan Anisa.
"Taman belakang kampus?" Dahi Anisa berkerut. "Bukannya itu gak boleh dimasuki oleh sembarang orang ya? Kenapa Dokter Reinhart minta ketemu disana?"
*
*
*
Meski sempat dilanda keraguan, tapi akhirnya Anisa bersedia datang ke taman belakang kampus. Seorang penjaga mengizinkannya masuk atas perintah dari Reinhart.
Anisa lupa jika keluarga Reinhart adalah pemilik yayasan kampus. Pastinya akses keluar masuk ke taman ini dimiliki oleh pria itu.
Anisa berjalan memasuki taman yang baru pertama kali ia tapaki. Ada banyak tanaman bunga-bunga dan juga pepohonan rindang disana.
"Wah, indah banget disini," gumam Anisa.
Langkah kakinya terhenti saat melihat Reinhart berjongkok di tepi kolam dan memberi makan ikan-ikan di dalamnya. Anisa mendekat.
"Masha Allah, ikan koi-nya gede-gede banget." Anisa takjub melihat ikan yang katanya membawa keberuntungan itu dengan ukuran jumbo.
"Makanya tempat ini dilarang dimasuki oleh mahasiswa. Kamu tahu kan kalau harga ikan koi ini mahal?"
Anisa mengangguk. "Kenapa ada taman seperti ini di dalam kampus?"
Reinhart berdiri dan menatap hamparan taman yang luas di depan matanya.
"Taman ini ... adalah milik mendiang ibuku."
"Eh?"
"Beliau sangat suka bunga dan juga pohon-pohon rindang. Ada ayunan dan juga gazebo untuk bersantai."
Anisa mengangguk paham. Ia tak tahu jika Reinhart sudah kehilangan ibunya.
"Dokter mau bicara apa?" Anisa kembali ke inti masalah. "Jam istirahat sebentar lagi habis. Saya harus kembali ke kelas."
"Kita bicara sambil duduk di sana." Reinhart menunjuk sebuah gazebo.
Anisa berdecak kesal, tapi tetap mengikuti langkah Reinhart.
"Saya mau minta maaf sama kamu," ucap Reinhart setelah mereka duduk bersisian. "Mungkin sudah terlambat karena sudah berlalu selama tiga bulan."
Anisa menundukkan kepala. "Saya juga minta maaf karena sudah tampar dokter waktu itu."
Reinhart tersenyum tipis. "Tidak masalah. Bahkan kalau kamu mau pukul saya pun, saya akan terima. Saya memang pantas menerimanya. Saya sudah janji tidak akan membocorkan pada siapapun, tapi ternyata saya ingkar."
Anisa membuang muka saat Reinhart menatapnya.
"Tapi kamu perlu tahu kenapa saya melakukan itu. Saya melakukan semua upaya agar saya tahu tentang siapa kamu sebenarnya."
Anisa mengerutkan kening.
"Saya meminta Riyan untuk menyelidiki tentang kamu. Apa kamu memang sudah menikah atau belum."
Anisa menggeleng pelan. "Lalu, apa yang dokter dapatkan dari menyelidiki saya? Apa dokter sudah dapat jawabannya?"
Reinhart menggeleng. "Tapi, ada satu hal yang aku yakini tentang kamu, Anisa."
"Apa itu?"
"Firasat Riyan tak sepenuhnya benar, tapi tidak sepenuhnya salah. Aku yakin kalau kamu ... sebenarnya belum menikah."
"Lancang sekali dokter bicara begitu." Anisa mengepalkan tangan.
"Kalau kamu sudah menikah, mana suami kamu? Kenapa tidak pernah terlihat mengantarmu atau menjemputmu? Mana ada seorang suami yang tega membiarkan istrinya yang sedang hamil pergi sendirian setiap hari."
Anisa bungkam. Ia malas meladeni Reinhart.
"Saya tanya satu hal padamu, Anisa. Siapa ayah dari bayimu? Apa benar suamimu atau—"
"Bukan urusan Dokter!" Anisa menjawab dengan tegas.
Reinhart tersenyum penuh makna. "Saya tahu kamu tidak bisa menjawabnya. Kalau begitu biarkan saya jadi ayah dari bayimu."
Mata Anisa membulat sempurna. Tak percaya jika Reinhart akan mengatakan hal semacam itu kepadanya. "Maaf, saya menolaknya." Anisa beranjak pergi dari tempat itu. Sudah cukup Reinhart membuat dadanya sesak.
Namun, baru beberapa langkah, Anisa berhenti dan menoleh.
"Terserah dokter mau berpikiran apa tentang saya. Yang jelas, bayi ini memiliki ayah. Dan saya ... juga punya suami."
Anisa melanjutkan langkahnya usai berkata demikian pada Reinhart. Ia berjalan sambil memegangi dadanya yang terasa makin sesak saja. Air mata mengiringi langkahnya menuju kampus kembali.
Di luar taman, Renata melihat sosok Anisa yang baru saja keluar dari sana. Kemudian disusul Reinhart yang ikut keluar dengan wajah lesu dan tak bersemangat.
"Anisa dan Kak Rein? Kenapa mereka keluar dari taman terlarang? Apa jangan-jangan mereka punya hubungan?"
*
*
*
Anisa menyelesaikan jam kuliahnya dengan baik meski pikirannya tak bisa fokus pada mata kuliah yang diajarkan. Tentunya kejadian hari ini di taman belakang membuat hubungannya dan Reinhart tidak akan lagi sama.
"Nis, temani aku ke mall yuk. Ada yang mau aku beli," ucap Rhea dengan gaya manjanya.
"Maaf, Rhe. Hari ini aku mau langsung pulang. Badanku rasanya gak enak."
"Oh gitu ya? Ya udah deh. Kalau gitu aku pergi sendiri aja."
"Maaf ya, aku pergi dulu." Anisa segera membawa tasnya dan keluar dari kelas.
"Gimana kalau pergi sama aku aja?" Tanpa diduga rupanya Renata mendengar obrolan Rhea dan Anisa tadi.
"Hah? Serius? Kamu gak ada acara setelah ini?" Mata Rhea berbinar senang.
Renata menggeleng. "Enggak ada. Kebetulan aku juga mau ada yang dicari sih di mall."
"Oke deh, yuk ah cuss berangkat."
*
*
*
Tiba di rumah kontrakan, Anisa dikejutkan dengan kehadiran Raya yang ada disana.
"Nah, itu anaknya baru pulang. Nak, sini." Rahayu mengajak Anisa duduk bersama.
"Ada apa ya? Kok ada Kak Raya disini?"
Raya menatap Anisa. Sejenak sebagai lelaki, Raya terpana melihat kecantikan alami Anisa yang tanpa polesan make-up sedikitpun. Biasanya Raya hanya melihat Anisa disertai cadarnya.
"Astaghfirullahaladzim." Anisa menutup mulutnya. Ia baru sadar jika saat ini tidak memakai cadar.
"Gak apa-apa. Santai aja. Eike gak bakalan kasih tahu Raisa kok."
Anisa merasa kikuk di depan Raya. "Ada urusan apa Kak Raya datang kesini?"
Raya menyodorkan sebuah map di depan Anisa. "Raisa bilang kamu sama Bu Rahayu harus pindah dari rumah kontrakan ini. Raisa udah menyewa apartemen untuk kalian tinggal sampai kamu melahirkan."
"Hah? Apartemen?" Anisa dan Rahayu saling pandang.
"Ini demi kenyamanan kamu dan si jabang bayi." Raya menunjuk perut Anisa.
"Kapan kami harus pindah?" tanya Anisa.
"Hari ini juga. Eike sudah suruh orang buat beresin barang-barang kalian. Bentar lagi orang-orangnya datang."
Anisa hanya diam dan tak berani membantah. Akankah ini jadi pertanda baik untuk Anisa?
daebaklah! karya baru terus pkoknya!🤸