Amira hanyalah perempuan biasa dari kampung kecil.
Istri sederhana. Ibu dari dua anak. Hidup menumpang di rumah orang tua, bertahan bersama suami yang bekerja serabutan, sambil diam-diam memendam satu mimpi kecil:
punya rumah sendiri.
Namun kemiskinan perlahan mengikis segalanya.
Harga diri. Ketenangan. Bahkan kebahagiaan rumah tangga.
Sampai akhirnya sebuah tawaran dari Jakarta datang.
Pekerjaan ringan. Gaji besar. Dan harapan baru bagi keluarganya.
Amira pun merantau ke sebuah ruko tua di ujung gang sempit Jakarta, tempat para perempuan malam tinggal dan bekerja.
Awalnya semua biasa saja, amira dengan rutinitas minyapu, mengepel dan pekerjaan domestik lainnya. sampai suatu ketika, amira menjadi saksi kunci dari sebuah tragedi pembunuhan di ruko lantai 3. dan sejak saat itulah semuanya berubah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MasYB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Interogasi dan Alat Perekam
Ada rahasia yang terasa lebih berat daripada batu.
Rahasia yang tidak hanya membebani pikiran, tetapi juga perlahan membunuh hati orang yang menyimpannya.
Dan pagi itu...
aku sedang menanggung salah satunya.
-----
Ambulans yang membawa jasad Shara sudah lama pergi.
Namun bayangan tubuhnya yang tergeletak di atas genangan darah masih terus menghantui mataku.
Setiap kali aku berkedip, aku melihat wajahnya.
Matanya yang terbuka.
Bibirnya yang pucat.
Dan darah yang terus mengalir dari lehernya.
Aku duduk mematung di lantai dasar ruko.
Tubuhku menggigil.
Padahal matahari pagi mulai naik.
Entah kenapa, aku merasa sangat dingin.
Mungkin karena ketakutan.
Atau mungkin karena ancaman Anggun masih terngiang jelas di kepalaku.
"Kalau sampai ada yang tahu... lu mati."
Kalimat itu terus berputar seperti jarum rusak.
Membuat dadaku semakin sesak.
Tak lama kemudian polisi datang.
Garis polisi dipasang.
Petugas lalu-lalang.
Penghuni ruko turun satu per satu dengan wajah pucat.
Ada yang menangis.
Ada yang syok.
Ada pula yang hanya diam menatap kosong.
Seolah kematian bukan lagi sesuatu yang asing bagi mereka.
Ketika seorang petugas bertanya siapa yang pertama kali menemukan korban, aku mengangkat tangan dengan gemetar.
Dan sejak saat itu hidupku mulai berubah.
Aku dibawa ke kantor polisi untuk dimintai keterangan.
Perjalanan yang biasanya terasa singkat mendadak terasa sangat panjang.
Aku duduk di kursi belakang mobil sambil menatap jalanan Jakarta yang mulai ramai.
Namun pikiranku sama sekali tidak berada di sana.
Pikiranku masih tertinggal di kamar Shara.
Di depan pisau Anggun.
Di depan ancaman kematian.
Sesampainya di kantor polisi, aku dipersilakan masuk ke sebuah ruangan kecil.
Ruangan itu sederhana.
Meja.
Dua kursi.
Pendingin ruangan yang terlalu dingin.
Dan keheningan yang membuatku semakin gelisah.
Beberapa menit kemudian seorang polisi wanita masuk.
Usianya sekitar empat puluhan.
Wajahnya tenang.
Tatapannya tajam.
Namun tidak mengintimidasi.
"Bu Amira?"
Aku mengangguk pelan.
"Silakan santai saja. Saya hanya ingin mendengar cerita Ibu."
Kalimat sederhana itu justru membuatku semakin gugup.
Karena aku tahu...
aku tidak datang ke sini untuk bercerita.
Aku datang untuk berbohong.
Awalnya pertanyaan yang diajukan sangat sederhana.
Nama.
Alamat.
Pekerjaan.
Sudah berapa lama bekerja di ruko.
Lalu perlahan pembicaraan mengarah ke pagi tadi.
Aku menceritakan semuanya.
Tentang kepulanganku dari kampung.
Tentang oleh-oleh untuk Shara.
Tentang pintu yang terbuka.
Tentang darah.
Tentang jasad.
Namun setiap kali sampai pada bagian paling penting...
aku berhenti.
Aku menyembunyikannya.
Aku mengubur nama Anggun sedalam mungkin.
"Apakah Ibu melihat seseorang di dalam kamar?"
"Tidak."
"Yakin?"
"Yakin."
Bohong.
Aku tahu aku sedang berbohong.
Dan anehnya...
semakin sering aku mengucapkannya, semakin sesak dadaku.
Polisi wanita itu tidak langsung membantah.
Dia hanya mencatat sesuatu.
Lalu menatapku cukup lama.
Tatapan yang membuatku sulit bernapas.
"Aneh ya, Bu."
Aku menoleh.
"Maksudnya?"
"Kalau saya berada di posisi Ibu, menemukan mayat seperti itu, biasanya saya akan sangat mengingat detail-detail kecil."
Aku terdiam.
Polisi itu melanjutkan.
"Kadang yang paling sulit dilupakan justru bukan mayatnya."
"Tapi orang terakhir yang berada di dekat mayat itu."
Jantungku seperti berhenti berdetak.
Tanganku langsung berkeringat.
Aku menunduk.
Berusaha menghindari tatapannya.
Namun suara Shara tiba-tiba muncul di dalam kepalaku.
Amira...
tolong...
Aku mengepalkan tangan.
Mencoba mengusir suara itu.
Namun suara itu semakin jelas.
Semakin dekat.
Seolah Shara benar-benar sedang berdiri di sampingku.
Meminta keadilan.
Meminta kebenaran.
Sementara aku...
malah melindungi pembunuhnya.
Air mataku mulai menggenang.
Aku menggigit bibir bawah kuat-kuat.
Tetap berusaha bertahan.
Tetap berusaha diam.
Sampai akhirnya polisi wanita itu berkata pelan.
"Bu Amira."
Aku mengangkat kepala.
"Kalau pelakunya bisa membunuh Shara..."
dia berhenti sejenak.
"...apa Ibu yakin Ibu akan aman jika terus menyimpan rahasianya?"
Kalimat itu menghantamku tepat di dada.
Seluruh pertahananku runtuh.
Aku langsung menangis.
Bukan tangisan biasa.
Tapi tangisan orang yang terlalu lama memendam ketakutan.
Tubuhku bergetar.
Napas tersengal.
Dan untuk pertama kalinya sejak pagi...
aku berhenti berbohong.
"Saya melihatnya..."
suaraku pecah.
Polisi wanita itu tidak mengatakan apa pun.
Dia hanya mendengarkan.
"Saya melihat siapa yang ada di dalam kamar..."
Air mataku semakin deras.
"Dia masih di sana saat saya menemukan Shara."
"Dia membawa pisau."
"Dia mengancam saya."
"Dia bilang akan membunuh saya kalau saya buka suara."
Ruang interogasi mendadak terasa sangat sunyi.
Aku bahkan bisa mendengar suara napasku sendiri.
Polisi wanita itu perlahan menyodorkan tisu.
"Siapa orang itu, Bu?"
Aku memejamkan mata.
Nama itu terasa begitu berat.
Karena begitu aku mengucapkannya...
tidak ada jalan kembali.
Namun pada akhirnya aku sadar.
Diam pun tidak akan menyelamatkanku.
Cepat atau lambat, Anggun akan tetap tahu bahwa aku melihat semuanya.
Dan kalau begitu...
lebih baik aku memilih berdiri di pihak yang benar.
Aku menarik napas panjang.
Lalu mengucapkannya.
"Anggun."
Satu kata.
Namun terasa seperti menjatuhkan batu raksasa dari pundakku.
"Yang saya lihat di dalam kamar itu adalah Anggun."
Untuk beberapa detik tidak ada yang berbicara.
Polisi wanita itu hanya mengangguk pelan.
Sementara aku terduduk lemas.
Merasa lega.
Sekaligus ketakutan.
Karena jauh di dalam hatiku...
aku tahu satu hal.
Hari ini aku memang sudah mengatakan kebenaran.
Tapi bersamaan dengan itu...
aku juga baru saja menjadikan diriku musuh seorang pembunuh.