Aryo Pradana adalah seorang pengusaha sukses, namun sayang berada di puncak pencapaian dengan bergelimang harta tak lantas membuatnya jadi suami bersyukur. Ia memilih mengkhianati Sekar—istri setianya yang berasal dari garis keturunan dukun terkuat di sebuah desa terpencil asal Banyuwangi.
Demi ambisi dan gairah, Aryo menikah siri dengan Maya, gadis kota, muda, namun ambisius. Alih-alih meratap dan menangisi nasibnya, Sekar yang mengetahui pengkhianatan ini justru memilih mundur dengan keheningan yang mematikan.
Ketika Maya mulai mengandung anak Aryo dan menuntut posisi sebagai istri sah satu-satunya, teror gaib yang legendaris, Santet Pring Sedapur, mulai dikirimkan.
Di balik keputusasaan Aryo untuk menyelamatkan istri mudanya, ia harus berhadapan dengan kenyataan bahwa satu-satunya cara menghentikan teror ini adalah menyerahkan kembali jiwanya pada Sekar—atau mati bersama seluruh keturunannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnnaYoung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35 - Pilihan Mustahil
Jauh di pedalaman lereng selatan Gunung Salak. Sekitar 20 meter di depan mereka, di balik kabut tebal yang merayap turun seperti tirai putih raksasa, berdiri sebuah gubuk panggung tua yang seluruh dindingnya terbuat dari anyaman bilah bambu hitam legam yang telah berlumut. Atap gubuk itu tertutup oleh rimbunnya tajuk pohon beringin tua yang akar-akar gantungnya menjuntai ke bawah seperti rambut kusut yang kelam.
Tempat itu begitu sunyi, begitu terisolasi dari peradaban manusia modern, hingga suara kepakan sayap burung gagak di kejauhan terdengar bagai dentang nisan yang dingin.
Ketegangan spiritual di sekitar mereka langsung melonjak ke titik ekstrem. Jauh di belakang sana, kaca depan mobil yang semula retak kecil kini berderit keras seiring dengan meningkatnya tekanan hawa dingin dari luar.
Raga Maya yang terbungkus kain mori putih di atas pundak Aryo tidak lagi merintih; ia diam, kaku, dengan napas yang keluar satu demi satu menyerupai derit patahnya ranting kayu yang mati.
Aryo terus bergerak di belakang Danu dengan tubuh yang gemetar tanpa henti. Telapak tangannya yang tergores paku-paku dari raga Maya kini telah membiru, terkontaminasi oleh sisa energi Pring Sedapur.
Setelah cukup jauh berjalan, akhirnya mereka tiba di depan gubuk tersebut.
Tidak ada pagar, tidak ada jimat yang tergantung di ambang pintu. Namun, begitu kaki Aryo memijak pekarangan tanah gubuk tersebut, bulu kuduknya berdiri hebat. Tempat itu memancarkan aura tekanan spiritual yang teramat padat—sebuah batas wilayah netral tempat dunia ghaib dan dunia nyata berbenturan secara seimbang.
"Kita sudah sampai di batas pertahanan Ki Ageng," ucap Danu, suaranya berat, datar, dan memecah keheningan yang mencekam. Ia memutar tubuhnya menghadap Aryo. Sepasang mata hitam Danu menatap lurus ke dalam manik mata sang pengusaha yang telah kehilangan seluruh sisa harga dirinya.
Aryo tak langsung menjawab, Ia lebih dulu meletakan Maya begitu saja di dekat tiang penyangga gubuk. Napasnya masih terengah-engah dengan keringat yang bercucuran.
"Mas Danu ... ayo kita bawa Maya masuk ke dalam gubuk itu. Mintakan Ki Ageng untuk mencabut kutukannya sekarang," ratap Aryo, suaranya parau dan bergetar hebat. Ia mencengkeram lengan mantel cokelat Danu dengan sisa kekuatannya.
Danu tidak bergeming. Ia perlahan melepaskan cengkeraman tangan Aryo, lalu merogoh saku mantelnya untuk mengeluarkan pemantik kuningan tuanya. Ia memantik api sejenak, membiarkan pendar cahayanya menerangi wajah mereka yang kuyu, sebelum menutupnya kembali dengan bunyi klik yang dingin.
"Masuklah!" kata Danu.
Namun, baru satu langkah Aryo berjalan. Pintu gubuk panggung hitam Ki Ageng di depan mereka perlahan terbuka sendiri dengan bunyi derit panjang yang kaku, mengisyaratkan bahwa pelarian mereka telah mencapai dinding batas terakhir.
Kegilaan psikologis yang dipicu oleh akumulasi rasa bersalah, ketakutan mati, dan tekanan masif dari energi Pring Sedapur kini telah mencapai puncaknya, menciptakan distorsi mental di mana garis antara halusinasi batin dan manifestasi gaib murni menjadi kabur sepenuhnya.
Dari dalam kegelapan ruangan yang hanya diterangi oleh sebuah tiupan bara di tungku tanah liat, terdengar suara Dehaman singkat namun berat. Seorang pria tua berambut putih panjang terurai, mengenakan pakaian serba hitam dari kain tenun kasar, duduk bersila di atas lantai bambu.
Dialah Ki Ageng. Matanya yang buta dan tertutup selaput putih katarak tampak menatap lurus ke arah pintu tempat Danu dan Aryo berdiri membawa Maya.
"Sumpah darah dari tanah wetan ...."
Suara Ki Ageng mengalun berat, dalam, dan bergema pelan bagaikan gesekan batu gilang.
"Bahkan dinginnya angin Gunung Salak pun tidak mampu meredam bau busuk dari pengkhianatanmu, Aryo."
Tanpa dijelaskan, Ki Ageng sang petapa itu sudah mengetahui lebih dulu.
"Ki, tolong saya, Ki. Tolong cabut kutukan yang menjerat saya dan istri saya. Tolong sembuhkan istri saya." Aryo memohon di hadapan Ki Ageng yang kini sudah berdiri bungkuk di ambang pintu.
Ki Ageng tidak segera menjawab. Jemarinya yang kurus dan berurat menunjuk ke arah Aryo yang berdiri gemetar menggenggam bambu kuning.
"Kamu .., " ucap Ki Ageng pelan, selaput putih matanya seolah mampu menguliti seluruh isi dada Aryo. "Kamu datang kemari bukan untuk bertobat, tapi untuk melarikan diri dari akibat perbuatanmu sendiri. Kamu membawa raga wanita muda ini bagaikan barang gadaian, berharap ada keajaiban yang bisa membersihkan dosa tanganmu tanpa kamu kehilangan sepeser pun kenyamananmu."
Aryo jatuh berlutut di atas tanah, merapatkan kedua telapak tangannya di depan dada. "Tolong saya, Ki ... tolong selamatkan Saya. Saya akan bayar berapa pun ... harta saya, rumah saya ... tolong putus kutukannya!"
Ki Ageng terkekeh—sebuah tawa dingin yang membuat suasana di dalam gubuk terasa kian mencekam.
"Harta?" desis Ki Ageng sambil mengambil sebatang bambu kuning kecil dari samping tungkunya, lalu melemparkannya tepat ke depan lutut Aryo. "Pikirkanlah! Harta yang kamu punya itu berasal dari mana?"
Ki Ageng kemudian mengalihkan pandangannya pada raga Maya yang terbaring kaku. Dari sela-sela pori kulit leher Maya, serat-serat bambu hitam kembali merayap keluar, seolah merespons keberadaan bambu kuning di tangan sang petapa.
"Pengikatan ini sudah berada di titik puncak Sumsum Ing Pring," lanjut Ki Ageng dingin. "Waktumu sudah habis, Aryo. Fajar ini adalah garis batas terakhir. Jin itu tidak bisa diusir, tidak bisa dibakar, dan tidak bisa ditawar dengan emas."
Danu melangkah maju, memotong dengan nada tegas. "Pasti ada celah untuk memutus jalurnya dari luar, Ki. Apa pilihan yang tersisa untuk membatalkan legalitas sumpah ini?"
Ki Ageng perlahan melangkah maju. Tubuhnya yang bungkuk memancarkan wibawa mistis yang teramat kuat. Ia menunjuk ke arah Maya, lalu mengarahkan telunjuknya tepat ke dada Aryo.
"Pilihannya sangat sederhana, namun mustahil bagi lelaki tamak seperti dia," kata Ki Ageng dengan nada final yang mematikan. "Serahkan nyawamu sendiri untuk menggantikan posisi raga wanita ini ... atau biarkan wanita ini mati membusuk."
Kata-kata Ki Ageng menghantam kesadaran Aryo bagai palu godam tak kasat mata. Pria konglomerat itu membeku, napasnya tercekat di dada. Seluruh dunianya seolah runtuh menjadi kepingan abu yang hampa.
"Pilihan ... mustahil apa ini, Ki?" Aryo mulai histeris, air matanya kembali tumpah membasahi kemeja mahalnya yang kini kotor penuh noda tanah merah.
Ia mendongak, menatap selaput putih di mata Ki Ageng yang tak berkedip. Cahaya dari bara api di tungku tanah liat memantulkan bayangan kemerahan di wajah sang petapa, membuatnya tampak bagaikan algojo gaib yang siap mencabut nyawanya detik itu juga.
"S-Saya ini korban, Ki! Saya yang diteror! Saya bawa Maya ke sini untuk selamat ... bukan untuk mati menggantikan dia! Pasti ada cara lain! Ada sesajen lain, kan? Darah kambing kendit? Darah ayam cemani sepuluh ekor? Atau tanah dari tujuh pemakaman keramat? Sebutkan harganya, Ki! Berapa miliar?!"
Ki Ageng tidak merespons kepanikan itu dengan amarah. Beliau justru melangkah pelan, mendekati bale-bale tempat raga Maya terbaring. Jemarinya yang keriput dan hitam di bagian kuku meraba dahi Maya yang terasa dingin bagaikan es batu.
Aryo mengikuti pergerakan Ki Ageng, menoleh ke belakang dengan leher yang kaku. Ia bisa melihat kain mori yang membungkus tubuh Maya terus merembeskan cairan hitam yang berbau belerang pekat.
Wajah wanita muda yang dulu ia pamerkan di karpet merah Jakarta kini tertutup robekan horizontal yang mengerikan, mengeluarkan untaian serat kayu kelabu dari balik daging pipinya. Maya sedang meregang nyawa di titik paling nadir akibat menikmati rezeki dari tanah sumpah yang dikhianatinya..
"Bagaimana kalau ... kalau saya memilih Maya?" tanya Aryo dengan suara yang nyaris tak terdengar, tubuhnya lunglai ke atas tanah.
Ki Ageng kini berbalik sepenuhnya, mengarahkan tongkat bambu kuningnya tepat ke dada Aryo.
"Maka Kamu harus serahkan jiwamu secara sukarela malam ini di atas batu persembahan di belakang gubuk ini. Jiwamu akan menggantikan posisi Maya. Jin itu akan mengambil ragamu."
"Nggak ... nggak mungkin! Saya tidak mau mati, Ki Ageng!" jerit Aryo histeris. Ia mundur merayap di atas tanah, menjauhi Ki Ageng. "Saya masih punya bisnis! Saya punya aset di mana-mana! Maya ... Maya kan bisa hamil lagi nanti kalau dia selamat! Tapi kalau saya mati, semuanya hancur!"
"Ini adalah keadilan nyata dari tanah wetan, Aryo," tambah Danu, suaranya terdengar layaknya hakim spiritual yang dingin di tengah kegelapan kabut Salak
Aryo semakin tersungkur di atas tanah, menangkupkan kedua tangannya ke wajah sambil menangis parau, meraung meluapkan seluruh keputusasaan yang mutlak. Pilihan itu terlalu kejam untuk jiwanya yang terbiasa mengendalikan segala sesuatu dengan nominal materi.
Di satu sisi, ia mencintai Maya—wanita yang representasikan kesuksesan barunya di kota; namun di sisi lain, ketakutan akan kematian dirinya sendiri mencengkeram akal sehatnya hingga ke titik paling dasar.
Di luar gubuk, angin gunung mendadak bertiup kencang, menggoyang dahan-dahan pohon beringin tua di atas gubuk panggung hitam. Suara gerisik dedaunan bambu gaib (pring petung) terdengar kian bising menggelombang dari arah tebing-tebing batu di sekeliling mereka, seolah-olah ribuan pasang mata tak kasat mata dari silsilah Sekar sedang berdiri di dalam kabut, menunggu dengan sabar jawaban apa yang akan keluar dari bibir Aryo.
"Sa-saya tidak bisa, Ki! Saya tidak mau mati!"
Ki Ageng memejamkan matanya rapat-rapat, menghela napas panjang yang sarat akan kekecewaan mendalam pada sifat dasar manusia yang tamak.
"Keputusanmu sudah tertulis di lembaran karma, Aryo," kata Ki Ageng dengan suara dingin bagaikan batu es. "Kamu baru saja menandatangani surat kematian bagi wanita ini dengan tanganmu sendiri."
Aryo terpatri di halaman rumah joglo tua ,sbgai tumbal keserakahan nya
Tidak lagi memakai kebaya beludru hitam dan kain jarik gajah oling.
mau gak percaya tapi ada ...
pasrahkan penjagaan ke illahi dari gangguan makhluk malam ,jin iblis itu nyata.
dan jangan serakah menguasai harta yang bukan milikmu.
lebih baik miskin daripada kaya tapi hidup tidak tenang.
Habis sudah riwayat Aryo.
duh Mbak Sekar terlalu lembut bilangnya
bilang aja untuk mengantar kematianmu Mas
😄😄
tapi
lebih ke tembang pemanggil, pengiring hal hal keghaiban
Sifat kemaruk mu akan menenggelamkan kalian dalam jurang kesedihan
kau lah racun yang sesungguhnya, datang tiba2, disaat Aryo kaya raya ,lalu merayu dan membiusnya dalam keserakahanmu.
ketamakan dan keegoisanmu merenggut kebahagiaan wanita lain.
maka jangan salahkan ,sekar.
maya juga tdk lepas dari kutukan sekar
bagus nya mati menderita seperti maya , mereka berbuat bersama
tapi secara fisik maya yang lebih hancur