Delapan tahun pernikahan membuat Naura rela mengorbankan segalanya demi keluarga. Ia melahirkan dua anak, meninggalkan kariernya, dan diam-diam membantu suaminya membangun kerajaan bisnis hingga menjadi konglomerat.
Namun setelah tubuh Naura berubah gemuk usai dua kali melahirkan, Erwin justru menganggapnya sebagai aib dan memilih wanita lain.
Diceraikan, dihina, bahkan dipisahkan dari anak-anaknya, Naura memilih bangkit daripada terus terpuruk. Ia kembali pada identitas yang selama ini disembunyikan sebagai pewaris keluarga kaya. Di saat yang sama, takdir mempertemukannya kembali dengan pria dari masa lalunya, yang membantunya mengubah hidup sekaligus mengembalikan tubuhnya menjadi sehat dan ideal.
Saat Erwin kehilangan semua yang dibanggakannya dan memohon agar Naura kembali, wanita itu hanya tersenyum dingin.
"Kau membuangku karena tubuhku gemuk setelah melahirkan kedua anakmu! Kini, kau akan kehilangan semua yang pernah kubangun untukmu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab⁹
Malam yang sama...
Di mansion keluarga Ardynata, suasananya jauh lebih tenang.
Naura berdiri seorang diri di balkon kamarnya. Angin malam berembus lembut, mengibaskan beberapa helai rambut yang terlepas dari ikatannya. Dari lantai dua, lampu-lampu taman terlihat berpendar hangat, tetapi pikirannya justru melayang jauh.
Perlahan ia membuka galeri ponselnya, jarinya berhenti pada sebuah foto. Laura dan Lionel, kedua anaknya. Foto itu diambil beberapa bulan lalu saat mereka bertiga membuat kue bersama di dapur. Wajah kedua anaknya dipenuhi tepung, sementara Naura tertawa lepas sambil memegang spatula.
Melihat foto itu, senyum tipis sempat terukir di bibirnya. Namun hanya sesaat, setelah itu rasa rindu kembali menghantam dadanya.
Naura mengusap lembut layar ponselnya, seolah sedang membelai pipi kedua anaknya.
"Laura... Lionel... Mama janji akan menjemput kalian."
Tak terasa, air mata kembali menggenang. Namun kali ini, Naura tidak membiarkannya jatuh.
Ia mengangkat wajah menatap langit malam.
"Cukup! Aku udah terlalu banyak menangis, aku gak boleh lemah lagi."
Tatapannya berubah tegas, kalau ia ingin merebut hak asuh kedua anaknya maka air mata saja tidak akan pernah cukup. Yang ia butuhkan adalah kekuatan, kekuatan ekonomi dan hukum. Dan kekuatan untuk membuktikan bahwa dirinya mampu memberikan kehidupan terbaik bagi Laura dan Lionel.
Naura menghapus sisa air mata di sudut matanya, lalu berbalik masuk ke kamar.
Di atas meja sudah menunggu sebuah map tebal yang diberikan Kakek Guntur sore tadi. Di bagian depannya tertulis: ARDYNATA GROUP
Naura menarik kursi, lalu mulai membuka lembar demi lembar dokumen di dalamnya. Semakin lama ia membaca, kedua alisnya semakin bertaut.
"Sebesar ini..."
Delapan tahun lalu, sebelum meninggalkan rumah, ia tahu keluarganya memang kaya. Namun ia tidak pernah benar-benar mengetahui sebesar apa kerajaan bisnis keluarga Ardynata.
Perusahaan properti.
Rumah sakit.
Perkebunan.
Hotel.
Logistik.
Energi.
Investasi.
Jumlah anak perusahaan yang tercatat bahkan mencapai puluhan. Naura mengembuskan napas panjang, pantas saja Erwin begitu bangga menjadi konglomerat. Kalau dibandingkan dengan keluarga Ardynata... perusahaan mantan suaminya itu bahkan belum mencapai sepersepuluh dari nilai aset keluarga ini.
Tok... Tok... Tok...
Pintu kamarnya diketuk pelan.
"Masuk."
Kakek Guntur melangkah masuk sambil membawa segelas cokelat.
"Kakek tahu kamu belum tidur."
"Kakek juga." Naura tersenyum tipis.
Pria tua itu tertawa kecil sebelum meletakkan cangkir di depan cucunya. "Kamu sedang membaca laporan perusahaan?"
"Jujur aja, aku kaget saat memeriksanya. Kenapa Kakek menyembunyikan semua ini dariku?"
"Bukan menyembunyikan, Kakek hanya menunggu waktu yang tepat."
Naura menutup map itu perlahan. "Aku bahkan tidak tahu harus mulai dari mana."
Kakek Guntur duduk di hadapannya.
"Mulailah dari tujuanmu, merebut Laura dan Lionel."
“Setelah itu?" Naura menatap sang kakek.
"Kembalikan harga dirimu, dan... ambil kembali semua yang dulu seharusnya menjadi milikmu."
Naura menatap pria tua itu. "Maksud Kakek?"
"Kursi direktur utama Ardynata Group."
"Aku?" Naura membelalak.
"Siapa lagi? Kamu pewaris satu-satunya."
Naura menggeleng pelan. "Aku sudah delapan tahun meninggalkan dunia bisnis, kemampuanku mungkin sudah tumpul."
"Kamu lupa satu hal, dulu... siapa yang membantu Erwin membangun Gentala Group?" Kakek Guntur justru tersenyum bangga pada cucunya.
Naura tersenyum tipis, Ia memang tidak pernah bekerja secara resmi di perusahaan Erwin. Namun hampir semua strategi bisnis pada masa-masa awal berdirinya perusahaan berasal dari hasil diskusi mereka berdua.
Mulai dari pemetaan pasar, negosiasi investor sampai konsep ekspansi. Naura mengerjakannya dari rumah, tanpa pernah meminta namanya dicantumkan dan tak pernah meminta jabatan. Semua ia lakukan demi suaminya. Ironisnya, saat Gentala Group berhasil menjadi perusahaan besar, namanya justru dihapus begitu saja.
"Aku memang bodoh waktu itu."
"Bukan bodoh."
"Kamu hanya terlalu mencintainya."
Naura tersenyum pahit. "Dan sekarang, aku sudah sadar."
"Itulah yang ingin Kakek dengar." Kakek Guntur mengangguk puas.
Pria tua itu kemudian mengeluarkan sebuah amplop cokelat dari balik jasnya.
"Apa ini?"
"Bukalah."
Naura membuka amplop tersebut, di dalamnya terdapat sebuah surat penunjukan resmi. Matanya langsung membelalak: Penunjukan sebagai Direktur Strategi Ardynata Group.
"Aku... langsung bekerja?"
"Kamu pikir Kakek mengajakmu pulang untuk liburan?"
"Nggak..." Naura tertawa kecil.
"Kamu pulang untuk mengambil kembali hidupmu." Pria tua itu menatap cucunya penuh keyakinan.
Naura menggenggam surat penunjukan itu erat-erat, Ia adalah Naura Ardynata. Dan langkah pertamanya untuk bangkit, akan segera dimulai.
...*****...
Keesokan paginya, matahari bahkan belum sepenuhnya terbit ketika alarm ponsel Naura berbunyi nyaring.
Tring...
Tring...
Dengan mata masih terpejam, tangannya meraba-raba nakas.
"Hmm... lima menit lagi...."
Baru saja ia hendak menarik kembali selimut, suara ketukan terdengar dari balik pintu.
Tok... tok... tok...
"Nona, Tuan Besar meminta saya memastikan Anda sudah bangun."
Naura membuka sebelah matanya.
"Masih jam berapa ini?"
"Jam lima lewat empat puluh, Nona."
Naura langsung memejamkan mata lagi. "Kalau begitu bilang sama Kakek, cucunya meninggal karena kurang tidur."
Dion yang berada di luar pintu menahan tawa.
"Maaf, Nona. Tuan Besar bilang kalau Anda tidak keluar dalam lima menit, beliau sendiri yang akan masuk."
Mendengar ancaman itu, Naura langsung terduduk. "Kompakan sekali mereka."
Naura mengacak rambutnya dengan kesal. Ia baru saja ingin kembali merebahkan tubuh ketika ponselnya berdering lagi.
Begitu melihat nama yang muncul di layar, dahinya langsung berkerut—Alaska Galaxy Lavendra.
Dengan wajah ditekuk masam, ia menerima panggilan itu. "Apa?"
"Sudah bangun?"
"Belum."
"Kalau belum bangun, siapa yang sedang mengangkat teleponku?"
"Aku masih setengah tidur."
"Berarti masih bisa diajak bicara."
Naura memijat pelipisnya. "Dokter, pasien juga punya hak untuk tidur."
"Tapi pasienku juga punya jadwal terapi."
"Dokter Alaska, ini bahkan belum jam enam." Naura mengembuskan napas panjang.
"Kurang dua menit."
"Itu tetap belum jam enam."
"Makanya aku menelepon sekarang."
Naura memejamkan mata rapat-rapat. "Kamu memang sengaja ingin menggangguku, ya? Aku mulai menyesal bertemu lagi denganmu."
Terdengar tawa maskulin dari seberang sana. "Sayangnya... aku justru senang kita bertemu lagi."
Naura terdiam sesaat, tak menyangka akan mendapat jawaban seperti itu. Sebelum sempat membalas, Alaska kembali berkata dengan nada tenang.
"Sepuluh menit lagi aku sampai di depan rumahmu. Jangan buat aku menunggu."
Tut.
Panggilan langsung terputus.
Naura hanya bisa menatap layar ponselnya dengan kesal.
"Dokter keras kepala..." gerutunya pelan.
Naura menatap layar ponselnya beberapa detik. "Luar biasa... Dokter paling menyebalkan sedunia.“
😂😂😂😂😂😂😂😂😂
jgn sampe syok yx klo udh inget ,,
seharusnya kamu nyadar diri sudahlah hidup numpang
mencuri perhatian orang Tua naura
sekarang mau apalagi
sinting emang🤭
toh kamu cuman mau naura saat langsing
orang sirik tanda nak mampus ,,
🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤭
😁😁😁😁😁😁😁