Hidup Gavin Wijaya berubah total dalam semalam. Mantan "sultan" Jakarta yang terbiasa hidup mewah harus meninggalkan kehidupan glamor dan menjadi buruh migran (TKI) di Taiwan. Dari pesta dan kemewahan, kini yang tersisa hanyalah kerja keras di sebuah pabrik.
Di sisi lain, Tiffany Chen adalah CEO muda jenius yang dikenal dingin dan perfeksionis. Baginya hidup hanya tentang bisnis, angka, dan kesuksesan. Namun sebuah tekanan dari sang ayah memaksanya mencari jalan keluar yang tidak pernah dia bayangkan.
Sebuah pertemuan tak terduga membuat Gavin masuk ke dunia Tiffany. Dengan sebuah rahasia dan kontrak pernikahan, seorang mantan sultan yang kini menjadi TKI mendadak berubah menjadi "suami penyamaran" seorang CEO Taiwan.
Ketika pria santai dan usil harus hidup bersama wanita dingin yang lebih mirip robot pekerja, kehidupan mereka mulai berubah. Akankah pernikahan kontrak ini tetap menjadi sekadar kesepakatan, atau berubah menjadi sesuatu yang tidak pernah mereka rencanakan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miko J, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Surat Pemecatan dan Siasat Sang CEO
Kemarahan Tiffany Chen sudah mencapai ubun-ubun. Setibanya di ruang kerja lantai empat puluh lima, dia langsung membanting tas tangan mahalnya ke atas meja marmer. Dua kali. Dalam dua minggu berturut-turut, buruh asing itu sukses mengacaukan harinya, merusak pakaiannya, dan yang paling parah: menghina harga dirinya dengan sebutan "tante encok".
Tiffany menekan tombol interkom di mejanya. "Sambungkan saya ke kepala pabrik cabang Taoyuan. Sekarang!"
Sementara itu, di pabrik komponen elektronik Taoyuan, Gavin sedang sibuk meratapi nasibnya di depan loker pekerja. Hari ini sif kerjanya terasa dua kali lipat lebih melelahkan karena bayang-bayang harus membersihkan toilet setelah ini.
Tok! Tok! Tok!
Pak Wang, sang mandor, tiba-tiba mendobrak pintu ruang loker dengan wajah pucat pasi. Napasnya memburu, dan di tangan kanannya ada selembar kertas putih berlogo resmi Chen Corp.
"Gavin..." panggil Pak Wang dengan suara bergetar, tidak lagi membentak seperti biasanya. "Kamu... apa yang sebenarnya kamu lakukan pada Bos Besar di Taipei kemarin?"
Gavin berkedip polos, menghentikan aktivitasnya memakai sarung tangan karet. "Hah? Kemarin kan hari Minggu, Pak. Saya cuma jalan-jalan ke Taipei. Oh, kemarin saya sempat menolong tante-tante judes yang mau jatuh karena encok sih. Kenapa memangnya, Pak Wang?"
Pak Wang menepuk dahinya keras-keras, hampir menangis mendengar kepolosan Gavin yang kelewat batas. Pria paruh baya itu menyodorkan kertas di tangannya dengan pasrah.
"Kamu dipecat, Gavin. Kamu harus angkat kaki dari asrama dan pabrik ini paling lambat nanti malam!"
Gavin membeku. Matanya melotot menatap selembar kertas tersebut. Huruf-huruf Mandarin di sana terasa berputar-putar di kepalanya, tetapi stempel merah bertuliskan TERMINATED terlihat sangat jelas.
"D-dipecat, Pak? Tapi kenapa?!" seru Gavin panik, jantunngya mendadak berdegup kencang karena ketakutan. "Saya kan cuma menolong! Masa menolong orang jatuh malah dipecat? Hukum di Taiwan aneh banget, Pak!"
"Sudah, jangan banyak protes! Cepat bereskan barang-barangmu sebelum petugas keamanan menyeretmu keluar!" Pak Wang menggeleng-geleng pasrah lalu berjalan pergi, meninggalkan Gavin sendirian di ruang loker yang sunyi.
Gavin jatuh terduduk di bangku kayu panjang. Tangannya gemetar memegang surat pemecatannya. Dunianya runtuh untuk kedua kalinya. Sisa uang di dompetnya tidak akan cukup untuk bertahan hidup di Taiwan bahkan untuk tiga hari ke depan, apalagi untuk membeli tiket pulang ke Indonesia. Dia benar-benar telah menjadi gelandangan di negara asing.
"Tante judes sialan..." bisik Gavin dengan mata berkaca-kaca menahan tangis yang kocak. Dia meremas surat itu, menyembunyikan wajahnya di balik kedua tangan. "Kejam banget jadi orang... tega-teganya bikin mantan sultan kelaparan di jalanan... hiks..."
Di ruang kerja mewah lantai empat puluh lima, Tiffany Chen baru saja meletakkan gagang interkom setelah memastikan surat pemecatan buruh lancang bernama Gavin itu dikirim ke pabrik Taoyuan. Nafasnya masih memburu menahan sisa kejengkelan akibat insiden hujan kemarin.
Namun, kepuasan setelah memecat buruh lancang itu tidak bertahan lama. Ponsel di atas mejanya tiba-tiba berdering nyaring. Nama "Ayah" muncul di layar. Tiffany memejamkan mata, menarik napas dalam-dalam sebelum mengangkatnya.
"Tiffany! Pertemuan dengan Lin Group kemarin berantakan gara-gara ucapan lancangmu!" suara bariton ayahnya langsung menggelegar tanpa salam melalui pelantang ponsel. "Ayah tidak mau tahu. Bulan depan kamu harus bertunangan dengan putra Lin Group, atau Ayah akan menjual seluruh saham mayoritas keluarga kita kepada mereka! Biarkan dewan direksi mencopotmu secara tidak hormat dari kursi Direktur Utama karena dianggap tidak mampu memimpin perusahaan sendirian tanpa aliansi yang stabil!"
Klik. Sambungan diputus sepihak.
Ultimatum itu bagai hantaman gada berat di kepala Tiffany. Dia meremas ponselnya erat-erat, lalu melempar benda itu ke sofa dengan frustrasi. Tubuhnya merosot di kursi kebesaran, dua tangannya memijat pelipis yang mulai berneon nyeri luar biasa. Stresnya sudah mencapai titik kritis. Posisinya sebagai direktur utama terancam copot dalam hitungan minggu jika dia tidak membawa calon suami untuk membungkam mulut ayahnya dan menenangkan gejolak pasar saham eksternal di luar sana.
Menikah dengan pria manja Lin Group? Mustahil! batin Tiffany frustrasi, matanya menatap kosong ke langit-langit ruangan yang tinggi