NovelToon NovelToon
Santri Bar-Bar Milik Gus CEO

Santri Bar-Bar Milik Gus CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Nikahmuda
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

~

​Nayanika Sadira Pangestu, gadis kaya raya yang cantik, nakal, dan bar-bar, akhirnya kena batunya. Karena saking seringnya bikin pusing, ia "dibuang" orang tuanya ke sebuah pesantren pedalaman untuk bertobat.

~

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 11

***

Malam kian melarut, membawa keheningan yang semakin pekat di atas tanah Pondok Pesantren Al-Falah. Jarum jam dinding di lorong asrama putri sudah lama melewati angka satu pagi, namun di Kamar Khadijah 3, Naya masih terjaga. Gadis itu berbaring telentang, menatap langit-langit kamar yang temaram dengan kedua tangan yang dijadikan bantalan kepala.

Suara dengus napas teratur dari Sarah dan Aliyah yang tertidur pulas di sampingnya sama sekali tidak bisa mengalihkan isi kepala Naya. Kalimat Bu Nyai Halimah sore tadi bergaung berulang kali seperti kaset rusak di otaknya.

“Di balik sikap dingin dan kakunya itu, sebenarnya Zayyan memiliki sisi rapuh dan lelah yang mirip denganmu, Naya.”

Naya mengembuskan napas panjang, membalikkan badannya ke kanan, lalu ke kiri. Nihil. Rasa kantuknya mogok kerja malam ini. Perasaannya mendadak menjadi sangat peka dan gelisah. Menyadari dirinya tidak akan bisa memejamkan mata dalam waktu dekat, Naya perlahan bangkit. Dengan gerakan yang sangat hati-hati agar tidak menimbulkan decit ubin, ia melangkah keluar kamar.

Hawa dingin sepertiga malam pedesaan langsung menyergap kulitnya begitu ia menginjakkan kaki di teras depan asrama putri. Naya merapatkan jaket rajut oversize abu-abu yang membalut gamis tidurnya, lalu duduk di salah satu anak tangga teras yang menghadap langsung ke arah gerbang utama kompleks pesantren. Di atas kepala, langit malam bertabur bintang tampak begitu bersih, berpadu dengan kabut tipis yang mulai turun.

Naya memeluk kedua lututnya, menatap lurus ke arah jalanan setapak yang memisahkan area asrama dengan rumah utama ndalem. Sepi. Hanya ada suara jangkrik yang sahut-menyahut.

Namun, kesunyian itu tidak bertahan lama. Sekitar pukul dua pagi lewat beberapa menit, sepasang sorot lampu mobil yang terang membelah kegelapan dari arah luar gerbang besi pesantren. Sebuah mobil jip mewah berwarna hitam melaju pelan, beralaskan kerikil halaman yang berderit halus, sebelum akhirnya berhenti tepat di area parkir depan kantor ndalem.

Naya menahan napasnya. Dia beneran pulang jam segini? batinnya.

Pintu kemudi terbuka. Sosok pria tegap melangkah turun setelah mematikan mesin. Itu Gus Zayyan. Namun, pemandangan pria itu malam ini benar-benar jauh dari kesan perfeksionis yang biasa Naya lihat.

Zayyan tampak sangat lelah. Kemeja formal biru gelapnya tidak lagi terkancing rapi sampai atas; dua kancing teratasnya dibiarkan terbuka, memperlihatkan pangkal lehernya. Dasinya sudah dilepas dan menggantung asal-asalan di saku celananya, sementara lengan kemejanya digulung berantakan hingga sesiku. Rambutnya yang biasa disisir klimis kini tampak sedikit acak-acakan, jatuh di dahinya. Pria itu mendeham pelan, memijat tengkuknya yang kaku seraya membawa sebuah tas kerja kulit dan kantong plastik putih kecil di tangan kanannya.

Zayyan berjalan beberapa langkah menuju teras rumah, namun langkah kakinya mendadak terkunci ketika mata elangnya menangkap sesosok gadis yang sedang duduk meringkuk di teras asrama putri seberang halaman—menatapnya lurus tanpa berkedip.

Jarak mereka terpisah sekitar sepuluh meter, namun di bawah temaram lampu taman, tatapan mereka beradu. Zayyan mematung selama beberapa detik, mengamati Naya yang hanya mengenakan kerudung kaos instan hitam berantakan.

Naya mengira Zayyan akan langsung memasang wajah galak, mengeluarkan penggaris kayu, atau berteriak dingin memintanya masuk kamar karena melanggar jam malam. Namun, dugaan Naya meleset total.

Pria kaku itu justru menghela napas pendek, lalu mengubah arah langkahnya. Dengan langkah tegap namun santai, ia berjalan membelah halaman, mendekati teras tempat Naya duduk.

Naya mendadak gugup. Ia menegakkan posisi duduknya, bersiap menyusun kata-kata pembelaan diri yang bar-bar. "Heh, Gus Kaku! Gue cuma cari angin ya, jangan harap lu bisa hukum gue—"

"Belum tidur?"

Suara bariton Zayyan memotong ketus kalimat Naya. Suara itu terdengar lebih serak dan berat dari biasanya, menegaskan tingkat kelelahan yang sedang ditanggung tubuhnya. Ia berhenti melangkah tepat tiga langkah di depan anak tangga terbawah, menjaga jarak aman yang sah secara hukum agama. Tidak menyentuh, tidak terlalu dekat.

Naya mengerutkan kening, agak aneh dengan intonasi Zayyan yang melunak. "Enggak bisa tidur. Kepala gue berisik."

Zayyan menatap Naya dari balik lensa kacamatanya yang sedikit turun di pangkal hidung. "Seorang santriwati tidak baik berkeliaran di luar jam dua pagi. Udara malam di sini bisa membuat kamu sakit. Fisik kamu tidak sekuat mulut kamu, Nona Nayanika."

Naya mendengkus kesal, ego Jakarta-nya langsung tersenggol. "Fisik gue kuat ya! Lu aja tuh yang kelihatan kayak mayat hidup. Kusut banget muka lu, kayak baju belum disetrika."

Mendengar ejekan blak-blakan Naya, sudut bibir Zayyan berkedut tipis, membentuk seringai kecil yang hampir tak kentara. Ia mengangkat tangan kanannya, menyodorkan kantong plastik putih kecil yang sedari tadi dipegangnya ke arah Naya.

"Ambil ini," perintah Zayyan pendek.

Naya menyipitkan mata curiga. Ia tidak langsung menerima kantong itu. "Apaan tuh? Lu enggak lagi naruh pencahar atau racun di dalam situ buat bales dendam soal selang air kemarin, kan?"

Zayyan mengembuskan napas panjang melalui hidung, menatap Naya dengan pandangan jengah. "Saya tidak sepicik itu. Tadi saya berhenti di rest area jalan tol untuk mengisi bensin. Umi sempat mengirim pesan kalau kamu suka minum ini saat di rumah."

Naya tertegun. Dengan ragu, ia mengulurkan tangannya dan menyambar kantong plastik itu. Begitu ia mengintip ke dalam, matanya langsung membelalak. Di dalam kantong itu terdapat tiga kotak susu rasa stroberi merek ternama yang biasa ia minum di Jakarta, lengkap dengan beberapa bungkus camilan ringan.

Jantung Naya mendadak berdegup kencang, memberikan sensasi hangat yang asing di dadanya. "Lu... beneran beliin ini buat gue?" cicit Naya, suaranya mendadak mengecil, kehilangan seluruh taring bar-bar-nya.

"Umi yang meminta. Saya hanya menjalankan perintah," jawab Zayyan cepat, mengalihkan pandangannya ke arah deretan bintang di langit demi menyembunyikan rasa canggung yang mendadak menyerang dirinya sendiri. Sifat kaku seorang CEO kembali membentengi dirinya. "Minum itu, lalu segera masuk ke kamar. Jangan membuat saya harus menyeret kamu masuk karena melanggar ketertiban asrama."

Naya memandangi kotak susu stroberi di tangannya, lalu kembali menatap Zayyan. Sisi pemberontak Naya mendadak luluh setelah mengingat cerita Bu Nyai Halimah sore tadi tentang beban berat yang dipikul pria di hadapannya ini.

"Lu... capek ya?" tanya Naya pelan, nadanya terdengar tulus tanpa ejekan.

Zayyan kembali menatap Naya, sedikit terkejut dengan pertanyaan yang tidak biasa dari gadis sekeras Naya. Ia terdiam sesaat, membiarkan angin malam menerpa wajah lelahnya. "Tanggung jawab tidak mengenal kata capek, Nayanika. Ada ribuan santri yang harus dipastikan keselamatannya, dan ada ratusan karyawan di perusahaan yang menggantungkan hidupnya pada keputusan saya."

Naya tertegun. Ia bisa melihat dengan jelas guratan lelah yang mendalam di bawah mata Zayyan, namun terpancar pula keteguhan yang luar biasa dari sepasang manik mata elang itu. Pria di hadapannya ini benar-benar memikul beban dua dunia yang sangat kontras di usianya yang masih muda.

"Tapi lu tetap manusia, bukan robot," sahut Naya, suaranya melembut, menatap Zayyan dengan pandangan yang kini penuh dengan pengertian. "Papa gue juga CEO, dan kalau dia capek, dia biasanya melimpahin marahnya ke gue. Tapi lu... lu malah keliling pondok malam-malam, terus sempat-sempatnya beliin gue susu stroberi. Lu... aneh."

Zayyan menatap Naya lekat-lekat. Untuk pertama kalinya, adu mulut di antara mereka tidak menyisakan ketegangan, melainkan sebuah jembatan pemahaman yang tak kasat mata.

"Saya hanya mencoba menjadi pemimpin yang adil untuk kontrak kita," ucap Zayyan datar, mencoba mengembalikan wibawa kakunya meskipun suaranya yang serak tidak bisa berbohong. Ia membetulkan letak tas kerjanya di lengan. "Waktu kamu habis, Nona. Masuk ke kamar sekarang, atau kuota ponsel kamu besok sore saya potong menjadi tiga puluh menit."

Ancaman itu langsung mengembalikan jiwa asli Naya. Gadis itu cemberut, buru-buru berdiri dari anak tangga sambil memeluk kantong plastik susunya erat-erat. "Iya, iya! Dasar Gus Kaku! Mainnya ancaman mulu! Enggak asyik!" cerocos Naya ketus sembari membalikkan badan menuju pintu asrama.

Namun, sebelum mendorong pintu, Naya menghentikan langkahnya sejenak. Tanpa membalikkan badan sepenuhnya, ia menaikkan dagunya dan berbicara sedikit keras. "Makasih susunya, Gus Kaku! Lu... buruan tidur sana, biar muka lu besok subuh enggak mirip kanebo kering banget!"

Zayyan mematung di halaman, menatap punggung Naya yang dengan cepat menghilang di balik pintu asrama putri yang tertutup rapat. Setelah memastikan pintu itu terkunci aman dari dalam, Zayyan menundukkan kepalanya. Sebuah senyuman tipis—kali ini benar-benar senyuman tulus yang hangat tanpa ada kesan sinis—terukir di wajah tampannya yang lelah.

"Gadis yang unik," gumam Zayyan pelan pada kesunyian malam.

Ia membalikkan badannya, melangkah dengan ritme yang lebih santai menuju rumah utama ndalem. Di sepertiga malam yang dingin itu, benteng es di hati sang Gus CEO dan dinding batu di hati si santri bar-bar perlahan mulai menampakkan retakan kecil, bersiap untuk mencair seiring berjalannya waktu.

BERSAMBUNG

1
Kholiq Masbuhin
greget banget thorrr,antek2 Fida bikin darting.mapus di bikin Naya kicep🤣🤣
Kholiq Masbuhin
🥹🥹bikin mewekkk, semangat terus Thor
Kholiq Masbuhin
huhuhuhu terharu q thorr🥹🥹, seperti masuk dalam ceritanya
Kholiq Masbuhin
gilaaaa lanjutkan thorrrr,kamu membuat aku menghaluuuuu
Kholiq Masbuhin
thorrrrrrrrrrrrrr bom bas tis,ya Allah mengguncang hatiku,sampe deg deg serrrrrrrr.tidak bisa berkata-kata,karyamu bagusss bangettttt.semoga semakin bagus thorrrrr,lope lope banyak banyak🤍🥰😘
Kholiq Masbuhin
aaaaaa thorrrr di lope lope sama alur ceritanya 🥰🥰 ku tunggu punya yg banyak2 ya thorrrrr, semangat 💪
Kholiq Masbuhin
up nya jam berapa Thor ?setiap hari apa gimana? di tunggu Thor, semangat 💪💪😘
Kholiq Masbuhin
bagus banget,alur ceritanya santai ringan dan enak di bacanya.semangat nulisnya ya
Kholiq Masbuhin
suka banget sama alur ceritanya ,ringan dan santai.enak di bacanya.aku pernah baca novel seperti punyamu ini Thor, serupa tapi tak sama.semangatttt terus ya nulisnya,🤍
Kholiq Masbuhin: /Drool/
total 2 replies
Runi Mayantri
gus zayyan ud mulai trtarik ma si nay😄😄😄😍
Ell Fikar
udh up banyak tp msh kurang rasanya
ahhhh gus zayyan, naya yg di perhatiin aku yg baperrrrrrr

lanjut thor up yg banyak
guest1053527528
lanjut thor bagus ceritax dengan aksi bar2 dan menentang sy suka itu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!