"Satu Janji, Dua Dunia, dan Takdir yang Tertukar."
Di hari pernikahannya, Syarifah Khadijah Al-Eydrus kehilangan Habib Farhan, calon suaminya yang tewas dalam kecelakaan tragis. Melalui sebuah wasiat terakhir, Khadijah terpaksa dinikahi oleh Zaid, adik kandung Farhan yang tampan, dingin, sekaligus berandalan ketua geng motor.
Bagi Zaid, Khadijah hanyalah "titipan" yang menyesakkan. Di bawah satu atap, sang Hafizah berjuang dengan kesabaran, sementara Zaid terus memberontak dalam liarnya kehidupan malam. Namun perlahan, getaran asing mulai tumbuh di antara cadar dan jaket kulit.
Akankah Zaid berubah menjadi imam yang pantas, ataukah Khadijah selamanya hanya menjadi bayang-bayang masa lalu?
"Karena terkadang, Allah mematahkan hatimu hanya untuk mempertemukanmu dengan seseorang yang akan menjagamu selamanya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SERIGALA BERJAS RAPI
Langkah Zaid membelah trotoar kawasan Menteng terasa begitu mantap.
Di balik kacamata hitamnya, mata elang itu menyapu setiap sudut jalanan, mewaspadai dua mobil sedan hitam berflim gelap yang terparkir tak jauh dari restoran tadi.
Ia tahu Handoko tidak akan tinggal diam setelah Gertakan maut yang baru saja disampaikannya.
Pria tua itu terbiasa mengendalikan orang lain dengan uang dan kekuasaan, dan respon pertama seorang penguasa yang terpojok adalah menunjukkan taringnya.
Begitu masuk ke dalam mobil SUV miliknya, Zaid langsung memindahkan panggilannya ke mode hands-free.
"Haikal,"
panggil Zaid seraya menekan pedal gas, membiarkan mesin mobilnya menderu membelah lalu lintas sore Jakarta.
"Gimana, Zaid?
Lo selamat keluar dari sana?"
suara Haikal terdengar panik dari seberang sambungan.
"Gue baru aja melempar bom ke mukanya Handoko,"
jawab Zaid dingin, matanya melirik kaca spion tengah.
Sebuah sedan hitam tampak perlahan keluar dari bahu jalan dan mulai mengekor di belakang mobilnya dengan jarak dua mobil.
"Gue sengaja bikin dia panik.
Pria kayak Handoko kalau panik bakal bikin keputusan yang gegabah.
Dan saat dia gegabah, celahnya bakal makin lebar."
"Zaid!
Lo gila ya?!
Pria itu punya jaringan pembunuh bayaran, bukan cuma anak-anak motor ingusan kayak Macan Hitam!"
"Gue tahu,"
potong Zaid tegas.
"Makanya lo harus pastikan posisi Khadijah detik ini juga.
Dia ada di mana?"
"Mbak Khadijah baru selesai mengajar di yayasan.
Sekarang lagi jalan pulang sama mobil pengawalan tim kita.
Rian yang setir di depan."
Zaid melirik spion lagi.
Sedan hitam di belakangnya mulai menambah kecepatan, mencoba memotong jalur dari arah kiri.
"Gue kena buntut.
Ada satu sedan hitam nyoba memancing perhatian gue.
Kal, pastikan mobil Khadijah langsung masuk ke dalam gerbang rumah Abi dan jangan ada yang keluar satu langkah pun sampai gue tiba."
"Oke!
Lo hati-hati, Zaid!"
Zaid mematikan sambungan.
Ia mencengkeram setir dengan kuat.
Senyum tipis yang penuh ancaman terukir di wajahnya.
"Lo mau main-main di jalanan sama gue, hah?
Lo salah pilih lawan, Anjing."
Zaid memutar setirnya tajam, membanting mobil masuk ke pintu tol Dalam Kota menuju arah Barat.
Sedan hitam itu ikut melaju kencang, menempel ketat di belakangnya.
Di jalanan bebas hambatan yang cukup padat sore itu, Zaid menggunakan seluruh pengalaman bertahun-tahunnya sebagai pembalap liar dan mantan ketua geng motor.
Ia memindah gigi transmisi, menyelip di antara truk kontainer besar dan bus antarkota dengan presisi yang gila.
Suara klakson bersahutan, ban berdecit keras di atas aspal yang panas.
Sedan hitam itu kewalahan mengimbangi manuver nekat Zaid.
Bagi orang-orang suruhan Handoko, ini adalah aksi pengejar berisiko; namun bagi Zaid Al-Idrus, jalanan Jakarta adalah halaman rumahnya sendiri.
Dengan satu hentakan setir yang terukur, Zaid memotong jalur sebuah truk tanki, memutus jarak pandang sedan hitam tersebut secara total.
Zaid mengambil jalur keluar tol menuju kawasan industri, lalu menghilang di antara gang-gang sempit perkotaan yang sangat ia hapal luar kepala.
Dalam hitungan menit, Zaid berhasil mengocok dan membuang buntutnya dengan sempurna.
Ia menghentikan mobilnya sejenak di tepi jalan yang sepi, menetralkan napasnya yang memburu.
Tangannya yang memegang setir tidak sedikit pun gemetar.
Zaid meraba sakunya, mengeluarkan ponsel, lalu mendial nomor Ipda Bagas dari kepolisian yang membantunya waktu itu.
"Pak Bagas,"
ucap Zaid tanpa basa-basi begitu panggilan tersambung.
"Saya baru saja memancing Handoko Pratama secara langsung.
Dia mulai mengerahkan orang-orangnya.
Saya butuh tim penyidik siap bergerak begitu bukti digital ini resmi kami serahkan ke KPK dan Polda."
Di seberang sana, suara tegap perwira polisi itu terdengar mantap.
"Bagus, Zaid.
Tim kami sudah memantau pergerakan keuangan beberapa perusahaan cangkang milik Handoko.
Tapi ingat, kami butuh bukti asli dari flashdisk itu diserahkan secara legal untuk menerbitkan surat penangkapan."
"Besok pagi,"
bisik Zaid penuh tekad.
"Besok pagi saya sendiri yang akan mengantarkan benda itu ke markas Anda."
Rumah kediaman Al-Idrus tampak seperti benteng tertutup saat Zaid tiba.
Dua mobil pengawal terparkir melintang di balik gerbang besi, dan empat orang pria berbadan tegap tampak berjaga di sudut-sudut halaman.
Habib Umar rupanya telah mengaktifkan seluruh jaringan keamanan keluarga setelah menerima kabar dari Haikal.
Zaid melangkah masuk ke dalam rumah.
Langkah kakinya yang terburu-buru terhenti saat melihat Khadijah berdiri di ruang tengah.
Istrinya masih mengenakan gamis marun dan hijab panjangnya, tangannya memegang segelas air hangat yang sedikit bergetar.
Melihat Zaid masuk tanpa cedera, Khadijah langsung berlari kecil dan menubrukkan tubuhnya ke dalam pelukan Zaid.
Gelas di tangannya dengan cepat diletakkan di atas meja samping oleh Umi Syarifah yang menatap mereka penuh rasa cemas.
"Mas Zaid..."
bisik Khadijah, suaranya teredam di dada bidang suaminya.
"Mas dari mana saja?
Mas Haikal bilang Mas dalam bahaya..."
Zaid merengkuh tubuh istrinya dengan erat, mengusap punggung Khadijah untuk menenangkan napasnya yang memburu.
Ia mencium aroma wangi melati yang selalu menjadi obat penenang terbaik baginya.
"Aku tidak apa-apa, Khadijah.
Lihat aku,"
Zaid memegang kedua pundak Khadijah, menatap langsung ke dalam mata bening istrinya yang dipenuhi air mata.
"Aku utuh.
Tidak ada segores luka pun."
Khadijah menyapu air matanya, menatap wajah Zaid yang tampak lelah namun memancarkan kilat keberanian yang begitu kuat.
"Mas mendatangi pria bernama Handoko itu sendirian?"
Zaid mengangguk jujur.
"Iya.
Aku harus menunjukkan padanya bahwa kita tidak takut.
Aku harus memotong nyalinya sebelum dia menyentuhmu."
"Mas Zaid egois!"
seru Khadijah pelan, suara terisak namun matanya memancarkan ketegasan.
"Bagaimana kalau terjadi sesuatu pada Mas?
Bagaimana kalau mereka membalas dengan cara yang licik saat Mas tidak bersama saya?"
Zaid menangkup wajah Khadijah dengan kedua telapak tangannya, mengusap air mata yang luruh di pipi lembut istrinya.
"Khadijah, dengarkan aku,"
panggil Zaid, suaranya begitu dalam dan sarat kehangatan.
"Dulu aku bertarung di jalanan hanya untuk membuktikan siapa yang paling kuat.
Tapi hari ini... aku bertarung untuk melindungi rumahku.
Dan rumahku adalah kamu.
Besok pagi, semua bahaya ini akan kita akhiri secara hukum.
Benda di dalam Mushafmu akan diserahkan ke polisi."
Khadijah menatap suaminya lama.
Keberanian dan keteguhan hati Zaid perlahan mengikis rasa takut yang sempat melumpuhkan dadanya.
Ia meraih tangan Zaid yang ada di pipinya, memegang jemari kasar itu dengan erat.
"Kalau begitu, biarkan saya yang menyerahkan Mushaf itu besok, Mas,"
ucap Khadijah mantap.
Zaid tertegun.
"Khadijah, itu terlalu berisiko—"
"Tidak, Mas,"
potong Khadijah cepat.
"Mushaf itu adalah milik saya.
Kak Farhan menitipkannya pada saya.
Jika ini adalah jalan untuk menegakkan keadilan dan membersihkan nama baik keluarga kita dari ancaman Handoko, saya ingin berdiri di samping Mas Zaid saat bukti itu diserahkan.
Saya bukan cuma makmum di atas sajadah, Mas.
Saya adalah istrimu yang akan berdiri berdampingan di setiap pertempuran."
Mendengar bait demi bait kalimat yang keluar dari bibir istrinya, Zaid kehilangan kata-kata.
Rasa bangga dan cinta yang teramat sangat membuncah di dalam dadanya.
Pria yang dulu dianggap sebagai monster jalanan itu kini memiliki seorang pendamping yang hatinya sekeras karang dan selembut sutra.
Zaid menarik Khadijah kembali ke dalam pelukannya, mengecup keningnya lama.
"Baik, Istriku.
Besok, kita selesaikan ini bersama-sama."
Malam harinya, suasana kamar mereka terasa begitu hening.
Tidak ada lagi rahasia di antara mereka.
Di atas meja belajar, Mushaf hijau tua itu terbaring anggun di samping laptop Zaid.
File dokumen berharga itu telah digandakan secara aman ke dalam drive terenkripsi yang siap dikirimkan ke pihak berwenang besok pagi.
Zaid duduk di tepi ranjang, memperhatikan Khadijah yang sedang merapikan pakaian untuk perjalanan besok ke Markas Polda.
"Khadijah,"
panggil Zaid pelan.
Khadijah menoleh, menyunggingkan senyum lembutnya.
"Iya, Mas?"
Zaid mengulurkan tangannya.
Khadijah melangkah mendekat dan mendudukkan dirinya di samping Zaid.
Zaid menggenggam kedua tangan istrinya, menatap mata bening yang tak pernah jenuh ia pandangi itu.
"Terima kasih,"
bisik Zaid tulus.
"Untuk apa, Mas?"
"Untuk tidak pernah lari dariku.
Untuk tidak pernah menyesal menikahi pria yang penuh luka masa lalu ini."
Khadijah menggeleng pelan, menyandarkan kepalanya di bahu tegap Zaid.
"Saya tidak pernah menyesal, Mas Zaid.
Allah mematahkan hati saya saat Kak Farhan meninggal, bukan untuk membuat saya menderita.
Tapi untuk membuka jalan agar saya bertemu dengan laki-laki paling gagah yang dikirim Allah untuk menjaga saya selamanya."
Zaid merengkuh bahu Khadijah, merapatkan tubuh mereka dalam kehangatan malam yang dingin.
Di balik jendela kamar, gerimis kembali turun membasahi kota Jakarta.
Namun kali ini, Zaid tidak lagi merasa dingin.
Di dalam ruangan ini, di balik dekapan istrinya, ia telah menemukan benteng paling kokoh yang tak akan pernah bisa dihancurkan oleh serigala berjas rapi sekelas Handoko Pratama sekalipun.
Besok adalah hari penentuan.
Dan Zaid Al-Idrus siap menyambut fajar dengan kepala tegak.