Hari itu seharusnya menjadi hari paling bahagia bagi Alea. Namun, sebelum ijab kabul dimulai, calon suaminya menghilang bersama uang mahar dan meninggalkan utang miliaran rupiah atas nama keluarga Alea. Di tengah kekacauan itu, muncul seorang pria asing bernama Raka Arvin. Dengan tenang ia menawarkan bantuan. "Aku akan menikahimu. Sebagai gantinya, kau harus menandatangani satu perjanjian." Tak punya pilihan lain, Alea menerima. Selama setahun, mereka hidup sebagai suami istri tanpa cinta. Raka terlihat seperti pria biasa yang bekerja sebagai konsultan hukum. Padahal... Ia adalah penyidik khusus yang sedang menyamar untuk membongkar kasus korupsi dan pencucian uang terbesar dalam satu dekade. Target utamanya? Ayah Alea. Semakin lama tinggal serumah, Raka justru menemukan sisi Alea yang berbeda dari bayangannya. Perempuan itu tidak pernah menikmati harta keluarganya. Ia bahkan diam-diam membantu para korban perusahaan milik ayahnya. Saat cinta mulai tumbuh, sebuah bukti baru muncul. Semua kejahatan yang dituduhkan kepada ayah Alea ternyata hanyalah lapisan pertama. Dalang sebenarnya justru seseorang yang selama ini paling dipercaya Alea. Kini Raka harus memilih. Menjalankan tugasnya sebagai penyidik... atau melindungi wanita yang telah mengubah hidupnya. Dan Alea harus menentukan satu keputusan yang akan mengubah seluruh hidupnya. Menyelamatkan ayahnya... atau membantu suaminya mengungkap kebenaran
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seranovelle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 21 - Orang yang Menunggu di Balik Pintu
Gagang pintu bergerak perlahan.
**Klik...**
Semua orang di dalam ruangan spontan menahan napas.
Raka memberi isyarat agar Alea mundur.
"Di belakangku."
Alea tidak membantah. Ia meraih tas berisi dokumen dan memeluknya erat.
Di dalam tas itulah tersimpan harapan untuk membersihkan nama ayahnya.
Tak boleh sampai jatuh ke tangan siapa pun.
Gagang pintu kembali bergerak.
Kali ini lebih kuat.
**Brak!**
Seseorang mencoba mendobrak dari luar.
Adrian segera mengeluarkan pistol dari balik jasnya.
"Awas!"
Ruangan kembali sunyi.
Hanya alarm kebakaran yang terus meraung.
Lalu terdengar suara dari balik pintu.
"Pak Adrian!"
"Ini saya, Bima!"
Adrian mengembuskan napas lega.
"Itu anggota timku."
Ia membuka pintu sedikit.
Benar saja.
Seorang polisi muda berdiri dengan napas tersengal.
"Pak, kita harus keluar!"
"Apa yang terjadi?"
"Bukan kebakaran."
"Seluruh sistem listrik gedung diretas."
"Seseorang juga mematikan kamera CCTV."
Raka dan Adrian saling berpandangan.
Pola yang sama.
Musuh mereka selalu menghilangkan pengawasan sebelum bergerak.
"Mereka ingin menciptakan kepanikan," gumam Raka.
"Biar kita meninggalkan barang bukti."
---
Mereka keluar melalui tangga darurat.
Puluhan pegawai sudah berlarian menuju halaman gedung.
Di tengah kerumunan itu, Raka terus mengawasi sekitar.
Tatapannya berhenti pada seorang pria yang mengenakan topi abu-abu.
Pria itu tidak ikut panik.
Ia justru berdiri diam sambil memegang ponsel, seolah sedang menunggu seseorang.
Begitu mata mereka bertemu...
Pria itu langsung berbalik.
"Lari!"
teriak Raka.
Ia mengejar pria tersebut.
"Alea, tetap bersama Adrian!"
Pria bertopi itu berlari menuju area parkir belakang.
Ia melompati pagar pembatas dan masuk ke gang sempit.
Raka terus mengejarnya.
Jarak mereka tinggal beberapa meter.
Namun tiba-tiba...
Sebuah sepeda motor melaju kencang dari tikungan.
Pria bertopi itu langsung melompat ke boncengan.
Motor tersebut melesat meninggalkan lokasi.
Raka hanya sempat menghafal sebagian nomor pelatnya.
**B 314...**
Dua angka terakhir tertutup lumpur.
"Sial..."
---
Di halaman gedung, Alea menggenggam tas itu semakin erat.
Ia merasa ada seseorang yang terus memperhatikannya.
Perasaan itu muncul lagi.
Sama seperti saat berada di stasiun.
Ia menoleh ke kanan.
Tidak ada.
Ke kiri.
Tidak ada.
Namun ketika matanya menangkap pantulan kaca mobil di dekat parkiran...
Ia melihat seorang perempuan berdiri sekitar dua puluh meter di belakangnya.
Perempuan itu mengenakan gaun hitam dan kacamata besar.
Begitu sadar dirinya terlihat, perempuan itu tersenyum tipis.
Lalu menghilang di balik kerumunan.
"Ada apa?" tanya Adrian.
"Aku..."
"Aku merasa ada perempuan yang mengawasiku."
"Seperti apa wajahnya?"
Alea menggeleng.
"Aku tidak sempat melihat jelas."
"Tapi..."
"Senyumnya membuatku merinding."
---
Tak lama kemudian, Raka kembali.
"Gagal?"
tanya Adrian.
Raka mengangguk.
"Tapi aku sempat melihat sebagian nomor pelat motornya."
"Itu sudah cukup."
"Kita bisa lacak."
Raka menoleh kepada Alea.
"Kamu tidak apa-apa?"
Alea ragu sejenak sebelum menceritakan perempuan misterius yang dilihatnya.
Raka langsung memasang wajah serius.
"Mulai sekarang..."
"Kamu jangan pernah berjalan sendirian."
Alea mengangguk.
Ia bisa merasakan situasi semakin berbahaya.
---
Sore harinya, mereka kembali ke rumah.
Bibi Maya menyambut dengan wajah cemas.
"Kalian baik-baik saja?"
"Ya, Bi."
Meski menjawab demikian, Raka langsung membawa hard disk dan seluruh dokumen ke ruang kerja.
Ia menyalakan laptop.
"Untung tadi sempat dicabut."
Hard disk masih utuh.
Mereka kembali membukanya.
Kali ini tidak ada gangguan.
Puluhan folder muncul di layar.
Salah satunya langsung menarik perhatian.
**"Proyek Garuda."**
Raka mengklik folder itu.
Isinya ratusan dokumen.
Kontrak.
Foto.
Daftar transfer.
Dan sebuah video berdurasi dua belas menit.
Nama file itu membuat jantung Alea berdegup kencang.
**"Rapat Direksi - Rahasia."**
Raka menekan tombol putar.
Layar menampilkan sebuah ruang rapat mewah.
Beberapa pria duduk mengelilingi meja bundar.
Salah satunya adalah Om Surya.
Dimas Wijaya juga ada di sana.
Namun ketika kamera bergeser ke ujung meja...
Alea membeku.
Tangannya langsung gemetar.
"Itu..."
Di kursi paling ujung duduk seorang pria berambut memutih yang wajahnya sangat ia kenal.
Bukan Leonard Mahesa.
Melainkan...
**Pamannya sendiri, Surya Prameswara**—adik kandung ayahnya, yang selama ini tinggal di luar negeri dan selalu dianggap tidak ikut campur dalam urusan perusahaan keluarga.
Video belum selesai diputar.
Namun satu kenyataan sudah menghantam Alea.
Musuh keluarganya...
Mungkin bukan hanya orang kepercayaan ayahnya.
Melainkan...
Seseorang yang masih memiliki hubungan darah dengannya.
**Bersambung...**