Sama seperti bosnya, Adnan juga punya hobi mengambil foto dengan kameranya. Namun hobinya berubah jadi obsesi ketika dia ketagihan mendapatkan job 'fotografer p|us-p|us'. Semua itu berawal saat Adnan menemukan kamera tua milik mendiang ayahnya di lemari.
Kamera tua itu mampu membuat Adnan melihat dalam mode tembus pandang, lalu mode menampilkan yang tak kasat mata, bahkan sampai mode ronsen yang digunakan dalam kedokteran. Gilanya lagi, kamera itu mampu bisa membuat wanita klepek-klepek pada Adnan. Bagaimana bisa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 23 - Tak Percaya
Sisa perjalanan berlangsung dalam keheningan yang menyesakkan. Adnan sesekali melirik tas kamera yang kini diletakkannya di samping kaki, seolah benda itu adalah makhluk hidup yang siap meloloskan diri kapan saja. Tangannya yang tergeletak di setir masih terasa dingin dan berkeringat dingin. Di benaknya, pertanyaan yang sama terus berputar tanpa henti: mengapa rekaman itu tak bisa dihapus?
Sesampainya di perempatan lampu merah yang panjang, Adnan tidak tahan lagi. Dengan gerakan cepat, ia kembali meraih kamera itu, melupakan keberadaan Liza di kursi belakang. Jari-jarinya gemetar saat menavigasi menu sekali lagi, berharap entah bagaimana kesalahan teknis tadi sudah hilang. Namun saat ia menekan tombol hapus sekali lagi, pesan merah yang sama muncul persis seperti sebelumnya: TIDAK DAPAT DIHAPUS.
Ia mencoba memotong bagian video itu, mencoba menimpanya dengan rekaman baru, bahkan mencoba memisahkan memori penyimpanannya. Semuanya sia-sia. Video ritual Gladys, sosok bertanduk, dan segala kengerian malam itu tetap utuh di sana, seolah sudah menyatu dengan jiwa kamera tua itu sendiri.
"Kau mencoba menghapusnya, bukan?"
Suara Liza tiba-tiba terdengar pelan dari belakang, memecah konsentrasi Adnan. Pria itu tersentak, lalu menoleh perlahan. Wajah gadis itu tidak lagi dingin atau kesal seperti sebelumnya. Kini terlihat jelas kekhawatiran yang mendalam di matanya.
"Kau terus-menerus terlihat seperti orang yang dikejar setan," ucap Liza lembut, suaranya tak lagi tajam. "Sejak pagi tadi... tatapanmu kosong namun penuh ketakutan. Kau menggigil, berkeringat dingin, dan gelisah tanpa alasan yang jelas."
Adnan menelan ludah, kembali memalingkan wajah ke depan saat lampu hijau menyala. "Aku hanya kurang tidur. Itu saja."
"Kurang tidur tidak membuat seseorang merebut barang seperti itu," potong Liza tegas namun tetap lembut. Ia mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan, mendekat ke arah kursi pengemudi. "Aku mengambil jurusan Psikologi, Adnan. Aku belajar mengenali tanda-tanda ketika seseorang sedang menahan beban yang terlalu berat untuk dipikul sendirian. Dan kau... kau sedang berjuang melawan sesuatu yang kau takutkan untuk diceritakan."
Adnan menggenggam setir semakin erat.
"Menurutku," lanjut Liza pelan, "memendam semuanya sendirian justru akan melukaimu lebih dalam. Berbagi bukan berarti kau lemah. Siapa tahu... aku bisa membantu. Setidaknya mendengarkan."
Kata-kata itu meruntuhkan sedikit tembok pertahanan yang dibangun Adnan sekuat tenaga. Di tengah dunia yang terasa asing dan mengancam ini, di hadapan gadis yang biasanya dingin namun kini terlihat begitu tulus peduli, dorongan untuk bercerita menjadi tak tertahankan. Mungkin benar, dia tidak bisa memikul ini sendirian selamanya. Dan entah kenapa, hatinya memberi isyarat bahwa ia bisa mempercayai Liza.
Adnan menghela napas panjang, napas yang terasa berat dan getir. Ia melirik sekilas ke arah kaca spion, memastikan tidak ada kendaraan yang mencurigakan, lalu berbicara dengan suara parau yang nyaris berbisik.
"Kamera ini... bukan kamera biasa."
Liza mengerutkan dahi, namun diam mendengarkan.
"Ini milik mendiang bapakku," lanjut Adnan, matanya terpaku pada benda hitam yang tergeletak di kursi penumpang. "Awalnya aku kira barang antik biasa. Tapi ternyata... kamera ini memiliki kemampuan yang tidak masuk akal."
Ia berhenti sejenak, mengumpulkan keberanian. "Kamera ini bisa merekam apa yang tidak bisa dilihat mata telanjang. Ada mode yang bisa menembus pandangan, bahkan bisa merekam bentuk asli seseorang yang menyembunyikan identitasnya. Dan yang paling mengerikan... ia bisa menangkap sosok-sosok yang hidup di dunia yang berbeda dengan kita."
Adnan menoleh sebentar, menatap mata Liza lekat-lekat. "Malam tadi... aku merekam sekelompok orang yang melakukan ritual. Dan kamera itu menangkap sesuatu yang berdiri di tengah mereka. Sesuatu yang bertanduk, bermata merah menyala, dan bukan manusia."
Keheningan menyelimuti mobil sejenak. Liza menatap Adnan dengan mulut sedikit terbuka, dan perlahan, sudut bibirnya terangkat. Awalnya hanya senyum tipis, namun lama-kelamaan berubah menjadi tawa kecil yang tertahan, lalu tawa renyah yang memenuhi ruang mobil.
"Maaf... maafkan aku," ucap Liza sambil menahan tawanya, matanya berkaca-kaca. "Aku tidak bermaksud meremehkanmu. Tapi... kau serius? Kamera ajaib yang bisa melihat hantu dan iblis? Itu terdengar seperti cerita horor untuk anak kecil."
Adnan merasa dadanya sesak. Ia tahu ini akan terjadi. Siapa pun yang mendengarnya pasti akan menganggapnya gila atau sedang berhalusinasi.
"Aku tahu kau tidak percaya," ucapnya getir. "Aku pun tidak percaya sebelum melihatnya sendiri. Tapi rekaman itu ada di sana, dan tak bisa kuhapus walau bagaimana pun caraku mencoba."
Liza menghela napas panjang, senyumnya perlahan hilang berganti wajah iba. Ia menatap punggung Adnan dengan tatapan yang kini bercampur rasa khawatir, bukan lagi pada bahaya yang dihadapi Adnan, melainkan pada kewarasannya.
"Adnan..." suaranya lembut namun penuh keraguan. "Mungkin... mungkin kau terlalu lelah. Atau ada sesuatu yang memengaruhi pikiranmu. Halusinasi karena kurang tidur itu nyata. Dan soal kamera itu... mungkin saja rusak, atau ada orang yang mengerjai rekaman itu."
Adnan diam seribu bahasa. Ia sadar, sampai dirinya tidak bisa memutar ulang video itu di hadapan Liza dengan aman, kata-katanya hanyalah angin lalu yang terdengar mustahil.