Eloise Morgan, mantan tentara yang dikhianati, terbangun menjadi Bellatrix Alexandra Volkov putri Duke Volkov yang sombong, terobsesi, dan memaksakan pertunangan dengan Putra Mahkota Thiago Felipe Albarado. Awalnya Thiago sangat tidak menyukainya dan merasa terganggu. Namun setelah jiwa baru hadir, Bellatrix membuang segala sifatnya yang dulu, menguasai sihir air, memiliki cincin dimensi dan bertekad hidup mandiri. Ia bahkan berniat memutuskan pertunangan itu. Tapi justru saat Bellatrix mulai menjauh dan tidak lagi mengejarnya, Thiago malah merasa tidak senang dan tidak terima. Sikap dingin dan percaya diri Bellatrix membuatnya penasaran, hingga sang pangeran yang menguasai sihir api itu justru berusaha mempertahankan ikatan yang dulunya ia benci.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeje Jennifer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dicium di depan tetua!
Belum sempat Kaisar atau Permaisuri menjawab lagi, suara langkah kaki yang teratur dan tegas terdengar dari luar ruangan. Pintu terbuka lebar, dan masuklah sosok Putra Mahkota Thiago dengan pakaian resmi yang rapi, diikuti oleh dua orang pengawal yang berdiri di ambang pintu.
Begitu melihat Bellatrix berdiri di sana bersama Duke Leonidas dan Duchess Elara, Thiago berhenti sejenak, lalu melangkah masuk lebih dalam. Wajahnya tenang, namun matanya hanya tertuju pada satu orang saja. Bellatrix. Ia tidak menyela, hanya berdiri di dekat dinding, menyandarkan satu tangan di pinggangnya, dan diam saja, mendengarkan apa yang akan dikatakan gadis itu selanjutnya.
Melihat kedatangan Thiago, Bellatrix tidak terkejut dan tidak juga menunjukkan rasa takut. Ia justru melanjutkan ucapannya, kali ini berbicara lebih lantang dan rinci agar semua orang yang hadir termasuk Thiago mendengarnya dengan jelas.
“Dengarkanlah aku. Marilah kita bicara jujur tanpa menutupi apa pun. Aku akui, pada mulanya akulah yang terlalu berharap, terlalu memaksakan kehendak diri, dan akhirnya mengikat kita dalam pertunangan ini karena kebodohanku sendiri. Namun kini aku sadar, ikatan ini tidak didasari oleh kesesuaian hati maupun rasa saling membutuhkan. Kita hanyalah dua nama yang terhubung di atas kertas, bukan pasangan yang dapat berjalan berdampingan dalam kehidupan.”
Bellatrix menoleh sedikit ke arah Thiago, lalu melanjutkan.
“Aku mengetahui banyak hal. Seluruh lingkaran istana pun mengetahui bahwa keluarga Pangeran Valdo dan putrinya, Eleanor, telah lama mendambakan kedudukan ini. Mereka lebih memahami seluk-beluk kehidupan di istana, lebih dekat dengan lingkaran kekuasaan, dan dianggap lebih layak oleh banyak pihak untuk mendampingi. Mengapa tetap mempertahankan ikatan ini denganku, padahal ada pilihan lain yang jauh lebih sesuai dengan kebutuhan politik?”
Ia menarik napas sebentar, lalu menyampaikan keinginan hatinya dengan tegas. “Aku hanya menginginkan hak untuk memilih jalan hidupku sendiri. Aku ingin suatu hari nanti mengikat janji pernikahan bukan karena kesalahan masa lalu atau kewajiban, melainkan dengan lelaki yang benar-benar mencintaiku apa adanya, serta yang dapat membuatku merasa tenteram dan dihargai. Jika aku tetap terikat pada kedudukan ini, maka pintu menuju kebahagiaan itu akan tertutup rapat selamanya.”
Sepanjang Bellatrix berbicara, Thiago tetap diam. Ia tidak menyela, tidak memotong kalimatnya, hanya mengamati setiap gerak dan mendengar setiap kata yang keluar dari mulut gadis itu dengan pandangan yang semakin mendalam.
Begitu Bellatrix selesai berbicara, suasana kembali hening sesaat. Namun sebelum ada yang sempat berkomentar, Thiago melangkah maju dengan langkah yang tenang namun pasti. Ia berhenti tepat di hadapan Bellatrix, lebih dekat dari batas yang dianggap pantas dalam tata krama istana.
Tanpa memberi kesempatan Bellatrix untuk mundur atau menduga maksudnya, Thiago melingkarkan satu lengannya dengan kuat namun tidak kasar di pinggang gadis itu, menarik tubuhnya sedikit mendekat ke arahnya. Sebelum Bellatrix sempat mengerutkan kening atau mengeluarkan suara keberatan, Thiago menundukkan kepalanya dan mencium bibir Bellatrix sebuah isyarat yang dalam adat dan hukum kekaisaran ini memiliki makna yang sangat mendalam, melambangkan kepemilikan, ikatan yang sah, dan janji yang tidak dapat diingkari sembarangan.
Bellatrix terkejut bukan main. Matanya terbuka lebar, seluruh tubuhnya menegang seketika.
Baru setelah merasa cukup, Thiago melepaskan ciumannya perlahan, lalu mundur selangkah namun tetap berdiri tegak. Ia menatap mata Bellatrix dengan pandangan yang dalam dan penuh tekad yang tak tergoyahkan. Suaranya terdengar rendah namun jelas, dapat didengar oleh seluruh orang yang hadir di ruangan itu.
Segera setelah sadar akan apa yang terjadi, Bellatrix mengangkat tangan hendak melayangkan pukulan keras ke wajah Thiago, mulutnya sudah terbuka lebar hendak meluapkan makian yang paling kasar namun sebelum tangannya sempat menyentuh sasaran dan kata-kata itu keluar, Duke Leonidas segera melangkah cepat, memeluk tubuh putrinya dari belakang dengan erat, dan menutup rapat mulut gadis itu dengan telapak tangannya agar tidak ada ucapan yang melanggar kesopanan terucap di hadapan para penguasa.
“Kau bilang ini bermula dari tindakan yang kurang bijaksana? Baiklah, maka ingatlah hal ini dengan baik, Bellatrix. Karena perbuatanmu itu, maka kau tidak akan pernah dapat lari dariku. Mulai detik ini, bibirmu telah menjadi milikku, nasibmu terikat padaku, dan nama kita sudah terhubung menjadi satu. Dalam adat dan hukum kekaisaran ini, isyarat dan ikatan seperti ini adalah tanda kehormatan yang tidak dapat dibatalkan sesuka hati. Kau berkata ingin menikah dengan lelaki lain? Hal itu tidak akan pernah terjadi. Hanya akulah yang berhak memiliki hatimu, dan hanya akulah yang akan berdiri di sisimu selamanya.”
Bellatrix masih berontak dalam pelukan Duke Leonidas, matanya menyala penuh amarah dan rasa malu yang meluap, dadanya naik turun hebat menahan gejolak emosi yang ingin meledak keluar.
Namun di tengah ketegangan itu, tiba-tiba terdengar suara tawa yang lantang dan lepas. Kaisar Alaric dan Permaisuri Seraphina yang menyaksikan seluruh kejadian itu tidak lagi menyembunyikan reaksi mereka. Keduanya tertawa terbahak-bahak, terhibur melihat pertunjukan yang tak terduga dan penuh semangat ini.
“Bagus, sungguh tak terduga!” seru Kaisar Alaric sambil menepuk pahanya sendiri. “Baru kali ini aku melihat putraku bertindak secepat dan seberani ini, tanpa ragu sedikit pun!”
Permaisuri Seraphina menyeka sudut matanya yang basah karena tertawa, lalu menambahkan dengan nada gembira.
“Lihatlah, ini baru terasa hidup. Satu keras kepala, satu lagi penuh semangat melawan. Tidak heran mereka bisa saling menarik perhatian seperti ini.”
Setelah cukup lama menikmati suasana itu, Thiago berdiri tegak kembali, namun pandangannya tetap tidak lepas dari Bellatrix seolah memberi peringatan diam agar gadis itu tidak mencoba melarikan diri lagi.
“Kau telah mendengar keputusan yang ditetapkan, dan kini kau mendengar keputusanku sendiri,” lanjut Thiago dengan nada yang lebih tenang namun tetap tegas. “Ikatan ini tidak akan terputus. Entah kau bersedia atau tidak, kau akan tetap menjadi calon permaisuriku. Kita lihat saja nanti, apakah pada waktunya kau akan berubah pikiran, atau akulah yang akan membuatmu mengerti bahwa berdiri di sisiku adalah jalan terbaik untukmu.”
Duke Leonidas baru melepaskan pelukannya perlahan, namun tetap menjaga posisi di samping putrinya agar gadis itu tidak bertindak lebih jauh lagi. Duchess Elena segera mendekat, menyentuh lengan Bellatrix dengan lembut sebagai tanda menenangkan.
Kaisar Alaric akhirnya berbicara lagi, memecah keheningan yang terasa berat namun sarat dengan ketegangan baru:
“Nah, kini semuanya telah menjadi jelas. Tidak ada lagi ruang untuk pembicaraan mengenai pembatalan dalam waktu dekat. Bellatrix, kembalilah bersama orang tuamu. Thiago, kembalilah pula pada tugas dan kewajibanmu. Jagalah nama baik keluarga dan kekaisaran, serta jangan biarkan emosi menguasai akal sehat. Kita lihat saja bagaimana hubungan ini akan berjalan seiring berjalannya waktu.”
Bellatrix hanya dapat membungkuk hormat dengan wajah yang masih memerah menahan amarah, lalu berbalik dan melangkah keluar dari ruangan itu, diikuti oleh Duke Leonidas dan Duchess Elara. Thiago hanya berdiri di tempatnya, menatap punggung gadis itu hingga menghilang dari pandangan, dengan senyum samar yang baru saja muncul di sudut bibirnya — senyum yang menunjukkan bahwa ia baru saja memulai sebuah babak baru yang diyakininya akan dimenangkannya.
Di luar ruang audiensi, saat mereka berjalan menuju kereta, Bellatrix masih menggenggam kedua tangannya erat-erat, jari-jarinya sesekali menyentuh bibirnya dengan rasa kesal dan marah yang belum hilang.
Duke Leonidas menatap putrinya dengan pandangan yang bercampur rasa khawatir dan pengertian, lalu berbicara dengan nada rendah namun tegas:
“Maafkan Ayah menahanmu begitu tadi. Jika kau memukul atau melontarkan kata-kata kasar di hadapan mereka, itu bukan lagi soal kemarahan pribadi, tapi bisa merusak kehormatan seluruh keluarga. Kita tidak bisa bertindak sembarangan di tempat yang penuh aturan ini.”
Duchess Elara menggenggam tangan putrinya dengan lembut, mencoba menenangkan gejolak di hatinya:
“Ayahmu benar. Kau lihat sendiri, niatnya sudah ditunjukkan secara terang-terangan. Kita tidak bisa melawannya dengan cara kasar, tapi bukan berarti kita harus menyerah. Kita akan melangkah dengan hati-hati, mengamati setiap gerak-geriknya, dan mencari jalan keluar yang paling bijaksana.”
Bellatrix menarik napas panjang berulang kali, perlahan-lahan mengendalikan emosinya. Tatapannya kembali menjadi tajam dan penuh pertimbangan.
“Baiklah, Thiago. Jika kau mengikatku dengan cara memaksa dan berani bertindak semena-mena, maka aku akan tunjukkan padamu bahwa menjaga wanita yang tidak ingin ditahan bisa menjadi hal yang jauh lebih sulit dan menyulitkan daripada yang kau bayangkan. Kesalahan di masa lalu tidak akan membuatku terus bertindak bodoh selamanya,” gumamnya dalam hati dengan tekad yang semakin menguat.