Niat Diaz kabur ke Gunung Kawi demi menghindari perjodohan malah berbelok 180 derajat saat ia mampir salat di Masjid Baiturrahman.
Diaz tidak sengaja menabrak Ganda Mahesa.
Anak kiai kaya raya yang sedang panik setengah mati karena calon istrinya tidak datang satu jam sebelum akad.
Demi menjaga harga diri keluarga di hadapan 200 undangan, Ganda nekat menembak Diaz:
"Mbak, mau gak nikah sama saya? Sekarang. Daripada saya dipermalukan satu Kepanjen."
"Oalah mas saya aja kabur dari perjodohan dan mau ke gunung Kawi untuk mencari ketenangan."
"Mbak mau pesugihan? Astaghfirullah mbak iling mbak. Saya kasih semuanya mbak."
"Saya nggak cari pesugihan saya hanya ..."
Hanya dalam 10 menit, akad dadakan itu sah. Suasana sakral pun langsung pecah oleh bisik-bisik julid emak-emak:
"Iku sopo toh seng rabi karo Ganda? Kok koyo ojek online, dipesen langsung dateng!"
Drama sesungguhnya dimulai ketika Laura, sang calon istri asli, tiba-tiba datang terlambat dan meminta ganda untuk menikahinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Sebelum Diaz bicara lebih jauh dan memperkeruh suasana dengan luapan emosinya yang kian memuncak, Ganda bergerak cepat.
Dari arah belakang, ia segera membekap mulut Diaz dengan telapak tangannya secara lembut namun tegas.
"Sudah, Diaz... Cukup," bisik Ganda lirih di dekat telinga istrinya, mencoba meredam gejolak amarah yang menyala-nyala dari tubuh wanita itu.
Sambil terus mendekap mulutnya agar umpatan kasarnya tidak kembali keluar, Ganda setengah menyeret tubuh istri pertamanya itu masuk ke dalam rumah, lalu menguncinya di dalam kamar utama untuk menenangkan diri sejenak.
Di teras rumah, atmosfer seketika berubah canggung dan aneh.
Laura yang masih syok, gemetar, dan ketakutan setelah mendapat tamparan fisik serta makian brutal dari Diaz, langsung merengek histeris.
Ia mengguncang-guncang lengan jubah mertua perempuannya dengan wajah memelas.
"Umi... lihat itu, Umi! Perempuan kota itu kasar sekali! Dia berani memukulku dan mengumpat di depan Umi dan Abah! Tolong bela Laura, Umi..."
tangis Laura pecah, berharap Diaz akan langsung dikutuk atau diusir detik itu juga.
Umi Maryam pun sudah bersiap membuka mulut untuk ikut memanaskan suasana.
Namun, respons yang sama sekali tidak terduga justru datang dari Abah Kiai.
Bukannya marah besar atau murka mendengar menantu pertamanya mengumpat kasar dan menampar istri kedua, Abah Kiai yang sejak tadi menyimak mendadak terdiam.
Beliau melirik ke arah Umi Maryam dan Laura dengan pandangan yang sarat akan makna—sedikit meremehkan drama murahan yang baru saja mereka ciptakan.
Uhuk... Hahaha...
Secara mengejutkan, Abah Kiai terkekeh pelan. Tak butuh waktu lama, kekehan itu berubah menjadi tawa yang pecah terbahak-bahak di halaman rumah baru tersebut.
Beliau benar-benar merasa terhibur dengan mental baja Diaz yang tanpa rasa takut sedikit pun berhasil membungkam ego Umi Maryam dan kelicikan Laura sekaligus dalam satu hentakan.
"Sudah, ayo kita pulang, Umi. Drama di rumah anakmu ini sudah seperti cerita sinetron televisi saja," ucap Abah Kiai sambil menggeleng-gelengkan kepalanya perlahan.
Beliau melangkah maju, lalu menarik lengan Umi Maryam yang langsung cemberut dan masam untuk berjalan menuju mobil sedan tua mereka.
Sembari berjalan menuju mobil, tawa Abah Kiai masih saja tersisa.
Ingatannya mendadak terlempar jauh ke beberapa puluh tahun yang lalu, ke masa-masa sebelum beliau mengenakan sorban dan jubah kebesaran seorang ulama.
Kata-kata kasar Diaz yang barusan menggema di halaman—Jan*** Kon...—nyatanya sangat akrab di telinga masa muda beliau.
Jauh sebelum memimpin Pondok Pesantren Al-Hikmah, Abah Kiai adalah seorang pemuda jalanan yang keras di daerah Jawa Timuran.
Ia sangat sering memakai perkataan itu sebagai pemantik semangat saat akan maju tawuran antar-geng di masa mudanya dulu.
Melihat Diaz melontarkan kata itu dengan penuh keberanian di depan hidung Umi Maryam, Abah Kiai merasa seperti melihat cerminan dirinya sendiri yang tak bisa ditindas oleh siapa pun.
"Hahaha! Ja*** kon... Luar biasa menantumu itu, Umi. Nyalinya bukan main," kekeh Abah Kiai lagi saat membuka pintu kemudi, menggeleng-geleng kagum dengan watak asli Diaz yang akhirnya keluar.
Umi Maryam yang duduk di kursi penumpang langsung melipat kedua tangannya di dada dengan wajah yang ditekuk habis-habisan.
"Abah! Sudah, jangan tertawa terus!" tegur Umi Maryam dengan nada jengkel dan setengah berbisik, merasa harga dirinya sebagai istri kiai jatuh akibat tawa suaminya sendiri.
"Orang salah adab begitu kok malah ditertawakan. Harusnya Abah suruh Ganda ceraikan dia!"
"Adab itu bisa diajarkan, Umi. Tapi kalau hati penuh kepalsuan dan busuk, itu yang susah diobati," sindir Abah Kiai tenang, menutup pintu mobil dan menyalakan mesin, meninggalkan
Laura yang berdiri mematung sendirian di teras dengan pipi yang masih terasa panas dan hati yang hancur karena rencananya gagal total.
Sementara itu di dalam kamar, suasana yang tadinya panas perlahan-lahan mulai mendingin.
Diaz berdiri membelakangi pintu dengan napas yang masih naik turun menahan sisa-sisa emosi.
Di dekat ranjang, Ganda melipat kedua tangannya di dada sambil menatap istri pertamanya itu dengan tatapan yang sulit diartikan.
Ada sedikit rasa terkejut, namun juga ada binar geli di matanya.
"Ternyata, istri pertamaku bisa mengumpat juga," ucap Ganda memecah keheningan, memecah ketegangan yang sempat menyelimuti kamar mereka.
Diaz menoleh sekilas, lalu membuang muka dengan ketus.
"Maaf, tapi aku tidak terima difitnah seperti itu. Aku punya batas kesabaran, Ganda. Kalau terus-terusan diinjak, aku tidak akan tinggal diam," belanya dengan nada suara yang masih ketus.
Ganda mengembuskan napas panjang, lalu melangkah mendekati Diaz.
Ia memegang kedua pundak istrinya, memaksa Diaz untuk menatap lurus ke matanya.
"Iya, aku tahu kamu terluka. Tapi sekarang, janji sama aku, setelah ini tidak akan mengumpat lagi, dan ingat, tahan amarahmu. Karena setan sangat suka dengan orang yang cepat marah. Jangan biarkan setan menang karena berhasil memancing emosimu."
Diaz tersenyum sinis, menepis pelan tangan Ganda dari pundaknya.
"Selalu saja begitu. Selalu membela Laura. Di matamu dan keluargamu, dia itu malaikat tanpa dosa, kan?"
"Dik, dengarkan aku dulu," potong Ganda dengan suara yang sengaja dilembutkan, mencoba meredam kecemburuan Diaz.
"Aku tidak membela Laura, tapi..."
"Tapi apa?!" tantang Diaz, menatap Ganda dengan sorot mata menuntut.
Tok! Tok! Tok!
Belum sempat Ganda menyelesaikan kalimatnya, ketukan keras di pintu kamar utama memotong perdebatan mereka.
Ganda menghela napas berat, lalu berbalik untuk membuka pintu.
Begitu daun pintu terbuka, sosok Laura sudah berdiri di sana dengan mata yang sembab dan wajah yang sengaja dibuat semerang merah akibat tamparan tadi.
"Mas Ganda, ayo ke kamar," rengek Laura manja, menarik-narik ujung baju koko Ganda.
"Pipiku sakit sekali setelah ditampar perempuan itu. Temani aku di kamar sebelah, Mas..."
Ganda menatap Laura dengan pandangan tegas, tidak terpengaruh oleh rengekan itu.
"Laura, aku sedang berbicara dengan Diaz. Masalah kita belum selesai. Nanti setelah ini, aku akan ke kamarmu."
"Tapi Mas..." Laura cemberut, sengaja mengeraskan suaranya agar terdengar oleh Diaz di dalam.
Mendengar perdebatan di ambang pintu, Diaz yang berdiri di dalam kamar langsung mendengus sebal.
Ia berjalan cepat mendekati pintu, menatap Laura dan Ganda bergantian dengan tatapan muak yang tak ditutup-tutupi.
"Ishhh... drama lagi. Apa nggak capek drama terus?" ucap Diaz ketus, memotong kalimat Laura.
Tanpa memedulikan tatapan syok dari Laura maupun panggilan dari Ganda, Diaz langsung melengos keluar begitu saja melewati mereka berdua.
Ia berjalan menuju halaman depan rumah baru mereka, meraih selang air yang tergulung di dekat pagar, dan menyalakan keran.
Diaz mulai menyiram tanaman dengan brutal, melampiaskan seluruh sisa kejengkelannya pada dedaunan hijau di depannya, meninggalkan suami dan madunya yang masih terpaku di ambang pintu kamar.
😡😡😡😡😡😡😡😡
juga laura, wanita kyk pelacur 😡😡😡
Ceritanya jadi hidup. Semangat selalu berkarya nya kak!💖🙌
sdh biar dilepas kan sm Ganda aja thor, kasihan diaz, biar bebas 🙏🙏
kasihan diaz,ternyata sebatang kara 🤭
biarkan pergi jauh dr manusia2 egois 😡😡