NovelToon NovelToon
The Last Crown

The Last Crown

Status: tamat
Genre:Fantasi / Drama / Tamat
Popularitas:652
Nilai: 5
Nama Author: Inkbound

The Last Crown adalah buku pertama dari The Hollow Thorne Trilogy. Bercerita tentang perjalanan Pangeran Kal Valdyr, pewaris takhta Izengard yang kehilangan segalanya setelah istana jatuh dalam pengkhianatan berdarah. Dari seorang pangeran yang dibesarkan untuk memerintah, Kal berubah menjadi buronan yang hanya membawa satu hal, nama keluarganya yang hampir musnah.

Dengan petunjuk terakhir dari ayahnya, Kal mencari Marlow Renad, Nightingale terakhir yang pernah bergerak di balik bayangan mahkota. Bersamanya, Kal mulai menempuh jalan gelap untuk merebut kembali apa yang dirampas darinya.

📢 Visualisasi karakter atau hal penting lainnya dapat dilihat pada postingan di profil saya, Visualisasi itu saya buat dengan bantuan AI berdasarkan gambaran saya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inkbound, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Nama yang Terungkap

Setelah membersihkan diri dan mengganti pakaian dengan satu-satunya pakaian bersih yang masih tersisa di dalam tasku, aku turun kembali ke lantai dasar. Air hangat yang disiapkan Ishar tidak sepenuhnya menghilangkan nyeri pada rusuk dan bahuku, tetapi setidaknya tubuhku tidak lagi berbau keringat, tanah, dan perjalanan berhari-hari. Rambutku masih lembap ketika kusisir ke belakang menggunakan jari. Kemeja abu-abu yang kupakai sedikit longgar pada lengan, sedangkan celana cokelat tua telah kusimpan sejak Gisa untuk keadaan ketika pakaian lain terlalu kotor untuk digunakan.

Marlow belum selesai memperbaiki atap. Bunyi palu terdengar dari bagian belakang rumah, sesekali disertai suara Rosh yang memintanya berhati-hati atau berhenti melakukan sesuatu yang menurut Marlow masih perlu dikerjakan. Ishar sedang memeriksa isi beberapa kantong kain di dapur ketika aku menghampirinya. Ia hendak pergi ke pasar untuk membeli bahan makanan, rempah, minyak lampu, dan beberapa keperluan lain yang mulai habis.

Aku menawarkan diri untuk ikut.

Ishar sempat memandang rusukku, kemudian wajahku, seolah sedang menimbang apakah aku cukup sehat untuk berjalan atau hanya mencari alasan agar tidak membantu Marlow di atap. Namun ia tidak melarang. Ia hanya mengambil keranjang rotan besar dari dekat pintu dan menyerahkan sebuah kantong kain kecil kepadaku.

“Jangan memaksakan diri,” katanya.

“Aku hanya berjalan ke pasar.”

“Semalam kau juga hanya berniat membantu seorang gadis di jalan.”

Aku tidak membalas. Senyum tipis di wajahnya menunjukkan bahwa ia tidak benar-benar sedang menegurku.

Kami meninggalkan rumah Danmer melalui pintu depan. Matahari sudah naik cukup tinggi, tetapi udara masih sejuk. Sisa embun menempel pada daun-daun bunga di beranda, membuat warna geranium merah dan viola ungu terlihat lebih terang. Di atas atap bagian belakang, kepala Marlow sempat terlihat di antara sirap-sirap kayu. Ia mengangkat pandangan ketika mendengar pagar dibuka.

“Kami pergi ke pasar,” kataku.

Marlow mengamati pakaian bersihku, keranjang Ishar, lalu jalan di depan rumah. Tatapannya menetap beberapa saat, mengingatkanku pada perintahnya agar aku menundukkan kepala dan tidak menarik perhatian.

“Jangan lama.”

Aku mengangguk. Ishar sudah lebih dulu berjalan keluar dari pagar, sehingga aku segera menyusulnya.

Arlenville pada pagi hari terasa seperti desa yang berbeda dari tempat yang kami masuki semalam. Cahaya matahari memperlihatkan warna asli bangunan-bangunan kayu yang sebelumnya hanya tampak cokelat gelap di bawah lentera. Dinding cedar tua berwarna madu kusam, dengan guratan-guratan serat yang terlihat jelas. Sebagian rumah dihiasi kotak bunga di bawah jendela. Asap putih keluar dari cerobong, turun sebentar di antara atap sebelum dibawa angin ke arah ladang.

Jalan batu dipenuhi penduduk. Para pria mendorong gerobak kecil berisi hasil kebun, kayu bakar, atau karung gandum. Perempuan membawa keranjang di lengan dan berhenti untuk berbicara di depan rumah. Seorang tukang kayu bekerja dengan pintu bengkel terbuka, membuat bunyi ketam dan palu menyebar sampai ke seberang jalan. Di dekat The Rusty Nail, pemilik bar sedang menyiram lantai depan dengan seember air, membersihkan sisa lumpur dan muntahan dari malam sebelumnya.

Anak-anak yang semalam dipanggil pulang kini kembali berlarian di antara pagar. Salah seorang mendorong lingkaran kayu menggunakan tongkat, sementara dua anak lain mengejarnya sambil berteriak. Seorang perempuan tua yang menyapu teras mengancam akan mengambil tongkat mereka jika terus bermain terlalu dekat dengan pot bunganya.

Aku mengikuti Ishar dengan tudung tidak terlalu rendah. Menutup wajah sepenuhnya pada pagi cerah justru akan terlihat mencurigakan, tetapi aku tetap menjaga kepala sedikit menunduk setiap kali berpapasan dengan orang lain. Beberapa penduduk menyapa Ishar. Ia menjawab menggunakan nama mereka, sesekali berhenti untuk menanyakan keadaan keluarga atau membicarakan hasil panen. Kepadaku mereka hanya memberi pandangan singkat, lalu meneruskan pekerjaan.

Mereka mengenal Ishar. Selama aku berjalan bersamanya, aku tampak seperti tamu rumah Danmer dan tidak lebih dari itu.

Kami menyeberangi jembatan kayu setengah lingkaran yang kami lalui semalam. Dalam cahaya pagi, aliran sungai di bawahnya terlihat jernih dan berwarna biru kehijauan. Dasarnya dipenuhi batu-batu bulat. Beberapa ekor ikan kecil bergerak melawan arus dekat bayangan jembatan, sementara tanaman air bergoyang di sepanjang tepian.

“Airnya benar-benar menuju Blue Lake?” tanyaku.

Ishar menoleh sebentar sambil terus berjalan. “Semua aliran di sisi barat desa akhirnya sampai ke sana. Kalau hujan besar, airnya bisa naik sampai papan ketiga.”

Ia menunjuk bagian pagar jembatan yang warnanya lebih gelap, mungkin bekas banjir sebelumnya. Aku membungkuk sedikit untuk melihat, lalu segera berdiri kembali ketika rusuk terasa nyeri.

Pasar Arlenville menempati sebidang tanah luas di dekat alun-alun desa. Tidak ada bangunan tertutup seperti pasar-pasar di kota besar. Para pedagang membuka meja kayu, gerobak, atau kain lebar di tanah. Kanopi dari kain kusam direntangkan menggunakan tiang-tiang pendek untuk melindungi barang dari matahari. Bau sayuran, rempah, tanah basah, ikan asin, keju, dan hewan bercampur di udara.

Ishar berjalan lebih lambat ketika memasuki deretan kios. Ia membeli bawang, kentang kecil, wortel, dan seikat daun hijau dari seorang perempuan bertangan besar yang terus berbicara tentang harga hasil panen. Setelah itu kami berhenti di pedagang rempah. Bubuk-bubuk berwarna merah, kuning, dan cokelat disimpan dalam mangkuk kayu, sementara daun kering dan akar-akaran digantung dalam ikatan di atas kepala.

Ishar membeli merica hitam, daun sage, garam kasar, dan segenggam bunga kamomil kering untuk Rosh. Pedagang membungkus semuanya menggunakan potongan kertas kasar, lalu mengikatnya dengan benang.

Barang-barang itu semakin memenuhi keranjangnya. Ketika ia membeli sebotol minyak lampu, dua batang sabun, dan sekantong kecil tepung, aku mengambil keranjang dari tangannya.

“Aku bisa membawanya,” katanya.

“Aku tahu.”

Aku memindahkan kantong-kantong yang lebih berat ke lengan kiriku agar tidak terlalu menekan sisi tubuh yang sakit. Keranjang itu lebih berat daripada yang terlihat. Botol minyak dan kentang menekan dasar rotan, sementara pegangan kasarnya menggigit kulit telapak tanganku.

Ishar mencoba mengambilnya kembali.

“Rusukmu masih sakit.”

“Hanya kalau aku bernapas.”

Ia menatapku.

“Itu tidak terdengar meyakinkan.”

“Aku tetap bisa membawanya.”

Ishar menahan pegangan keranjang beberapa saat. Ketika aku tidak melepaskannya, ia akhirnya menarik tangannya dan membiarkanku membawa sebagian besar belanjaan. Sebagai gantinya, ia mengambil kantong tepung dan bungkusan rempah yang lebih ringan.

Kami melanjutkan menyusuri pasar. Aku mencoba berjalan tanpa memperlihatkan rasa sakit setiap kali keranjang menyentuh pinggang. Ishar beberapa kali melirik, tetapi tidak lagi mencoba mengambilnya. Ada kepuasan kecil dalam diriku karena setidaknya aku bisa membalas sebagian kebaikannya, meski hanya dengan membawa kentang dan minyak lampu.

Ketika hampir selesai berbelanja, suara roda besar dan derap kuda terdengar dari arah jalan timur. Percakapan para pedagang perlahan merendah. Beberapa orang meninggalkan kios dan bergerak menuju alun-alun, mengikuti suara yang semakin dekat.

Ishar berhenti.

“Ada apa?”

Seorang pria yang membawa karung melewati kami tanpa menjawab. Ia hanya mengangkat dagu ke arah alun-alun.

Kami mengikuti arus penduduk. Keranjang terasa semakin berat, tetapi aku tidak lagi memikirkannya. Dari sela bahu orang-orang di depan, aku melihat warna hijau tua pada mantel pasukan kerajaan.

Beberapa tentara Izengard memasuki alun-alun dengan menunggang kuda. Dua orang membawa tombak. Seorang lainnya memegang panji kecil berlambang singa Valdyr, sedangkan perwira yang berada di tengah membawa gulungan perkamen dengan segel merah menggantung pada ujungnya. Debu perjalanan menempel pada zirah dan sepatu mereka. Kuda-kuda berhenti di depan panggung kayu rendah yang biasanya digunakan untuk pengumuman desa atau penimbangan hasil panen.

Tubuhku langsung menegang.

Aku menurunkan kepala, membiarkan beberapa penduduk yang lebih tinggi berdiri di depanku. Ishar bergerak ke samping agar dapat melihat lebih jelas. Ia tidak menyadari perubahan pada napasku.

Para tentara turun dari kuda. Perwira pembawa perkamen naik ke atas panggung, lalu membuka gulungan tersebut. Salah seorang prajurit menghantamkan pangkal tombak ke papan tiga kali.

Bunyi itu memaksa alun-alun menjadi diam.

Perwira tersebut mulai membaca.

“Atas perintah Mahkota Izengard, berita ini disampaikan kepada seluruh rakyat di kota, desa, dan wilayah kerajaan.”

Suaranya keras dan sudah terlatih untuk mencapai sisi terjauh kerumunan. Aku mengenali cara pengumuman kerajaan dibacakan, jeda pada setiap bagian, tekanan pada nama dan gelar, serta nada datar yang membuat kata-kata terasa resmi sekalipun isinya kebohongan.

“Raja Jerrod Valdyr telah meninggal dunia setelah menderita sakit yang memburuk dalam waktu singkat.”

Udara seolah menghilang dari sekitarku.

Pegangan keranjang menekan telapak tangan, tetapi aku tidak lagi merasakannya. Wajah Dad muncul begitu cepat dalam pikiranku, darah pada pakaian, napas yang terputus-putus, tangannya menekan koin Nightingale ke telapak tanganku.

Sakit..

Mereka mengatakan Dad meninggal karena sakit.

Tidak ada pengkhianatan. Tidak ada serangan di dalam istana. Tidak ada pedang Dann. Hanya seorang raja yang jatuh sakit dan tidak berhasil diselamatkan.

Bisik-bisik muncul di antara penduduk. Seorang perempuan tua dekat panggung menutup mulut. Pria di sampingnya menunduk dan membuat tanda Jessiah pada dahinya. Di belakangku, seseorang menarik napas panjang seperti baru saja dipukul.

Perwira itu melanjutkan sebelum suara warga membesar.

“Demi menjaga ketertiban Izengard dan memastikan kerajaan tidak kehilangan kepemimpinan, Pangeran Dann Valdyr telah menerima mahkota. Mulai hari ini, ia adalah Raja Dann Valdyr, penguasa sah Izengard dan seluruh wilayah yang tunduk pada takhta.”

Amarah naik dari perutku ke dada. Rasanya lebih panas daripada rasa perih minyak cengkih pada luka. Jari-jariku mengencang pada pegangan keranjang sampai rotannya berderit.

Dann tidak menerima mahkota.

Ia mencurinya.

Beberapa warga mulai berbicara lebih keras. Aku mendengar namaku disebut dari bagian kanan kerumunan.

“Bukankah masih ada Pangeran Kal?”

“Dia putra raja.”

“Seharusnya dia yang naik takhta.”

“Di mana sang pangeran?”

Pertanyaan itu bergerak dari satu orang ke orang lain. Kesedihan yang baru saja memenuhi alun-alun bercampur dengan kebingungan. Seorang pria berusia setengah baya mengangkat tangan dan menyebut namaku lebih keras, meminta perwira menjelaskan kenapa putra Raja Jerrod tidak menggantikan ayahnya.

Perwira itu menggulung sedikit bagian atas perkamen, lalu menunggu sampai suara mereda.

“Pangeran Kal Valdyr meninggalkan Izengard pada malam wafatnya sang raja.”

Kata-katanya disampaikan tanpa perubahan nada. Namun aku dapat merasakan kerumunan di sekelilingku bergeser, orang-orang saling memandang dan menunggu kelanjutannya.

“Pangeran melarikan diri dari tanggung jawabnya terhadap keluarga kerajaan dan rakyat Izengard. Dalam pelariannya, ia menyerang prajurit kerajaan dan menumpahkan darah di Mitenn Highroad, jalur suci menuju Kuil Besar Jessiah.”

Suara orang-orang pecah bersamaan.

Aku melihat seorang perempuan yang tadi menangisi Dad menurunkan tangan dari wajahnya. Kesedihannya berubah menjadi kebingungan, lalu sesuatu yang lebih keras. Dua pedagang di depan kami saling berbisik dengan kepala berdekatan. Seorang pria mengumpat dan menyebut perbuatanku sebagai penghinaan terhadap Jessiah.

Dad baru saja diumumkan mati, tetapi berita itu sudah mulai tenggelam di bawah dosa yang mereka lekatkan padaku.

Aku ingin maju. Ingin mengatakan bahwa mereka berbohong tentang Dad. Bahwa Dann membunuhnya. Bahwa para tentara di Highroad hendak menangkapku dan salah satu dari mereka menghina keluarga yang baru saja dibantai.

Namun darah di jalan suci memang berasal dari pedangku.

Bagian itu tidak perlu mereka ciptakan.

Aku menoleh kepada Ishar.

Ia berdiri kaku di sampingku. Bungkusan rempah berada dekat dadanya, dicengkeram begitu kuat hingga kertas pembungkusnya mengerut. Mata hijaunya masih tertuju pada tentara di panggung. Ada kilap tipis pada bagian bawahnya.

“Tidak mungkin,” katanya.

Suaranya hampir tidak terdengar di tengah bisikan warga.

Perwira mengangkat perkamen lebih tinggi.

“Pangeran Kal kini dinyatakan buron dan tidak lagi berada di bawah perlindungan hukum kerajaan. Ia telah menistakan jalan Jessiah, membunuh prajurit Izengard, serta menolak kembali untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.”

Seorang tentara lain mengangkat lembaran yang lebih kecil. Aku hanya bisa melihat garis hitam di atas permukaannya dari tempat berdiri, mungkin gambar wajah atau daftar ciri-ciri.

“Pangeran terakhir terlihat bepergian ke arah barat bersama seorang laki-laki berusia sekitar empat puluh tahun, berambut pirang dengan warna kelabu di pelipis. Laki-laki tersebut dikenal dengan nama Marlow Renad.”

Nama itu menghantam lebih keras daripada semua tuduhan sebelumnya.

Ishar menoleh kepadaku.

Gerakannya lambat. Matanya lebih dahulu turun pada pakaian bersihku, kemudian naik ke wajah. Aku melihat semua hal yang selama ini tidak pernah ia satukan mulai menemukan tempatnya, namaku yang sama dengan nama pangeran, penjelasan Marlow tentang hari kelahiranku, perjalanan kami ke barat, pedang, luka-luka, dan reaksi Rosh ketika aku membuka tudung semalam.

Marlow Renad.

Tidak ada nama palsu untuk menyembunyikannya.

Wajah Ishar berubah. Kelembutan yang kulihat saat sarapan hilang. Kesedihan masih ada, tetapi kini bercampur kemarahan dan rasa kecewa yang jauh lebih sulit kutahan. Ia menatapku seolah mencoba menemukan Kal Primm di antara tuduhan yang baru saja dibacakan.

Aku menurunkan keranjang ke tanah.

“Ishar.”

Ia mundur satu langkah.

Di panggung, perwira masih memerintahkan warga untuk melaporkan setiap orang yang menyerupai deskripsi kami. Aku hampir tidak mendengarnya. Kerumunan terasa terlalu dekat, dipenuhi mata dan tubuh yang setiap saat bisa berbalik ke arah kami.

“Aku bisa menjelaskannya.”

Aku meraih pergelangan tangan Ishar. Niatku hanya membawanya menjauh dari alun-alun sebelum salah seorang tentara melihat wajahku, tetapi sentuhanku membuatnya tersentak.

Ia menepis tanganku.

Gerakannya cukup keras hingga bungkusan kamomil terlepas dan jatuh. Bunga-bunga kering tumpah di antara batu alun-alun, terinjak oleh seorang warga yang bergerak mendekati panggung.

Ishar tidak melihatnya.

Matanya merah sekarang. Ia memandangku sekali lagi, bukan dengan ketakutan, melainkan seperti seseorang yang baru menyadari bahwa semua kata yang didengarnya sejak semalam mungkin dibangun di atas kebohongan.

Lalu ia berbalik.

“Ishar, tunggu.”

Ia menerobos kerumunan tanpa menjawab. Bahunya menyenggol beberapa orang, membuat mereka mengeluh dan menoleh. Rambut pirangnya terlepas sedikit dari ikatan ketika ia mempercepat langkah menuju jalan yang mengarah ke jembatan.

Aku meninggalkan keranjang di tanah.

Rasa sakit menusuk rusuk saat aku mulai berlari, tetapi tidak cukup untuk menghentikanku. Aku menyelip di antara warga, menabrak bahu seorang pedagang, lalu hampir menginjak keranjang sayur yang terjatuh di dekat kakiku.

Ishar sudah mencapai ujung alun-alun.

Aku mengejarnya.

1
Annabelle
Oke lah
Annabelle
Numpang mampir
Nomnom Yumyum
ceritanya seru, serasa baca novel translate an luar. ditunggu eps selanjutnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!